Manual Handling | DR. Arif Zulkifli Nasution

Manual Handling

Manual handling (MH) adalah segala aktifitas yang membutuhkan kekuatan otot untuk mengangkat, membawa, memindahkan, mendorong, menarik, memegang, ataupun menahan benda, orang atau binatang skalipun. Selain itu, manual handling juga mencakup segala aktifitas yang berulang misalnya seperti di bagian assembling produk, dimana tenaga yang dikeluarkan oleh otot secara terus menerus digunakan untuk menahan, atau mendukung beban atau bahkan sekedar untuk mempertahankan postur tetap tubuh bagian belakang seperti halnya saat seseorang sedang mengetik.

Menurut NOHSC, Manual Handling (MH) didefinisikan sebagai seluruh kegiatan yang menggunakan pengerahan tenaga manusia untuk mengangkat, menurunkan, mengangkut, mendorong, menarik bahkan memindahkan, menggenggam dan menahan benda hidup atau benda mati (National Occupational Health and Safety Commision, 1990).

Kegiatan MH seperti memindahkan, mendorong atau menarik suatu benda telah menjadi perhatian sejak lama dalam pembuatan perancangan tenaga kerja yang efisien serta untuk mencegah terjadinya cedera dan gangguan kesehatan di industri. Peran teknologi seperti pengembangan robot misalnya, membantu dalam hal menurunkan jumlah pekerja MH, khususnya jika pekerjaan tersebut besifat “high structured” dan berulang.

Namun, hal ini jelas tidak dapat mengatasi pekerjaan-pekerjaan manual yang memerlukan waktu cepat untuk pemindahan. Automatisasi akan sangat sulit diterapkan pada pekerjaan yang tidak tertata (unstructured), seperti sebagian besar dari industri jasa misalnya konstruksi bangunan, peralatan perbaikan mesin, pengaturan bagasi, penanganan paket, penanganan pasien, dan kegiatan pemadam kebakaran.

Data NIOSH mengenai MH
1. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) menyatakan bahwa sekitar sepertiga dari tenaga kerja di US overexertion sebagai bagian dari pekerjaan mereka (NIOSH, 1981). Selain itu, NIOSH juga melaporkan beberapa data statistik terkait dengan MH, diantaranya adalah :
2. Overexertion diklaim sebagai penyebab terjadinya lower back pain (LBP) sekitar lebih dari 60% dari penderitanya.
Kurang dari sepertiga penderita cidera overexertion yang mengalami LBP kehilangan waktu kerjanya secara signifikan sebelum akhirnya dapat melanjutkan bekerja seperti biasa.
3. Jumlah cidera overexertion sekitar ¼ dari semua cidera kerja yang dilaporkan di AS, bahkan dibeberapa industri dilaporkan sekitar setengah dari total pekerja mengalami cidera overexertion.
4. Sekitar 2/3 dari cidera overexertion berkaitan dengan kegiatan mengangkat dan sekitar 20% nya terkait dengan kegiatan mendorong dan menarik beban.

Dari hasil observasi, dapat dilihat bahwa aktifitas manual handling baik yang sekarang maupun yang akan datang akan lazim terjadi di beberapa industri yang merupakan kegiatan yang dapat menyebabkan atau bahkan memperparah gangguan musculoskeletal yang sebelumnya telah diderita oleh sebagian besar pekerja.

Sebagai gambaran mengenai gangguan musculoskeletal yang dikarenakan oleh manual handling, Pope et al. (1984) dalam penelitiannya menyatakan bahwa 2% dari pekerja harus mengelurkan biaya tiap tahunnya dikarenakan cidera belakang (LBP) yang diperkiran menghabiskan biaya lebih dari 20 milyar dollar, oleh karena itu, program kontrol yang komprehensif sangat dibutuhkan.

Jenis Aktifitas MH
1. Mengangkat/menurunkan (Lifting/Lowering) : Mengangkat adalah menaikan dari level bawah ke level yang lebih tinggi. Jarak pengangkatan bisa dari bawah hingga setinggi tangan untuk meraih. Sedangkan menurunkan adalah aktifitas menurunkan dari level yang lebih tinggi ke level bawah.
2. Mendorong/menarik (Pushing/Pulling): Mendorong adalah menekan dengan tenaga berlawanan dengan objek bergerak dan lawannya adalah menarik
3. Memutar (Twisting) : Memutar adalah kegiatan menggerakan tubuh bagian atas ke satu sisi atau sisi yang lainnya ketika tubuh bagian bawah berada pada posisi tetap.
4. Membawa (Carrying): Membawa adalah memegang objek atau mengambil objek ketika ada kegiatan memindahkan berat objek menjadi bagian dari total berat orang tersebut ketika sedang bekerja.
5. Memegang (Holding) : Menggenggam adalah memegang objek ketika posisi tubuh dalam keadaan statis.

Resiko Manual Handling
1. Berat beban; berat beban yang diangkat harus diimbangi oleh berat badan orang yang mengangkat
2. Jarak horizontal; jarak horizontal mempengaruhi resiko dari MH
3. Dimensi benda yang diangkat sangat berpengaruh besar terhadap resiko MH, bila beban memiliki ukuran yang besar, maka pusat masa beban akan lebih jauh dari badan operator. Selain itu juga ukuran benda yang tinggi, akan menghalangi pandangan operator.
4. Ketinggian beban yang harus diangkat dan jarak perpindahan beban. Misalnya saja, mengangkat beban yang letaknya ada di ketinggian pinggang jauh lebih mudah dari mengangkat dari bawah lantai.
5. Twisting load, mengangkat atau memindahkan beban dengan disertai gerakan memutar tentu akan menimbulkan resiko cidera yang jauh lebih besar.
6. Kondisi lingkungan kerja seperti pencahayaa, temperatur, kelicinan lantai, dll.
7. Frekuensi angkat; semakin sering beban yang diangkat akan sangat berpengaruh dan berpotensi cidera.
8. Metode saat mengangkat; metode mengangkat haruslah benar, agar aman dalam mengangkat beban.

Low Back Pain (LBP)
LBP adalah salah satu masalah kesehatan yang umum dijumpai. Bahasan utama dalam fisiologi dan biomechanical berfokus pada low back pain, bahkan sebuah statistic dari The liberty mutual insurance company mengatakan bahwa 79% cidera yang diakibatkan dari kegian MH yang menyerang punggung belakang (Snock, 1978).

Nyeri pada punggung belakang merupakan salah satu keluhan yang paling sering terjadi di Amerika Serikat bahkan hampir diseluruh negara dimana tiap individu pasti mengalami nyeri punggung dalam hidupnya, namun sebagian besar menyerang individu dengan usia 40-80 tahun dan juga pada perempuan. Nyeri punggung ini bukan saja merupakan hasil dari proses penuaan, tetapi juga gaya hidup yang tidak sehat (kurang latihan atau terlalu sering). Dan LBP juga merupakan penyebab umum dari kecacatan dalam bekerja dan penyumbang dalam missed work (National Institute of Neurological Disorders and Stroke, 2012).

LBP bukan merupakan sebuah masalah yang baru, karena LBP mulai berkembang pada saat mesir kuno 5000 tahun yang lalu, bahkan menjadi salah satu konsentrasi dari Bernadino Ramazzini, seorang penemu occupational medicine pada tahun 1600an. White (1966) mengatakan bahwa LBP tidak selalu merupakan masalah cidera yang serius. 4 dari 5 pekerja mengalami cidera punggung dan baru dapat kembali bekerja setelah 3 minggu, walaupun dikatakan tidak selamanya serius, LBP cukup sering menyerang setengah dari populasi pekerjaan dan menghabiskan biaya jutaan dollar tiap tahunnya (Snook, 1978).

Standar ISO
Satu standar yang umum digunakan untuk menentukan batas pengangkatan yang aman adalah Standar ISO 11228
Lifting :
Standar ini memiliki massa referensi untuk dua tangan mengangkat di bawah kondisi ideal:
25 kg untuk 95% dari laki-laki.
15 kg untuk 99% perempuan.

Kondisi ideal didefinisikan sebagai
– Berdiri simetris, dibatasi dan tegak.
– Batang yang tegak dan tidak diputar.
– Jarak horizontal ke beratan kurang dari 25 cm.
– Ketinggian pegangan kurang dari 25 cm di atas ketinggian menyerah.
– Kantor pegangan pada objek (postur pergelangan tangan netral).
– Mengangkat durasi kurang dari satu jam per hari.
– Frekuensi mengangkat kurang dari atau sama dengan 0,2 lift per menit.
– Kondisi lingkungan yang nyaman.

Adapun Perbaikan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Rancang Ulang Objek (beban), jika objek dirasakan sulit diangkat mungkin bisa dievaluasi lebih lanjut dan dirancang ulang dilihat dari sisi Ukuran (dimensi benda), bentuk, Konstruksi benda (tumpukan pada saat diangkat).
2. Menggunakan bantuan mekanik. Jika beban terlalu berat, banyak, dan dilakukan secara continues ada baiknya dapat menggunakan beberapa alat bantu seperti forklift, pallet mover, trolley, dll.
3. Membentuk tim pengangkat. Jika bendanya besar dan dirasa tidak dapat dilakukan secara individu, buatlah tim untuk mengangkat dengan tujuan mempermudah pekerjaan dan tidak overload sehingga dapat meminimalisasi injury
4. Menggunakan teknik mengangkat yang benar.
5. Rancang ulang tempat kerja. Ini berkaitan dengan environment tempat kerja, seperti pemilihan lantai, pencahayaan, besarnya jalan jika menggunakan alat bantu, dll.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − twenty =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top