MARKETING BERWAWASAN LINGKUNGAN atau Eco Marketing | DR. Arif Zulkifli Nasution

MARKETING BERWAWASAN LINGKUNGAN atau Eco Marketing

Saat ini ilmu yang sangat berkembang dan menjadi kitab suci baru perusahaan adalah marketing. Penyebabnya menurut Peter Drucker-bapak manajemen-adalah marketing dapat menghasilkan uang sedangkan bidang yang lain mengeluarkan uang. Perkembangan ilmu marketing yang sangat pesat diikuti oleh penetrasi pasar yang cukup baik.Toko-toko buku dipenuhi buku-buku marketing, buku-buku bestseller selalu didominasi buku marketing, media-media yang membahas marketing terus bermunculan dan tokoh-tokoh marketing laris bak cendawan di musim hujan.

Green-Marketing-Book

Di Indonesia perkembangan marketing yang meningkat di picu oleh krisis ekonomi. Ketika krisis ekonomi berlangsung, kegiatan produksi di Indonesia menurun drastis, pertumbuhan ekonomi di Indonesia di topang oleh angka konsumsi. Pemerintah kurang cepat bertindak untuk menghidupkan kembali iklim usaha di Indonesia sehingga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pengusaha mengimport berbagai macam produk. Sedangkan untuk membangkitkan kembali usaha di Indonesia masih sulit karena terganjal regulasi dan permodalan. Dalam perkembangannya barang-barang import membentuk koloni tersendiri untuk bertahan. Bentuk adaptasi produk-produk import agar tetap bertahan di Indonesia adalah dengan mengembangkan marketing di saat krisis, kemudian berkembang lagi menjadi marketing in venus yaitu bagaimana marketing dapat memahami perasaan konsumen, berempatidengan masalah konsumen, kemudian berlanjut menjadi marketing experience, bagaimana menciptakan pengalaman pembelian menakjubkan di konsumen sehingga konsumen tetap membeli produk, dan ketika booming lembaga keuangan syariah ditambah model manajemen qalbu seorang dai kondang, marketing mampu masuk ke dalam wilayah agama menjadi marketing syariah dan terakhir ketika demam pemanasan global, marketing mengikutinya dengan konsep tanggung jawab sosial perusahaan. Adaptasi marketing menjadi alat yang ampuh bagi perusahaan untuk masuk ke semua segmen masyarakat dan meningkatkan penjualan.

Marketing adalah bagaimana cara mengelola permintaan dan penawaran pada suatu produk atau jasa. Perusahaan yang menerapkan marketing selalu menempatkan kepuasan pelanggan sebagai tujuan. Apabila kepuasan pelanggan tercapai maka pelanggan tentu akan membeli barang perusahaan tersebut lagi dan akan mempromosikan barang tersebut kepada orang di sekitarnya.

Di satu sisi marketing memberikan nilai positif seperti pelayanan semakin baik, produk yang dibuat semakin berkualitas sehingga frekuensi penggunaan barang semakin lama dan dapat mengurangi waktu daur ulang produk. Namun sisi negatif konsep marketing dapat lebih besar misalnya meningkatkan pola konsumsi sehingga menimbulkan budaya konsumtif, harga produk yang tinggi karena biaya promosi yang tinggi, dan pemborosan sumber daya alam seperti keliling jawa dengan bersepeda motor, menggunakan balon udara untuk promosi atau membagikan brosur kampanye yang isinya kurang bermanfaat sehingga pada akhirnya di buang.

Sebenarnya tidak tepat juga mengatakan marketing berorientasi konsumen. Walaupun prinsip dasar marketing menurut Philip Kotler adalah mencapai kepuasan konsumen namun pada kenyataannya seringkali perusahaan mencari berbagai cara agar barangnya laku walaupun produk yang dihasilkan bukan kebutuhan real masyarakat, misalnya produk rokok. Rokok bukanlah kebutuhan real masyarakat, rokok justru menimbulkan pengeluaran tambahan bagi masyarakat bahkan dapat menyebabkan penyakit, namun dengan berbagai macam pola marketing, rokok berusaha mencitrakan diri sebagai bagian dari masyarakat dan peduli pada penderitaan rakyat agar penjualannya meningkat. Perlu diingat 3 dari 5 orang terkaya di Indonesia meraup penghasilan dari menjual rokok, sedangkan konsumen rokok umumnya dari kalangan menengah ke bawah.

Green-Marketing-Service

Prinsip marketing berasal dari bauran marketing atau marketing mix yang terdiri dari place, price, product, dan promotion. Dalam konsep place, perusahaan di tuntut untuk mencari lokasi yang paling strategis di tengah kota sebagai tempat usaha karena selain menghemat biaya promosi juga memberikan kemudahan bagi konsumen untuk menjangkaunya. Konsep lokasi strategis tersebut mendorong perusahaan untuk mencari lokasi usaha yang paling strategis di tengah kota walaupun harus melanggar tata ruang, misalnya hipermarket atau supermall di perempat jalan di tengah kota. Dengan dalih konsumen menyukai keindahan pantai dibangun tempat peristirahatan di tepi pantai, walaupun harus merusak mangrove, misalnya proyek pantai indah kapuk. Atau dengan alasan konsumen ingin mendapatkan udara bersih di pegunungan di bangun tempat istirahat walaupun dapat mengurangi daerah resapan air di hulu sehingga daerah hilir selalu terancam banjir misalnya pembangunan penginapan di puncak. Atau pembangunan apartemen yang berada di lokasi strategis untuk memudahkan penghuninya sampai ke tempat kerja dengan cepat namun tidak memperhatikan daya dukung daerah setempat sehingga menimbulkan atau menambah kemacetan baru di sekitarnya.

Konsep harga di marketing juga menimbulkan budaya konsumtif baru. Dengan teknik tinggi harga di rancang agar tidak terkesan mahal misalnya Rp 99.000 padahal harganya Rp 100.000 di kurangi seribu. Harga diberikan discount besar agar pembeli tertarik membeli dan terus membeli walaupun belum tentu sesuai kebutuhan. Atau harga di permainkan sesuai dengan jenis pembeli, kalau pembelinya kalangan menengah atas maka harga harus dibuat tinggi agar terkesan barangnya sangat berkualitas, misalnya dengan model dan kualitas yang sama harga baju di suatu mall lebih mahal berkali lipat di banding harga baju di tanah abang. Sedangkan untuk kalangan bawah harga dirancang agar terkesan murah dan terjangkau, misalnya pembelian sepeda motor dengan cara kredit. Dengan uang muka yang kecil dapat langsung membawa pulang motor. Padahal kalau dihitung total pembayarannya bisa mencapai berkali lipat dari harga barang sebenarnya.

Harga yang murah juga dapat merusak struktur pasar seperti yang dilakukan oleh sejumlah hypermarket. Harga murah yang diterapkan dapat merusak struktur pasar atau hirarki pasar sehingga banyak jenis pasar di bawahnya yang tutup karena tidak tahan dengan persaingan harga. Kalau dibiarkan terus tanpa ada pengawasan persaingan usaha dapat menyebabkan bangkrutnya beberapa usaha kecil seperti toko kelontong atau pasar tradisional. Akibat lebih jauhnya akan timbul pasar oligopoli, apabila terbentuk pasar persaingan tidak sempurna maka harga pembelian dari pabrik dapat di kontrol dan harga penjualan kemasyarakat dapat di buat sekenanya.

Menurut Collins seharusnya model yang ideal bagi hipermarket adalah berada di pinggiran kota, seperti yang ada di kota-kota di Eropa. Di tengah kota justru harus ditempati para peritel lokal yang memang tidak memiliki konsep hipermarket. Selain itu, ada juga jenis grosir yang berada di luar kota. Harga barang yang dijual oleh peritel lokal yang berada di tengah kota di Eropa memang lebih tinggi dibandingkan dengan harga barang yang dijual hipermarket. Akan tetapi, karena letaknya yang strategis, nyaman, dan tidak jauh dari pembeli, maka tidak ada persoalan bagi konsumen untuk tetap membeli barang di ritel tersebut. Keberadaan hipermarket di pinggiran bertujuan agar peritel skala menengah dan kecil tidak mati. Jadi, walaupun harga barang lebih murah, tetapi karena keberadaannya di pinggir kota, hal itu membuat harga jual produk milik hipermarket akan bersaing dengan peritel sebab dalam komoditas itu ada unsur biaya transportasi. Collins mengakui bahwa model ideal tersebut tidak ditemui di Jakarta maupun Bangkok. Konsep hipermarket yang ideal dan diterapkan secara konsisten adalah di Cina

Menurut Kotler (2003) desain produk yang baik yaitu: mudah dibuka kemasannya, mudah di rakit, mudah digunakan, mudah diperbaiki dan mudah dibuang setelah selesai digunakan. Tidak ada konsep desain produk yang mudah didaur ulang, dapat digunakan kembali atau bahan yang digunakan berasal dari daur ulang. Anehnya lagi untuk beberapa produk makanan ringan, isinya tidak sebanding dengan kemasannya. Isinya sedikit, kurang bergizi namun kemasannya di desain mencolok dan mempengaruhi terutama anak-anak.

Konsep promosi yang digunakan oleh perusahaan komersiil juga semakin canggih, tidak hanya berkenaan dengan masalah mengenalkan suatu produk tetapi bagaimana agar mempengaruhi keputusan membeli konsumen. Bahkan promosi yang dianggap berhasil apabila dapat menjual suatu barang walaupun barang tersebut berlimpah di daerah tersebut atau barang tersebut tidak terpikirkan untuk di beli oleh masyarakat, misalnya menjual air mineral di daerah dimana air berlimpah atau menjual sepatu di daerah pedalaman suku tradisional. Jenis promosi seperti ini di anut sebagian besar perusahaan.

Promosi juga dapat menimbulkan sikap pragmatis masyarakat, misalnya masyarakat yang sedianya mau bersusah payah untuk mengolah air sebelum di minum menjadi masyarakat konsumen air mineral walaupun di persediaan air bersih di daerah tersebut mencukupi.

Promosi juga dapat menyebabkan harga produk yang tinggi bahkan lebih tinggi dibanding biaya produksinya, misalnya kopi starbuck, dengan model promosinya mampu menjual 1 cangkir kopi seharga Rp 35.000 padahal di pasaran harga 1 kg kopi hanya mencapai Rp 20.000.

Promosi juga dapat menyebabkan semakin cepatnya terkurasnya sumber daya, misalnya promosi yang dilakukan ketika pemilu. Ketika kampanye, partai ataupun kandidat yang dicalonkan partai membagikan selebaran, menempelkan poster, memasang spanduk atau baliho yang jumlahnya sangat banyak. Usai pemilihan barang-barang tersebut tidak terpakai. Seharusnya pemerintah membatasi secara ketat penggunaan atribut kampanye. Selain menghemat sumber daya alam, alokasi penggunaan dana kampanye dapat dialihkan ke hal yang lebih konkret menyentuh kebutuhan langsung masyarakat.

Setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan swasta selalu bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Kondisi pasar yang jenuh di dalam negeri menuntut perusahaan multinasional meluaskan pasarnya ke berbagai negara. Dalam kegiatan ekspansinya tidak jarang perusahaan asing bersaing dengan perusahaan lokal. Dan dengan dukungan finansial, SDM dan teknologi tinggi, perusahaan lokal kalah dan dengan sendirinya tersingkir dari pasar. Akibat lebih jauhnya produk yang berasal dari dalam negeri terhambat perkembangannya padahal produk tersebut dapat meningkatkan potensi pemanfaatan sumber daya alam, memberdayakan potensi kearifan masyarakat lokal dan melepas ketergantungan dari negara asing. Sedangkan perusahaan multinasional yang menggunakan sebagian bahan bakunya dari luar negeri makin menancapkan kemenangannnya dengan mendorong masyarakat setempat memenuhi kebutuhan perusahaan multinasional tersebut walaupun belum tentu cocok dengan kondisi, dan budaya setempat.

Konsep marketing tanpa di barengi oleh wawasan lingkungan yang baik hanya akan menyebabkan kerusakan lingkungan baik lingkungan alam, buatan maupun sosial.

Marketing berwawasan lingkungan adalah marketing yang mampu memuaskan bukan hanya manusia namun seluruh stakeholder yang ada di alam ini. Marketing yang tidak hanya berfokus pada masalah bagaimana agar penjualan meningkat tetapi juga bagaimana produk yang dinikmati konsumen tidak menimbulkan kerusakan lingkungan di masa datang.

Konsep marketing yang masih bersifat antroposentrisme perlu dikolaborasi dengan ekosentrisme atau deep ecology sehingga marketing tidak hanya memberikan kepuasan bagi konsumen tetapi juga memperhatikan keseimbangan dan kelestarian alam.

Selama ini konsep marketing baru sebatas konsep marketing social yaitu konsep yang menekankan tidak hanya sekedar dapat memuaskan pelanggan dan profit (laba), tetapi bagaimana perusahaan dapat memberikan jaminan sosial kepada karyawan dan masyarakat atas pencemaran lingkungan. Konsep tersebut baru pada tataran kuratif atau perbaikan setelah peristiwa terjadi, padahal konsep penangan lingkungan tidak lagi pada usaha kuratif tetapi lebih ditekankan pada usaha preventif atau pencegahan. Karena itu marketing berwawasan lingkungan adalah konsep yang menekankan pada upaya pemuasan kebutuhan konsumen dan mendapatkan laba, dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan mulai dari tahap berdirinya perusahaan hingga tahap pembuangan sisa produk oleh konsumen.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top