SosialUncategorized

MENJADIKAN DUNIA YANG LEBIH BERSAHABAT

Tahun 2008, World Federation of UN Associations, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memiliki perwakilan di lebih dari 100 negara mengeluarkan laporan berjudul “2008 State of The Future Report”. Laporan tersebut dipublikasikan di Markas PBB di New York AS, Selasa (5/8). Dalam laporan tersebut disebutkan separuh penduduk dunia rawan kekerasan dan ketidakstabilan. Factor penyebabnya adalah

1. Kenaikan harga pangan dan energy

2. Kegagalan beberapa Negara

3. Perubahan iklim

4. Penurunan pasokan air bersih, pangan dan energy per kapita

5. Penggundulan lahan

6. Peningkatan migrasi karena ketegangan politik

7. Memburuknya lingkungan hidup

8. Memburuknya kondisi ekonomi

Salah satu tantangan utama bagi kemanusiaan adalah ketersediaan air bersih. Sekarang sekitar 700 juta penduduk sudah kesulitan mendapatkan air bersih (dengan kebutuhan air bersih 1000 kubik meter perkapita per tahun). Jumlah warga yang menderita akan meningkat pada tahun 2025 karena perubahan iklim, pertumbuhan penduduk dan peningkatan air perkapita.

Tiga puluh tujuh Negara menghadapi krisis pangan karena peningkatan permintaan yang pesat dari Negara berkembang, kenaikan harga minyak, penggunaan hasil panen (biji-bijian) menjadi biofuel, tingginya biaya pupuk dan spekulasi di bursa komoditas Lima puluh enam Negara dengan jumlah penduduk 1,2 miliar jiwa menghadapi resiko ketidakstabilan politik.

Empat puluh enam Negara dengan jumlah penduduk 2,7 miliar jiwa menghadapi resiko tinggi konflik bersenjata.

Jumlah penduduk dunia sekarang yang sekitar 6,7 miliar jiwa akan menjadi 9,2 miliar jiwa pada tahun 2050 dan kemudian turun menjadi 5,5 miliar jiwa pada tahun 2100.

Hingga pertengahan 2008 sudah terjadi 14 peperangan dengan jumlah korban tewas 1000 orang.

Pada tahun 2013 dunia membutuhkan 50 persen pasokan makanan dari sekarang ini dan menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan saat ini dalam 30 tahun mendatang. Pengadaan pangan itu membutuhkan air, lahan dan pupuk yang juga lebih banyak.

Solusi yang ditawarkan oleh para analisis di lembaga Millenium Project untuk membuat dunia lebih baik yaitu kemajuan sains dan teknologi, perbaikan pendidikan, ekonomi, manajemen dan system serta perbaikan etika atau perilaku di berbagai bidang. Sayangnya solusi yang ditawarkan tidak holistic dan komprehensif, antara satu solusi dengan masalah lain tidak terjadi sinergitas bahkan solusi yang satu dapat menambah masalah lain.

Misalnya saja pada permintaan pangan yang menyebabkan kenaikan harga pangan, para penulis laporan merekomendasikan cara pertanian baru yang akan menambah ketidakstabilan iklim dan pro perusahaan multinasional seperti system pengairan yang lebih baik, manajemen irigasi dan rekayasa genetika untuk menghasilkan bulir yang lebih banyak. Rekayasa genetika adalah solusi yang selalu ditawarkan oleh perusahaan multinasional untuk mengatasi masalah ketahanan pangan namun solusi tersebut selalu ditentang oleh para ahli lingkungan karena rekayasa genetika menyebabkan keanekaragaman hayati dunia terancam dan menyebabkan produksi masssal yang juga membutuhkan pupuk anorganik, air dan lahan yang lebih banyak. Pupuk anorganik yang lebih banyak berarti kebutuhan BBM yang lebih tinggi dan limbah kimiawi yang lebih banyak. Air yang lebih banyak untuk pertanian berarti semakin berkurangnya persediaan air untuk manusia. Dan lahan pertanian yang lebih luas berarti ancaman bagi areal hutan.

Para ahli lingkungan cenderung memberikan solusi yaitu pertanian organic dan diversifikasi pangan dunia menuju ketahanan pangan dunia. Siaran Pers ISIS (31/1), Dr Mae-Wan Ho dan Lim Li Ching menyebutkan pertanian organik mampu mengurangi sekitar 30 persen emisi gas rumah kaca (greenhouse gasses) dan menghemat 16 persen energi global. Potensi terbesar berasal dari penyerapan karbon 11%, sistem lokalisasi distribusi pangan akan mengurangi transport 10%, mengurangi proses dan pengepakan 1,5%, tanpa penggunaan pupuk N akan mengurangi emisi nitroksida 5% dan menghilangkan energi fosil.

Laporan United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO) 2002 menyebutkan, pertanian organik menyebabkan ekosistem mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim dan berpotensi mengurangi gas rumah kaca pertanian. Pertanian organik juga lebih efisien daripada pertanian konvensional per skala hektar berkaitan dengan konsumsi energi fosil ataupun pupuk buatan dan pestisida

.

Para ahli juga tidak tegas menyatakan perbaikan etika dan perilaku seperti apa yang dapat membuat dunia lebih bersahabat. Tidak dapat dipungkiri pemicu utama dari krisis dunia saat ini adalah karena kenaikan harga BBM. Negara maju menuduh Negara OPEC sengaja membiarkan krisis energy sehingga dapat meraup keuntungan yang besar, sedangkan Negara OPEC menuding spekulan di pasar komoditaslah yang menyebabkan harga BBM tinggi. Namun fakta yang tidak terbantahkan adalah berkah kenaikan minyak ternyata dinikmati oleh industry perminyakan Amerika. Exxon mobil mendapat keuntungan bersih US$ 11,68 miliar (Rp 105 triliun) selama triwulan kedua 2008. Dengan pendapatan sebesar itu, Washington Post menulis, ExxonMobil menjadi “Negara” terkaya ke-18 di dunia. Bukan hanya Exxon, Shell mencatat keuntungan US$ 11,6 miliar dan ConocoPhilips mencetak keuntungan bersih US$ 4,5 miliar.

Kandidat dari Partai Demokrat Barack Obama menilai, prestasi ExxonMobil itu menyakitkan karena terjadi diatas kesulitan public Amerika membayar harga bensin yang meroket. Sangat disayangkan lagi Exxon Mobil dan industry minyak Amerika tidak menggunakan keuntungannya untuk meningkatkan produksi minyak Amerika atau membangun sumber energy terbarukan malah mereka membeli kembali saham agar memperbesar keuntungan per lembar saham. ExxonMobil mengeluarkan US$ 8,8 miliar untuk membeli kembali saham dan hanya menyediakan US$ 7 miliar untuk biaya eksplorasi dan produksi migas. Kini saat yang tepat untuk membuat kebijakan energy global. Sudah saatnya mengakhiri tirani minyak dengan berinvestasi di energy alternative, menciptakan jutaan lapangan kerja baru dan menghemat bahan bakar kata Obama.

Indonesia sebagai salah satu Negara yang ketergantungan terhadap BBM tinggi, tengah berupaya memperbaiki manajemen energy nasional. Krisis energy yang melanda Indonesia sedikit banyak terpengaruh oleh kondisi global, oleh karena itu sudah selayaknya Indonesia belajar dari berbagai Negara untuk mengurangi krisis energy yang dapat menyebabkan kerawanan dan ketidakstabilan kondisi dunia.

Ada berbagai macam cara untuk menjadikan dunia lebih bersahabat bagi kita khususnya di Indonesia, yaitu mendorong percepatan kebijakan energy alternative di Indonesia, dan mengagendakan subsidi BBM langsung kepada rakyat. Kebijakan energy alternative di Indonesia sepertinya jalan di tempat, pemerintah belum percaya swasta siap untuk memasok energy alternative secara kontinu, sedangkan swasta ragu berinvestasi di energy alternative karena belum adanya regulasi yang menaunginya dan menginginkan system insentif dan disinsentif untuk mempercepat kebijakan energy alternative.

Pemerintah kembali terjebak pada kebijakannya sendiri dan bingung hendak mulai dari mana. Karena itu dibutuhkan suatu terobosan baru. Setiap hari kita disuguhi berbagai macam berita mengenai kreatifitas rakyat untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri, mulai dari biogas, biomassa dan sebagainya. Terobosan baru tersebut harus dimulai dari pemberdayaan rakyat untuk menanggulangi krisis energy. Menurut data Badan Pertanahan Nasional (BPN), Indonesia memiliki sekitar 210 juta hektar lahan terlantar. Dengan komitmen dan kemauan yang kuat pemerintah dapat mengembangkan energy yang berbasis pada berbagai komoditas pertanian tadi. Hal tersebut jelas membuka peluang bagi pengembangan energy hijau, paling tidak dalam kurun waktu 10-20 tahun mendatang.

Dana untuk menunjang pemberdayaan rakyat untuk menanggulangi krisis energy berasal dari subsisi BBM APBN 2008 sebesar Rp 126,8 Triliun. Subsidi tersebut haruslah efektif untuk mengurangi beban konsumsi atau meningkatkan pendapatan masyarakat, apabila subsidi tersebut hanya menguntungkan segelintir orang, maka subsidi tersebut harus ditata ulang. Masyarakat yang akan dan sudah mengurangi ketergantungan pada BBM perlu mendapatkan insentif berupa subsidi energy alternative sedangkan masyarakat yang ketergantungan terhadap BBMnya tinggi perlu dikenai disinsentif agar dapat mengurangi ketergantungan pada BBM. Misalnya subsidi diberikan kepada pengguna kendaraan umum dan disinsentif ditujukan kepada pengguna kendaraan pribadi atau subsidi diberikan kepada penduduk yang dapat memanfaatkan biomassa atau biogas menjadi sumber energy masak.

Think big and globally, Start small and locally,

Choose it independently, Do it now,seriously

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button