Sungai Ciliwung Berpotensi Menjadi Wisata Sungai | DR. Arif Zulkifli Nasution

Sungai Ciliwung Berpotensi Menjadi Wisata Sungai

Tahun 2012, Hari Lingkungan Hidup Sedunia sudah menginjak usia ke-40. Pada usia ke-40, seharusnya lingkungan semakin lama semakin baik. Namun pada kenyataannya pencemaran lingkungan semakin lama semakin parah. Jakarta sebagai ibukota Negara mendapat berbagai penghargaan mengenai lingkungan dari mulai kota terpolusi nomor 3 di dunia, kota termacet di dunia, kota dengan mall paling banyak sampai kota dengan tempat sampah terpanjang di dunia atau sungai ciliwung.

Padahal dalam sejarahnya, Sungai Ciliwung adalah sumber kehidupan masyarakat di tanah Pasundan/Pajajaran sampai Batavia. Ciliwung menjadi sumber air bersih untuk minum, memasak dan mandi, sumber air untuk pertanian jalur transportasi perdagangan serta tamasya.

Kondisi obyektifnya tingkat pencemaran sungai Ciliwung cukup parah mencapai 360 m3 sampah per hari. Setahun sampah sungai ciliwung mencapai 131.400 m3 setara dengan 2 candi Borobudur (1 candi volumenya 55.000 m3). Kondisi hutan yang ada di sepanjang DAS Ciliwung sudah sangat kritis. Dari syarat 30% hutan yang ditentukan, hanya tersisa 9% hutan di DAS Ciliwung. Sungai Ciliwung yang dulu menjadi sumber kehidupan sekarang menjadi sumber bencana terlebih ketika musim hujan datang.

Untuk memperbaiki kondisi sungai Ciliwung, ada beberapa strategi yang perlu dilakukan:

1. Melakukan koordinasi secara menyeluruh dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah tetangga yang menjadi aliran Ciliwung (Jawa Barat, Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok). Untuk itu diperlukan pemimpin Jakarta yang mampu membangun komunikasi dan kerjasama dengan pemerintah pusat dan Kepala daerah penyangga

2. Bersama-sama membentuk komunitas masyarakat peduli ciliwung dengan menerapkan aturan ‘anti-rubbish dracula’ : yaitu memberikan hukuman kepada warga yang tertangkap basah membuang sampah ke sungai dan menjadikannya sebagai sebagai mata-mata bagi orang yang membuang sampah lainnya untuk dihukum pula

3. Membangun wisata sungai: membangun wisata sungai seperti sungai Chao Praya di Bangkok. Sungai Chao Praya airnya sama cokelatnya seperti di Ciliwung, belakangnya juga banyak eceng gondok. Tapi wisatanya maju dan berkembang karena mereka memperhatikan kebersihan. Bedanya lagi rumah-rumah di Thailand menghadap sungai tidak seperti di Indonesia. Rumah masyarakat membelakangi sungai. Atau bisa juga dengan mencontoh China, beberapa pinggir sungai dibebaskan dan dibuat jogging track (jalur pejalan kaki). Sehingga saat orang-orang berjalan-jalan dapat melihat sungai.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen + thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top