Stress Dalam Pekerjaan atau stress at work | DR. Arif Zulkifli Nasution

Stress Dalam Pekerjaan atau stress at work

Stress Dalam Pekerjaan
1. Pengertian Stres
Hans Selye (dalam Berry, 1998) mendefinisikan stres sebagai tanggapan atau reaksi fisiologis dan psikologis seseorang terhadap stressor. Beliau mengatakan bahwa stres adalah reaksi pertahanan secara umum yang dilakukan tubuh terhadap stressor. Reaksi ini muncul akibat adanya kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipenuhi baik yang berhubungan dengan lingkungan atau tujuan-tujuan personal. Selye menyusun konsep tentang proses stres secara fisiologis.

Sedangkan Beehr dan Franz (dikutip Bambang Tarupolo, 2002:17), mendefinisikan stres kerja sebagai suatu proses yang menyebabkan orang merasa sakit, tidak nyaman atau tegang karena pekerjaan, tempat kerja atau situasi kerja yang tertentu.

Dasar-dasar fisiologis terjadinya stres adalah adanya pergerakkan hormon tertentu dan mekanisme sistem syaraf. Akibatnya stres dapat merubah susunan pokok yang dimiliki seseorang. Contohnya, karyawan yang terserang hatinya karena stres maka dapat mengakibatkan serangan jantung, dan jika perutnya yang sensitif, dapat mengakibatkan penyakit maag.

Pandangan Selye mendapatkan kritik dari sejumlah peneliti lain. Stres menurut mereka tidak dipandang hanya sebagai suatu jawaban. Stres harus dilihat sebagai fungsi dari individu yang menafsirkan situasi. Reaksi orang tidak sama terhadap situasi stres yang sama. Setiap orang memiliki peta kognitif dari lingkungannya. Setiap benda, benda mati atau hidup, yang ada dilingkungannya mempynyai maknanya masing-masing. Karena itu rangsangan atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan itu sendiri tidak membangkitkan stres, tetapi individu itu sendiri harus mempersepsikannya sebagai situasi yang penuh stres.

Selye membedakan dua bentuk stres, yaitu distress, yang merupakan reaksi seseorang terhadap kejadian-kejadian negatif. Eustres merupakan reaksi seseorang terhadap kejadian-kejadian positif. Kedua reaksi ini merupakan stres fisologis. Lebih lanjut Selye menjelaskan bahwa stres bukan sekedar ketegangan syaraf, melainkan dapat memiliki konsekuensi positif. Stres juga bukan sesuatu yang harus dihindari karena tidak adanya stres sama sekali adalah kematian.

2. Respon Individu Terhadap Stres
Respon individu terhadap stres individual differences. Respon individu terhadap stres tidak sama. Untuk dapat mengetahui bagaimana respon individu terhadap stres, kita dapat meninjau beberapa model stres secara teoritis berikut ini:
a. Syndrom Adaptasi Umum (General adaptation syndrom/ GAS)
Selye mengamati serangkaian perubahan biokimia dalam sejumlah organisme yang beradaptasi terhadap berbagai macam tuntutan lingkungan.Rangkaian perubahan ini dinamakan dengan general adaptation syndrome(GAS). Sindrom adaptasi umum terdiri dari tiga tahap, yaitu: pertama, tahap peringatan (alarm stage). Organisme berorientasi terhadap tuntutan yang diberikan oleh lingkungannya dan mulai menghayati lingkungannya sebagai ancaman. Tahap ini tidak dapat tahan lama. Organisme memasuki tahap kedua, yaitu tahap perlawanan (resistence stage). Organisme memobilisasi sumber-sumbernya agar dapat menghadapi tuntutan. Jika stres berlanjut, seseorang sampai pada tahap ketiga, yaitu tahap peredaan (exhaustion stage). Pada tahap ini respon individu terhadap stres sudah mengalami kelelahan yang tinggi dalam mengadakan perlawanan terhadap stress dan akhirnya menyerah dan sakit jika ini terus berlanjut dapat mengakibatkan kematian.
b. Model Peristiwa Tekanan Kehidupan (the stressful life events model)
Holmes dan Rahe mengatakan bahwa suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang dapat menyebabkan stres. Kapanpun seseorang mengalami sesuatu yang perlu diatasi dalam segala bidang kehidupannya akan dapat menimbulkan stres. Peristiwa yang dapat menyebabkan stres dapat positif dan negatif dengan melibatkan aspek-aspek kehidupan seseorang, seperti keluarga dan pekerjaan. Pengaturan sosial (social readjustmen) merupakan salah satu yang dapat dipakai individu di dalam merespon stres.
c. Teori Kesesuaian Lingkungan dengan Individu (person-environment fit theory)
Teori ini dikembangkan oleh French sejak tahun 1970, yang meneliti tentang bagaimana pengaruh lingkungan sosial terhadap penyesuaian diri, kesehatan mental dan fisik individu. Inti dari penelitian ini adalah ketika tuntutan dan lingkungan pekerjaan tidak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dari karyawan, maka akan muncul ketegangan yang akhirnya dapat menyebabkan sakit.
d. Model Facet/Bidang tentang urutan stres kerja (a facet model of job stress sequence)
Bechr dan Newman mengembangkan model facet atau bidang yang mengatur semua komponen-komponen stres kerja. Dalam model ini terdapat beberapa komponen yang berkaitan dengan stres.
 Personal facet, yaitu karakteristik personal yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang menghadapi stres.  Proses facet, terkait dengan evalusi kognitif dan persepsi seseorang terhadap situasi-situasi yang penuh stres.
 Environmental facet, yaitu lingkungan kerja dan tuntutan kerja, seperti beban kerja yang terlalu berat.
 Human consequences, yaitu munculnya akibat-akibat pada kondisi psikologis seperti kecemasan. Akibat terhadap kesehatan fisik seperti gangguan lambung atau usus besar. Akibat pada perilaku tampak seperti pemakaian drug dan perilaku agresi.
 Organizational consequences dari stres sepeti ketidakhadiran, hilangnya produktivitas dalam bekerja.
 Adaptive response, yaitu usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi stres, seperti mencari dukungan sosial. Perusahaan atau organisasi bisa melakukan adaptive response dengan cara merubah jadwal kerja.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top