Lingkungan

Peran ulama dalam pelestarian alam

Sebagaimana kita ketahui bahwa sistem keyakinan yang kita peluk dan anut adalah Addien Al-Islam, yang mana adalah agama yang syāmil (integral), kāmil (sempurna) dan mutakāmil (menyempurnakan semua sistem yang lain), walhamdulillah ia adalah sistem yang hidup dan menghidupkan kehidupan yang sesuai dengan firman Allah SWT pada surat Al-Māidah ayat 3:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Allah SWT yang Rahman dan Rahim sudah menurunkan dan menetapkan peraturan dan hukum Islam yang mencakup semua aspek yang dibutuhkan manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil-ard sangat terperinci, sistematis, tersusun rapi dan lazim untuk ditaati. Lebih dari itu kegunaannya juga mencakup pemulian penghargaan penghormatan dalam bentuk penjagaan terhadap alam dan lingkungan hidupnya.
Tidak ada manusia muslim dan beriman kepada Allah SWT dengan gampang mengingkari kurnia-Nya, berupa alam semesta yang merupakan nikmatul udzma bagi kita sebagai manusia. Allah SWT menyeru manusia untuk memanfaatkannya dengan sebaik mungkin seraya terus harus bersyukur kepada-Nya. Rasa syukur manusia kepada Allah SWT dapat diperlihatkan dan dibuktikan dengan cara menjaga kelestarian alam atau lingkungan hidup mereka. Sehingga alam tetap terjaga dari segala kerusakan yang dapat menimbulkan bencana.
Secara ekofilosofis keterkaitan dan hubungan manusia dengan lingkungan merupakan suatu keniscayaan dan telah menjadi pengetahuan kita semua. Ini artinya, antara manusia dengan lingkungan terdapat hubungan, keterkaitan dan keterlibatan timbal balik yang tidak dapat ditawar-tawar lagi keberadaannya. Lingkungan dan manusia terjalin sedemikian eratnya antara satu dengan lainnya, sehingga tanpa terjalinannya dengan lingkungan, tidak dapat dibayangkan dan tidak dapat pula dipikirkan bahkan tidak ada kehidupan itu sama sekali.
Bahwa hubungan ynag terjalin antara manusia dengan lingkungan adalah bersifat dinamis. Yaitu, merupakan keterjalinan sadar yang dihayati dan dijadikan sebagai akar serta inti kepribadiannya. Tadabbur dan perenungan mendalam keterjalinan manusia dengan lingkungan merupakan upaya pencarian diri. Hal ini disebabkan karena manusia berasa dalam lingkungan. Ketiadaan ada dalam lingkungan, manusia menjadi tidak ada.
Dari sini dapat dimaklumi dan dipahami bahwa lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ibnu Khaldūn menyebutkan paling tidak ada 5 peran lingkungan dalam kehidupan manusia, yaitu:
1) Peran penyeimbang kehidupan antara manusia, hewan dan tumbuhan;
2) Peran objek, yaitu kodrat lingkungan yang tercipta untuk memenuhi kebutuhan manusia;
3) Peran pendamping, yaitu lingkungan yang bersifat seperti sahabat bagi manusia;
4) Peran pemberi peringatan bagi kehidupan manusia; dan
5) Peran subjek bagi manusia, yaitu lingkungan yang dalam keadaan tertentu menjadi musuh manusia.
Dalam hal ini, manusia menjadi objek bagi ketamakan dan keberingasan lingkungan. Dua peran yang terakhir ini menurut Ibn Khaldūn terjadi ketika manusia tidak santun atau bersikap melampaui batas terhadap lingkungan hidupnya.
Betapa besarnya peran yang dimainkan oleh lingkungan dalam menjaga keseimbangan kehidupan manusia. Wajar manakala Islam memberikan perhatian serius terhadap lingkungan dan menganjurkan serta menyeru umatnya untuk bersikap baik terhadap lingkungan. Banyak dalil-dalil nash dalam Islam yang menganjurkan hal itu, misalnya firman Allah dalam surat al-A’rāf ayat 56 sebagai berikut:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-A’raaf: 56)
Ayat ini mengajak dan mengajarkan manusia agar tidak membuat kerusakan dan kezaliman di bumi setelah Allah memperbaikinya, baik dalam hal aqidah maupun terhadap alam dan lingkungan tempat tinggalnya serta seluruh makhluk hidup lainnya. Alam raya telah diciptakan Allah SWT dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi, dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah SWT telah menjadikannya baik, bahkan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memperbaikinya.

1 2 3Next page
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button