PERAN PEREMPUAN DALAM LINGKUNGAN atau The Role of Women at Environment | DR. Arif Zulkifli Nasution

PERAN PEREMPUAN DALAM LINGKUNGAN atau The Role of Women at Environment

Menyambut hari ibu tanggal 22 Desember dan tahun pemanasan global, ada baiknya kita merenung sejenak mengenai fungsi ibu dan lingkungan yang penting namun posisinya sering termarjinalkan. Upaya perenungan akan membawa kita pada upaya untuk menghargai peran ibu dan menghormati alam.

“Wanita adalah lelaki yang tidak lengkap,” demikian anggapan Aristoteles, seorang filsuf dan pemikir besar, tentang sosok perempuan. Menurutnya, wanita kurang bisa mengerami atau memasak darah yang dikeluarkan pada masa haidnya ke taraf yang lebih sempurna menjadi air mani. Karena itu, wanita tidak bisa menyumbangkan air mani dalam proses pembentukan janin manusia. Wanita hanya menyumbangkan selongsongnya saja, kemudian memberi janin itu makanan untuk tumbuh. Begitulah pandangan yang mendominasi pemikiran mengenai wanita berabad-abad lalu.

Sejarah gerakan perempuan kita tidak terlepas dari pandangan bahwa “pekerjaan laki-laki” lebih mulia dibanding “pekerjaan wanita”, sejarah melupakan peran domestik yang dilakukan banyak perempuan. Peran kaum perempuan di dapur-dapur umum untuk membantu logistik para serdadu pejuang, peran merawat serdadu terluka, peran mengurus rumah tangga dan mengasuh anak yang dilakukan sendiri ketika suami pergi berperang, tidak masuk dalam hitungan gerakan yang patut disejarahkan.

green-lawn-spring-day

Ibu sebagai bagian dari profesi wanita, tidak lepas dari pandangan demikian, bahkan profesi ibu dianggap profesi kuno yang diidentikan dengan sumur, kasur dan dapur. Profesi ibu saat ini masih sering ditempatkan pada posisi domestic. Suatu posisi yang dianggap tidak menghasilkan malah membutuhkan biaya. Begitu juga dengan lingkungan. Lingkungan ditempatkan pada posisi yang marjinal, mengeluarkan biaya, dan tidak menghasilkan profit.

Hal tersebut karena selama ini profesi ibu tidak pernah dimaknai sebagai profesi yang menghasilkan income bagi keluarga. Setiap saat ibu hanya menghabiskan biaya untuk memasak, mencuci, bersih-bersih dan segudang pekerjaan rumah lain, padahal kalau pekerjaan tersebut dikerjakan orang lain tentu membutuhkan biaya lebih besar untuk menggaji PRT (pekerja rumah tangga), dan membiayai keperluan hidup mereka. Belum lagi peran ibu sebagai kepala rumah tangga, mengatur keuangan keluarga, memelihara dan merawat anak-anak, membina anak-anak dari kecil hingga dewasa dan menjadi tempat brainstorming bagi seluruh anggota keluarga. Begitu besar peran ibu sehingga dalam Islam, ibu lebih dihargai 3x lipat dari peran ayah. Dalam kehidupan modern di Barat profesi ibu dihargai sama dengan ayah. Ketika terjadi perceraian Raja Media Rupert Murdock dengan istrinya atau Harison Ford dengan istrinya, maka pengadilan memerintahkan membagi dua harta karena selama suami bekerja sang istri berada di rumah mengerjakan pekerjaan rumah yang sebanding nilainya dengan pekerjaan suami.

Lingkungan juga dianggap demikian, fungsi lingkungan seperti jasa penyediaan, pengaturan dan jasa kultural, yang secara langsung mempengaruhi kehidupan manusia, serta jasa pendukung yang diperlukan untuk menghasilkan dan mempertahankan jasa lainnya. Jasa penyediaan yaitu hasil yang diperoleh dari ekosistem misalnya makanan, air bersih, kayu bakar, serat, biokimia, sumber daya genetik. Jasa pengaturan yaitu manfaat dari pengaturan proses-proses ekosistem misalnya pengaturan iklim, pengaturan penyakit, pengaturan air, penjernihan air. Jasa kultural misalnya manfaat non materi dari ekosistem misalnya spritual dan keagamaan, rekreasi dan ekoturisme, estetika, inspirasi, pendidikan, rasa memiliki, warisan kultural. Apabila jasa-jasa tersebut di nilai dengan uang maka biaya penggunaan jasa tersebut melebihi biaya pemeliharaan lingkungan. Misalnya dalam kasus banjir, memenuhi ketentuan ruang terbuka hijau (RTH) di DKI Jakarta sebesar 30% tentu membutuhkan biaya tidak sedikit namun akibat banjir karena kurangnya lahan penyerapan air dapat menyebabkan kerugian jauh lebih besar berkali-kali lipat dari nilai menyediakan RTH tersebut.

Hubungan antara ibu dan lingkungan layaknya seorang anak dan ibu, Bagi ibu, bumi adalah ibu yang harus diselamatkan dari ancaman kerusakan. Ibu adalah tangan pertama yang bersentuhan dengan air, tanah dan seluruh. Karena itulah Ibu juga menjadi kelompok pertama dan yang paling rentan terhadap resiko dampak kerusakan bumi akibat eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh industry maupun oleh kegiatan rumah tangga.

Sejumlah perlawanan telah dilakukan oleh kelompok Ibu di dunia untuk menyelamatkan bumi, seperti yang dilakukan oleh Vandana Shiva di India yang terkenal dengan gerakan ibu-ibu yang memeluk pohon untuk menyelamatkan hutan mereka dari ancaman eksploitasi industri. Atau Mama Yosepha yang begitu militan menghadapi kekuatan PT. Freeport, ibu-ibu Sugapa di Sumatera Utara yang mempertahankan hutan ecoliptusnya yang akan dirampok oleh PT. Inti Indorayon untuk kebutuhan bahan pulp dan papernya, Ibu Naomi yang tidak pernah menyerah menghadapi PT. Inco yang telah merampas tanah ulayat masyarakat adat Soroako Sulawesi Selatan, ibu-ibu di Buyat Sulawesi Utara yang harus berjuang dengan penyakitnya akibat limbah buangan PT. Newmont Minahasa Raya, meskipun harus selalu mengalami kekalahan demi kekalahan.

Namun kita juga tidak boleh melupakan jasa ibu yang berjuang di ranah domestic. Ketika ibu-ibu tersebut menyadari bahwa mereka yang paling langsung berhubungan dengan alam, maka segala perilakunya akan mempengaruhi alam. Ibu yang memahami posisinya akan menyadari (realize), menghitung ulang tindakannya (Recount), dan mengatur ulang perilakunya (rearrange) terhadap alam.

Ibu menyadari bahwa alam bagian dari dirinya sehingga apa yang dilakukannnya terhadap alam akan berpengaruh pada kondisinya sendiri, misalnya penggunaan deterjen yang berlebihan ketika mencuci akan menyebabkan sungai tercemar. Sungai yang semakin tercemar makin menyulitkan PDAM untuk mengolahnya akibatnya tariff air juga meningkat. Mencuci pakaian langsung dibawah kran lebih boros air akibatnya persediaan air tanah makin sedikit dan terancam kekurangan air bersih di masa mendatang. Membeli kantong plastic setiap akan berbelanja menyebabkan sampah plastic menumpuk dan pengeluaran bertambah. Lupa mematikan lampu ketika akan tidur atau siang hari selain menambah pengeluaran juga akan boros sumber daya.

Ibu adalah penjaga gawang penghematan sumber daya alam, karena itu ibu perlu menghitung ulang tindakannya. Tindakan yang pro lingkungan akan menghemat pengeluaran, misalnya menggunakan deterjen secukupnya, membawa tas ketika berbelanja, mematikan lampu ketika akan tidur dan siang hari, atau mencuci pakaian dengan menggunakan ember.

Setelah menyadari dan menghitung ulang tindakan, saatnya mengatur ulang segala tindakan. Inilah bagian penting dari keseluruhan tahapan. Banyak orang yang manggut-manggut ketika diberikan pengarahan mengenai wawasan lingkungan namun ketika sampai dalam tahap aplikasinya, mereka sulit lepas dari gaya hidup yang aman, nyaman dan kurang memperhatikan factor lingkungan.

Ibu yang bijak tentu akan berupaya mengatur ulang perilaku bukan hanya dirinya tetapi seluruh anggota keluarga agar berwawasan lingkungan misalnya membuat kesepakatan dengan seluruh anggota keluarga dalam hal penggunaan air, listrik, BBM dan sumber daya lain. Ketika akan menggosok gigi gunakan gayung atau gelas, jangan membiasakan bergosok gigi dengan kran air mengucur terus. Mencuci kendaraan lebih baik gunakan ember. Menampung air hujan minimal 1 m3 akan menghemat persediaan air tanah. Membiasakan mematikan lampu dan tivi secara manual ketika akan tidur, menggunakan energy alternative dari matahari dapat menghemat pengeluaran dan sumber daya alam. Membiasakan naik kendaraan umum ketika berbelanja, naik sepeda bagi anak-anak untuk ke sekolah jika sekolah tidak jauh dari rumah, dan naik jemputan atau kendaraan umum bagi sang ayah ketika berangkat kerja akan menghemat pengeluaran. Membiasakan anak membuang sampah pada tempatnya akan membuat rumah dan sekitarnya kelihatan bersih.

Ajak anak-anak mencintai lingkungan dengan memberikan tontonan mengenai akibat kerusakan alam atau mengajak anak menghirup udara segar di pegunungan dan ambil hikmah dari kesegaran udara yang didapatkan.

Damping anak menanam pohon di halaman, katakanlah pohon yang ditanam perlu dipelihara agar memberikan hasil untuk mereka. Pohon yang ditanam dapat menjaga persediaan air tanah, sirkulasi udara bersih, dan menjaga tidak terjadi banjir dan erosi.

Beritahu anak untuk menggunakan kertas bolak balik, kumpulkan kertas kosong yang berasal dari sisa buku tulis, gunakan sehemat mungkin. Kertas berasal dari pohon, semakin banyak kebutuhan kertas kita berarti semakin banyak pohon yang harus ditebang. Semakin banyak pohon yang ditebang, maka lama kelamaan hutan kita akan hilang sehingga ancaman banjir, longsor, kekurangan air, kekeringan dan pemanasan global semakin tinggi.

Himbau anak-anak untuk bepergian seperlunya dan menggunakan sarana transportasi umum. Kurangi acara jalan-jalan ke tempat yang kurang perlu karena setiap mobilitas dengan menggunakan kendaraan bermotor akan mengurangi persediaan energy fosil atau BBM.

Perilaku berwawasan lingkungan tersebut tidak harus dibebankan semua ke pundak ibu, semua anggota keluarga memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan. namun ibu sebagai ratu dalam rumah tangga memiliki wewenang penuh agar tercipta lingkungan yang bersih dan sehat.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top