LingkunganUncategorized

Perubahan Paradigma Lingkungan atau Change of Environmental Paradigm

REVISI THINK GLOBALLY ACT LOCALLY MENJADI

THINK HOLISTIC ACT TOGETHER

Tahun telah berganti, perubahan tidak terelakkan. Setiap kehidupan, sistem mengalami perubahan, dan yang tetap hanya perubahan itu sendiri. Paradigma Think globally, act locally tidak relevan lagi dengan keadaan sekarang. Aspek penghormatan terhadap alam dan kemitraan untuk mengatasi masalah lingkungan membuat paradigma tersebut berubah menjadi Think holistic, act together.

Dua puluh tahun setelah Konferensi Lingkungan Hidup 1972 di Stockholm, atau lima tahun setelah terbitnya Laporan Brundtland, PBB menyelenggarakan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau Konferensi Khusus mengenai Masalah Lingkungan dan Pembangunan atau yang lebih dikenal dengan KTT Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992. Jargon “Think globally, act locally”, yang menjadi tema KTT Bumi menjadi populer untuk mengekspresikan kehendak berlaku ramah terhadap lingkungan. KTT Bumi menekankan pentingnya semangat kebersamaan (multilaterisme) untuk mengatasi berbagai masalah yang ditimbulkan oleh benturan antara pembangunan (oleh developmentalist) dengan upaya melestarikan lingkungan (oleh environmentalist).

Menginjak enam belas tahun setelah KTT Bumi belum terlihat hasil yang signifikan terkait upaya pelestarian lingkungan. Dalam banyak kasus kepentingan lingkungan selalu mengalah dari kepentingan ekonomi. Apabila kerusakan lingkungan mengeluarkan angka dalam bentuk rupiah baru mendapat tanggapan yang berarti. Kebutuhan manusia selalu diutamakan dari menciptakan keberlangsungan pasokan kebutuhan untuk seluruh makhluk. Beberapa kasus seperti banjir, tanah longsor, pemanasan global hanya dilihat sebagai fenomena alam biasa tanpa ada upaya yang serius untuk menanganinya. Pemanasan global yang membutuhkan aksi bersama seluruh negara ditanggapi dengan dingin oleh negara maju khususnya AS, Jepang dan Kanada dengan dalih menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Saatnya mengubah paradigma lama menjadi paradigma lama yang lebih membumi dan relevan dengan kondisi saat ini. Paradigma lama “Think globally, act locally” memiliki beberapa kelemahan yaitu pertama, paradigma tersebut bersumber dari paradigma kuantitatif, padahal lingkungan tidak dapat dikuantifikasikan. Paradigma luas dan sempit, atau besar dan kecil berasal dari cara pandang mekanistis yang memandang seluruh alam semesta seperti mesin yang dapat direkayasa, dimanipulasi, dan diprediksi atau dengan kata lain dikuantitatifkan. Padahal alam tidak selamanya dapat dikuantitatifkan. Kearifan masyarakat local, aspek estetika, social maupun cultural adalah aspek kualitatif yang tidak dapat begitu saja ditransfer kedalam angka-angka. Mentransfer kualitatif menjadi kuantitatif akan mengurangi makna dari sebuah fenomena.

Kedua, paradigma tersebut meletakkan tanggungjawab lingkungan “hanya” pada individu. Paradigma tersebut mengambil sumber dari kapitalis yang juga mengatakan kemakmuran masyarakat hanya terjadi jika individu-individu diberikan kebebasan berusaha dan berhak memiliki modal. Walaupun yang terjadi kapitalisme makin memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Begitu juga dengan paradigma “Think globally, act locally”, individu yang memiliki akses kepada pengetahuan, teknologi dan sumber daya saja yang dapat menjaga lingkungan, sedangkan individu yang dijerat oleh kemiskinan dan kebodohan adalah biang keladi segala pencemaran lingkungan. Atau dengan kata lain negara maju yang memiliki segalanya dapat menjaga lingkungan sedangkan negara berkembang yang tidak memiliki segalanya adalah perusak lingkungan. Padahal 80% sumber daya di dunia ini walaupun berasal dari negara berkembang hanya di konsumsi oleh 20% penduduk di negara maju

.

Ketiga, paradigma tersebut mereduksi tanggungjawab stakeholder lain terhadap lingkungan. Pencemaran yang dilakukan oleh individu tidak seberapa dibanding oleh pencemaran yang dilakukan oleh industri, lihat saja bagaimana Lumpur lapindo menggusur ribuan orang, menghancurkan seluruh ekosistem yang ada disekitarnya, belum lagi kerugian material lainnya. Atau berapa besar kerusakan hutan oleh HPH atau kebutuhan industri kertas dibanding kebutuhan kayu masyarakat tradisional.

Walhi pernah menghitung kebutuhan kayu untuk industri pulp di Indonesia. Dari 100 juta meter kubik yang dikonsumsi industri kertas dan bubur kertas (pulp) antara 1988-1999, hanya 8% yang berasal dari HTI, sisanya kayu illegal hasil curian dari alam. atau dalam kasus pemanasan global, tidak mungkin menghentikan pemanasan global dengan cara menghemat listrik, memelihara pohon dirumah atau menggunakan kendaraan umum jika industri yang mengeluarkan CO2 tidak dibatasi penggunaannya. Menurut data IPCC sumber pemanasan global adalah 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll), 27% dari sektor transportasi, 21% dari sektor industri, 15% dari sektor rumah tangga & jasa, dan 1% dari sektor lain -lain.

Keempat, paradigma tersebut mengabaikan peran orang-orang yang berpikir globally namun juga dapat bertindak global seperti Al Gore. Dengan kekuasaan dan popularitas yang dimilikinya Al-Gore dapat berpikir global dan juga bertindak global. Al-Gore dengan dukungan media massa mempopulerkan isu pemanasan global ke seluruh dunia bahkan diberikan hadiah nobel perdamaian 2007. Atau peran orang yang berpikir local namun tindakannya dapat berpengaruh global seperti Mama Yosepha aktifis perempuan di Papua yang gencar mensosialisasikan pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT Freeport atau Muhammad Yunus (Grameen Bank) yang membantu orang miskin, gelandangan dan pengemis di sekitarnya namun metodenya menjadi rujukan pengentasan kemiskinan di seluruh dunia.

Paradigma tersebut cocok untuk orang yang biasa saja dan tetap menjadi biasa saja seumur hidup tetapi tidak cocok untuk orang biasa atau luar biasa untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Sekali lagi paradigma individualis berupaya disebarkan oleh agent-agent Barat.

Kelima, paradigma bersumber pada penyebab bersama masalah lingkungan yaitu kemiskinan padahal pola konsumsi dan pola produksi tak kalah hebat dalam merusak lingkungan. Think globally, act locally mencirikan bahwa penyebab masalah lingkungan diseluruh dunia tidak jauh berbeda yaitu kemiskinan dan kebodohan rakyat, apabila perang dilancarkan terhadap kedua masalah tersebut niscaya lingkungan dapat teratasi. Namun pengetahuan yang berkembang tidak lagi menganggap penyebab pencemaran lingkungan orang miskin dan orang bodoh yang notabenya kebanyakan berada di negara miskin, negara industri juga punya kontribusi besar pada pencemaran lingkungan misalkan saja dalam kasus pemanasan global, Amerika Serikat adalah Negara penyumbang Gas Rumah Kaca Terbesar. Data terakhir menunjuk pada Amerika Serikat sebagai penyumbang 720 juta ton Gas Rumah Kaca setara karbondioksida—setara dengan 25% emisi total dunia atau 20,5 ton per kapita. Emisi Gas Rumah Kaca pembangkit listrik di Amerika Serikat saja masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan total jumlah emisi 146 negara (tigaperempat negara di dunia)

Oleh karena itu perubahan paradigma dari Think globally, act locally ke Think holistic, act together tidak dapat ditawar lagi. Think holistic berarti selain berpikir luas juga berpikir integral tidak hanya untuk kepentingan manusia namun juga untuk aspek estetika, cultural dan social. Act together tidak berarti sama-sama bekerja tetapi bekerja sama untuk mencapai tujuan, misalnya saja untuk penanganan sampah, masyarakat diminta untuk memisahkan sampah antara organic, kaca, plastik dan anorganik namun usaha tersebut akan sia-sia kalau tidak diikuti oleh penanganan pemerintah dari mulai pengangkutan sampai pengolahan di tempat pembuangan akhir (TPA).

Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh ketika paradigma Think holistic, act together diterapkan yaitu pertama, paradigma tersebut memperkaya penanganan lingkungan tidak hanya pada kuantitatif juga aspek kualitatif, misalnya dalam penanganan lumpur lapindo kerugian tidak hanya menyangkut aspek ekonomis, seperti perumahan warga, jalur KA, jalan tol dsbnya tetapi perhatikan aspek mental masyarakat yang sudah hampir 2 tahun berada dalam tenda pengungsian, bagaimana nasib pendidikan anak mereka, bagaimana dengan cita-cita dan harapan mereka dan bagaimana membangun kembali aspek psikologis mereka terhadap diri mereka sendiri, dsbnya.

Kedua, Think holistic, act together berarti setiap individu selain bertanggung jawab pada dirinya juga bertanggung jawab pada perannya. Setiap individu dapat berperan sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, anggota organisasi, atau perusahaan dengan posisi yang berbeda. Peran tersebut dapat dibagi kepada seluruh posisinya. Tidak hanya itu peran tersebut harus dikoordinasikan dan disinergiskan dengan peran individu, swasta, pemerintah, dan insitusi lainnya. Misalnya dalam kasus pemanasan global tanpa upaya kerjasama dari semua pihak, maka pemanasan global hanya menjadi jargon kosong, atau dalam kasus illegal logging, tanpa peran serta dari masyarakat, birokrat, aparat hukum sulit untuk memberantasnya

Ketiga, Think holistic, act together mencakup aspek-aspek ekologi yang lebih mendalam seperti adanya interaksi antar makhluk hidup, keharmonian, keanekaragaman untuk menuju kepada keberlanjutan. Pendekatan klasik sangat dipengaruhi oleh pendekatan linear yaitu pendekatan yang berdasarkan sudut pandang model rasional dalam menyelesaikan suatu masalah. Menurut pendekatan linear suatu masalah disebabkan oleh suatu sebab yang mempengaruhinya, karena itu penyelesaian masalah sangat tergantung pada kemampuan kita mempengaruhi factor penyebab masalah. Misalnya kasus Lumpur lapindo karena adanya Lumpur menggenangi pemukiman penduduk maka penyelesaiannya dengan menghilangkan Lumpur yang menggenangi pemukiman penduduk.

Sedangkan pendekatan baru dipengaruhi oleh systems thinking yaitu pendekatan yang melihat suatu masalah secara menyeluruh (holistic). Menurut pendekatan ini masalah dianggap bersikap terbuka yaitu berinteraksi dengan lingkungannya baik internal maupun eksternal. Karena itu pendekatan ini dapat menjelaskan hubungan timbal balik antara berbagai variable permasalahan sehingga dapat diketahui pola perubahan yang terjadi, misalnya masalah dampak sosial Lumpur lapindo tidak hanya terkait dengan Lumpur saja tetapi juga berkenaan dengan masalah hilangnya mata pencaharian penduduk (ekonomi), pengangguran (sosial), perhatian pemerintah (politik), hilangnya lingkungan sosial masyarakat (budaya), dsbnya

Pendekatan ini juga menuntut tindakan yang paling prioritas yang perlu dilakukan secara bersama dalam menangani suatu masalah lingkungan. Misalnya dengan kemampuan yang terbatas penanganan banjir di Jakarta mengikutsertakan seluruh warga Jakarta, misalnya dengan membuat sumur resapan di pekarangan rumah atau menampung air hujan atau membersihkan dan memperdalam selokan di depan rumah.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button