BELAJAR SEPANJANG HAYAT atau Learning Never Ending Process | DR. Arif Zulkifli Nasution

BELAJAR SEPANJANG HAYAT atau Learning Never Ending Process

DAYA SAING DAN PARADIGMA BELAJAR SEPANJANG HAYAT

KUNCI SUKSES MENANG DALAM ERA GLOBAL

I.PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

“Think big and globally, Start small and locally,

Choose it independently, Do it now,seriously”

Di dunia ini tidak ada yang tetap semua mengalami perubahan kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan dapat terjadi pada lingkungan alam, buatan dan sosial budaya. Perubahan sosial budaya paling menarik untuk dibicarakan karena seringnya perubahan sosial budaya menjadi penggerak perubahan sebelum terjadi perubahan pada lingkungan lainnya. Hal tersebut mungkin disebabkan perubahan sosial budaya langsung dipengaruhi oleh manusia sebagai pelaku utama perubahan.

Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.

Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi perubahan sosial, pertama tekanan kerja dalam masyarakat, kedua keefektifan komunikasi, ketiga perubahan lingkungan alam.[1] Perubahan budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh, berakhirnya zaman es berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan.

Pemahaman terhadap perubahan akan mengantarkan sikap yang tepat bagaimana menghadapi perubahan. Perubahan dapat berlaku positif, stagnan atau negative tergantung bagaimana penyikapan yang tepat terhadap perubahan tersebut. Semakin luas pemahaman kita terhadap perubahan, semakin baik tindakan yang dapat diberikan untuk merespon perubahan. Respon perubahan yang baik adalah tindakan perubahan yang real dapat langsung dirasakan masyarakat sekitar. Oleh karena itu tepat kiranya pepatah diatas sebagai pengantar untuk memahami perubahan dalam skala yang luas dan tindakan yang perlu dilakukan.

Manusia telah mengalami beberapa fase perubahan, dari fase pertanian, industri, hingga informasi teknologi. Fase informasi teknologi ditandai dengan semakin mengecilnya jarak dan waktu karena faktor teknologi komunikasi dan informasi. Fase terbaru perubahan yang dirasakan manusia ini dinamakan globalisasi.

I.1 Pengertian Globalisasi

Globalisasi berasal dari kata global, yang artinya ialah universal. Globalisasi sendiri belum memiliki definisi yang di terima semua kalangan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, ada juga dari sisi proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan suatu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Anggapan atau mitos yang hidup selama ini tentang globalisasi adalah bahwa globalisasi akan membuat dunia seragam. Globalisasi akan menghapus identitas dan karakter suatu organisasi atau bangsa. Kebudayaan lokal atau etnis akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global.

Anggapan atau jalan pikiran di atas tersebut tidak sepenuhnya benar. Kemajuan teknologi komunikasi memang telah membuat batas-batas dan jarak menjadi hilang dan tak berguna. John Naisbitt (1988), dalam bukunya yang berjudul Global Paradox ini memperlihatkan hal yang justru bersifat paradoks dari fenomena globalisasi. Naisbitt (1988) mengemukakan pokok-pokok pikiran lain yang paradoks, yaitu semakin kita menjadi universal, tindakan kita semakin kesukuan, dan berpikir lokal, bertindak global. Hal ini dimaksudkan kita harus mengkonsentrasikan kepada hal-hal yang bersifat etnis, yang hanya dimiliki oleh kelompok atau masyarakat itu sendiri sebagai modal pengembangan ke dunia Internasional.

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga dapat saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

I.2 Ciri Globalisasi

Beberapaciri globalisasi,yaitu:

  1. Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
  2. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari perkembangan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
  3. Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengkonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
  4. Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi.

I.3 Teori Globalisasi

Cochrane dan Pain menyebutkan dalam kaitannya dengan globalisasi, ada tiga posisi teroritis yang dapat dilihat, yaitu:

1.Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berproses. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen, meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.

  1. Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
  2. Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).

2.Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah dialami saat ini hanyalah merupakan tahapan lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.

3.Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai “seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung“. Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.

I.4 Globalisasi Perekonomian

Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa.

Menurut Tanri Abeng, perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut:

1.Globalisasi produksi, di mana perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran agar biaya produksi menjadi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena upah buruh yang rendah, tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai ataupun karena iklim usaha dan politik yang kondusif. Dunia dalam hal ini menjadi lokasi manufaktur global.

2.Globalisasi pembiayaan. Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun langsung) di semua negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam memperbanyak satuan sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol telah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT (build-operate-transfer) bersama mitrausaha dari manca negara.

3.Globalisasi tenaga kerja. Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional atau buruh kasar yang biasa diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement akan semakin mudah dan bebas.

4.Globalisasi jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi, antara lain melalui: TV,radio,media cetak dll. Dengan jaringan komunikasi yang semakin maju telah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh : KFC, celana jeans levi’s, atau hamburger melanda pasar dimana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia -baik yang berdomisili di kota ataupun di desa- menuju pada selera global.

5.Globalisasi Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin cepat, ketat, dan fair.

I.5 Keuntungan Globalisasi Ekonomi

1.Produksi global dapat ditingkatkan. Pandangan ini sesuai dengan teori ‘Keuntungan Komparatif’ dari David Ricardo. Melalui spesialisasi dan perdagangan faktor-faktor produksi dunia dapat digunakan dengan lebih efesien, output dunia bertambah dan masyarakat akan memperoleh keuntungan dari spesialisasi dan perdagangan dalam bentuk pendapatan yang meningkat, yang selanjutnya dapat meningkatkan pembelanjaan dan tabungan.

2.Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu Negara. Perdagangan yang lebih bebas memungkinkan masyarakat dari berbagai negara mengimpor lebih banyak barang dari luar negeri. Hal ini menyebabkan konsumen mempunyai pilihan barang yang lebih banyak. Selain itu, konsumen juga dapat menikmati barang yang lebih baik dengan harga yang lebih rendah.

3.Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri. Perdagangan luar negeri yang lebih bebas memungkinkan setiap negara memperoleh pasar yang jauh lebih luas dari pasar dalam negeri.

4.Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik. Modal dapat diperoleh dari investasi asing dan terutama dinikmati oleh negara-negara berkembang karena masalah kekurangan modal dan tenaga ahli serta tenaga terdidik yang berpengalaman kebanyakan dihadapi oleh negara-negara berkembang.

5.Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi. Pembangunan sektor industri dan berbagai sektor lainnya bukan saja dikembangkan oleh perusahaan asing, tetapi terutamanya melalui investasi yang dilakukan oleh perusahaan swasta domestik. Perusahaan domestik ini seringkali memerlukan modal dari bank atau pasar saham. dana dari luar negeri terutama dari negara-negara maju yang memasuki pasar uang dan pasar modal di dalam negeri dapat membantu menyediakan modal yang dibutuhkan tersebut.

I.6 Keburukan globalisasi ekonomi

1.Menghambat pertumbuhan sektor industri. Salah satu efek dari globalisasi adalah perkembangan sistem perdagangan luar negeri yang lebih bebas. Perkembangan ini menyebabkan negara-negara berkembang tidak dapat lagi menggunakan tarif yang tinggi untuk memberikan proteksi kepada industri yang baru berkembang (infant industry). Dengan demikian, perdagangan luar negeri yang lebih bebas menimbulkan hambatan kepada negara berkembang untuk memajukan sektor industri domestik yang lebih cepat. Selain itu, ketergantungan kepada industri-industri yang dimiliki perusahaan multinasional semakin meningkat.

2.Memperburuk neraca pembayaran. Globalisasi cenderung menaikkan barang-barang impor. Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak berkembang. Keadaan ini dapat memperburuk kondisi neraca pembayaran. Efek buruk lain dari globaliassi terhadap neraca pembayaran adalah pembayaran neto pendapatan faktor produksi dari luar negeri cenderung mengalami defisit. Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran pembayaran keuntungan (pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Tidak berkembangnya ekspor dapat berakibat buruk terhadap neraca pembayaran.

3.Sektor keuangan semakin tidak stabil. Salah satu efek penting dari globalisasi adalah pengaliran investasi (modal) portofolio yang semakin besar. Investasi ini terutama meliputi partisipasi dana luar negeri ke pasar saham. Ketika pasar saham sedang meningkat, dana ini akan mengalir masuk, neraca pembayaran bertambah baik dan nilai uang akan bertambah baik. Sebaliknya, ketika harga-harga saham di pasar saham menurun, dana dalam negeri akan mengalir ke luar negeri, neraca pembayaran cenderung menjadi bertambah buruk dan nilai mata uang domestik merosot. Ketidakstabilan di sektor keuangan ini dapat menimbulkan efek buruk kepada kestabilan kegiatan ekonomi secara keseluruhan.

4.Memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang Apabila hal-hal yang dinyatakan di atas berlaku dalam suatu negara, maka dalam jangka pendek pertumbuhan ekonominya menjadi tidak stabil. Dalam jangka panjang pertumbuhan yang seperti ini akan mengurangi lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja akan semakin lambat pertumbuhannya dan masalah pengangguran tidak dapat diatasi atau malah semakin memburuk. Pada akhirnya, apabila globalisasi menimbulkan efek buruk kepada prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara, distribusi pendapatan menjadi semakin tidak adil dan masalah sosial-ekonomi masyarakat semakin bertambah buruk.

II.STRATEGI BERBAGAI NEGARA MENGHADAPI GLOBALISASI

Argumen-argumen pro dan kontra globalisasi telah menjadi perdebatan panjang yang tak habis-habisnya namun yang pasti ancaman globalisasi terhadap kepentingan nasional memang begitu menakutkan hingga beberapa negara saat ini, seperti Korea Utara dan Kuba, efektif mengisolasi diri. Bahkan di negara-negara industri maju pun, banyak segmen masyarakat yang khawatir terhadap ancaman globalisasi perekonomian terhadap kepentingan mereka. Di Amerika Serikat, lobi industri pertanian sangat kuat melakukan proteksi, mungkin belajar dari pengalaman penduduk asli, kaum Indian, yang punah menjadi korban pertama dari gelombang globalisasi.

Namun demikian, suka atau tidak suka, globalisasi adalah fakta yang harus dihadapi. Belum pernah dalam sejarah terdapat suatu negara yang mampu secara konsisten menghadapi globalisasi dengan menutup diri. Isolasi hanya mengakibatkan terhambatnya pertukaran gagasan dan teknologi yang mengakibatkan kemunduran. Cina merupakan contoh paling klasik. Politik isolasi China dimulai ketika teknologi navigasi kelautan dipandang mulai memberikan ancaman sebagai sumber masuknya pengaruh asing. Namun pada akhir abad ke-19 China yang lemah dalam hal teknologi dan ekonomi tidak mampu menahan penggerogotan yang dilakukan kekuatan-kekuatan asing.

Secara alamiah masyarakat memiliki kebutuhan untuk berinteraksi, dan berkompetisi. Politik isolasi menghambat proses alamiah tersebut namun mengelola tantangan yang dibawa oleh globalisasi. Namun memang demikian yang terjadi. Jelas terdapat banyak negara dan masyarakat yang hancur dan terbelenggu oleh dominasi asing yang dibawa oleh globalisasi, namun banyak juga yang dengan cerdik mengambil manfaat dan berhasil berjuang menghadapinya. Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Taiwan, misalnya, adalah negara-negara yang ‘dikuasai’ dan ‘dimanfaatkan’, kalau tidak bisa disebut sebagai sekutu oleh Amerika Serikat dan kekuatan barat lainnya. Namun negara-negara ini mampu memanfaatkan ‘kedekatan’ mereka dengan Amerika Serikat untuk membangun fondasi ekonomi dan teknologi yang solid untuk kepentingan mereka sendiri. Bandingkan dengan Indonesia, Pakistan dan Filipina misalnya, yang juga merupakan ‘sekutu’ Amerika Serikat dalam perang dingin, namun tetap mengalami kebangkrutan. Dominasi dan intervensi asing dalam berbagai aspek kehidupan di berbagai negara merupakan sesuatu yang secara alamiah pasti terjadi. Dan di banyak negara bentuk-bentuk intervensi tersebut bahkan mungkin jauh lebih tinggi intensitasnya.

Jepang merupakan contoh yang sangat tepat. Menjadi musuh Amerika Serikat dalam Perang Dunia kedua, kalah, dijajah selama enam tahun, Jepang mampu menjadi superpower ekonomi dalam waktu cukup singkat. Pada tahun 1985 ketika Amerika Serikat merasa produk-produk otomotif Jepang mulai mengancam industrinya, Jepang dipaksa menerima Plaza Accord yang menaikkan nilai tukar Yen dan mengakibatkan harga produk-produk Jepang menjadi luar biasa mahal. Industri otomotif Jepang bereaksi dengan memindahkan pabrikasi mereka ke negara-negara lain (termasuk ke Amerika Serikat) dan memperkuat integrasi regional untuk menghindari biaya tinggi. Tidak sampai satu dekade kemudian Jepang justru berhasil mendominasi perekonomian Amerika, bahkan juga menguasai sektor-sektor yang strategis dan prestigius seperti properti, media dan hiburan.[2]

Bagaimana halnya dengan bangsa Indonesia? Menurut Prof Dr Ir Frans Mardi Hartanto dari ITB dalam makalahnya menyatakan bahwa bangsa kita, sebagaimana banyak bangsa yang pernah lama dijajah cenderung, memiliki mentalitas inferior terhadap orang asing yang lebih maju (Barat). Akibatnya pola interaksi yang berlangsung berkecenderungan menjadi hubungan patron-klien, yaitu hubungan yang bersifat tidak setara, di mana ada pihak yang merasa perlu dilindungi oleh pihak yang lain. Pihak yang merasa perlu dilindungi adalah “Klien”, sedang yang melindungi adalah “Patron”-nya. Hubungan ini tidak selalu bersifat eksploitatif, tetapi mudah sekali berkembang ke arah itu. Dalam tataran hubungan antarnegara, negara “patron” cenderung mendikte dan menggurui negara “klien”. Bila membantu negara “klien”, negara “patron” merasa dirinya sebagai donor yang dermawan. Negara “patron” tidak dapat dicegah menggunakan kelebihannya untuk mencari manfaat dari negara “klien”, tetapi negara “klien” dapat bangkit dari keterpurukannya dengan membongkar belenggu hubungan Patron-Klien ini dengan membangun kemandirian, kepercayaan diri, dan melepaskan ketergantungan pada negara “patron”.[3]


III.FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEMAJUAN SUATU BANGSA

Hasil studi oleh Bank Dunia (World Bank) pada tahun 2000 pada 150 negara, menunjukkan bahwa ada 4 faktor penentu kemajuan suatu negara dengan bobot peranannya masing-masing yakni:

1. INNOVATION ANDCREATIVITY (45%)

2. NETWORKING (25%)

3. TECHNOLOGY (20%)

4. NATURAL RESOURCES (10%)

Dari bobot seperti diatas, tiga faktor itu dengan bobot 90% menempatkan SDM (Sumber Daya Manusia) menjadi faktor determinan yang sangat strategis. Ini berarti bahwa ke depan : Tuntutan dan kebutuhan utama adalah mengembangkan SDM yang berkemampuan mengembangkan inovasi dan kreatifitas, kemampuan dalam membangun jaringan kerjasama, juga kreatif dan inovatif mengembangkan dan mendayagunakan teknologi, sekaligus mampu mengelola dan mengembangkan potensi sumberdaya alam yang dimiliki.[4]

IV.KUALITAS SDM DIBANGUN DALAM LINGKUNGAN PERSAINGAN

Kualitas SDM sangat ditentukan oleh tingkat persaingan, semakin sengit persaingan maka pemenang yang muncul adalah pemenang sejati yang mampu bertahan bahkan maju dalam kondisi kritis sekalipun. Negara yang menutup persaingan dengan alasan stabilitas atau keamanan nasional pada akhirnya akan melahirkan manusia-manusia bermental lemah dan tidak terbiasa menghadapi konflik.

Alasan mendasar di balik perlunya persaingan adalah keterbatasan sumber daya. Karena sumber daya terbatas, diperlukan mekanisme untuk menentukan siapa yang berhak mengelola dan menikmati sumber daya itu. Persaingan pasar, yang mengurangi distorsi harga, mendorong sumber daya bebas mengalir ke sektor paling efisien.

Persaingan juga mendorong perusahaan memperbaiki produktivitasnya dan mendorong inovasi sehingga tersedia barang dan jasa dengan harga lebih murah, mutu lebih baik, serta pilihan lebih luas bagi konsumen. Kasus industri penerbangan memberi ilustrasi menarik. Sejak Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) “membuldoser” kartel terselubung di industri penerbangan, persaingan marak dan muncul perusahaan penerbangan baru. Persaingan ketat itu pada gilirannya telah menurunkan harga tiket pesawat, bahkan turunnya harga tiket pesawat mengimbas moda transportasi lain. Manfaat lain dalam proses persaingan adalah Pertama, proses persaingan dapat menyumbang penghapusan KKN karena persaingan membuat sektor swasta dan hubungan antara penguasa-pengusaha menjadi lebih transparan dan accountable. Kedua, persaingan dapat mengurangi anggaran pemerintah untuk regulasi sehingga anggaran pemerintah dapat lebih diarahkan bagi pengentasan masyarakat dari kemiskinan.

4.1 Mitos Mengenai Persaingan

Selama ini bangsa ini selalu bersembunyi di balik dalih cost atau ekonomi biaya tinggi, atas ketidakmampuan bersaing di pasar luar negeri. Padahal, keunggulan bersaing di pasar tidak selamanya hanya ditentukan oleh daya saing dalam menekan biaya. Banyak negara atau perusahaan besar dunia yang mampu menguasai pasar karena citra kuat produk yang dibangunnya, kendati dari sisi biaya produksi ia sangat tak kompetitif. Contohnya, Swiss dengan produk jam tangannya. Kita tidak mungkin terus berkutat membangun citra kita dan produk-produk kita sebagai basis produksi murah atau produk- produk murah berkualitas rendah, sementara di sekitar kita bermunculan pesaing-pesaing baru yang mampu menawarkan keunggulan serupa dan bahkan lebih kompetitif.

Dunia usaha, dengan besarnya skala aset yang dikuasai dan banyaknya tenaga kerja yang diserap, serta luasnya pengaruh dan jangkauan sepak terjang operasionalnya, memiliki peran besar untuk bisa membuat perubahan dalam kultur budaya suatu negara, dalam hal ini kultur budaya unggul. Di banyak negara, kultur bisnis ikut membentuk budaya masyarakatnya dan juga sistem secara keseluruhan menjadi lebih kompetitif, tahan banting dan mampu mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi.

Krisis Asia dan globalisasi, menurut analisis seperti Paul Temporal dan Harry Alder (Corporate Charisma: Key to Business Competitiveness in The New Asia) telah membuka mata dunia mengenai betapa banyak perusahaan besar di Asia (termasuk Indonesia) yang dianggap sukses selama ini, ternyata tak lebih hanya macan-macan kertas.

Mereka bisa sukses karena modal kedekatan dengan penguasa dan kemudahan mendapatkan pendanaan investasi dari lembaga-lembaga keuangan Barat yang saat itu tak memiliki pilihan lain tempat investasi dan terbujuk oleh optimisme palsu bahwa Asia dengan jumlah penduduk kelas menengah yang terus bertambah adalah jaminan sukses bagi siapa pun yang investasi di sana.

Dengan runtuhnya ekonomi dan rezim pemerintahan berkuasa, lenyap pula privilege dan proteksi yang mereka nikmati selama ini. Satu per satu macan-macan kertas ini bertumbangan, dengan meninggalkan beban finansial dan moral menggunung pada negara.

Beberapa perusahaan beruntung karena pemerintah terpaksa harus menyelamatkan mereka, karena mereka too big to fail. Namun, beberapa lainnya bisa bertahan atau semakin kuat karena memang mereka berhasil menyiasati kondisi sulit itu menjadi sebuah peluang, antara lain melalui penajaman maupun penciptaan daya saing kompetitif yang baru.

Contohnya, yang dilakukan oleh produsen makanan Garudafood, dengan mengembangkan berbagai varietas produk makanan dari kacang untuk melayani segmen pasar yang berbeda-beda. Di sini terjadi proses pembentukan nilai (value creation) yang membuat perusahaan bisa bersaing dan memperluas pasar.

Contoh lain, apa yang dilakukan oleh produsen Pacekap, produk herbal yang dikembangkan dari pace, bahan yang selama ini nyaris tak pernah dilirik, tetapi kini mendadak populer dan bahkan sudah mulai merambah banyak pasar ekspor dunia. Masih banyak contoh lain perusahaan yang tumbuh atau semakin besar justru setelah krisis.

Dalam situasi seperti ini, menjadi pekerjaan rumah bagi dunia usaha untuk membangun budaya kompetitif. Untuk menciptakan budaya kompetitif, lembaga harus menoleransi kesalahan yang dibuat oleh anggotanya. Sebab, tanpa kesalahan, sulit terjadi penemuan-penemuan. Mistakes is the mother of invention, istilahnya. Jadi, lembaga harus mampu menciptakan situasi kerja yang memungkinkan anggota bisa bekerja sambil belajar.

Selain menoleransi kesalahan, lembaga juga harus menjamin tingkat kehidupan yang baik bagi anggota karena tanpa itu sulit bagi anggota untuk meningkatkan kompetensi dan memberikan kontribusi terbaiknya.

Satu prinsip lainnya, adanya perbedaan dalam hal budaya dan sistem nilai di lembaga, mestinya tidak dianggap sebagai suatu dikotomi, tetapi suatu paradoks yang bisa direkonsiliasikan dan dikembangkan menjadi suatu kekuatan. Kalau tidak, seperti yang dialami selama ini, bangsa ini tidak akan pernah berhenti gontok-gontokan karena setiap kali isu dikotomi seperti pribumi dan nonpribumi dan Jawa-luar Jawa terus muncul dan membuat jarak dan ketegangan.

4.2 Prinsip Persaingan

Persaingan yang sehat di pasar tidak dapat muncul begitu saja tanpa kebijakan persaingan yang baik. Secara positif, kebijakan persaingan itu harus meningkatkan persaingan di tingkat lokal dan nasional. Secara negatif, kebijakan itu harus mencegah kebijakan atau perilaku yang menghambat persaingan. Dalam merancang dan menerapkan kebijakan persaingan itu beberapa prinsip dasar perlu diperhatikan.

Pertama, kebijakan persaingan harus bersifat nondiskriminatif terhadap pelaku bisnis, baik pelaku bisnis asing maupun domestik. Kebijakan persaingan berdasar hal-hal yang tidak terkait dengan efisiensi hanya memberi perlindungan pada perusahaan yang tidak efisien. Kebijakan persaingan ditujukan untuk melindungi persaingan bukan melindungi pengusaha dari pesaing.

Kedua, kebijakan persaingan harus bersifat komprehensif. Pengalaman sebelum krisis menunjukkan, liberalisasi yang tidak komprehensif telah menyebabkan ekonomi Indonesia rentan terhadap krisis. Agar komprehensif, kebijakan persaingan harus meliputi: kebijakan persaingan di pasar barang, jasa, maupun faktor produksi.

Diperlukan juga kebijakan dan lembaga yang melindungi proses persaingan dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi persaingan, baik persaingan antarprodusen (swasta, BUMN, koperasi, PMA), persaingan antara produsen dan konsumen (lembaga perlindungan konsumen), maupun persaingan antarkonsumen. Kebijakan persaingan itu dilindungi kerangka hukum dan penegakan hukum yang tidak diskriminatif, efisien, dan efektif.

Dilaksanakan secara transparan dan disertai kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab dalam penerapannya.[5]

Dalam menghadapi persaingan ada tiga dasar yang harus diperhatikan menurut Cohen, yaitu

  1. Kekuatan Fisik. Kekuatan fisik di sini adalah stamina sang pemenang dan kekuatan sumber daya yang dimiliki. Jadi, sangat penting bagi seorang pemenang untuk memiliki stamina yang kuat, karena untuk menghasilkan mahakarya di bidangnya, diperlukan kekuatan fisik yang prima. Dalam hal ini, kesehatan penting untuk dipelihara. Seorang pemimpin juga perlu ditunjang dengan sumber daya yang cukup untuk tampil sebagai pemenang: Seorang olah ragawan perlu memiliki peralatan olah raga yang diperlukan, pelatih, sparing partner, dan kesempatan untuk melatih keterampilannya dalam pertandingan persahabatan; seorang calon presiden memerlukan dana untuk berkampanye, serta tim sukses untuk membantunya menyusun taktik menang; seorang yang akan memulai bisnis memerlukan sumber daya untuk memproduksi ataupun mengadakan barang atau jasa yang akan dijualnya, serta dukungan dana serta tim yang kuat untuk menjalankan bisnisnya tersebut.
  2. Kekuatan Mental. Kekuatan fisik saja belumlah cukup untuk menyusun strategi pemenang. Calon pemenang memerlukan kekuatan mental yang mencakup kemampuan intelektual dan pengetahuan di bidang yang akan ditekuninya. Tanpa pengetahuan dan kekuatan intelektual yang cukup, akan sulit bagi seseorang untuk memasuki suatu arena, apalagi untuk memenangkannya, karena calon pemenang perlu mengenal dan memiliki pengetahuan yang dalam mengenai ” medan perang” yang akan dimasukinya. Olah ragawan perlu mengenal peraturan olah raga, peralatan olah raga, lapangan olah raga, serta para pesaing yang akan dihadapinya. Demikian juga dengan politisi dan pelaku bisnis. Keduanya perlu memiliki pengetahuan mengenai para pemain, peraturan, dan peta kekuatan di arena yang akan mereka masuki.
  3. Kekuatan Moral. Yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pemenang adalah kekuatan moral. Kekuatan moral mencakup sikap dan nilai-nilai spiritual yang dianutnya. Kekuatan moral ini akan menjadi pedoman bagi sang pemenang untuk menyusun strategi yang paling tepat, untuk tetap bertahan dan tetap memiliki semangat juang yang tinggi ketika dalam perjalanan menuju tujuan harus mengalami berbagai rintangan dan masalah.

Namun, yang selalu diingat oleh para pemenang adalah kombinasi optimal dari ketiga kekuatan ini. Menurut jendral Inggris, J.F.C. Fuller, kekuatan fisik saja tidak akan bisa memenangkan peperangan, kekuatan mental saja juga tidak bisa memenangkan peperangan, demikian juga dengan kekuatan moral saja yang tidak bisa memenangkan peperangan. Artinya penggunaan kekuatan ini secara terpisah tidak akan memenangkan peperangan. Yang dapat memenangkan peperangan adalah kekuatan dahsyat dari kombinasi optimal ketiga kekuatan (fisik, mental, dan moral).
4.3 Strategi Pemenang

Kombinasi ketiga kekuatan di atas (fisik, mental, dan moral) bisa dijadikan modal dasar untuk membangun strategi pemenang sebagai berikut:

1.Miliki Tujuan dan Komitmen pada Tujuan. Semua pemenang memiliki tujuan yang jelas dan rinci. Tujuan seperti ini akan lebih memudahkan mereka untuk mewujudkannya. Para olah ragawan yang bertanding di forum dunia memiliki tujuan untuk memecahkan rekor dunia. Sebelum berangkat mereka telah melakukan berbagai persiapan, baik fisik, mental, maupun moral. Mereka mempelajari strategi lawan dan peta kekuatan lawan, lalu mereka menyiapkan strategi bertanding yang bisa mengalahkan lawan. Mereka pun berlatih dengan komitmen tinggi setiap hari untuk mewujudkan tujuan tersebut.

2.Tumbuhkan Inisiatif. Tujuan yang jelas dan rinci tanpa ditunjang dengan aksi tidak akan pernah terwujud. Di sinilah perlunya inisiatif untuk mulai mengambil langkah pertama, dan mempertahankan langkah-langkah selanjutnya yang dapat membawa seseorang untuk mewujudkan tujuan menang yang berkelanjutan. Seringkali kita menunda terlalu lama untuk mewujudkan aksi karena lingkungan kita yang menyuarakan keraguan, ataupun karena kita belum mendapatkan waktu yang tepat untuk melakukannya. W. Clement Stone, pelaku bisnis di bidang asuransi yang mulai dari nol sampai akhirnya memiliki perusahaan yang masuk daftar perusahaan bergengsi di Fortune 500, punya kunci untuk mengatasi ”penundaan” dan menumbuhkan inisiatif, yaitu: Lakukan sekarang!

3.Konsentrasi Sumber Daya. Sumber daya memang terbatas, tetapi kondisi ini tidak perlu membuat hati kita ciut. Hanibal dari Chartagena dengan 20.000 pasukan berhasil mengalahkan pasukan Roma yang dipimpin oleh Terentius Varo dengan 72.000 orang. Jika dilihat dari kekuatan, tentunya Hanibal kalah jauh dibandingkan dengan musuhnya. Tetapi karena Hanibal menerapkan strategi ” konsentrasi” sumber daya di titik-titik kritis yang merupakan titik kelemahan lawan, akhirnya ia dan pasukannyalah yang berhasil tampil sebagai pemenang. Demikian pula dalam bisnis, kita perlu mengetahui kekuatan sumber daya kita, dan juga titik lemah lawan, lalu kita konsentrasikan sumber daya kita di titik di mana kita menginginkan kemenangan. Dengan demikian, kita bisa mengalahkan lawan di posisi lemah mereka.

4.Gunakan” Strategic Positioning”. Konsentrasi sumber daya bisa berjalan jika kita tahu posisi strategis yang akan kita luncurkan. McDonald’s memposisikan diri sebagai restoran makanan cepat saji yang bersih dan efisien dalam pelayanan. Dell Computers memposisikan diri sebagai perusahaan perakitan komputer yang melibatkan konsumen dalam proses perakitannya. Body Shop memposisikan diri sebagai perusahaan penghasil kosmetika dari bahan alami, dan bebas dari percobaan yang melibatkan binatang bernyawa. Semua perusahaan ini memilih posisi strategis yang membedakannya dari para pesaing. Titik beda ini menjadi identitas kuat bagi perusahaan di benak konsumen, sehingga lebih mudah diingat dan lebih besar kemungkinannya untuk dipilih dibandingkan dengan para pesaing di pasar yang sejenis.

5.Berikan Kejutan. Bill Clinton yang namanya telah tercemar dengan kasus yang menyangkut Monica Lewinsky hampir saja kalah dalam pemilihan presiden untuk masa jabatan periode kedua. Banyak pengamat yang sudah memastikan bahwa Clinton tidak akan menjabat lagi sebagai presiden. Tetapi, tim sukses Clinton melihat kekuatan Clinton di bidang yang lain. Mereka memberikan kejutan dengan memfokuskan perhatian masyarakat akan keberhasilan ekonomi Clinton. Menurut kampanye yang diluncurkan, dalam menjalankan negara, yang lebih penting adalah kemampuan untuk meningkatkan ekonomi negara, dan mensejahterakan bangsa. Ternyata strategi kejutan ini berhasil memberikan kemenangan yang kedua bagi Bill Clinton.

6.Sederhanakan Proses. Semakin jelas tujuan, akan semakin mudah untuk mewujudkannya. Proses untuk menuju ke tujuan juga harus mudah untuk dimengerti agar semua jajaran termasuk juga pelanggan mampu menerjemahkannya dalam tindakan yang sinergis untuk menuju ke arah yang sama. Jika biasanya orang membeli buku harus pergi ke toko buku, melewati jalan-jalan macet, dan kesulitan untuk mendapatkan parkir, serta mencari buku di rak buku bagian penjualan, maka Amazon.com menyederhanakan proses pembelian buku. Pelanggan tinggal mengetik judul buku yang dicari, atau topik dari buku-buku yang ingin dicari, maka secara otomatis daftar buku yang tersedia berikut harga akan terlihat di layar. Buku ini pun ada berbagai jenis, ada buku bekas, buku baru versi hard cover ataupun paperback. Selain buku yang dicari, Amazon.com juga memberi alternatif buku sejenis yang mungkin juga diminati oleh pelanggan. Untuk membeli, pelanggan tinggal memasukkan nomor kartu kredit dan password, tak lama kemudian buku akan dikirim ke pelanggan. Proses yang mudah ini telah membuat perusahaan penjual buku secara online ini mengalahkan toko-toko buku besar yang sudah lama berada di pasar.

7.Siapkan secara Terus-menerus Berbagai Alternatif. Seringkali implementasi tidak sama persis dengan yang sudah direncanakan. Untuk itu, seorang pemenang perlu menerapkan berbagai alternatif ataupun berbagai skenario untuk menang. Jadi, jika satu skenario tidak berjalan seperti yang direncanakan, pelaku tersebut tidak panik, tetapi sudah siap dengan skenario lainnya untuk mencapai tujuan. Dalam menyiapkan berbagai alternatif, pelaku bisnis biasanya akan terpacu untuk mengantisipasi berbagai masalah yang timbul. Misalnya saja Steve Jobs ketika merintis perusahaan Apple Computer. Pada awal pendiriannya, ia mendapat berbagai tantangan dalam mengumpulkan dana. Karena ia telah menetapkan berbagai alternatif sumber pendanaan (bukan hanya dari bank), ia berhasil menuntaskan pengumpulan dana sehingga cukup untuk meluncurkan bisnis yang dirintisnya bersama mitra bisnisnya.

8.Ambil Jalan Putar Menuju Tujuan. Chris Zane, pendiri Zane’s Cycle, sebuah toko sepeda, harus bersaing langsung dengan toko-toko besar yang juga menawarkan sepeda, seperti Wal-Mart, K-Mart dan raksasa pertokoan lainnya. Karena menyadari bahwa ia tidak bisa langsung bersaing dengan para raksasa tersebut, Zane mengambil jalan memutar untuk mencapai tujuannya, yaitu dengan menawarkan layanan pelanggan yang prima (cepat, ramah, dengan garansi yang lebih lama). Strategi memutar (tidak bersaing secara langsung) ini akhirnya membuahkan hasil. Pelanggan mulai percaya dan beralih ke Zane’s Cycle karena layanan yang prima (dengan harga sama, tapi banyak keuntungan tambahan yang bisa diperoleh: garansi lebih lama, layanan lebih cepat, dan pelayanan yang lebih istimewa dari para karyawan).

9.Terapkan Waktu dan Prioritas. Perencanaan dan penerapan strategi ibaratnya seperti menyiapkan resep untuk sebuah masakan. Ada rumusan yang harus diikuti: ada bahan yang harus dimasukkan terlebih dulu sebelum bahan masakan lainnya (ada prioritas). Tetapi juga ada waktu yang perlu diperhatikan. Jika masakan terlalu lama disiapkan, maka bisa gagal, demikian pula jika masakan terlalu cepat disiapkan, kegagalan juga bisa terjadi. Demikian juga dengan kegiatan bisnis, ataupun kegiatan lain yang membutuhkan perencanaan dan prioritas. Untuk mengetahui waktu yang tepat dan prioritas yang paling pas bagi sebuah perusahaan, diperlukan pertimbangan yang matang, pengamatan lapangan yang cermat, dan kesadaran dan pengetahuan atas kemampuan diri serta kemampuan pesaing, selain tujuan yang jelas.

10.Manfaatkan Sukses secara Optimal. Setelah sukses diraih, sang pemenang tidak bisa lalu langsung merasa puas. Jika sang pemenang ingin mempertahankan kemenangannya, ia perlu senantiasa me-review strategi yang telah ditetapkan dengan tetap memandang pada tujuan utama (kemenangan). Hal ini perlu diperhatikan karena lingkungan berubahan, peta kekuatan juga berubah, sumber daya berubah, dan teknologi juga berubah. Dengan tetap memandang pada tujuan, sang pemenang perlu memperbaharui diri untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi di lingkungannya agar tidak terlibas oleh perubahan tersebut. Sang pemenang harus berhati-hati untuk tidak menerapkan strategi yang selalu sama dengan strategi yang pertama kali ia gunakan untuk meraih sukses, karena kondisi yang dihadapi telah berubah, selain itu juga pesaing biasanya sudah mempelajari startegi sukses sang pemenang. Jadi, perlu kreativitas dan kejelian untuk menerapkan strategi yang senantiasa baru dan segar.[6]

V.SDM BERKUALITAS DIBENTUK DARI PARADIGMA BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Manusia adalah Homo Educandum, makhluk yang dapat dididik untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Sulit dibayangkan kemajuan suatu bangsa tanpa dibarengi dengan peningkatan kualitas intelektual. Terlebih di era teknologi informasi seperti sekarang ini, mereka yang paling cepat mengakses dan memanfaatkan informasi berada pada garda terdepan masyarakat unggul yang kompetitif. Teknologi sebagai applied science misalnya, memperlihatkan tingkat persaingan yang luar biasa antara bangsa, antar daerah, dan antar personal. Jeffrey Sachts, seorang pakar ekonomi dari Harvard University membagi bangsa dalam tingkat kemajuan teknologi itu ke dalam tiga kelompok. Pertama, Technological Innovators; yaitu negara-negara yang memiliki teknologi maju karena kemampuannya dalam berinovasi. Kedua Technological Adopters; yaitu negara-negara yang memiliki kemampuan teknologi cukup tinggi karena kemampuan mereka mengadopsi, meniru (bahkan mungkin mencuri) teknologi dari negara-negara level pertama. Ketiga, Technological Excluded; yaitu negara-negara konsumen teknologi yang hanya menjadi tempat pemasaran teknologi tanpa mampu bersaing dengan negara-negara level pertama dan kedua. Kunci utama negara level pertama dan kedua itu tadi adalah kemampuan mereka untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada warganya untuk mengenyam pendidikan.

Sehubungan dengan pengembangan SDM untuk peningkatan kualitas, Kartadinata (1997:6) mengemukakan bahwa “Pengembangan SDM berkualitas adalah proses kontekstual, sehingga pengembangan SDM melalui upaya pendidikan bukanlah sebatas menyiapkan manusia yang menguasai pengetahuan dan keterampilan yang cocok dengan dunia kerja pada saat ini, melainkan juga manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat.”

Program peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan akan memberi manfaat pada organisasi berupa produtivitas, moral, efisiensi, efektivitas, dan stabilitas organisasi dalam mengantisipasi lingkungan, baik dari dalam maupun ke luar organisasi yang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Perencanaan SDM yang berkualitas, dalam Malaysia’s 2020 (1995), merumuskan beberapa kecenderungan yang terjadi dalam masyarakat global yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kualitas SDM. Kecenderungan tersebut adalah” (1) Dibandingkan dengan dasawarsa 1970-an dan 1980-an, tiga dasawarsa mendatang diperkirakan akan terjadi eksplosi yang hebat, terutama yang menyangkut teknologi informasi dan bioteknologi. Dalam konteks peningkatan kualitas SDM, implikasi yang dapat diangkat adalah para ilmuwan harus bekerja dalam pendekatan multidisipliner dan adanya program pendidikan berkelanjutan (S2/S3), dan (2) Eksplosi teknologi komunikasi yang semakin canggih dapat mempersingkat jarak dan mempercepat perjalanan. Hal ini akan membuat bangsa yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang relevan dan menguasai teknologi baru secara substantif mampu meningkatkan produktivitasnya. Hasil pemikiran diatas menghadapkan kita pada arah, tantangan, dan tuntutan umum pendidikan dalam kehidupan abad ke-21 sebagai masa depan suatu lembaga[7]


[1] O’Neil, D. 2006. Cultural Anthropology Tutorials, Behavioral Sciences Department, Palomar College, San Marco, California. Retrieved: 2006-07-10.

[2] Masri. R, Kebangkitan Nasional dan Tantangan Globalisasi, www.kabarindonesia.com

[3] Siswono Yudo Husodo, Martabat Nasional Dan Globalisasi, Milis Nasional Indonesia PPI-India

[4]Zulkarnain Karim, Peranan Dan Peningkatan Kualitas SDM Dalam Era Globalisasi, www.pangkalpinang.go.id

[5] Haryo Aswicahyono, Persaingan Pasar, Kompas, 3/12/04

[6] Srategi Pemenang, Sinar Harapan 2003

[7] www.uharsputra.wordpress.com, Investasi Untuk Meningkatkan Kualitas SDM. 01/05/07

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top