MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DI TAHUN BARU ISLAM | DR. Arif Zulkifli Nasution

MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DI TAHUN BARU ISLAM

Segala sesuatu hilang dan musnah, seakan-akan semuanya bergerak menuju ke kehancuran. Bencana alam datang silih berganti setiap saat, dimana saja. Semuanya boleh kecewa dan patut disesali. Dalam kegelapan, kita berusaha menghalau pemikiran negative mengenai arti kehidupan untuk mengangkat kembali semangat kita, tetapi justru membuat kita tidak bisa lepas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan. Orang yang mampu menghadapi semua itu, yang tetap tegar memandang semuanya tanpa memalingkan wajah itulah orang yang bahagia. Orang yang walaupun tahu akan semua itu, tetap mengharapkan bagiannya terpenuhi dan tetap menjaga akal budinya agar tetap tenang dan jernih, tidak tergoncangkan serta tidak tercemari, itulah orang yang bahagia. Ia yang percaya akan persahabatan dengan umat manusia dan seluruh alam, yang memikirkan segala tindakannya, itulah orang yang bahagia.

Alam Indonesia dahulu yang terkenal dengan keindahan dan keasriannya menjadi sosok yang menyeramkan. Alam tidak dicitrakan lagi bersahabat dengan manusia, tetapi menjadi musuh manusia. Segala tindakan manusia terhadap alam dibalas dengan tindakan yang lebih keras. Manusia kehilangan kontrol terhadap alam. Alam murka dengan tingkah laku manusia yang sewenang-wenang dan ingkar. Manusia menanam berjuta-juta pohon namun juga menghabiskan berjuta-juta ton kertas setiap tahun. Manusia menciptakan mobil hemat energi, namun diproduksi berjuta-juta unit sehingga kebutuhan energi tetap juga tinggi. Manusia menciptakan segala macam teknologi pengolahan sampah namun sampah yang dibuang tetap saja tinggi. Alam memerangi manusia agar manusia insaf dan kembali ke jalan yang lama, dimana manusia dan alam merupakan suatu kesatuan, dan manusia dan alam saling menghormati dan menghargai. Al-Quran telah mengingatkan manusia agar tidak berlebih-lebihan karena dapat menyebabkan kerusakan di muka bumi (Asy-Syura:27)

Perasaan puas dan tidak puas terhadap apa yang dimiliki dapat menciptakan kebahagiaan baru atau keresahan, tergantung bagaimana memaknainya.

Rasa tidak puas manusia pada dirinya yang mendorongnya berinovasi. Manusia tidak puas dengan apa yang diberikan alam, sehingga ia berusaha mengeruk isi alam sehingga timbullah ilmu geologi, geografi dan sebagainya. Manusia tidak puas dengan pengetahuan yang ada di depan mata, lalu ia berusaha mencari makna dibalik fenomena sehingga timbullah metodologi ilmu pengetahuan. Manusia juga tidak puas mengikuti siklus alam sehingga ia berupaya memprediksi siklus dan mengubahnya dengan subyektifitasnya lalu timbullah ilmu alam.

Proses pemenuhan kepuasan diri bersumber dari keinginan manusia untuk mencari kebahagian hakiki. Kebahagiaan tidak didapatkan dari materi yang banyak, karena banyak orang kaya yang tidak pernah puas dan hidupnya tidak bahagia. Kebahagiaan juga tidak didapatkan dari ketenangan setiap saat karena adanya ketidaktenanganlah yang sebenarnya menciptakan kebahagiaan. Proses mencari kebahagiaan adalah kebahagiaan itu sendiri. Atau dengan kata lain kita tidak akan merasakan nikmatnya sehat apabila tidak pernah sakit, atau kita tidak akan menikmati kelapangan apabila tidak pernah merasakan kesempitan.

Semakin sulit kita menemukan kebahagiaan, maka semakin dapat kita rasakan arti kebahagiaan. Orang yang bertahun-tahun dipenjara akan merasakan kebahagiaan yang sangat besar apabila keluar dari penjara. Orang yang berpenyakit menahun akan sangat berbahagia apabila sembuh.

Proses menemukan kebahagiaan dapat terganggu apabila proses tersebut terlalu berlebihan atau kekurangan. Menikmati air segelas ketika lelah terasa nikmat namun tidak lagi nikmat apabila air tersebut segalon atau menemukan air hanya ¼ gelas.

Ada juga yang memaknai bahagia dengan rasa cukup. Rasa cukup berarti perasaan puas dengan apa yang didapatkan. Ada juga yang memaknai rasa cukup dengan “menggunakan tanpa harus memiliki”, misalnya kalau ingin berteduh ada tempat tinggal walaupun ngontrak, atau kalau ingin bepergian ada kendaraan walaupun naik kendaraan umum. Perasaan cukup dengan apa yang ada merupakan kebahagiaan juga. Namun kebahagiaan tersebut mudah terurai apabila melihat kesenjangan yang terdapat di sekitarnya.

Penelitian mengenai perilaku korupsi pegawai negeri sipil menunjukkan factor gaji bukanlah yang utama karena gaji sebenarnya sudah mencukupi, tetapi perbedaan kesenjangan fasilitas, tunjangan, dsbanya yang didapatkan antara pegawai atas (eselon II dan I) dengan pegawai bawah (eselon III kebawah) menyebabkan keinginan pegawai bawah melakukan korupsi.

Penelitian yang dilakukan mengenai kerusakan lingkungan hidup juga demikian. Kemiskinan adalah penyebab kerusakan lingkungan yang utama namun kesenjangan pengetahuan antara orang kaya dan miskin menyebabkan orang miskin tidak dapat keluar dari lingkaran kemiskinan yang menyebabkan ia selalu bergantung pada sumber daya alam.

Rasulullah memuji akhlak seorang mukmin, “Alangkah baik berurusan dengan orang mukmin, jika diberikan cobaan ia bersabar dan jika diberikan nikmat ia bersyukur”

Kesenjangan dapat di kurangi dengan menerapkan rasa keadilan. Keadilan dapat dimulai dari bersimpati terhadap kesulitan orang. Simpati adalah rasa kesetiakawanan dengan orang lain dengan menempatkan dirinya dalam situasi orang lain. Melalui imajinasi kita menempatkan diri dalam situasi orang lain, memahami diri sedang mengalami sakit, seakan-akan masuk kedalam diri pribadi, dan sampai kadar tertentu menjadi orang yang sama dengan dia. Benarlah apa yang dianjurkan oleh Rasulullah bahwa seorang muslim dengan muslimnya bagaikan satu tubuh, apabila saudaranya menderita sakit, maka sakitlah salah satu bagian tubuhnya.

Bersimpati terhadap masyarakat yang terkena musibah atau orang yang miskin adalah awalan berbuat adil. Namun tentu saja simpati saja tidak cukup perlu ada sebuah gerakan nyata terhadap perwujudan rasa keadilan. Kran keadilan dapat dibuka dengan dua cara yaitu memberikan akses modal dan pengetahuan kepada orang miskin. Al-Quran telah mengingatkan kita, hakikat harta yaitu hanya berputar dikalangan itu-itu saja di antara suatu kaum, karena itu zakat diperlukan untuk mengangkat derajat orang miskin.

Tambahan lagi Muhammad Yunus yang digelari entrepreneur abad ini, mendobrak paradigma modal dari Barat dengan memberikan modal kepada kaum miskin. Kegagalan pasar menyebabkan kesenjangan makin tinggi antara orang kaya dan orang miskin, pengetahuan saja tidak cukup untuk orang miskin bangkit dari deritanya perlu dibuka ruang modal bagi mereka.

Reformasi 1998 menghadirkan komunitas baru di masyarakat. Sebelum reformasi rezim orde baru yang dimotori militer dan kroninya Cendana menguasai panggung seluruh bidang di Indonesia baik politik, social dan ekonomi. Namun reformasi menghadirkan suatu komunitas baru kelas menengah-berpendidikan yang ternyata mampu memegang berbagai macam bidang.

Lihat saja bagaimana Negara maju saat ini memposisikan negaranya dalam kancah persaingan internasional. Mereka tidak lagi mendirikan pusat-pusat industri di negaranya tetapi dipindahkan ke Negara berkembang. Mereka maju dengan bermodalkan pada sector keuangan dan pendidikan. Perusahaan multinasionalnya berada di berbagai Negara namun manajer tingkat atas dan kepemilikan modal selalu berasal dari Negara asalnya.

Kembali pada pokok bahasan, mencapai kebahagiaan di tahun baru 1429 Hijrah tidaklah mudah dan juga tidak terlalu sulit, butuh kesediaan hati, pikiran dan tingkah laku untuk mewujudkannya. Dan yang penting lagi kebahagiaan adalah relative tergantung bagaimana kebiasaan, perilaku dan kondisi individu.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top