Tahapan Membangun Tim atau Stages of Team Building | DR. Arif Zulkifli Nasution

Tahapan Membangun Tim atau Stages of Team Building

Tahapan Membangun Tim
Tahap 1: FORMING (Pembentukan)
• Pilih cara yang paling ‘aman’; cari pola perilaku yang dapat saling menerima
• Pilih / cari pimpinan untuk dapat dijadikan acuan
• Tetapkan orientasi tugas-spesifik
• Hindari setiap kontroversi
• Usahakan rasional; hindari gosip
• Jika diperlukan “subgrouping” sebaiknya didasari oleh kenyamanan masing-masing individu
• Kondisi nyaman sebisa mungkin dipertahankan

Pertanyaan yang sering muncul waktu TIM baru dibentuk atau seseorang baru bergabung dalam TIM ybs:
• apakah saya diterima dalam TIM ini?
• apakah kehadiran saya akan merubah suasana TIM?
• maukah saya mengambil resiko ini? Akankah saya jadi tertekan?
• apakah saya penting bagi anggota TIM lainnya?

TAHAP 2: STORMING (Banyak gangguan)
• muncul kompetisi dan konflik hubungan diantara anggota
• Sebagai awal dari fokus “organisasi”
• Meningkatnya keinginan untuk menciptakan struktur
• Konflik personal berpotensi semakin meningkat
• Perlu segera bergerak (pindah) dari “uji dan bukti” menjadi upaya mencari jalan keluar dan seterusnya ke orientasi progresif
Jika diantara anggota TIM sudah mulai muncul hal-hal berikut: frustrasi, kuatir, Kesadaran-diri, Ketidak pastian, Maka Angota tersebut sebenarnya SUDAH SIAP UNTUK BELAJAR

TAHAP 3: NORMING (menciptakan norma)
• Dicirikan oleh timbulnya rasa ‘satu’ (kohesi)
• Anggota kelompok/tim mengingatkan satu sama lainnya
• Berbagi kepemimpinan – kebuntuan dapat mulai dihindari
• Merasa lega dan nyaman berada dalam TIM
• Mulai muncul inspirasi untuk berkreasi
• Ada perasaan kuatir jika ada perubahan dalam TIM

TAHAP 4: PERFORMING (Pretasi)
• Tidak perlu melakukan segala sesuatu (tugas) harus melibatkan semua anggota
• Anggota TIM dapat melaksanakan tugasnya secara independen, baik dalam satu sub-TIM atau TIM yang cukup besar dengan fasilitas yang dimanfaatkan sama
• Sangat berorientasi pada tugas
• Sangat berorientasi pada manusia
• Tingkat moral yang tinggi dan loyalitas terhadap TIM semakin intensif/ mendalam
• Saling mendukung jika menghadapi satu resiko

TAHAPAN MEMBANGUN TIM
Tahap 1: FORMING (Pembentukan)
• Pilih cara yang paling ‘aman’; cari pola perilaku yang dapat saling menerima
• Pilih / cari pimpinan untuk dapat dijadikan acuan
• Tetapkan orientasi tugas-spesifik
• Hindari setiap kontroversi
• Usahakan rasional; hindari gosip
• Jika diperlukan “subgrouping” sebaiknya didasari oleh kenyamanan masing-masing individu
• Kondisi nyaman sebisa mungkin dipertahankan

Pertanyaan yang sering muncul waktu TIM baru dibentuk atau seseorang baru bergabung dalam TIM ybs:
• apakah saya diterima dalam TIM ini?
• apakah kehadiran saya akan merubah suasana TIM?
• maukah saya mengambil resiko ini? Akankah saya jadi tertekan?
• apakah saya penting bagi anggota TIM lainnya?

TAHAP 2: STORMING (Banyak gangguan)
• muncul kompetisi dan konflik hubungan diantara anggota
• Sebagai awal dari fokus “organisasi”
• Meningkatnya keinginan untuk menciptakan struktur
• Konflik personal berpotensi semakin meningkat
• Perlu segera bergerak (pindah) dari “uji dan bukti” menjadi upaya mencari jalan keluar dan seterusnya ke orientasi progresif
Jika diantara anggota TIM sudah mulai muncul hal-hal berikut: frustrasi, kuatir, Kesadaran-diri, Ketidak pastian, Maka Angota tersebut sebenarnya SUDAH SIAP UNTUK BELAJAR

TAHAP 3: NORMING (menciptakan norma)
• Dicirikan oleh timbulnya rasa ‘satu’ (kohesi)
• Anggota kelompok/tim mengingatkan satu sama lainnya
• Berbagi kepemimpinan – kebuntuan dapat mulai dihindari
• Merasa lega dan nyaman berada dalam TIM
• Mulai muncul inspirasi untuk berkreasi
• Ada perasaan kuatir jika ada perubahan dalam TIM

TAHAP 4: PERFORMING (Pretasi)
• Tidak perlu melakukan segala sesuatu (tugas) harus melibatkan semua anggota
• Anggota TIM dapat melaksanakan tugasnya secara independen, baik dalam satu sub-TIM atau TIM yang cukup besar dengan fasilitas yang dimanfaatkan sama
• Sangat berorientasi pada tugas
• Sangat berorientasi pada manusia
• Tingkat moral yang tinggi dan loyalitas terhadap TIM semakin intensif/ mendalam
• Saling mendukung jika menghadapi satu resiko

Hubungan Kepemimpinan dan Manajemen

Kisi-Kisi Kepemimpinan

Pemimpin dan pendelegasian
Delegasi : petunjuk untuk melaksanakan tugas yang didelegasikan
Proses Delegasi:
1. Pilihlah subordinat (bawahan) yang dianggap mampu
2. Jelaskan tugas dengan cara yang dapat dimengerti (untuk setiap instruksi)
3. Berikan otoritas yang secukupnya kepada subordinat tersebut
4. Ciptakan kondisi untuk dapat terus berhubungan dengan subordinat (pengendalian dan pengawasan)

Paradigma Baru Kepemimpinan; 3 Peran Utama
• PATH-FINDING: terus mencari alur/benang merah keberadaan organisasi
• ALIGNING: Penyelarasan terhadap semua aspirasi anggota
• EMPOWERMENT: Pemberdayaan terhadap semua sumberdaya

SUPERLEADERSHIP
“GIVE A MAN FISH, AND HE WILL BE FED FOR A DAY (berikan ikan, dan dia akan dapat makan sehari)
TEACH A MAN TO FISH, AND HE WILL BE FED FOR A LIFETIME” (ajarkan dia cara memancing, dan dia akan dapat makan sepanjang hidupnya)

TIM dan Kepemimpinan
Kepemimpinan
Proses mengarahkan dan mempengaruhi aktifitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok
1. Melibatkan orang lain
2. Melibatkan distribusi kekuasaan (delegasi, desentralisasi, dekonsentrasi)
3. Kemampuan menggunakan berbagai bentuk kekuasaan untuk mempengaruhi tingkah laku pengikut/anggota
4. Melibatkan nilai moral dari pemimpin yang bersangkutan

TUGAS PEMIMPIN
1. Menciptakan visi untuk masa yang akan datang
2. Membangun strategi yang rasional untuk mencapai visi
3. Mengetahui dan memanfaatkan sumber-sumber kekuatan yang dimiliki
4. Memperkuat motivasi kelompok inti yang kegiatannya menjadi fokus pelaksanaan strategi

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top