RAMADHAN DAN MDG | DR. Arif Zulkifli Nasution

RAMADHAN DAN MDG

I. Pendahuluan

Puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu dari lima rukun Islam. Konsekuensi dari aktifitas tersebut mengarahkan seorang muslim mencintai orang miskin, benci ketidakadilan, semangat menjaga kesehatan, dan tidak bersikap berlebih-lebihan. Semua manfaat puasa tersebut merupakan inti dari Millennium Development Goals (MDG). Oleh karena iu menjalankan puasa sesuai tuntunan Rasulullah SAW dapat membantu bangsa ini mempercepat realisasi MDG.

II. MDG

Deklarasi Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations Millennium Declaration) disepakati oleh 189 negara anggota PBB pada Konperensi Tingkat Tinggi Milenium di PBB bulan September 2000. Deklarasi tersebut mengilhami penyusunan data dasar sebagai indicator millennium untuk mengukur tujuan pembangunan millennium (TPM), atau yang disebut millennium development goals (MDG). Landasan kerja MDG terdiri atas delapan tujuan, 18 target dan 48 indikator (Bappenas 2004).

Tujuan pertama MDG adalah pengurangan kemiskinan dan angka kelaparan. Target dari tujuan pertama ini adalah penurunan proporsi penduduk miskin (berpenghasilan kurang dari US $ 1 per hari), dan penduduk yang kelaparan menjadi hanya setengahnya di antara tahun 1990-2015. Sementara tujuan ke-2 adalah lulus sekolah dasar, dan targetnya adalah seluruh anak-anak (laki-laki dan perempuan) tahun 2015 dapat menamatkan sekolah dasar. Tujuan ke-3 adalah kesetaraan gender, dengan target menghilangkan perbedaan gender untuk memperoleh pendidikan dasar dan menengah tahun 2005, dan pada semua tingkat pendidikan pada tahun 2015. Tujuan ke-4 adalah menurunkan kematian anak usia di bawah lima tahun, dengan target di antara tahun 1990-2015 dapat menurunkan hingga dua pertiganya. Tujuan ke-5 adalah memperbaiki tingkat kesehatan ibu, dengan target di antara tahun 1990-2015 dapat menurunkan tingkat kematian ibu hingga tiga perempatnya. Tujuan ke-6 memerangi human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS), malaria dan jenis penyakit lain. Tujuan ke-7 adalah menjaga keberlanjutan lingkungan dan tujuan ke-8 adalah pengembangan kemitraan global untuk pembangunan.

Kebijakan “Pro-poor” (Memihak-Kepentingan-orang-Miskin) adalah kebijakan yang mendorong pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan secara menyeluruh, dengan memperbaiki tata-kelola (governance) dan memberdayakan institusi lokal dan nasional menuju pertumbuhan yang berkeadilan dan berkelanjutan (equitable & sustainable). Kebijakan penanggulangan kemiskinan memerlukan proses lintas sektoral, lintas wilayah, dan lintas pelaku untuk menuju pencapaian tujuan MDGs yang lain. Program penanggulangan kemiskinan yang tepat sasaran dan tepat program menuju pelaksanaan dan pengambilan keputusannya harus sedekat mungkin dengan lokasi program. Program-program yang dirancang dengan baik hingga bisa sekaligus menuju pencapaian berbagai tujuan MDGs akan lebih efektif dalam pembiayaan dan pencapaian MDGs dari pada program yang hanya untuk 1 tujuan (“quick wins”).

Berbagai negara berjuang untuk mencapai kesejahteraan dengan mencantumkan target MDG sebagai tujuan pembangunannya. Misalnya Presiden Brasilia, Luis Inacio da Silva, secara ekplisit mengumumkan target-target pada MDGs sebagai platform politiknya dalam pemilu. Di Indonesia, strategi pembangunan berbasis Triple Tracks (pro poor, pro job, dan pro growth) bisa dipandang sebagai implementasi MDGs, sudah populer, dan diadopsi oleh instansi pemerintah secara nasional.

Di Asia Selatan, 40 persen penduduk hidup dengan kurang dari $1 sehari. Namun kemiskinan sudah jauh berkurang di kawasan ini, kecuali di Pakistan. Secara khusus, Bangladesh berhasil meningkatkan pendidikan anak dan pemuda, mengurangi malnutrisi anak, serta mengurangi insidensi HIV/AIDS.

Kawasan dunia yang termiskin, Sub-Sahara Afrika, diprediksi tidak akan berhasil mencapai target MDGs, khususnya pengurangan jumlah orang miskin. Sebaliknya, jumlah orang miskin bertambah dari 314 juta pada 2001 menjadi 366 juta pada 2015. Hanya Uganda, Ghana, dan Kamerun yang baik kinerjanya dalam hal pengentasan kemiskinan.

Namun setelah berjalan selama 7 tahun target MDG 2015 jauh dari harapan, Indonesia semakin sulit keluar dari kemelut kemiskinan, pengangguran bertambah besar, investasi yang diharapkan tak kunjung datang dan pencemaran lingkungan semakin meningkat.

III. Ramadhan Mempercepat Realisasi MDG

Islam mewajibkan kepada umatnya berpuasa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Al-Baqarah : 183).” Kewajiban puasa dapat mempercepat realisasi MDG. Tantangan realisasi MDG dapat diatasi dengan melakukan ibadah puasa sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Beberapa tantangan MDG tersebut antara lain, yaitu: Pertama, pola konsumsi dan produksi yang menguras sumber daya alam lebih cepat dari upaya konservasi atau daur ulang. Kedua, pola pembangunan yang merusak atau mencemari lingkungan hidup lebih gencar dari upaya penegakan hukum dan tata pemerintahan untuk memulihkannya kembali. Ketiga, pola konsumsi energi berlebihan kurang disertai pengembangan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Keempat, pola pembangunan yang masih kurang menghargai keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya. Kelima, kemiskinan menimbulkan keterpaksaan pengrusakan lingkungan tanpa kemampuan pengendaliannya.

Beberapa manfaat puasa yang dapat mengatasi tantangan dan mempercepat pencapaian target MDG, yaitu: pertama, puasa mendorong mukmin menahan nafsu dari lapar dan haus. Tidak dapat dipungkiri kerusakan lingkungan disebabkan selain pertambahan penduduk adalah pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan. Puasa memberi kesempatan pada alam untuk kembali pada keseimbangan lingkungan atau homeostatis. Konsep homeostatis atau keseimbangan lingkungan yaitu proses kembalinya suatu system ke keseimbangan atau adanya proses dalam ekosistem untuk mengatur kembali berbagai perubahan dalam system secara keseluruhan atau dalam pendekatan yang holistic (utuh menyeluruh).

Aktifitas makan manusia tidak hanya menguras sumber daya alam, tetapi juga menambah limbah ke alam. Dengan berpuasa asumsinya kita mengurangi jatah makan sekali sehari dari semula tiga kali sehari. Berarti sumber daya alam yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan limbah yang dibuang ke alam khususnya dalam hal aktifitas makan berkurang 1/3 dari semula.

Kedua, puasa mengajak mukmin untuk mencintai orang miskin. Orang mampu menjadi lebih sadar betapa besar nikmat Allah atas dirinya. Allah mengaruniainya nikmat tak terhingga, pada saat yang sama banyak orang-orang kurang mampu yang kekurangan makanan, air bersih dan tidak pula menikah. Karena terhalangnya orang mampu dari menikmati hal-hal tersebut pada saat-saat tertentu khususnya di bulan Ramadhan. Kondisi tersebut akan mengingatkannya kepada orang-orang yang kekurangan. Ini akan mengharuskannya mensyukuri nikmat Allah atas dirinya berupa serba kecukupan, juga akan menjadikannya berbelas kasih kepada saudaranya yang memerlukan, dan mendorongnya untuk membantu mereka.

Ketiga, puasa mengajarkan mukmin hidup sederhana. Rasulullah SAW pernah berkata: “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.” Hadits tersebut mengajarkan berbuka dengan sederhana dan tidak berlebihan. Pada bulan Ramadhan tidak sedikit orang yang membuat berbagai variasi pada menu makanan dan minuman mereka. Walaupun hal itu diperbolehkan, tetapi tidak dibenarkan israf (berlebih-lebihan) dan melampaui batas. Justru seharusnya adalah menyederhanakan makanan dan minuman. Allah Ta ‘ala berfirman: “Makan dan minumlah dan janganlah kalian berbuat israf (berlebih-lebihan), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf. ” (Al-A’raaf: 31)..

Seorang muslim di bulan puasa dilatih untuk menahan nafsu dan bersikap sederhana. Dengan harapan setelah ramadhan berakhir ia dapat mengendalikan keinginannnya dengan lebih baik. Di zaman informasi saat ini, dimana modus-modus pemasaran semakin canggih. Pemasaran modern dikatakan sukses apabila dapat menjual suatu barang yang semula tidak terpikirkan untuk dibeli, Umat Islan dituntut tidak terlena dan mengikuti arus saja. Kotler menyatakan salah satu dampak marketing adalah menyebabkan keinginan palsu dan materialisme yang berlebihan. oleh karena itu dengan melaksanakan puasa secara sederhana, arus materialisme dapat dibendung.

Keempat, bulan Ramadhan mengajak umat mukmin mengentaskan kemiskinan. Selain ada kewajiban zakat fitrah di bulan Ramadhan, juga ada anjuran untuk memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan. Menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah ra: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta.” Mengurangi kemiskinan sebagai salah satu tujuan MDG dapat terlaksana apabila umat Islam memiliki pengelolaan zakat, infaq dan sedekah yang professional. Dana tersebut digunakan untuk memberdayakan masyarakat miskin agar mereka dapat mandiri.

Kelima, manfaat puasa secara kesehatan adalah membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa dan endapan makanan, mengurangi kegemukan dan kelebihan lemak di perut. Menurut penelitian kesehatan salah satu sumber penyakit adalah perut, karena itu puasa berfungsi sebagai sarana menjaga kesehatan pencernaan tubuh dan meningkatkan usia harapan hidup. Di bulan puasa, ibu hamil dan menyusui mendapatkan keringan tidak wajib berpuasa cukup membayar fidyah saja. Anjuran tersebut mengandung arti Islam memandang penting kesehatan ibu dan anak.

Keenam, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan. Salah satu ibadah yang utama adalah membaca qur’an. Qur’an adalah sumber dari segala sumber. Membacanya dapat menambah keyakinan dan menelaahnya dapat membuka cakrawala kita mengenai semua ciptaan-Nya. Bulan puasa menyediakan kesempatan lebih bagi umat Islam untuk membaca qur’an. Waktu yang sedianya digunakan untuk istirahat makan siang, setelah sahur dan setelah shalat tarawih dapat dipakai untuk membaca qur’an. Dengan membaca qur’an umat Islam akan terhindar dari kebodohan yang hakiki.

Apabila ibadah puasa di bulan Ramadhan dikerjakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah, maka realisasi target MDG dapat dipercepat. Namun yang terjadi selama ini di Indonesia, harga-harga bahan pokok naik dengan alasan permintaan tinggi, mall dan tempat penjualan pakaian terlihat semakin ramai. Dan lucunya lagi inflasi semakin tinggi karena uang yang beredar semakin tinggi. Bulan puasa dijadikan ajang untuk mengambil keuntungan setinggi-tingginya, bulan puasa dimaknai sebagai bulan segala baru, karena itu semua barang diusahakan baru, dan bulan puasa menjadi alasan produktifitas rendah. Fenomena tersebut justru makin menjauhkan kita dari pencapaian target MDG.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top