PERIKLANAN BERWAWASAN LINGKUNGAN atau ECO-ADVERTISING | DR. Arif Zulkifli Nasution

PERIKLANAN BERWAWASAN LINGKUNGAN atau ECO-ADVERTISING

Hampir usai sudah pertarungan pemilihan kepala daerah. Selanjutnya masyarakat Indonesia akan menghadapi perhelatan akbar pemilu legislative dan pemilihan presiden. Berbagai macam cara elite politik mensosialisasikan diri dan platformnya. Dari kunjungan langsung ke konstituen hingga iklan di media massa. Bagaimanapun cara kampanye yang dilakukan elite politik seyogyanya hindari penggunaan media kampanye yang tidak bersahabat dengan lingkungan. Media cetak seperti billboard, baliho, poster dan stiker yang menggunakan material vynil sulit di daur ulang dan menyebabkan limbah yang semakin banyak.

Ada berbagai macam media kampanye yang dapat digunakan misalnya: pertama; leaflet atau selebaran yaitu lembaran kertas cetak yang dilipat menjadi dua halaman atau lebih. Kedua; folder yaitu lembaran bahan cetakan yang dilipat menjadi dua seperti map atau buku agar mudah dibawa. Atau bisa juga dilipat dengan gaya concertina sehingga membentuk beberapa halaman terpisah tanpa perlu dipotong. Alasan perlunya folder agar mudah dimasukkan ke dalam amplop untuk diposkan atau dimasukkan ke dalam saku. Ketiga; misalnya brosur (booklet) yaitu bahan cetakan yang terdiri dari beberapa halaman yang dijilid sehingga menyerupai buku. Keempat; catalog yaitu sejenis brosur yang berisi rincian jenis produk/layanan usaha dan kadang-kadang dilengkapi dengan gambar-gambar. Ukurannya bermacam-macam mulai dari sebesar saku sampai sebesar buku telepon, tergantung keperluannya. Kelima; flag chain yaitu rangkaian bendera kecil dengan menampilkan gambar produk, merek, slogan, atau gabungan dari semua itu. Bahan yang digunakan bisa dari kertas, plastik, PVC, atau bahan yang sejenis. Keenam; poster yaitu poster bergambar dan full color biasanya dipakai sebagai dekorasi ruangan untuk ditempel di dinding, pintu, jendela toko, atau dinding ruang pamer. Ketujuh; sticker yaitu merupakan bahan promosi yang paling banyak dan sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk mempromosikan produknya, karena sifatnya yang sangat fleksibel. Bisa ditempel dimana saja. Dan kadang-kadang sticker mempunyai nilai kebanggaan tersendiri bagi si pemasangnya (konsumen). Kedelapan; billboard yaitu Iklan outdoor dibuat dengan bahan plywood dan metal seperti aluminium dan besi dalam berbagai bentuk. Kesembilan; baliho yaitu variasi dari billboard untuk waktu-waktu tertentu (1 minggu sampai dengan 1 bulan) atau temporary Billboard biasanya terbuat dari bahan triplek. Kesepuluh; banner (Spanduk & Umbul-umbul) yaitu sarana promosi yang terbuat dari kain yang diberikan desain, motto, slogan dalam bentuk vertikal ataupun horisontal, dengan berbagai ukuran.

Di era digital sekarang, kesepuluh media kampanye diatas, saat ini terindikasi mencemarkan lingkungan karena materialnya yang berubah dari kain atau kertas menjadi vynil. Vynil lebih merupakan pilihan baru karena gambarnya yang lebih fokus dan warnanya yang lebih terang.

Sejarah Periklanan Luar

Sejarah periklanan luar ruangan atau yang dikenal sebagai outdoor dimulai ribuan tahun yang lalu. Menurut catatan sejarah, orang Mesir menggunakan sebuah tugu batu yang tinggi untuk mempublikasikan hukum dan perjanjian. Melalui publikasi lewat tugu tersebut, orang-orang Mesir mempunyai media iklan pertama mereka.

Johannes Gutenberg menciptakan pencetakan huruf pada tahun 1450, ketika itu periklanan modern dimulai melalui surat selebaran atau surat edaran. Tahun 1796, poster bergambar yang pertama dibuat, ketika proses litografis (cetakan dari batu atau logam yang ditulisi atau digambari) telah mencapai kesempurnaan. Pada saat itu poster digunakan untuk menyampaikan pesan dalam periode waktu yang tetap dan dipasang di daerah yang lalulintasnya padat.

Awalnya pertunjukan sirkus di Amerika menggunakan Billboard. Inilah awal dimulainya penggunaan billboard di AS. New York merupakan kota pertama yang dipasang poster outdoor besar (lebih dari 50 kaki persegi). Jared Bell merupakan kantor yang mencetak poster pada 1835. Pada 1850, periklanan luar ruang pertama kali digunakan di atas jalan kereta api.

Pada 1990-an periklanan dengan billboard mencapai zaman keemasan. Pengiklan-pengiklan besar mulai memproduksi billboard secara masal untuk pasar nasional. Mulai dari sabun, shampoo, pasta gigi, makanan sereal dan minuman ringan menggunakan billboard untuk iklan dengan menampilkan gambar dan foto yang besar.

Di Indonesia, periklanan dengan billboard marak seiring dibukanya keran demokrasi dan desentralisasi. Pemekaran provinsi, kota dan kabupaten di Indonesia diikuti dengan pemilihan kepala daerah langsung menambah semarak penggunaan billboard.

Setelah datangnya era teknologi digital, billboard yang dicat dengan tangan diganti dengan teknologi komputer. Periklanan outdoor berkembang selain billboard bentuknya dapat berupa poster, periklanan transit, mobile panel, premiere panel, display di tempat pembelanjaan, periklanan kios, tulisan di udara, balon-balon raksasa, T-Shirt yang dipenuhi logo-logo dan sebagainya.

Penggunaan media massa khususnya media cetak semakin mengkhawatirkan. Bahan yang digunakan dalam media cetak belum eco-friendly, sulit di daur ulang, penggunaan untuk bahan lain masih terbatas dan hasil bahan daur ulangnya masih jadi kebutuhan tersier.

Plastic vynil banyak digunakan dalam baliho, billboard, poster, stiker, spanduk dan lain sebagainya. Penggunaan plastic vynil dianggap lebih baik performancenya baik gambar, maupun warnanya. Karena itu penggunaan vynil banyak menggantikan kain ataupun kertas.

Vynil adalah material yang sulit di daur ulang, apabila dibiarkan di alam dapat terurai setelah sekitar 350 tahun (KLH, 2005). Bahan ini jika terkena suhu panas tertentu dapat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup karena terutama dioxin yang dikandungnya bersifat karsiogenik yang dapat memicu pertumbuhan kanker pada manusia.

Di AS setiap tahun, industri periklanan luar menggunakan kira-kira 250 juta kaki kuadrat atau 75 juta meter kuadrat polyvinyl klorida ( PVC atau vinil) atau ” vinil” billboard, suatu material yang sukar untuk didaur ulang setelah penggunaan utamanya. PVC billboard secara khas dibuat dari suatu inti serabut polyester dan permukaan PVC. PVC (alat pembuat plastik dan damar) memberi kontribusi sekitar 80% dari berat produk.

Material vynil di AS dapat didaur ulang dengan tiga cara berbeda. Yang pertama adalah menjualnya kepada suatu pabrik manufaktur yang menghasilkan produk vinil. Penggunaan ulang vynil di dunia ini masih terbatas untuk barang tersier seperti tas, dompet, dan sebagainya. Yang kedua menjual kembali kepada suatu operasi proses ulang. Yang ketiga merecycle material untuk dijual kembali kepada suatu pengolahan pipa PVC. Di AS sudah ada hasil daur ulang vynil yang disebut Eco-Flexx.

Eco-Flexx adalah suatu bahan 100% daur ulang polyethylene (PE) bahan dasar untuk billbords. Eco-Flexx tidak beracun dan tahan lama, memenuhi berbagai warna untuk kebutuhan pemasang iklan sekaligus suatu cara yang bertanggung jawab pada lingkungan. Dan harganya murah dibandingkan dengan PVC billboards.

Di Indonesia, penggunaan ulang media kampanye dari vynil belum banyak dipikirkan. Media kampanye yang terbuat dari vynil setelah usai musim kampanye bertumpuk di tempat pembuangan sampah sehingga menambah volume sampah. Membiarkan vynil dalam alam terbuka menunggu ratusan tahun untuk terurai secara alamiah sedangkan membakarnya dapat menghasilkan dioxin yang dapat berbahaya bagi kesehatan. Perlu dipikirkan suatu bahan untuk menggantikan bahan vynil yang tidak bersahabat dengan lingkungan.

Dari sudut pandang ilmu lingkungan, penggunaan bahan apapun yang jumlahnya massal dan dalam waktu yang cepat dapat membahyakan lingkungan. Karena alam mempunyai jangka waktu tertentu untuk memproduksinya maupun menguraikannya. Karena itu jika penggunaan vynil digantikan kembali oleh kertas, triplek ataupun kain tetap akan merusak lingkungan.

Penggunaan kertas menyebabkan permintaan pulp makin tinggi. Akibatnya hutan semakin cepat musnah digantikan hutan monokultur yang rentan terhadap ketidakseimbangan ekologis. Begitu juga dengan penggunaan triplek yang berasal dari pohon. Penggunaan kain yang makin tinggi menyebabkan permintaan kapas tinggi dan limbah yang dibuang ke alam juga makin banyak.

Bayangkan saja apabila dalam setiap pemilihan kepala daerah (pilkada) kota/kabupaten yang jumlahnya 460an dan pemilihan gubernur yang jumlahnya 33. Dan dalam setiap pemilihan minimal diikuti oleh dua kandidat. Masing-masing kandidat dalam pilkada kota/kabupaten menggunakan minimal 10 billboard, 2 rim stiker dan 2 rim poster belum lagi di tambah pemilihan gubernur, maka tidak terbayangkan berapa jumlah sampah kampanye yang menumpuk di Indonesia.

Untuk menghadapi pemilihan legislative dan presiden, pemerintah hendaknya perlu membuat aturan kampanye. Aturan kampanye yang dibuat tidak hanya mengatur bahan yang digunakan dalam kampanye baik kualitas maupun kuantitas, juga lokasi media kampanye.

Atau aturan tersebut dapat mengakomodasi usulan Wakil Presiden agar seluruh pemilu baik legislative, pemilihan kepala daerah kota/kabupaten atau provinsi dan presiden dikumpulkan di satu waktu agar menghemat biaya. Penghematan biaya tidak hanya dari operasional pemilu tetapi juga media kampanye yang digunakan dapat dipakai bersama sehingga menghemat bahan.

Pengaturan tersebut bertujuan untuk meminimalisir dampak kampanye terhadap lingkungan agar tercipta pesta demokrasi berkelanjutan. Jangan sampai anak cucu kita mengutuk pesta demokrasi yang kita lakukan karena boros sumber daya alam dan menyebabkan mereka kehilangan lingkungan yang sehat. Pakar politik mengatakan harga memelihara demokrasi itu mahal namun lebih mahal untuk menjaga pesta demokrasi agar berkelanjutan.

.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − fourteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top