MODEL KOMUNIKASI LINGKUNGAN MASYARAKAT TRADISIONAL PAPUA...(3) | DR. Arif Zulkifli Nasution

MODEL KOMUNIKASI LINGKUNGAN MASYARAKAT TRADISIONAL PAPUA…(3)

2. Lingkungan
Menurut Soemarwoto (1998), pandangan manusia kepada lingkungan (ekosistem) dapat dibedakan atas dua golongan yaitu pandangan imanen dan transenden. Menurut pandangan imanen (holistic) manusia dapat memisahkan dirinya dengan system biofisik sekitarnya (hewan, tumbuhan, sungai dan gunung) namun merasa adanya hubungan fungsional dengan factor biofisik itu sehingga membentuk satu kesatuan sosio biofisik. Imanen hidup dan berkembang dimasyarakat timur yang masih tradisional, tunduk dan patuh pada perangkat peraturan kosmos yang sacral dijaga dalam bentuk adat istiadat berupa kebiasaan, kewajiban, pantangan atau tabu (buyut) sebagai panduan untuk bertingkat laku dengan baik dan benar. Hal ini sebagai pengaruh baru melalui agama Budha, Hindu, Kristen dan Islam (Hiding, 1984) diikuti Iskandar (2001:11).
Pandangan transenden walau secara ekologi bagian dari lingkungannya manusia merasa terpisah dari lingkungannya karena lingkungan dianggap sebagai sumber daya yang diciptakan untuk dieksploitasi sebesar-besarnya kemampuan (Soemarwoto dalam Iskandar Djauhari, 2001:11).
Ekologi dapat berfungsi sebagai pendekatan untuk mengkaji dan menganalisis suatu masalah yang berhubungan dengan lingkungan hidup, maka muncul istilah ekologi pembangunan, ekologi kependudukan, ekologi pangan dan sebagainya (Soemarwoto, 1997:146-153).
Prinsip ekologi yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Interaksi yaitu kehidupan di alam ini tidak lepas dengan adanya interaksi dengan lingkungannya baik interaksi dengan makhluk hidup maupun non makhluk hidup, meliput:
a. Interaksi mutualisme yaitu memperoleh pengetahuan dari pihak-pihak yang berinteraksi
b. Interaksi komensalisme yaitu suatu pihak memperoleh keuntungan sedangkan pihak lain tidak memperoleh apa-apa, tetapi tidak dirugikan
c. Interaksi amensalisme yaitu interaksi dimana yang satu menderita kerugian sedangkan yang lain tidak terpengaruh apa-apa.
d. Interaksi kompetisi terjadi karena pemanfaatan bersama sumberdaya yang terbatas. Dalam kompetisi ini dapat saling melemahkan antara yang satu dengan yang lain, bahkan saling meniadakan. Lambat laun dalam waktu yang lama organism yang menang dalam berkompetisi akan mendominasi di dalam system tersebut
e. Parasitisme makhluk hidup yang menumpang atau tergantung pada yang lain
f. Prediksi yakni penangkapan oleh predator terhadap prey. Komunitas alamiah peranan seekor pemangsa dapat menjadi fungsional dalam memelihara keseimbangan yang serasi dengan populasi binatang yang dimangsa
2. Keanekaan yaitu kehidupan di alam ini sebenarnya terdiri dari beranekaragaman unsur kehidupan. Semakin beranekaragaman komponen penyusun suatu ekosistem menurut konsep ekologi akan semakin baik. Sebagai contoh hutan yang mono kultur dengan hutan tropis, secara ekologis akan lebih baik hutan yang tropis. Dengan system mono kultur, apabila ada serangan hama dan penyakit, maka akan cepat habis. Sebaliknya hutan yang di dalamnya beranekragam tumbuhan penyusunnya, maka apabila terjadi serangan hama dan penyakit, tidak semua jenis tanaman akan habis diserang.
3. Ketergantungan yaitu semua makhluk hidup di alam ini tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan kehidupan yang lainnya
4. Keharmonisan yaitu didalam suatu interaksi kita perlu menjaga adanya keharmonisan di dalam suatu hubungan sehingga tidak membahayakan keberlangsungan ekosistem
5. Keberlanjutan yaitu bagaimanapun kita semua termasuk makhluk hidup lainnya sangat memerlukan adanya keberlanjutan
Dalam pengelolaan lingkungan dibutuhkan ekologi manusia (Soemarwoto, 1997:20) yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Ekologi manusia disatu pihak dapat dilihat sebagai bagian dari autekologi, yaitu ekologi dari spesies tunggal (homo sapiens). Saat manusia dilihat sebgai makhluk sosial maka ekologi manusia dapat menggunakan sinekologi sehingga ekologi manusia bersifat sebagai social.
Ekologi manusia adalah studi yang mengkaji interaksi manusia dengan lingkungan. Sebagai bagian dari ekosistem, manusia merupakan makhluk hidup yang ekologik dominan. Hal ini karena manusia dapat berkompetensi secara lebih baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Hadi, 2000).
Secara analitik (Rambo dalam Soerjani, 1985:3) membedakan lingkup ekologi manusia dalam dua system yaitu system alam dan system sosial. Kedua system tersebut saling berhubungan timbal balik terus menerus dan teratur melalui aliran energy, materi dan informasi sehingga terjadi proses seleksi dan adaptasi. Lingkungan manusia didefiniskan sebagai segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang berpengaruh pada kehidupan manusia itu sendiri (lihat Gambar 1). Menurut Rambo (1983), factor system biofisik atau ekosistem adalah berupa iklim, udara, air, tanah, tanaman, binatang. Di alam nyata terjadi daur (siklus) materi dan energy hanya satu arah yaitu dari alam, terjadi arus energy sedangkan materi terdapat pada arus informasi. Timbulnya perubahan hubungan interaksi manusia dan lingkungan sekitar disebabkan oleh factor internal (pertambahan penduduk) dan eksternal (perkembangan ekonomi pasar, pembangunan, kebijakan pemerintah).
Ekologi manusia dipelopori oleh para ilmu sosial (Auguste Comte tahun 1800 tentang rekonstruksi sosial). Kajian sosial akan penyebaran manusia dalam tata wilayah dipelajari dalam konteks ekologi manusia. Ekologi manusia menekankan penyebaran manusia dan variable sosialnya dalam tata ruang, sehingga kajiannya berkaitan dengan geografi. Saat ini semua kajian berkaitan dengan ekologi manusia, yaitu biologi, antropologi, ekonomi, teknologi, psikologi, hokum, pertanian, pendidikan, kesehatan masyarakat, filsafat, agama dan lain-lain.

Manusia adalah bagian dari alam, tetapi dalam konsep lingkungan binaan manusia dengan kemampuannya dapat menguasai dan mengubah alam dan menciptakan sarana dan prasarana yang mendukung kehidupan manusia itu sendiri. Dalam konsep lingkungan hidup sosial, manusia berada dalam hubungan dengan manusia lain sebagai sesama anggota masyarakat.
Hubungan manusia dengan alam sangat erat, kualitas lingkungan akan ditentukan oleh perilaku manusia dan sebaliknya perilaku manusia juga akan dipengaruhi oleh lingkungannya (Darsono, 1995)

Perkembangan manusia menurut Kline (1997) dalam Bianpoen (2002) memerlukan 6 faktor yaitu:
1. Lingkungan yang serasi
2. Jaringan sosial dalam masyarakat
3. Kecukupan ekonomis
4. Lingkungan buatan (human settlement) yang aman
5. Keadilan sosial
6. Keberlanjutan ekologis

Pengembangan kualitas hidup manusia meliputi kualitas fisik dan non-fisik. Dahlan & effendi (1992) dalam KMNLH (1997), membagi pengembangan kualitas hidup manusia non-fisik menjadi 6 aspek yaitu:
1. Kualitas kepribadian (kecerdasan, kemandirian, kreatifitas, ketahanan mental)
2. Kualitas masyarakat (kesetiakawanan sosial dan keterbukaan)
3. Kualitas berbangsa (kesadaran berbangsa)
4. Kualitas spiritual (religious dan moralitas)
5. Wawasan lingkungan
6. Kualitas kekaryaan (perwujudan aspirasn dan pengembangan potensi diri)
Melalui lingkungan sosial, manusia melakukan interaksi dalam bentuk pengelolaan keutuhan hubungan masyarakat dengan alam dan binaanya melalui pengembangan perangkat nilai, norma, ideology dan perangkat sosial serta budaya lainnya. Dari kegiatan tersebut masyarakat dapat menentukan arah pembangunan lingkungan yang selaras dan sesuai dengan daya dukung lingkungan alam dan lingkungan binaan.
Lingkungan hidup, menurut Budhisantoso (2001): “pola-pola pengolahan sumber daya dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan itu tidak bebas dari pengaruhi system nilai yang berfungsi dalam masyarakat yang bersangkutan. System nilai itu biasanya tercermin dalam kearifan lingkungan atau pengetahuan setempat yang memberikan petunjuk tentang apa yang dapat dilakukan dengan cara apa dan dimana manusia dapat mengolah sumber daya dan mengelola lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidup biologis dan sosial maupun kebutuhan integratifnya.

Kebudayaan manusia adalah hasil proses dari dua keadaan yang saling mengisi yaitu:
1. Berkembang dari adanya hubungan manusia dengan lingkungan alamnya, mendasari manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara menanggapi tantangan aktif dari waktu ke waktu sehingga terciptalah kebudayaan
2. Menyangkut kemampuan manusia berfikir metaforik, manusia dapat mengembangkan lambang-lambang yang diberi makna dan berfungsi sebagai acuan dalam bersikap dan menentukan tindakan menghadapi tantangan dalam proses adaptasi terhadap lingkungan secara aktif (Budhisantoso, 1981)
Daya tahan terhadap perubahan lingkungan alami, sosial dan binaan menuntut kemampuan adaptasi. Cara manusia menanggapi lingkungan tidak bebas dari pengaruh system pemahaman (cognitive system) yang mereka kuasai. Dalam usahanya menyesuaikan diri dengan lingkungan alamnya, manusia terikat oleh kaidah yang berlaku dalam system pemahaman mereka sebagaimana tercermin dalam lambang-lambang yang mereka beri makna. (Budhisantoso, 1981).
Kebudayaan sebagai wujud tanggapan aktif manusia terhadap tantangan yang mereka hadapi dalam proses adaptasi terhadap lingkungan artinya kebudayaan manusia tidak pernah statis, karena situasi dikembangkan sesuai dengan perubahan lingkungan dan teknologi. Setiap perubahan lingkungan akan merangsang perubahan kebudayaan (Budhisantoso, 1987).
Sedangkan hubungan manusia dengan alam berlangsung secara bertahap dengan peradaban manusia di muka bumi ini. Menurut Davis (173) dan Morris (1979), perkembangan peradaban manusia terbagi atas lima tahapan atau zaman yang menunjukkan pandangan secara filosofis mengenai hubungan manusia dengan alam sebagai berikut:
1. Kosmo sentris, zaman sampai tahun 4000 SM ditandai oleh pandangan manusia yang terfokus kealam. Manusia hidup berkelana dan berburu untuk mendapatkan makanannya
2. Teo-sentris, zaman yang dimulai tahun 4000 SM sampai awal abad ke-16, ditandai dengan pandangan manusia yang memuja kepada Tuhan (Teo berasal dari bahasa Yunani theos yang berarti Tuhan) pada zaman itu manusia sudah mulai mengenal pertanian. Pada zaman ini pula lahir kota-kota pertama di dunia
3. Antropo-sentris, yaitu zaman yang dimula akhir abad ke-17 M ,ditandai dengan pemujaan manusia kepada manusia itu sendiri (Yunani: anthropos yang berarti manusia). Zaman ini ditandai oleh pencerahan revolusi ilmiah. Tahapan antroposentris mencapai puncaknya pada abad ke-18 dan 19 yang ditandai dengan lahirnya revolusi industry. Menjelang abad ke-20 pandangan ini mulai menunjukkan pegeserannya kea rah pandangan lain yaitu eko-sentris
4. Ekosentris yaitu pandangan yang menganggap bumi atau alam sebagai pusat dari kehidupan (eko berasal dari bahasa Yunani oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal). Manusia adalah bagian dari alam sehingga alam harus menjadi pusat segala kegiatan manusia. Pandangan ini dimulai pada akhir abad 20 dan awal abad ke-21
5. Logo-sentris yang diawali abad ke-21. Zaman ini ditandai dengan pengembangan bidang telekomunikasi dan informasi yang menuntut manusia untuk berfikir secara teliti, tertib dan benar (Logos dalam bahasa Yunani berarti kalam, ucapan, pengertian)
Dalam melakukan adaptasi itu manusia tidak semata-mata mengandalkan kemampuan jasmaniahnya melainkan lebih penting dari itu, ia memanfaatkan kemampuan superorganiknya yaitu kebutuhannya (Adimihardja, dkk, 1986:1). Dengan kebudayaan manusia bukan sekadat menyesuaiakan diri dengan lingkungannya secara pasif, melainkan juga menciptakan lingkungan buatan dengan segala kebutuhan sampingan yang ditimbulkan. Akibatnya manusia senantiasa dihadapkan pada berbagai macam tantangan, baik yang timbul karena kebutuhan pokok biologis maupun kebutuhan sampingan yang jauh lebih banyak ragamnya. Adaptasi pada manusia, dengan demikian dapat diartikan sebagai suatu proses mengatasi keadaan biologi, alam dan lingkungan sosial tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kata lain lingkungan itu dapat mempengaruhi dan mengubah manusia secara fisik dan psikis.
Salah satu penyebab perubahan lingkungan adalah perubahan social. Proses perubahan sosial dapat diketahui dari ciri-ciri tertentu antara lain:
1. Tidak ada masyarakat yang berhenti perkembangannya karena setiap masyarakat mengalami perubahan secara lambat atau secara cepat
2. Perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakat tertentu, akan diikuti dengan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga sosial lainnya. Karena lembaga-lembaga sosial tadi bersifat interdependen, maka sulit sekali untuk mengisolasi perubahan pada lembaga-lembaga sosial tertentu saja. Proses awal dan selanjutnya adalah mata rantai
3. Perubahan-perubahan sosial yang cepat biasanya mengakibatkan disorganisasi yang bersifat sementara karena dalam proses penyesuaian diri. Disorganisasi akan diikuti oleh suatu reorganisasi yang mencakup pemantapan kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang baru
4. Perubahan-perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau bidang spiritual saja, karena kedua bidang tersebut mempunyai ikatan timbal balik yang sangat kuat
5. Tipologis, perubahan-perubahan sosial dapat dikategorikan sebagai:
a. Social process: the circulation of various rewards, facilities, and personnel in an existing structure
b. Segmentation: the proliferation of structural units that do not differ qualitatively from existing units
c. Structural change: the emerge of qualitatively new complexes of roles and organization
d. Changes in group structure: the shifts in the composition of group, the level of consciousness of group and the relations among the group in society.
Dalam proses perubahan sosial dan kebudayaan terdapat penyesuaian masyarakat kearah perubahan, yang serasi atau harmoni yang merupakan keadaan yang diidam-idamkan setiap masyarakat (Soekanto, 1990:367)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top