LainnyaSosial

Motivasi atau Motivation

Motivasi berasal dari bahasa Inggris motivation yang diserap dari kata Latin movere yang artinya bergerak (to move) yang berarti suatu yang mendorong individu untuk mencapai suatu hal (Steers & Porter, 1975). Secara common sense, menurut etimologi katanya, motivasi dapat diartikan sebagai suatu yang mendorong kita, yang membuat kita tetap bergerak, dan membantu kita menyelesaikan suatu pekerjaan.

Definisi Motivasi menurut para pakar adalah:
1. Menurut Stephen Robbin, Motivasi ialah dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.
2. Menurut Gibson, motivasi ialah konsep yang menguraikan tentang kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri individu yang memulai dan mengarahkan perilaku.

Sumber penggerak motivasi yang berasal dari dalam cenderung beranjak dari kebiasaan individu sedangkan motivasi yang sumber penggeraknya datang dari luar selalu disertai oleh persetujuan, kemauan, dan kehendak individu.

Manusia pada hakikatnya mempunyai kemampuan untuk berprestasi di atas kemampuan lain. McClelland menyebutkan adanya need for achievement disingkat n-Ach atau motif berprestasi pada diri individu. Motif berprestasi ialah keinginan untuk berbuat sebaik mungkin tanpa banyak dipengaruhi oleh kebanggaan dan pengaruh sosial, melainkan demi kepuasan pribadinya.

Menurut McClelland, seseorang dianggap mempunyai motivasi untuk berprestasi jika ia mempunyai keinginan untuk melakukan suatu karya dan berprestasi lebih baik dari prestasi yang pernah diraih orang lain.

Seseorang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi maka dia akan berusaha melakukan yang terbaik, memiliki kepercayaan terhadap kemampuan untuk bekerja mandiri dan bersikap optimis, memiliki ketidakpuasan terhadap prestasi yang telah diperoleh serta mempunyai tanggung jawab yang besar atas perbuatan yang dilakukan sehingga seseorang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi pada umumnya lebih berhasil dalam menjalankan tugas dibandingkan dengan mereka yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah.

Motivasi berprestasi merupakan suatu istilah yang dikemukakan oleh McClelland. Motif berprestasi menurut McClelland adalah keinginan untuk berbuat sebaik mungkin tanpa banyak dipengaruhi oleh kebanggaan dan pengaruh sosial, melainkan demi kepuasan pribadinya. Cleland berpendapat bahwa pada intinya setiap manusia mempunyai 3 (tiga) jenis motivasi sosial, yaitu:
1). Motivasi berprestasi (need for achievement / n-Ach);
2). Motivasi untuk berkuasa (need for power / n-Pow); dan
3). Motivasi untuk berafiliasi (need for affiliation / n-Aff).

Dua dari ke-tiga motivasi tersebut obyeknya adalah berkaitan dengan manusia lain yang ada di lingkungannya, kecuali motivasi berprestasi yang berpijak pada dirinya sendiri. Sementara motivasi berprestasi adalah suatu usaha untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya dengan berpedoman pada suatu standar keunggulan tertentu (standards of exellence).

J.P. Chaplin, mengartikan motivasi berprestasi sebagai kecenderungan untuk mencapai sukses atau memperoleh apa yang menjadi tujuan akhir yang dikehendaki, keterlibatan seseorang terhadap suatu tugas, harapan untuk berhasil dalam suatu tugas yang diberikan, dorongan untuk mengatasi rintangan-rintangan atau perjuangan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sulit secara cepat dan tepat.

Individu yang menunjukkan motivasi untuk berprestasi menurut McClelland adalah mereka yang; “Task oriented and prefer to work on tasks that are challenging and on which their performance can be evaluated in some way, either by comparing it with other people performance, or in terms of some other standard.” Dengan demikian, motivasi berprestasi adalah motivasi yang mendorong individu untuk mencapai keberhasilan dalam mengerjakan tugas-tugas yang penuh tantangan, dengan suatu ukuran keunggulan yaitu perbandingan dengan prestasi orang lain atau standard tertentu.

Seseorang dianggap mempunyai motivasi untuk berprestasi jika ia mempunyai keinginan untuk melakukan suatu karya dan berprestasi lebih baik dari prestasi atau karya orang lain. Seseorang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi maka dia akan berusaha melakukan yang terbaik, memiliki kepercayaan terhadap kemampuan untuk bekerja mandiri dan bersikap optimis, memiliki ketidakpuasan terhadap prestasi yang telah diperoleh serta mempunyai tanggung jawab yang besar atas perbuatan yang dilakukan sehingga seseorang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi pada umumnya lebih berhasil dalam menjalankan tugas dibandingkan dengan mereka yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Tumbuhnya motivasi berprestasi individu dibutuhkan tiga komponen peran yang saling terkait, yakni peran diri sendiri, peran pembimbing, dan peran orangtua.

Menurut Wlodkoski, macam-macam teori motivasi berprestasi antara lain:
1) Motivasi dan penguat (reinforcer)
Konsep motivasi berkaitan erat dengan prinsip-prinsip bahwa tingkah laku yang telah diperkuat pada waktu yang lalu barangkali diulang, misalnya individu yang rajin belajar dan mendapat nilai bagus diberi hadiah. Sedangkan tingkah laku yang tidak diperkuat atau dihukum tidak akan diulang.

2) Hadiah dan penguat (reward dan reinforcer)
Sebagian besar potensi reinforcer (penguat) ditentukan oleh pribadi dan situasi. Nilai reinforcer dari reward (hadiah) tidak begitu saja diterima karena semua itu tergantung pada banyak faktor. Contohnya, ketika guru mengatakan kepada individu supaya mengumpulkan pekerjaanya karena akan dinilai dengan maksud nilai merupakan reinforcer bagi hampir semua individu. Beberapa individu mungkin tidak peduli dengan nilai mereka karena orangtua mereka tidak peduli dengan nilai anaknya atau karena mereka pernah gagal mendapatkan nilai bagus di sekolah dan menganggap nilai bukan hal yang penting, tetapi hal tersebut akan dianggap berbeda pada beberapa anak yang lain yang menganggap nilai merupakan hal yang penting dan merupakan motivasi berprestasi yang baik dalam belajar. Mereka percaya bahwa dengan memiliki motivasi berprestasi dapat meningkatkan prestasi belajar mereka.

3) Teori atribusi (attribution theory)
Teori atribusi menyebutkan ada 4 penjelasan untuk sukses dan gagal dalam prestasi yaitu: a).Kemampuan; b).Usaha; c).Tugas yang sulit; d). keberuntungan atau nasib. Teori atribusi penting dalam pengertian bagaimana individu-siswi menginterprestasi dan menggunakan umpan balik atas prestasi akademi mereka dan menyarankan kepada guru-guru bagaimana mereka harus memberikan umpan balik yang dapat menimbulkan motivasi yang sangat besar bagi individu.

4) Covington’s theory of self worth
Teori self worth (menghargai dirinya sendiri) adalah salah satu teori motivasi berprestasi yang menggabungkan komponen motivasi dengan persepsi yang menyebabkan sukses dan gagal. Menurut teori ini, seorang individu belajar dari persepsi masyarakat bahwa seseorang dinilai karena prestasinya.

5) Expectancy theories of motivation
Teori ini bergantung pada harapan seseorang untuk mendapatkan reward (hadiah). Teori ini mengatakan bahwa motivasi manusia untuk mencapai sesuatu tergantung pada hasil perkiraan mereka akan adanya kesempatan untuk sukses dan nilai yang mereka tempatkan pada sukses.

Berdasarkan hal tersebut, Clegg mengemukakan aspek-aspek motivasi berprestasi, sebagai berikut:
a. Harapan untuk sukses, yaitu adanya usaha untuk lebih baik dan mengulang memperbaiki kegagalan.
b. Kecendrungan untuk menghindari kesalahan atau kegagalan yaitu berupa dorongan dari dalam diri untuk berusaha tidak mengulang kesalahan yang telah dilakukan.
c. Gigih, tidak mudah, menyerah, yaitu memandang kegagalan sebagai cambuk untuk terus berusaha bukan pembuat putus asa.
d. Dorongan untuk belajar yaitu, adanya keinginan dari dalam diri individu untuk belajar.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Motivasi Berprestasi
Heider (dalam Christiany, 2005) mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk memiliki motivasi berprestasi, yaitu:
a. Karakteristik kepribadian
Memiliki kepercayaan diri, kemauan dan motivasi berprestasi yang tinggi dimulai
dari diri individu itu sendiri terutama kepribadian individu tersebut yang sangat
berpengaruh besar untuk mencapai tujuannya, tergantung bagaimana cara individu tersebut agar mampu mencapai tujuan yang ia inginkan.
b. Motif dari perilaku
Tujuan yang ingin dicapai individu harus jelas sehingga bisa membuat motivasi
seseorang untuk berprestasi menjadi terarah sebab yang menjadi kemauan, keinginan sudah jelas.
c. Faktor situasional
Keadaan yang mendukung atau malah menghambat seseorang dalam mencapai tujuannya. Hal itu dapat pula mempengaruhi berprestasi seseorang, misalnya kompetisi kompetisi siswa dalam kelas dapat meunghambat atau malah memacu agar bisa berprestasi.
d. Faktor lingkungan
Begitu pula lingkungan dapat mempengaruhi seseorang untuk bisa meningkatkan atau malah bisa menurunkan motivasi berprestasinya.

Menurut Heckausen dan Haditomo, memberikan enam ciri-ciri orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi sebagai berikut:
1) Memiliki gambaran diri positif, optimis dan percaya diri;
2) Lebih memilih tugas yang tingkat kesukarannya sedang-sedang saja dari pada tugas yang sangat sukar atau sangat mudah;
3) Berorientasi ke masa depan;
4) Tabah, tekun dan gigih dalam mengerjakan tugas.
5) Sangat menghargai waktu; dan
6) Lebih memilih seseorang yang ahli sebagai mitra dari pada orang yang simpatik.

Teknik membangkitkan motivasi antara lain melalui.
1. Buatlah target kerja yang dapat dicapai oleh setiap individu atau kelompok dengan mengarahkan mereka untuk mewujudkan usaha kerja yang memadai dan lebih baik daripada yang telah dilakukan.
2. Organisasikanlah pekerjaan dan tempatkanlah setiap individu pada tugas yang tepat dan bimbinglah mereka dalam doa. Berikan keyakinan, bahwa upaya kerja dari setiap individu akan berhasil dengan baik.
3. Tambahkanlah beban kerja pada setiap individu yang disesuaikan dengan tambahan kemampuan kerja yang dibutuhkan dalam proses kerja di setiap tugas.
4. Pastikanlah bahwa setiap orang bekerja dalam batas maksimum kekuatan yang ada padanya, bukan melebihi batas kekuatan yang wajar.
5. Libatkanlah semua orang dalam pekerjaan secara emosi, mental, rohani, dan fisik dengan memberikan dorongan dalam bidang berikut.
a. Tetapkan tujuan bersama yang disepakati, dipahami, dan diketahui dengan jelas oleh setiap individu.
b. Libatkanlah setiap orang dalam upaya pencapaian tujuan dengan mencari metodologi pelaksanaan kerja yang relevan untuk dipakai.
c. Delegasikan tugas kepada setiap individu dengan penuh dan jelas.
d. Libatkanlah setiap anggota dalam membuat keputusan, sehingga mereka merasa memiliki keputusan tersebut.
e. Bagilah kemenangan atau kekalahan yang dialami kepada setiap/semua anggota kelompok untuk dinikmati/ditanggung bersama.
f. Kembangkanlah sistem motivasi jangka pendek untuk diterapkan setiap saat.
g. Tunjukkanlah kepada setiap orang, bahwa kita memahami dan memerhatikan kebutuhan mereka.
h. Kembangkanlah motivasi jangka panjang, dengan menunjukan bahwa akan ada kemenangan akhir yang akan dinikmati bersama.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button