Pertanian

Praktik Integrasi Ternak Sawit di PT Agricinal

“Praktik Integrasi Ternak Sawit di PT Agricinal”

Pembicara : Ir. M.N. Manurung (Direktur Utama PT Agricinal)

Berawal dari sekadar sebagai alat angkut tandan sawit hasil panen, kini sapi-sapi di perkebunan PT Agricinal telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kerja yang ada. Sejak tahu 1998, keberadaan sapi di perusahaan yang berada di Desa Sebelat, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu ini terus berkembang, bahkan pihak perusahaan mewajibkan karyawannya memiliki sapi melalui kredit yang dikucurkan.

Pada awalnya karyawan keberatan dengan program tersebut, namun setelah tahu manfaat dan keutungannya mereka mau untuk memeliharanya. Mereka memperoleh sapi melalui kredit yang dikucurkan perusahaan. Pertama kali memulai program ini menggunakan sistem gaduhan dengan dana swadaya yang berasal dari Koperasi Karyawan. Karyawan yang mau pelihara sapi mendapatkan 1 ekor induk.

Pada tahun 2002 setelah mendapatkan Kredit Ketahanan Pangan (KKP) dari bank, perusahaan menyebarkan 2.000 ekor sapi ke karyawan pemanen dalam bentuk kredit. Karyawan penerima kredit baik di perkebunan inti atau plasma mendapatkan pinjaman Rp 9,6 juta dengan lama pengembalian pinjaman 5 tahun. Dari uang sejumlah itu digunakan untuk membuat kandang dan membeli 3 ekor sapi.

Integrasi ternak-sawit tersebut mampu meningkatkan Produktivitas perusahaan. Dari total 26.900 hektar lahan sawit PT Agricinal, 8.900 hektar di antaranya yang merupakan perkebunan inti sudah terdapat sapi. Sementara sisanya, terus dikembangkan secara bertahap ke plasma.

Dengan bantuan alat angkut sapi, pekerjaan bisa terbantu dan produktivitas menjadi tinggi. Pada awalnya standar 1 karyawan pemanen mengerjakan 10 hektar, tetapi setelah dibantu sapi bisa meningkat 50 % menjadi 15 hektar lahan panen per karyawan. Sehingga lebih efisien. Kalau dulu untuk lahan seluas 6.000 ha dibutuhkan 600 karyawan pemanen, kini setelah ada sapi cukup dengan 400 karyawan pemanen. N.M Manurung membantah pendapat bahwa keberadaan sapi di perkebunan akan mengganggu tanaman sawit.

Justru limbah dan pelepah sawit bisa dimanfaatkan untuk hijauan pakan sapi yang sebelumnya dicacah terlebih dahulu. Bahkan, kotoran sapinya bisa dimanfaatkan untuk pupuk atau biogas. Manurung mengatakan, dari 1.600 karyawan yang ada di perkebunan, 400 di antaranya memiliki sapi. Total populasi yang ada saat ini sekitar 2.400 ekor dengan rata-rata kepemilikan 6 ekor sapi.

Sejarah dan Sharing tentang pengalaman pribadi sebagai pengusaha

1. Awalnya orang tidak perlu minyak, cara masak dipanggang, dibakar atau direbus. Muncul KFC, orang mulai tahu ternyata makan makanan yang digoreng itu lebih lezat, sehingga butuh minyak untuk menggoreng maka permintaan minyak goreng dunia meningkat. Hal ini dijadikan kesempatan Indonesia untuk memproduksi minyak goreng.

2. Mahasiswa harus tahu 13 jenis minyak yang bisa dikonsumsi, a.l. minyak kedelai, minyak kacang, minyak wijen, minyak bunga matahari, minyak jagung, minyak sapi, minyak babi, minyak ikan, dst. Ternyata dari ke 13 tsb yang paling berkwalitas bagus yaitu minyak kelapa sawit.

3. Jenis Pekerjaan dalam Industri Kelapa Sawit yaitu pekerjaan di kebun dan pekerjaan di pabrik. Kedua jenis pekerjaan tsb.dihubungkan oleh kendaraan. Pekerjaan yg berat di kebun yaitu panen, perlu kendaraan.

4. Gambaran pekerjaan di perkebunan sekarang sebagai berikut :

– Pekerja tidak lagi mau mengambil brondolan-brondolan matang yang jatuh ditanah, maka kebijakan buah dipanen sebelum matang. Sehingga kriteri buah yang bisa dipanen berubah dulu 7 kelas, sekarang 4 kelas.

– Dulu perlu kendaraan untuk mengangkut hasil panen karena TPH jauh sehingga tidak efektif dan efisien. Sekarang jalanan dibuat lebih pendek, TPH lebih sedikit sehingga mengangkut hasil panen digunakan sapi, muncul ide membuat gerobak sapi sebagai alat trasportasi, lebih efektif dan efisien.

– Hindari pembuatan lahan perkebunan sawit yg berbentuk teras iring karena akan kesulitan panen, biaya mahal.

– Fungsi sapi selain sebagai alat transportasi, juga bisa sebagai bahan energi untuk biokos dan kotoran sapi untuk pupuk.

5. Sharing pengalaman pribadi, bahwa Bapak Manurung suka kasih bibit dan pupuk ke petani sehingga tidak ada lagi petani yang mau menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit. Banyak dikomplain, tapi ada kebanggaan melihat pekerja yang bisa dalam jangka waktu 10 tahun bekerja keluar bisa memiliki kebun sendiri, sehingga penduduk lebih sejahtera.

6. Bahwa ada perkebunan yang hasilnya lebih hebat dari sawit yaitu “Aren”, hasilnya 5x dari sawit. Sekarang baru dikembangkan di Malaysia dan Thailand. Harapan semoga Indonesia bisa mengikuti.

7. Mengundang mahasiswa PKS-CWE untuk berkunjung ke PT. Agricinal agar bisa bawa oleh-oleh ilmu dan pengalaman untuk kelak bisa menjadi pengusaha sukses seperti beliau.

8. Pesan :

– langkah awal memulai bisnis yaitu harus memulai bikin pabrik mini dan harus bisa bekerjasama dengan perusahaan besar untuk pemasaran CPO.

– Bekerja jangan melihat jam, gunakan prinsip orang Jepang yaitu bekerja sebelum matahari terbit berhenti setelah matahari terbenam.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button