PANDANGAN ISLAM TERHADAP PEMANASAN GLOBAL atau Global Warming in The Islamic View | DR. Arif Zulkifli Nasution

PANDANGAN ISLAM TERHADAP PEMANASAN GLOBAL atau Global Warming in The Islamic View

SIKAP TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN DAN BIODIVERSITI

SEBAGAI SOLUSI ISLAM TERHADAP PEMANASAN GLOBAL[1]

Islam_CC_cover_high_res

Setiap aktifitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pasti mempengaruhi lingkungan. Hal tersebut sudah pernah ditanyakan oleh para malaikat kepada Allah, mengapa Allah menciptakan manusia sebagai khaliah di muka bumi padahal manusia itu akan membuat kerusakan di muka bumi.

Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ituorang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” (Al-Baqarah:30)

Manusia sejak lahir membutuhkan dukungan alam seperti selimut, kain, popok, makanan, susu dan sebagainya, sehingga keberadaan manusia di muka bumi akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Semakin banyak jumlah manusia maka kecenderungan kerusakan lingkungan semakin besar, dan semakin banyak kebutuhan manusia, maka lingkungan semakin cepat terdegradasi.

Beberapa ilmuwan menyatakan pemanasan global karena factor alam namun sebagian besar lagi menyatakan karena ulah manusia. Al-Qur’an menjawab perdebatan factor penyebab pemanasan global melalui surah Asy-Syura ayat 27 yaitu penyebab kerusakan bumi itu karena ulah manusia itu sendiri yang melampaui batas (berlebih-lebihan), dan semua ciptaan Allah di muka bumi sudah sesuai dengan ukurannya. Dalam surah Yunus ayat 44, Allah menekankan kembali bahwa tidak mungkin Allah berbuat zhalim kepada manusia, tetapi manusia itu yang berbuat zhalim kepada dirinya sendiri.

Lingkungan memiliki daya lenting yaitu kemampuan untuk kembali ke keadaan semula setelah di intervensi. Lingkungan dapat kembali ke keadaan keseimbangan apabila terjadi intervensi namun tingkat pengembaliannya membutuhkan waktu. Kecepatan pengembalian lingkungan ke keadaan semula seringkali lebih lama dibanding kecepatan intervensi manusia sehingga lingkungan tidak dapat kembali ke keadaan semula. Kecepatan intervensi manusia tergantung dari tingkat kebutuhan dan keinginan manusia, semakin tinggi kebutuhan dan keinginan manusia maka kecepatan intervensi juga semakin tinggi.

Penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Pembakaran bahan bakar fosil umumnya disebabkan aktifitas industry, transportasi dan rumah tangga. Aktifitas tersebut meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan keinginan masyarakat modern yang semakin beragam. Pandangan Islam mengenai pertambahan penduduk dan keinginan masyarakat modern yang makin beragam adalah mengingatkan agar tindakan dan kebutuhan manusia tidak berlebih-lebihan (Al-Isra:27).

Kebutuhan manusia dapat diperhitungkan dan dipenuhi oleh sumber alam yang ada di muka bumi, namun keinginan manusia sangatlah banyak. Memenuhi semua keinginan manusia hanya akan memperburuk keadaan. Perbandingan pola produksi dan konsumsi di antara Negara berkembang dan Negara maju membuktikan hal tersebut.

Dari data World Resources Institute tahun 1994, tahun 1991 AS mengkonsumsi energi hampir 3x lebih banyak dari Jepang untuk menghasilkan $1 dari GNP-nya. Dengan jumlah hanya 4,6% penduduk dunia, pada tahun 1991 AS menghasilkan 22% emisi global CO2, lebih banyak daripada yang dihasilkan gabungan antara Cina, India, Amerika Selatan dan Afrika. Dengan menggunakan pola konsumsi energi sebagai indikator bagi lingkungan yang berkelanjutan, kelahiran bayi di AS menghasilkan 2x dampak lingkungan bagi bumi dibandingkan seorang bayi yang lahir di Swedia, 3x dibanding di Italia, 13x di Brazil, 35x di India, dan 140x di Banglades.[2]

Dampak yang diakibatkan oleh pemanasan global sangat beragam antara lain musnahnya berbagai jenis keanekragaman hayati, kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas dan sebagainya. Karena dampaknya yang sangat luas tersebut masyarakat dunia tersadar dan mengadakan berbagai macam kebijakan untuk mengurangi pemanasan global dengan mengurangi penggunaan gas rumah kaca, dan menanam berbagai macam pohon untuk menyerap gas rumah kaca. Fenomena tersebut telah diprediksi oleh Qur’an, apabila telah tampak kerusakan di muka bumi, karena ulah tangan manusia, maka manusia akan kembali ke jalan yang benar (perbaikan) (Ar-Rum:41)

islam-and-global-warming

Berbagai macam solusi telah ditawarkan untuk menngurangi dampak pemanasan global seperti menanam pohon untuk menyerap gas karbon dioksida yang ada di udara, mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak dapat didaur ulang, mengurangi emisi CFC dan emisi pengganti CFC dengan tidak menggunakan aerosol dan menggunakan energi efisien, dan sebagainya. Al-Qur’an lebih jauh membahas solusi permasalahan tersebut dari sikap preventif yaitu jangan berlebih-lebihan atau tidak bersikap boros (Al-Furqan:67).

Oleh karena itu pertemuan-pertemuan Internasional seharusnya membahas mengenai standar hidup maksimal. Standar hidup maksimal meliputi gaya hidup, pemakaian rumah, penggunaan air, atau standar pesta atau hajatan. Gaya hidup berlebihan seperti memiliki pakaian, sepatu, dan perhiasan yang jumlahnya sangat banyak padahal penggunaannya sangat jarang perlu dibatasi. Penggunaan pesawat jet pribadi yang hanya digunakan mengangkut 1 atau 2 orang artis, atau mobil yang hanya berpenumpang 1 atau 2 orang dapat menyebabkan pemborosan sumber energy. Pembangunan rumah yang memiliki kamar sangat banyak padahal hanya digunakan oleh beberapa orang saja juga perlu dibatasi. Penggunaan air dalam rumah tangga perlu diatur sesuai dengan kebutuhan dasar dan jumlah orang yang ada di rumah tersebut. Pesta atau hajatan yang menyediakan makanan yang berlebihan perlu di atur jangan sampai boros sumber makanan. Rasulullah telah mengingatkan kita bahwa apa yang ada di dunia ini akan sirna dan apa yang kita berikan adalah kepunyaan kita sesungguhnya di akhirat, karena itu pemilikan atau penggunaan barang yang berlebihan sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Islam menuntun agar setiap manusia lebih banyak memberi daripada memiliki.

Solusi permasalahan pemanasan global tidak hanya terkait dengan mengubah energi fosil menjadi energi biofuel atau energi alternative lainnya. Menurut Al-Qur’an semua tindakan berlebihan pada akhirnya akan merugikan manusia sehingga penggunaan energi apapun kalau berlebihan hanya akan membawa kerugian pada manusia. Oleh karena itu solusi yang ditawarkan oleh Islam yaitu menggunakan energi sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing, artinya sumber energi tidak perlu disamaratakan di semua tempat di muka bumi namun disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Sumber energi berbeda-beda sesuai dengan prinsip penciptaan Allah yang berbeda-beda atau biodiversity (Ar-Rum:22) dan (Asy-Syura:27).

Penggunaan sumber energy massal akan menyebabkan output dalam jumlah massal. Bahan apapun apabila dibuang dalam jumlah massa dan dalam waktu yang cepat pasti akan mempengaruhi keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu mengubah sumber energy dari energy fossil menjadi energy biofuel tidak menjamin lingkungan akan aman, sebab pembakaran biofuel pasti akan menghasilkan polutan dalam jumlah massal dan dalam waktu yang cepat sehingga menyebabkan lingkungan tidak lagi dapat terjaga keseimbangannya. Oleh karena itu, Islam telah meletakkan fondasi bahwa penciptaan Allah telah sesuai dengan ukurannya pada lokasi tertentu.

Penggunaan energy hendaknya bersumber dari energy yang paling mudah didapatkan, paling murah biayanya dan paling mudah mengoperasikannya di suatu daerah, misalnya lokasi masyarakat di sekitar pantai, maka sumber energy termurah adalah angin dan energy ombak. Sedangkan masyarakat yang berada di daerah pertanian atau peternakan sumber energy termurah adalah biomassa seperti tanaman jarak, limbah-limbah pertanian atau kotoran ternak. Dan lokasi dimana intensitas matahari tinggi dapat menggunakan matahari sebagai sumber energy setempat. Daerah yang memiliki sumber air dapat menggunakan mikro hidro sebagai sumber energy.

Pertanian yang dituding menjadi pemicu pemanasan global karena penggunaan pupuk, peptisida, dan konversi lahan dari hutan menjadi pertanian perlu juga di kaji. Sentralisasi yang dilakukan oleh orde baru terhadap pola makan bangsa Indonesia menyebabkan ketergantungan rakyat Indonesia terhadap beras. Padahal dahulu sumber makanan beberapa suku berasal dari sagu, sukun, dsbnya. Perbedaan sumber makanan seharusnya disyukuri sebagai rahmat dari Allah, penyeragaman sumber makanan menyebabkan ketergantungan pada sumber tertentu yang belum tentu cocok di tanam diwilayah tertentu sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan, misalnya Kalimantan dimana iklim dan curah hujan yang cocok untuk tumbuhnya hutan kemudian dijadikan lahan pertanian sehingga terjadi konversi lahan dari hutan menjadi pertanian. Akibatnya banjir dan longsor terjadi di beberapa daerah di Kalimantan.

Selain itu penyeragaman sumber makanan menyebabkan ekosistem di beberapa daerah berubah karena lahan yang semulanya tidak diperuntukan dan tidak cocok untuk pertanian dipaksakan untuk menjadi lahan pertanian, keanekaragaman hayati di daerah tersebut terancam musnah, hewan-hewan yang biasa makan dari hasil hutan terancam punah dan beberapa binatang merusak lahan pertanian karena kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan.

Allah telah menciptakan alam dengan berbeda-beda jenisnya sesuai dengan keadaan masyarakat dan Allah juga telah menciptakan sesuatu sesuai dengan kadarnya. Produksi yang tidak berasal dari daerah setempat baik bahan mentah maupun sumber daya akan menyebabkan ketergantungan daerah tersebut pada sumber daya asing. Tambahan lagi produksi massal tentu akan menghasilkan jumlah polutan atau limbah yang massal juga, sebenarnya alam memiliki kemampuan menyerap polutan yang timbul tetapi apabila jumlahnya banyak dan dalam waktu yang cepat maka alam tentu tidak akan sanggup menyerapnya.


[1] Republika 7 Desember 2007

[2] World Resources Institute. World Resource 1994-5 (Oxford, Oxford University Press, 1994)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − sixteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top