Mitigasi Pemanasan Global Melalui Transportasi Publik | DR. Arif Zulkifli Nasution

Mitigasi Pemanasan Global Melalui Transportasi Publik

Sumber pencemaran yang paling dominan di perkotaan adalah transportasi dan industri. Transportasi di perkotaan diperkirakan berkontribusi sebesar 90% dari total emisi gas buang CO2, sedangkan industri berkontribusi sekitar 5%. Gas rumah kaca (GRK) adalah molekul gas yang mempunyai lebih dari dua atom dan ikatan atomnya tidak terlalu kuat sehingga mampu bergetar saat bergetar saat terjadi penyerapan panas. Karbondioksida mempunyai potensi emisi GRK terbesar khususnya pada transportasi darat. Karbondioksida (CO2) adalah gas yang diemisikan dari sumber alamiah dan antropogenik.

Karbondioksida secara alamiah berasal dari emisi gunung berapi dan aktivitas mikroba di tanah dan lautan. Gas CO2 akan larut dalam air hujan dan membentuk asam karbonat, menyebabkan air hujan menjadi bersifat asam. Namun akibat aktifitas manusia seperti pembakaran hutan, penambangan batu bara dan minyak bumi konsentrasi global CO2 meningkat 28% dari 280 ppm pada awal revolusi industri di tahun 1950- an menjadi 360 ppm pada masa kini. Kontribusi emisi CO2 di sektor transportasi berasal dari konsumsi penggunaan bahan bakar premium dan solar.

Indonesia di forum internasional berkomitmen dalam mengatasi perubahan iklim yang menjadi permasalahan dunia. Komitmen Indonesia tersebut ditandai dengan partisipasi Indonesia untuk mereduksi emisi karbon sebesar 26% hingga tahun 2020. Upaya mewujudkan komitmen Indonesia yaitu antara lain dengan ditetapkan Rencana Aksi Mitigasi dan Adaptasi Nasional, utamanya di bidang kehutanan dan energi. Pada COP ke-15 di Denmark tahun 2009, DKI Jakarta berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 30% pada tahun 2030.

Status Emisi Gas Rumah Kaca Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010-2017 (dalam Ribu Ton CO2 e)

PT. TransJakarta menyatakan, Emisi CO2 dari transportasi berkontribusi sampai 46% terhadap emisi di perkotaan, apalagi kalau menggunakan kendaraan pribadi. PT. MRT menyatakan bisa mengurangi sampai 5.600 kendaraan pribadi di lalu lintas Kota Jakarta. Ini disebabkan warga pindah dari transportasi pribadi ke umum.

Hasil riset Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan terhadap penerapan sistem ganjil-genap, terdapat 24 persen angkutan pribadi beralih ke angkutan umum Sisanya sebesar 76 persen menggunakan kendaraan pribadi. Dari 24 persen masyarakat yang beralih menggunakan angkutan umum tersebut, 38 persen memilih menggunakan jasa angkutan umum massal seperti Transjakarta atau bus umum dan kereta rel listrik (KRL). Sementara, 39 persen lainnya menggunakan angkutan non-massal seperti taksi atau ojek online dan 7,5 persen menggunakan jasa taksi reguler.

Meskipun dinilai berhasil mengalihkan masyarakat ke angkutan umum, masih banyak yang tetap menggunakan kendaraan pribadi, yakni 53 persen. Masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ini 37 persen menggunakan jalur alternatif dan 16 persen memiliki dua mobil, baik itu ganjil maupun genap. Apabila diterapkan secara resmi permanen, kemungkinan besar masyarakat akan membeli mobil baru ataupun bekas baik ganjil maupun genap sebanyak 30 persen.

Penurunan emisi gas rumah kaca pada transportasi darat dapat dilakukan dengan aksi mitigasi melalui program penyediaan angkutan massal yang ramah lingkungan. Angkutan massal ramah lingkungan pada penelitian ini menggunakan bahan bakar gas sebagai pengganti bahan bakar minyak.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top