Pabrikku Sayang, Petaniku Malang | DR. Arif Zulkifli Nasution

Pabrikku Sayang, Petaniku Malang

Pabrikku Sayang, Petaniku Malang….

Begitu kira-kira ungkapan terhadap konflik pembangunan pabrik Semen Rembang. Di satu sisi Pabrik semen dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan PAD daerah, di sisi lain operasional pabrik semen dapat menyebabkan kerusakan lingkungan di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih Rembang.

Pabrik semen Rembang dibangun dengan investasi Rp 4,9 Triliun dengan kapasitas 3 juta ton/tahun. Jika proyek pembangunan semen di Rembang batal, Semen Indonesia akan kehilangan triliunan rupiah. Uang tersebut merupakan pengeluaran untuk konstruksi sipil, pemasangan mesin dan peralatan, serta elektrikal dan instrumentasi dari pabrik. Selain itu, ada potensi pendapatan senilai Rp2,1 triliun yang juga hilang.

Mayoritas warga Rembang menyambut baik keberadaan pabrik semen di Rembang karena memberikan harapan kehidupan yang lebih baik. Masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik merasakan manfaatnya, ada 110 security, administrasi, dan bagian komputer juga sudah menggunakan tenaga SDM lokal yang dipersiapkan, SMK disiapkan, pada saat yang sama permodalan untuk UKM dilakukan.

Begitu pula Pemerintah daerah Kabupaten Rembang memberikan apresiasi atas berdirinya pabrik semen milik Semen Indonesia. Apalagi mengingat Kabupaten Rembang adalah kabupaten termiskin ke-3 di Jawa Tengah, dan kabupaten termiskin di Pati Raya (Pati, Rembang, Blora, Grobogan dan Jepara).

Kelebihan lain pabrik semen Rembang yaitu pabrik semen yang dibangun oleh 100% tenaga kerja Indonesia. Pembangunan pabrik semen Rembang tentu membanggakan ditengah gencarnya pemberitaan di media bahwa Indonesia sedang diserbu tenaga kerja asing dari China. Selain itu, pabrik semen di Rembang menggunakan teknologi mutakhir dan menjadi pabrik semen paling ramah lingkungan di Indonesia.
Kedepannya pabrik semen Rembang adalah parbik pertama yang menghasilkan energi dari proses kinetik pengiriman bahan baku dari lokasi tambang ke pabrik yang menggunakan “long belt conveyor” sepanjang 5 km. Hal itu dilakukan karena ada satu titik yang ketinggian tiang penyangga atau long belt conveyor tingginya 30 m atau diatas pohon. Ketinggian tersebut untuk menjaga kelestarian pohon langka di hutan milik Perhutani.

Factor ramah lingkungan lainnya, dalam dokumen Amdalnya, Pabrik semen Rembang menggunakan air hujan untuk proses utilisasi pendukung pabrik dengan mengolah air hujan menjadi air layak konsumsi, serta menggunakan “Main Bag Filter” yang dikombinasikan dengan “Elektrostatic Precipicator” (penangkap debu) sehingga jika suatu saat pabrik mati pendadak karena pasokan listrik dari PLN terganggu atau sebab lain, maka diharapankan tidak ada debu yang lolos menjadi polusi udara.

Tidak hanya itu, pabrik semen di Rembang akan menjadikan 30% area pabrik menjadi area terbuka hijau. PT Semen Indonesia berani membangun pabrik semen ramah lingkungan dengan biaya pembangunan perton yang lebih mahal dibandingkan pabrik semen milik kompetitor yang baru dibangun. Bahkan jika dibandingkan dengan pabrik semen milik China seperti semen conch di Kalimantan Selatan, biaya membangun pabrik semen di Rembang bisa 2 kali lipat lebih mahal untuk kapasitas yang sama. Pabrik semen Rembang menginvestasikan Rp 100 miliar untuk menjadi green belt. Regulasinya mengharuskan pembangunan green belt dilakukan sepanjang 10 m melingkari area tambang gunanya untuk menyerap polusi sehingga tidak mengganggu penduduk sekitar serta menjadi salah satu sumber O2. Namun, pabrik semen di Rembang milik PT Semen Indonesia membuat green belt selebar 50 m melingkari area tambang. Lahan yang digunakan untuk membangun green belt sebesar 80 hektar yang nilainya sekitar Rp 100 miliar.

Berdasarkan paparan diatas, maka skema menghentikan operasional pabrik sangat disayangkan. Begitu banyak faedah yang didapatkan apabila pabrik dapat beroperasi. Namun coba kita simak paparan dibawah bagaimana apabila pabrik tetap dipaksakan beroperasi dengan kondisi sekarang.

Pabrik Semen membutuhkan batu kapur dan gips sebagai bahan dasar. Semen adalah bahan perekat untuk menghasilkan beton. Istilah kimianya adalah campuran dari kalsiumoksida (kapur bakar) yang terikat silika (kuarsa) dengan aluminium, besi dan sulfat. Bahan dasar produksi semen adalah batu kapur dan tanah liat atau lempung yang dibakar dengan pasir dan bijih besi pada 1.450 0C dan digiling dengan bahan lainya seperti pasir, abu atau gips menjadi semen.

Produksi semen berpotensi besar mencemarkan lingkungan. Setiap langkah proses pembuatannya berdampak negative bagi lingkungan. Untuk mendapatkan batu kapur di pertambangan, gunung-gunung harus di kikis, ekosistem dan aliran air dirusak. Dari proses pembuatannya tersembur debu dan gas beracun ke udara. Pada pembuatan satu ton semen terlepaslah 600 kg CO2: 400 kg dari batu kapur dan 200 kg dari proses pembakaran. Di seluruh dunia dihasilkan lebih dari 4 miliar ton semen. Secara keseluruhan hal ini menyebabkan sekitar 3 miliar ton gas rumah kaca.

Bahan dasar semen diambil dari pegunungan Kars. Kars adalah sebuah bentukan permukaaan dari batuan yang larut dalam air – biasanya batu kapur, tapi juga gips dan batu garam – yang lapuk karena hujan dan CO2. Seiiring dengan waktu muncullah gua dan bentang darat yang luar biasa dengan lubang runtuhan, menara atau kerucut.

Kawasan Karst berfungsi sebagai penyerap karbon dalam kontek pemansan global. Kemampuan kawasan karst dalam menyerap CO2 dalam setahun dari proses karstifikasi, kawasan karst di dunia mampu menyerap 0,41 miliar metrik ton CO2 dari atmosfer. Namun, dalam proses karstifikasi akan melepaskan kembali 0,3 miliar metrik ton CO2, sehingga rata-rata CO2 yang terserap sebanyak 0,11 miliar metrik ton. Kawasan karst menjadi salah satu rantai penting dalam siklus karbon dunia, sehingga hilangnya kawasan karst juga akan menjadi penyumbang pemanasan global dan perubahan iklim

Ahli hidrologi karst, Mangin (1973) menyebutkan bahwa lapisan batugamping yang ada di dekat permukaan karst memiliki kemampuan menyimpan air dalam kurun waktu yang lama. Alexander Klimchouk (1979) menyatakan bahwa zona di dekat permukaan karst merupakan zona utama pengisi sistem hidrologi karst melalui proses infiltrasi diffuse dan aliran celah (fissure flow). Ahli hidrologi lain, Chernyshev (1983) memperkirakan bahwa zona epikarst ini terletak pada kedalaman 30 – 50 meter di bawah permukaan karst dengan ketebalan bervariasi. Ketebalan epikart biasanya 10-15 meter (Klimchouk, 2003).
Rencana penambangan batugamping yang akan dilakukan hingga kedalaman 270-350 meter oleh PT SI dapat dipastikan menghilangkan lapisan epikarst yang merupakan simpanan air terbesar di kawasan karst. Kegiatan PT SI akan memberikan dampak pada dua mata air yaitu Sumber Semen dan Brubulan meskipun aktifitas penambangan akan lebih berpengaruh pada mata air Sumber Semen daripada Brubulan. Sistem hidrologi yang berkembang di kawasan Gunung Watu Putih terdiri dari dua tipe : tipe diffuse (resapan melalui butir-butir batugamping) dan tipe conduit (retakan/lorong). tipe conduit ini yang menyembabkan saling keterkaitan daerah resapan dengan mata air-mata air meskipun berjarak sangat jauh.

Proses pengupasan lahan menggunakan bahan peledak dan alat-alat berat menjadikan batugamping mengalami pemadatan secara fisik dan terjadi penyumbatan saluran-saluran kapiler, penghubung antara permukaan dan bawah permukaan. Hal ini yang membuat air yang tadinya terserap dengan baik akan menjadi aliran permukaan. Fakta bahwa air hujan akan menjadi aliran permukaan sudah diantisipasi dalam kajian AMDAL PT SI dengan tindakan pembuatan saluran-saluran pengendali. Hal ini menegaskan bahwa air hujan yang awalnya terserap dengan baik dan menjadi pensuplai bagi mata air di sekitar lokasi tambang, berubah menjadi air limpasan permukaan.
Jika aliran air menjadi permukaan maka mata air-mata air akan mengalami penurunan suplai dari daerah resapan atau bahkan hilang pada saat musim kemarau. Pada musim hujan, karena tidak ada proses penyaringan oleh daerah resapan, mata air akan menjadi keruh dan mengalami penurunan kualitas sebagai air baku. Dampak lanjutannya, banyak mata air hilang di kawasan tersebut, sehingga masyarakat sekitar harus menampung air hujan di musim penghujan dan harus membeli air pada musim kemarau.

Reklamasi pada batugamping yang telah ditambang hampir pasti tidak bisa dilakukan, karena unsur-unsur utama batugamping yang menjadi bagian dari proses ekologis sudah hilang karena pertambangan. Beberapa syarat batugamping untuk berproses menjadi kawasan karst seperti ketebalan batugamping, tutupan lahan dan waktu pelarutan sudah tidak lagi terpenuhi.

Selain itu, debu dari operasi industri semen berasal dari berbagai macam aktivitas, mulai dari penggunaan bahan peledak, proses pengangkutan bahan galian ke lokasi pengolahan dan proses pembakaran dan penggilingan. Green belt atau sabuk hijau adalah penanaman pepohonan di areal aktivitas industri semen, fungsinya adalah untuk mengurangi kadar debu bukan menghilangkan. Sehingga debu tetap akan ada namun kadarnya jauh berkurang. Di Kabupaten Tuban, di mana Semen Indonesia memiliki empat lokasi pabrik semen, masyarakat sekitar masih mengeluhkan dampak debu akibat aktivitas peledakan batugamping (Kompas, 01/08/2008).

Pendekatan speleologi juga dilakukan oleh peneliti biota LIPI yang juga seorang penelusur gua, Sigit Wiantoro. Dalam penelitiannya bersama Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Sigit berhasil mengidentifikasi sedikitnya terdapat tiga jenis kelelawar pemakan serangga : Minioterus autralis (240 individu), Rhinolopus pusillus (400 individu) dan Hipposideros larvatus (90 invididu) di Gua Joglo dan Gua Jagung. Sementara di Gua Temu dijumpai ribuan individu kelelawar Miniopterus sp.
Kelelawar pemakan serangga memiliki fungsi pengendali hama pertanian, Kelelawar penghuni Gua Joglo dan Gua Jagung dalam satu malam diperkirakan mampu memakan 2,2 kilogram serangga yang berpotensi menjadi hama pertanian. Areal persawahan yang masuk dalam cakupan jelajah kelelawar yang tinggal di gua-gua tersebut mencapai 33.925 hektar (diolah dari data KLHS). Nilai ini belum ditambahkan kelelawar yang menempati gua-gua lainnya

Aspek penting lain yang tidak boleh terlewatkan adalah wilayah pegunungan kapur merupakan wilayah yang subur dan cocok untuk daerah pertanian. Pertanian subur salah satunya karena adanya pupuk alami yaitu phospat alam. Phospat alam berasal dari senyawa antara kotoran kelelawar dan batu kapur. Keberadaan phospat alam di wilayah tersebut karena pegunungan tersebut dihuni oleh ribuan atau bahkan jutaan kelelawar yang mendiami goa alam. Kotoran ribuan atau jutaan kelelawar yang jatuh ke bebatuan kapur dalam waktu yang lama maka akan membentuk senyawa.

Perusahaan semen akan melakukan aktivitas penambangan batu gamping di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, penambangan tanah liat serta sarana dan prasarana di desa Tegaldowo, Desa Kajar, Desa Pasucen, dan Desa Timbrangan Kecamatan Gunem, serta Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang. Pabrik semen berada di Desa Kadiwono, sedangkan lokasi penambangan ada di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tegaldowo itu artinya ladang panjang. Tegal itu ladang. Dowo dalam bahasa Jawa itu panjang.

Satu dari komunitas pedesaan di kaki bukit adalah Samin atau Sedulur Sikep (Sahabat Sikep). Kehidupan komunitas berdasarkan kearifan lokal dan mengikuti hukum alam. Masyarakat Sedulur Sikep hingga kini menolak penanaman padi dan sayuran dengan pupuk kimia. Mereka menyimpan pengetahuan tentang pengunaan obat tradisional. Mereka seringnya berbelanja di pasar tradisional dan menghindari supemarket yang tumbuh dimana-mana. Mereka tidak menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Sejak masa penjajahan mereka tidak membayar pajak negara. Agama mereka juga tidak termasuk ke dalam enam agama yang diakui negara.

Jika pabrik semen tetap beroperasi maka sebagian masyarakat Rembang akan kehilangan sumber air bersih baik itu keperluan sehari-hari maupun untuk pertanian. Sehingga perlu ada win-win solution terhadap permasalahan ini

Solusi yang ditawarkan penulis:
Kehadiran pabrik semen di masyarakat pertanian, berarti memasukkan fase industri pada masyarakat yang berada pada fase agraris. Masyarakat pada fase industri tertentu berbeda karakternya dengan masyarakat agraris. Cirri masyakat agraris adalah tanah merupakan factor produksi paling dominan. SDA yang dimiliki berupa angin, air, dan tanah. Sedangkan masyarakat industri mempunyai cirri-ciri menggunakan peralatan mesin, mayoritas masyarakat sebagai ahli industri, mesin, bangunan dan sebagainya.

Apabila perubahan ke fase industri dilakukan mendadak dan tiba-tiba tentu akan mendapatkan penolakan keras dari masyarakat agraris. Pembangunan industri akan menghilangkan sumber daya utama mereka yaitu tanah yang subur, air bersih dan udara yang segar. Selayaknya sebelum dibangun industri semen, maka masyarakat disiapkan untuk pindah fase dari pertanian ke industri. Dan seharusnya disanalah peran pemerintah. Pemerintah tidak hanya sebagai regulator dan tukang stempel pemberi izin namun menjadi fasilitator yang baik bagi perpindahan fase masyarakat dari agraris ke industri.

Langkah-langkah perubahan fase masyarakat:
1. Melakukan pengkajian sosiologi, antropologi dan lingkungan masyarakat untuk mengetahui apa yang menjadi kebutuhan, perhatian dan kepentingan masyarakat.
2. Melakukan edukasi kepada masyarakat pentingnya peningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui keberadaan industri.
3. Menyiapkan SDM yang siap menghadapi fase industri, tidak hanya ditingkat perguruan tinggi, namun juga di tingkat SD, SMP dan SMA/SMK. Penyiapan SDM tentu dengan cara memberikan biaya pendidikan kepada SDM yang paling rentan terkena dampak keberadaan industri.
4. Silaturahmi dan pendekatan kepada pemuka agama dan pemuka masyarakat setempat.
5. Menyiapkan sarana dan prasana pendidikan dan pelatihan agar masyarakat siap memasuki fase industri.

Lalu, bagaimana dengan kondisi sekarang dimana konflik sudah sangat runcing bahkan Patmi, seorang perempuan 45 tahun yang jadi peserta aksi dari Pegunungan Kendeng meninggal dunia pada Selasa dinihari, 21 Maret 2017 seusai melakukan aksi semen kaki di depan istana.

Memaksakan pembangunan industri semen di Rembang berarti memaksakan masyarakat agraris untuk pindah paksa dan massal ke fase industri. Pemaksaan tersebut dapat menyebabkan revolusi social, dan bukan tidak mungkin berakibat revolusi fisik. Sudah cukup banyak cerita sejarah seperti aksi Boston Tea Party, aksi Bouazizi di Tunisia yang memicu revolusi di Tunisia dan merembet ke Libya, Mesir dan Negara arab lain yang disebut Arab Spring, aksi pekerja Cordwainers yang memicu May day. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tentu tidak ingin namanya tercatat dalam sejarah sebagai pemicu revolusi petani Indonesia.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + sixteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top