REVITALISASI PENDIDIKAN | DR. Arif Zulkifli Nasution

REVITALISASI PENDIDIKAN

Film Laskar Pelangi yang saat ini sedang beredar di bioskop memberikan pencerahan baru terhadap paradigm sekolah. Sekolah yang selama ini dimaknai sebagai tempat mencari pengetahuan (learning to know), ternyata memiliki fungsi lain yakni belajar melakukan sesuatu (learning to do), belajar menjadi seseorang (learning to be) dan belajar untuk menjalani kehidupan bersama (learning to live together). Keempat fungsi tersebut juga merupakan paradigm pendidikan yang dicetuskan oleh UNESCO untuk diterapkan dalam lembaga formal pendidikan.

Sebagai seorang guru Bu Muslimah selayaknya berperan tidak hanya sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator, dan teman sejawat dalam berdialog dengan siswa untuk mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. Ketika berhadapan dengan seorang murid yang pintar seperti Lintang, Bu Muslimah tidak merasa tersaingi. Bu Muslimah justru dapat berperan sebagai fasilitator agar pengetahuan si Lintang semakin luas dan pengetahuan anak yang lain juga ikut terangkat. Begitu pula ketika berhadapan dengan Harun seorang murid yang secara IQ lebih cocok bersekolah di SLB, Bu Muslimah tidak memandang rendah Harun. Harun diperlakukan sama seperti murid-murid lain.

Pengetahuan yang disampaikan Bu Muslimah tidak hanya untuk menambah IQ tetapi juga EQ dan bahkan SQ. Temuan peneliti Harvard pada awal dasawarsa 80-an perlu menjadi perhatian. Penelitian longitudinal Howard Gardner cs membuktikan bahwa keberhasilan seseorang di dalam hidup bukan ditentukan oleh IQ tetapi terlebih oleh EQ, kecerdasan emosional dengan kompetisi inter- dan intrapersonal. Pengetahuan yang disampaikan seorang guru saat ini hendaknya tidak seputar untuk menambah wawasan, apalagi dengan hadirnya internet, pengetahuan semakin luas dan ilmu baru berkembang setiap saat. Pengetahuan seorang murid yang sering nangkring di internet bisa lebih luas dibanding seorang guru yang jarang membaca atau hanya menekuni literature lama. Pengetahuan EQ seperti pengendalian emosi, jiwa kepemimpinan, ketekunan, tidak mudah berputus asa, adil dan sebagainya juga seharusnya mendapat alokasi waktu dan tempat berimbang dengan pengetahuan IQ. Misalnya bagaimana keteguhan Bu Muslimah dalam menegakkan keadilan ketika memberikan nilai jelek pada Floriana-Flo. Padahal Ayah Flo menjadi donatur pada sekolah Muhammadiyah di Belitong

Pengetahuan EQ sulit ditransfer hanya melalui bahan bacaan namun yang lebih efektif melalui tauladan. Apabila temperamen guru tidak stabil, mudah putus asa, jiwa kepemimpinan lemah, bahkan ringan tangan bila ada masalah maka akan dihasilkan murid yang memiliki sifat demikian. Adnan Kashogi pernah mengatakan kematangan jiwa itu bukanlah apa yang kita alami setiap saat, tetapi kematangan jiwa hadir ketika terjadi masalah, kita mampu melewati masalah tersebut dengan baik. Atau meminjam bahasa iklan; “Tua itu pasti dan dewasa adalah pilihan”.

Selain itu pengetahuan lain yang penting yang ditransfer oleh Bu Muslimah kepada sepuluh murid anggota Laskar Pelangi adalah tauladan mulia dari seorang anak bangsa yang mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan seutuhnya. Ketika saat ini guru sibuk berdemo menuntut kesejahteraannya ditingkatkan, saat itu Bu Muslimah ikhlas mengajar tanpa peduli berapa gajinya. Ketika saat ini profesi guru dipandang sebelah mata, saat itu Bu Muslimah mampu menyilaukan murid Laskar Pelangi bahwa Guru adalah profesi yang mulia. Ketika saat ini guru bukan lagi pilihan utama anak-anak bercita-cita, saat itu Bu Muslimah memandang profesi guru adalah bagian dari hidupnya.

Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dapat berjalan bila sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Memfasilitasi bakat dan minat siswa tidak harus dengan fasilitas yang megah. Misalnya saja sekolah Laskar Pelangi meskipun secara fisik tidak layak, namun fasilitas fisik tersebut tidak menghapuskan semangat mereka untuk menuntut ilmu Contoh lain adalah model pendidikan “inner beauty” di India.

Pendidikan di India memang lebih mementingkan subtansi daripada cover. Kampus Indian Institute of Technology Delhi yang berada di peringkat keempat sebagai universitas terbaik versi Asiaweek pada tahun 2000 sangat sederhana. Dinding-dindingnya kusam, sebagian lapisan semen pada tangga menuju ke lantai atas ambrol, dan tidak ada mesin pendingin sekalipun panas di New Delhi bisa ekstrem. Meski hampir semua gedung-gedung sekolah di India kusam, namun hampir seluruh dosen yang mengajar di kampusnya bergelar doktor. Mereka benar-benar mengajar, tidak pernah mewakilkan tugas mengajar kepada asistennya. Dosen-dosen juga begitu gampang ditemui. Akses memperoleh ilmu berlimpah. Perpustakaan lengkap dengan koleksi buku dan jurnal terbaru, komputer terkoneksi internet dapat diakses gratis oleh mahasiswa, buku mudah dicari dan murah. Sekitar 30 persen dokter yang bekerja di Amerika Serikat berasal dari India. Di bidang teknik dan teknologi informasi, India adalah tempatnya. Tiap tahun perguruan tinggi di India menghasilkan 200.000 ahli peranti lunak. Keahlian mereka juga diakui secara internasional. Di Microsoft, raksasa perusahaan peranti lunak di Amerika Serikat, tidak kurang 30 persen pekerjanya berasal dari India meski Bill Gates hanya menyebut angka sekitar 20 persen.

Dengan alokasi dana pendidikan tahun 2009 ini yang mencapai 20% dari APBN, selayaknya Departemen Pendidikan Nasional lebih memprioritaskan penggunaan dana pendidikan untuk mensubidi buku pelajaran, akses gratis ke intenet dan memfasilitasi guru untuk menambah pengetahuan dengan menyekolahkan para guru.

Tidak hanya soal fasilitas, memfasilitasi minat dan bakat siswa berarti juga memberikan waktu kepada siswa untuk mengenal alam. Anggota Laskar Pelangi tidak dijejali dengan seabrek PR sehingga tidak sempat mengaktulisasikan minat dan bakat mereka. Mereka masih punya waktu untuk mengenal alam, sehingga pengetahuan mengenai alam, flora atau fauna tidak didapatkan hanya melalui buku bacaan.

Learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Ditengah keterbatasan yang ada Laskar Pelangi tidak berputus asa dan tetap bercita-cita memenangkan parade karnaval 17 Agustus. Dalam proses menuju kemenangan karnaval ada peran guru-Bu Muslimah yang memfasilitasi, memotivasi dan tidak memaksakan kehendaknya apabila ternyata ada siswa-Mahar yang memiliki bakat dan minat lebih dalam bidang seni.

Untuk mengembangkan bakat dan minat siswa, penerapan kurikulum hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan siswa. Seorang siswa berbakat dibidang seni hendaknya tidak terlalu dipaksakan untuk mempelajari eksakta seperti kimia dan fisika. Begitu juga seseorang yang berbakat dibidang eksakta hendaknya tidak dipaksakan untuk belajar non eksakta seperti sejarah, geografi, kesenian dan sebagainya. Memberikan kesempatan kepada siswa mendalami pelajaran yang disukainya akan membentuk jiwa profesionalisme. Tidak seperti sekarang, siswa dijejali dengan berbagai macam mata pelajaran agar pengetahuannya luas. Namun akibatnya dengan keterbatasan waktu, siswa tidak memiliki pengetahuan mendalam atau keterampilan khusus yang berguna sebagai bekal di masa depan. Atau dengan bahasa lain semuanya tahu tapi sedikit-sedikit. Pantas saja saat ini kader-kader “terbaik” bangsa berebutan menjadi pemimpin. Karena model pendidikan generalis seperti di Indonesia cocok untuk menumbuhkan jiwa-jiwa pemimpin (bukankah para pemimpin rata-rata luas pengetahuannya namun tidak mendalam). Bukti lainnya ketika siswa SD ditanya cita-citanya, maka tidak jauh dari menjadi Presiden, Insinyur, atau Dokter. Hampir tidak pernah terdengar seorang siswa SD yang bercita-cita menjadi penemu, sastrawan, pemadam kebakaran atau pengusaha.

Satu hal lagi terkait kurikulum, janganlah kiranya kurikulum yang diterapkan di Indonesia terlalu berat. Misalnya ketika otonomi daerah bergulir, ramai-ramai sekolah memasukkan mata ajaran kebudayaan, sejarah atau bahasa daerah dalam kurikulumnya. Ketika isu lingkungan menjadi trend, Depdiknas mewacanakan memasukkan lingkungan dalam kurikulum. Entah apalagi yang akan ditambahkan ke kurikulum, seandainya kedepannya isu kepemimpinan muda menjadi trend, mungkin kepemimpinan akan masuk dalam kurikulum. Beratnya beban kurikulum menjadikan siswa tidak punya kesempatan bermain dan menekuni bakat khusus yang dimilikinya. Bermain sering dikonotasikan dengan malas dan berleha-leha. Padahal bermain adalah salah satu sarana menerapkan pelajaran yang didapatkan dan sarana untuk melatih interaksi dengan orang lain.

Terakhir, Learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) dicontohkan dengan interaksi antara A Kiong seorang anggota Laskar Pelangi yang juga seorang keturunan Tionghoa yang telah lama mendiami Belitong. Atau antara Flo seorang anak mandor PN Timah yang cukup kaya dan disegani dengan Laskar Pelangi. Interaksi tersebut menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan, toleransi dan berlapang dada ketika berhadapan dengan orang lain. Interaksi tersebut berguna bagi siswa untuk menjalani kehidupan yang semakin kompleks kedepannya. Karena itu, kurang tepatlah kiranya apabila banyak orang mampu dinegeri ini ramai-ramai menarik anaknya dari sekolah untuk sekolah dirumah dan tidak memberikan kesempatan kepada anaknya untuk interaksi dengan orang lain yang berbeda agama, ataupun status social. Karena apabila kelak anak tersebut menjadi orang, maka kepedulian sosialnya diragukan, akibatnya kesenjangan social semakin tinggi di negeri ini. Atau amat rugilah orang yang berpandangan sekolah menjadikan tingkat stress anak tinggi karena itu anak harus ditarik dari sekolah. Bukankah stress yang merupakan bagian dari suatu masalah harus dikelola dan bukan untuk dihindari agar menjadikan siswa semakin dewasa, karena masalah adalah bagian dari kehidupan. Apabila saat ini sekolah sebagai proses belajar-mengajar jauh dari sempurna, maka inilah saatnya merevitalisasi sekolah ala Laskar Pelangi.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top