LainnyaSosial

PERTAMINA ditengah Penurunan Harga Minyak Dunia atau Pertamina middle of World Oil Price Decline

Abad ke-20 ini, Minyak menjadi sumber daya yang diperebutkan oleh banyak Negara. Henry Kissinger mantan menteri luar negeri AS pernah menyatakan siapa yang mengontrol energy akan menguasai suatu Negara. Namun dalam 3 tahun terakhir minyak tidak lagi menjadi primadona yang diburu banyak Negara. Pengembangan teknologi shale oil dan produksi minyak yang over production menyebabkan terjadi penurunan harga minyak dunia dibawah level $30/barrel. Fenomena tersebut bukanlah fenomena sesaat, dan diperkirakan akan berlangsung 5-10 tahun kedepan. Kalau tidak segera diantisipasi maka akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi nasional dan penurunan pendapatan Negara dari sector migas. PERTAMINA sebagai perusahaan Negara yang bergerak di sector migas perlu memiliki strategi jitu menghadapi penurunan pertumbuhan ekonomi dunia dan penurunan harga minyak dunia

 

Laporan ekonomi dunia IMF, World Economic Outlook, memperkirakan pertumbuhan dunia tahun 2016 hanya sebesar 3,2% dan tahun 2017 sebesar 3,5%. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik akan mencapai 6,3% pada 2016 dan 6,2% pada 2017. Sedangkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2016 sebesar 5,1% dan tahun 2017 sebesar 5,3%. Menurut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, pemerintah akan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap di 5,3% serta nilai tukar rupiah tetap di sekitar Rp13.400 per US$1.

 

Bulan April 2016, pemerintah Indonesia mengumumkan akan melakukan penghematan sebesar Rp 50,6 triliun dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP), salah satunya dengan berhenti membangun gedung baru. Penghematan di sisi lain yaitu dari pengurangan subsidi BBM dan elpiji hingga Rp23,8 triliun.

 

Selain penurunan pertumbuhan ekonomi dunia, terjadi juga penurunan harga minyak dunia. International Monetary Fund (IMF) meramalkan harga minyak akan jatuh hingga US$ 20 per barel. Economics Correspondent, Peter Spence dalam artikelnya di telegraph.co.uk menyebutkan, harga minyak menuju US$ 10 bahkan bisa lebih rendah dari itu.  Jatuhnya harga minyak disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

  1. Penemuan teknologi barushale oil dan shale gas di Amerika Serikat (AS) sebagai negara konsumen minyak terbesar di dunia, yang menyebabkan AS tidak lagi bergantung pada minyak impor.
  2. Melemahnya perekonomian China akibat ambruknya pasar keuangan yang dipicu oleh menurunnya pasar properti dan infrastruktur di negara tersebut.
  3. Produksi minyak sendiri yang berada pada leveloverproduction (kelebihan produksi) serta kenaikan harga minyak yang selama ini cenderung tidak wajar. Dengan demikian, harga minyak rendah cenderung akan bertahan dalam jangka panjang.

 

Akibat penurunan harga minyak, diperkirakan, 250 ribu pekerja minyak telah kehilangan pekerjaan mereka. Perusahaan-perusahaan minyak raksasa seperti Chevron, Exxon telah memangkas pengeluaran besar-besaran dan juga melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap pekerjanya.

 

Kondisi Indonesia tidak jauh berbeda dengan kondisi global. Jatuhnya harga minyak mengakibatkan turunnya target lifting minyak oleh perusahaan minyak baik perusahaan asing maupun perusahaan nasional. Perusahaan minyak tidak berani mengambil resiko melakukan produksi karena harga yang tidak menguntungkan. PT Chevron Pasific Indonesia, perusahaan minyak yang menguasai sekitar 48 persen produksi minyak mentah Indonesia mengatakan, akan mengakhiri kontrak mereka di Kalimantan Timur setelah 50 tahun beroperasi di sana. Blok Kalimantan Timur menyumbangkan 70 juta kaki kubik per hari (mmscfd) gas dan 20 ribu barel minyak pe hari. Tidak hanya itu, perusahaan minyak asal Amerika Serikat itu juga berencana akan mengurangi sekitar 1.500 pekerja mereka di Indonesia. Perusahaan asing seperti British Petroleum (BP), ConocoPhillips, dan perusahaan nasional lainnya seperti Energi Mega Persada, akan mengambil langkah sama sebagai respons terhadap memburuknya harga minyak.

 

Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2014, total penerimaan langsung migas yang diperoleh dari pajak penghasilan Rp 83,8 triliun, penerimaan sumber daya alam (SDA) minyak Rp 154,7 triliun dan penerimaan SDA gas Rp 56,9 trilun. Total penerimaan langsung migas Rp 295,5 triliun. Pendapatan tersebut belum termasuk penerimaan sektor pajak yang berkaitan secara tidak langsung dengan sektor migas. Asumsi harga minyak saat itu adalah US$ 105 per barel.

 

Tahun 2015, penerimaan migas mengalami penurunan Rp. 187,67 triliun dan merupakan penerimaan terendah dalam 5 tahun terakhir, persentase dari penerimaan migas hanya 8,82% terhadap pendapatan Negara. Sebelumnya penerimaan migas yang terdiri PPh Migas, PNBP Migas, dan PNBP lainnya dari kegiatan hulu migas memberikan kontribusi yang cukup besar dalam Pendapatan Negara yaitu sebesar 21,61% (rata-rata kontribusi Penerimaan Migas dari Tahun 2010-2014).

 

Selanjutnya dalam APBN 2016, pemerintah menargetkan produksi minyak sekitar 830 ribu barel per hari dan target pendapatan minyak US$ 11,65 miliar, dengan asumsi harga minyak ditetapkan sebesar US$ 50 per barel. Sementara sekarang, harga minyak berkisar antara US$ 25-US$ 30 per barel.

 

PERTAMINA sebagai perusahaan minyak nasional yang memiliki visi menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia, perlu memiliki langkah-langkah strategi agar dapat mengantisipasi penurunan harga minyak.

 

Kebutuhan minyak perhari di Indonesia sekitar 1,6 juta barel (bph), sedangkan produksi minyak dalam negeri hanya 800 ribu bph. Dari total produksi tersebut, produksi Pertamina baru mencapai 300 ribu bph atau sekitar 20-23 persen dari produksi migas nasional.

 

Menurut Direktur Utama Pertamina Dwi Sucipto ada beberapa strategi untuk mengantisipasi penurunan harga minyak.

  1. Dari sisi opex, Pertamina memotong belanja operasional sampai dengan 30%. Biaya operasi rata-rata perusahaan untukonshore production (produksi di darat) berkisar antara US$ 19-US$ 20 per barel. Bahkan biaya operasi untuk beberapa lokasi seperti di lepas pantai West Madura sekitar US$ 30 per barel.
  2. Pertamina akan memenuhi kebutuhan pasar nasional 1,6 juta bph, karena produksi Pertamina sangat kecil, hanya 300 ribu bph. Investasi di upstream untuk mempercepat recovery atau menambah kapasitas produksi merupakan sebuah kebutuhan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Saat harga minyak rendah, justru inilah time for invest di upstream. Targetnya produksi akan bertambah menjadi 2 juta bph pada 2025.

 

Disisi lain ada beberapa strategi yang perlu juga dikembangkan mengingat pengembangan Shale Gas, Shale Oil, hingga Coal Bed Methane dianggap sebagai solusi alternatif.  Shale gas adalah gas alam yang terdapat di dalam batuan shale, yaitu sejenis batu lunak (serpih) yang kaya akan minyak ataupun gas. Gas ini pertama kali diekstraksi di Fredonia, pada tahun 1821. Namun produksi gas shale untuk industri baru dimulai pada tahun 1970-an. Ketika itu Amerika Serikat mulai mengalami penurunan cadangan gas konvensional, yang memaksa negara itu untuk melakukan riset dan pengembangan baru. Tetapi dari serangkaian uji coba, pengeboran shale gas pada era 1980 tersebut masih kurang ekonomis. Baru pada tahun 1988, Mitchell Energy menemukan teknologi slick-water fracturing yang ekonomis.

 

Dengan ketersediaan Shale Gas yang sangat melimpah membuat Amerika mengembangkan bahan bakar tipe ini. Diperkirakan di Amerika Utara terdapat sekitar 1.000 triliun kaki kubik shale gas yang cukup untuk memasok gas alam untuk USA selama 50 tahun atau lebih. Majalah The Economist edisi Juli 2012 memprediksi bahwa shale gas saat ini telah menyumbang sepertiga pasokan gas Amerika Serikat, dan pada tahun 2035 bisa mencapai 50%.

 

Indonesia mempunyai cadangan shale gas. Potensi Shale gas di Indonesia pun cukup besar yaitu sekitar 574 TCF dari total cadangan dunia sebesar 6622 TCF. Cadangan Shale gas lebih besar dibandingkan CBM sekitar 453,3 TCF dan gas bumi 334,5 TCF. Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan pemerintah, hingga saat ini terdapat 7 cekungan di Indonesia yang mengandung Shale gas dan 1 berbentuk klasafet formation. Cekungan terbanyak berada di Sumatera yaitu berjumlah 3 cekungan, seperti Baong Shale, Telisa Shale dan Gumai Shale. Sedangkan di Pulau Jawa dan Kalimantan, Shale gas masing-masing berada di 2 cekungan. Di Papua, berbentuk klasafet formation.
Meski shale oil memiliki teknologi alternatif dalam menghasilkan minyak bumi yang lebih canggih dibanding teknologi standar pengeboran, namun shale oil memiliki kelemahan, yaitu pada biaya produksinya. Diawal penerapan teknologi serpih ini, biaya produksi untuk satu barrel minyak berada pada kisaran US$ 55, tetapi seiring makin berkembangnya teknologi, kini biaya produksi shale oil per barrel telah turun dan berada dikisaran US$ 30. Bandingkan dengan biaya produksi dengan teknologi pengeboran, dimana biaya produksi minyak untuk satu barrel berada pada kisaran US$ 25. Bahkan Arab Saudi hanya membutuhkan biaya produksi sebesar US$ 8 untuk satu barrel minyak bumi. Dengan biaya produksi yang masih tinggi, maka akan sulit bagi shale oil untuk bersaing.

 

Arab Saudi terus membanjiri pasar minyak guna menggoyang turun harga minyak hingga mencapai titik dimana biaya produksi dari shale oil tidak tertutupi oleh harga jual minyak. Strategi Arab Saudi ini menampakkan hasil, terbukti ketika harga minyak bumi mencapai angka US$ 30/barrel, hanya beberapa saja dari perusahaan minyak shale oil yg bertahan, sisanya bangkrut.

 

Melihat konstelasi politik minyak, maka akan sulit sekali bagi minyak bisa mencapai harga US$ 60/barrel. Dampak buruk dari berkelanjutannya konstelasi politik minyak, perlahan akan memicu kebangkrutan negara-negara nett exporter. Hutang menumpuk yang gagal bayar, kejatuhan saham-saham energi, PHK massal yang akan diikuti dengan menurunnya GNP dan GDP akan berujung pada kebangrutan massal.

 

Sementara itu, perkembangan energi berkelanjutan semakin luas. Potensi energi alternatif di Indonesia cukup besar namun pemanfaatanya masih relatif rendah.

Potensi Pengembangan Energi Alternatif di Indonesia

Jenis Potensi Kapasitas Terpasang
Hydropower 76.17 GW 4,284 MW
Geothermal 27.00 GW 807.00 MW
Biomass 49.81 GW 445.00 MW
Wind 3-6 m/detik 0.6 MW
Solar 4.8 kWh/m2-hari 8.00 MW

Sumber : Blueprint Pengelolaan Sumber Energi Nasional 2006-2025

 

Masa depan energi terdapat pada energi terbarukan, karena memiliki kelebihan antara lain, yaitu:

  1. Potensinya melimpah,
  2. Relatif mudah didapat,
  3. Dapat diperoleh dengan gratis, dengan biaya operasional sangat rendah,
  4. Masalah limbah relatif kurang,
  5. Proses produksinya tidak menyebabkan pemanasan global, dan
  6. Tidak terpengaruh kenaikkan harga bahan bakar

 

Berdasarkan Perpres No 5 tahun 2006, Indonesia telah merumuskan rencana energi primer mix yang optimal pada tahun 2025. Masing-masing sumber energi sudah diberikan porsi terhadap konsumsi energi nasional:

  1. Minyak bumi menjadi kurang dari 20%
  2. Gas bumi menjadi lebih dari 30%
  3. Batubara menjadi lebih dari 33%
  4. Bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari 5%
  5. Panas bumi menjadi lebih dari 5%
  6. Energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya dan tenaga angin menjadi lebih dari 5%
  7. Batubara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari 2%

 

Berdasarkan paparan diatas, maka perlu merumuskan strategi jangka pendek, menengah, panjang dan berkelanjutan agar Pertamina tidak hanya bertahan ditengah kondisi penurunan minyak namun juga melanjutkan visinya menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button