Sejarah Kekuatan Laut Indonesia | DR. Arif Zulkifli Nasution

Sejarah Kekuatan Laut Indonesia

Masyarakat Indonesia telah memiliki budaya kemaritiman. Sejarah mencatat bangsa Indonesia sudah dikenal dunia sebagai bangsa maritim yang memiliki peradaban maju. Bahkan, bangsa Indonesia pernah mengalami masa keemasan sejak awal abad masehi. Menggunakan kapal bercadik, mereka berlayar mengelilingi dunia dan menjadi bangsa yang disegani.

Selain itu, sejak zaman prasejarah penduduk kepulauan Nusantara merupakan pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Bahkan menurut penelitian antropologis dan etno-linguistik, kemudian berbakal alat navigasi dan kearifan tradisional dalam melihat fenomena alam, bangsa Indonesia mampu berlayar ke berbagai belahan dunia. Persebaran nenek moyang bangsa Indonesia ke arah barat diyakini telah mencapai pantai timur Afrika dan pulau Madagaskar dengan menggunakan perahu-perahu bercadik. Ke sebelah timur, perahu-perahu bercadik nenek moyang bangsa Indonesia telah mencapai pulau Paskah di Samudera Pasifik dengan melayari satu kepulauan ke kepulauan yang lain.

Sebelum James Cook, “menemukan” Australia, orang-orang Makassar sudah biasa melakukan pelayaran ke benua ini dan melakukan hubungan dagang dan budaya dengan penduduk Aborigin. Buktinya, ditemukannya kesamaan benda-benda sejarah antara Suku Aborigin di Australia dengan di Jawa menandakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sudah melakukan hubungan dengan bangsa lain.

Sejarah juga mencatat, bahwa Sriwijaya dan Majapahit pernah menjadi kiblat di bidang maritim, kebudayaan, dan agama di seluruh wilayah Asia. Sebagai kerajaan maritim yang kuat di Asia Tenggara, Sriwijaya (683-1030 M) telah mendasarkan politik kerajaannya pada penguasaan alur pelayaran dan jalur perdagangan, serta menguasai wilayah-wilayah strategis yang digunakan sebagai pangkalan kekuatan laut.

Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kemaharajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti “bercahaya” dan wijaya berarti “kemenangan”.
Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682.

Kerajaan Majapahit yang berkembang sekitar abad ke 13 pada awal berdirinya merupakan kerajaan yang bercorak agraris lalu berkembang menjadi sebuah kerajaan maritim setelah Gajah Mada menjadi mahapatih. Majapahit adalah sebuah kerajaan maritim terbesar di Nusantara. Dalam Pujasastra dikenal seorang pelaut ulung, yang merupakan tangan kanan Sang Mahapatih Gajah Mada di dalam tugas mempersatukan kepulauan-kepulauan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Kekuatan armada angkatan laut Kerajaan Majapahit sejak jaman Gajah Mada yaitu terletak pada kharisma pimpinan angkatan laut, dia adalah Senopati Sarwajala Mpu Nala, (dapat disetarakan dengan Panglima atau Kepala Staf Angkatan Laut dengan pangkat Laksamana Muda atau Laksamana Madya Laut).

Wilayah kerajaan Majapahit pada awalnya hanya meliputi sebagian besar Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Namun demikian sejak tahun 1330-an kerajaan itu tampil sebagai kekuatan maritim dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan atau daerah-daerah lain di luar Jawa. Diawali dengan menaklukkan Bali, dengan armada laut yang besar dilanjutkan dengan penaklukan-penaklukan Sumbawa, Lombok, Madura, ujung Jawa Timur dan sebagian Sulawesi, Pasai dan Pajajaran (Jawa Barat).

Puncak kejayaan maritim Nusantara terjadi pada masa Kerajaan Majapahit (1293-1478). Di bawah Raden Wijaya, Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, Majapahit berhasil menguasai dan mempersatukan Nusantara. Pengaruhnya bahkan meluas sampai ke negara-negara asing, seperti Siam, Ayuthia, Lagor, Campa (Kamboja), Anam, India, Filipina, China.

Ketangguhan maritim juga ditunjukkan Kerajaan Singasari di bawah pemerintahan Kertanegara pada abad ke-13. Melihat kekuatan armada laut yang tidak ada tandingannya, pada 1275 Kertanegara mengirimkan ekspedisi bahari ke Kerajaan Melayu dan Campa, untuk menjalin persahabatan dalam menghambat gerak Kerajaan Mongol ke Asia Tenggara. Pada 1284, mereka menaklukkan Bali dalam ekspedisi laut ke timur.

Sekitar abad ke-14 dan permulaan abad ke-15 terdapat lima jaringan perdagangan (commercial zones).
1. Jaringan Teluk Bengal, yang meliputi pesisir Koromandel di India Selatan, Sri Lanka, Burma (Myanmar), serta pesisir utara dan barat Sumatera.
2. Jaringan perdagangan Selat Malaka.
3. Jaringan yang meliputi pesisir timur Semenanjung Malaka, Thailand, dan Vietnam Selatan, dikenal sebagai jaringan perdagangan Laut Cina Selatan.
4. Jaringan Laut Sulu, meliputi pesisir barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanao, dan pesisir utara Kalimantan (Brunei Darussalam).
5. Karingan Laut Jawa, meliputi kepulauan Nusa Tenggara, kepulauan Maluku, pesisir barat Kalimantan, Jawa, dan bagian selatan Sumatera, yang berada di bawah hegemoni Majapahit.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 + seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top