Manajemen Pengelolaan Sampah Berkelanjutan atau Sustainable Waste Management Management | DR. Arif Zulkifli Nasution

Manajemen Pengelolaan Sampah Berkelanjutan atau Sustainable Waste Management Management

Sumber limbah padat di wilayah DKI Jakarta umumnya berasal dari kegiatan rumah tangga, pasar, industri, komersial, taman, jalan dan sungai. Persentasi sampah terbesar disumbang oleh rumah tangga, yaitu sebesar 52,97 persen, sementara pasar 4 persen, sekolah 5,32 persen, dan selebihnya perkantoran serta industri.

Data terakhir Dinas Kebersihan Jakarta, menunjukkan jumlah sampah Jakarta sampai saat ini ± 27.966 M³ per hari dan prediksi kenaikan 5% pertahun. Jadi kalau dihitung. Penduduk DKI Jakarta dapat membangun 1 Candi Borobudur setiap 2 hari dari tumpukan sampah. Dalam setahun, kita dapat membangun 185 buah Candi Borobudur. (Volume Candi Borobudur adalah 55.000 M³).

Sekitar 25.925 M³ sampah diangkut oleh 757 truk sampah untuk dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Sisa sampah ± 2041 M³ yang tak terangkut menjadi masalah yang masih menunggu untuk segera diatasi. Jika dilihat dari tempat pembuangan sampah, 256 Kelurahan (95,88 persen) membuang sampah di tempatnya kemudian diangkut ke tempat penampungan, sedangkan 11 Kelurahan (4,12 persen) masih dibuang ke lubang kemudian di bakar. Saat ini Jakarta hanya mempunyai 1 (satu) TPA, yaitu TPA Bantargebang yang letaknya di wilayah Bekasi, dan 1 (satu) PDUK (Pusat Daur Ulang dan Kompos) milik swasta.

Tidak terangkutnya sebagian sampah bisa disebabkan minim¬nya armada, masih banyak RT maupun RW yang belum punya bak penampungan sampah sementara. Kendala lain juga disebabkan gerobak peng¬ang¬kut sampah yang sulit mela¬kukan pengangkutan dari tempat pembuangan sementara ke truk pengangkut.

Jakarta telah mempunyai sistem daur ulang yang cukup intensif yang didominasi oleh pemulung yang mencari sampah daur ulang ke sumber-sumber sampah seperti stasiun, daerah komersial, dan di lahan TPA (Porter, hal 70). Pemulung tersebut tidak hanya mengumpulkan sampah yang sekarang menjadi bahan untuk daur ulang, seperti kertas, plastik, gelas dan besi tetapi juga barang-barang rumah tangga yang masih dapat diperbaiki atau dijual kembali seperti kayu (dari peti kemas), botol dan kotak kardus dan puntung rokok.

Belakangan ini, terdapat puluhan pabrik di Jakarta yang mendaur ulang 200.000 juta ton sampah kertas per tahunnya. Enam pabrik mengolah 500.000 ton potongan besi pertahun dan sejumlah pengolahan plastik, kaca, karet dan tekstil. Jadi pada dasarnya, pasar daur ulang telah dibangun di banyak kota besar di Indonesia. Jakarta menjadi pasar untuk daur ulang yang potensial, karena sebagian pabrik daur ulang masih

Proses dan Elemen dalam Manajemen Sampah

Manajemen sampah merupakan gabungan dari kegiatan pengontrolan jumlah sampah yang dihasilkan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pengolahan dan penimbunan sampah di TPA yang memenuhi prinsip kesehatan, ekonomi, teknik, konservasi dan pertimbangan lingkungan yang juga responsif terhadap kondisi yang ada.

Metoda yang paling umum digunakan berkaitan dengan pembuangan akhir sampah dewasa ini adalah :

1. Penimbunan di lahan TPA

2. Pembuangan di saluran air

3. Penimbunan dalam tanah

4. Menjadi makanan ternak

5. Pengurangan

6. Pembakaran

Tidak semua metoda diatas tepat untuk semua jenis sampah. Menimbun dalam tanah adalah cocok untuk sampah makanan dan sampah daun, sedangkan untuk menjadi makanan ternak dan pengurangan adalah khusus untuk sampah makanan.

Menurut Tchobanoglous tahun 1993, kegiatan yang terkait dengan pengelolaan sampah telah dikelompokkan menjadi 6 fungsi atau tahap, yaitu :

1. Jumlah sampah (waste generation)

2. Pengumpulan, pemisahan dan kegiatan pengolahan di sumber sampah

3. Pengumpulan akhir

4. Pemisahan, pengolahan dan perubahan (transformation) sampah

5. Pemindahan dan pengangkutan

6. Pembuangan akhir (TPA)

Hirarki dalam pengelolaan sampah dapat digunakan dalam implementasi program yang melibatkan masyarakat. Hirarki pengelolaan sampah yang diadopsi dari Environmental Protection Agency (Amerika Serikat) adalah meliputi berkurangnya sumber sampah, daur ulang, pembakaran dan penimbunan di landfill. Adapun pengelolaan sampah terpadu yang terdapat dalam buku Mc. Graw Hill adalah :

– pengurangan sumber sampah (source reduction)

– daur ulang

– perubahan sampah (waste transformation)

– daur ulang

Contoh menghindari produksi sampah (waste generating) dapat dilakukan dengan menghilangkan kemasan yang tidak perlu dan merubah disain produk untuk menghemat materi dalam proses produksi. Materi yang dapat dikurangi dalam proses produksi dapat memberi dampak postif kepada lingkungan, terutama siklus kehidupan (life cycle).

Pendekatan lingkungan dalam proses produksi, meliputi:

– pilihan materi

– minimisasi penggunaan sumber daya

– tipe dari sumber energi

– alat pengolahan di pabrik/industri

– lingkungan kerja yang diharapkan

– pemilihan lokasi TPA

Sampah dapat dikurangi dengan usaha yaitu menggunakan produk dan materi yang dapat digunakan kembali dalam pengolahan. Banyak cara lain mengganti alternatif penimbunan di TPA. Usaha penggunaan kembali (reuse) dapat difokuskan pada kemas yang tahan lama atau barang (produk) dan bahan/ materi yang dapat digunakan kembali.

Daur ulang merupakan proses perubahan suatu produk kembali ke bahan dasar dan mengolahnya menjadi materi baru. Dalam beberapa kasus, daur ulang dapat mengurangi kualitas materi, jadi adalah tidak selalu bisa untuk memproduksi jenis barang yang sama berdasarkan sumber materi tersebut. Tetapi kunci utama untuk menetapkan program daur ulang adalah ketersediaan pasar.

Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan

Menurut Bab 21, Agenda 21, pengelolaan sampah seharusnya berwawasan lingkungan untuk mencegah dampak yang ditimbulkan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah merubah pola produksi dan konsumsi yang tidak seimbang (unsustainable). Hal ini secara tidak langsung memerlukan sebuah konsep manajemen siklus hidup yang terpadu, yang menunjukkan sebuah kesempatan untuk menggabungkan pembangunan dengan perlindungan terhadap lingkungan.

Jadi kerangka tindakan seharusnya ditentukan berdasarkan hirarki dari tujuan dan terfokus pada 4 program yang terkati dengan sampah, yaitu:

a. mengurangi jumlah sampah (minimising waste)

b. meningkatkan penggunaan kembali sampah dan daur ulang yang berwawasan lingkungan

c. mempromosikan TPA dan tempat pengolahan yang berwawasan lingkungan

d. memperluas jangkauan pelayanan sampah

Empat program diatas adalah berkaitan dan harus saling mendukung dan terpadu untuk menghasilkan suatu kerangka yang komprehensif dan responsif terhadap lingkungan dalam pengelolaan sampah kota. Demikian juga sektor swasta dan kelompok masyarakat ikut dilibatkan dalam implementasi program tersebut.(Agenda 21, Chapter 21).

Pengalaman dari Kota-kota Lain di dunia

a. Pengalaman dari kota CURITIBA

Sebagai kota metropolitan di negara Afrika, Curitiba menghasilkan sampah 1000 ton per hari, dimana ¾ dari total sampah berasalal dari 13 munisipal atau daerah setingkat kecamatan. Walikota Curitiba telah mengeluarkan sebuah pendekatan yang inovatif untuk mengelola sampah, yang tidak hanya menguntungkan lingkungan tetapi juga menguntungkan bagi masyarakat.

Curitiba mendapat penghargaan dari PBB berkaitan dengan kesuksesan dalam dua program pengelolaan sampah, yaitu pertama “Garbage that is not Garbage” merupakan program daur ulang dan kedua adalah program “Purchase of Garbage”.

Program “Garbage that is not Garbage” mendorong penduduk kota untuk memisahkan sampah organik dan non-organik untuk daur ulang dan dikumpulkan. Satu kali dalam seminggu petugas mengumpulkan dari setiap rumah tangga. Lebih dari 70 % masyarakat berpartisipasi dalam program ini dan kesuksesan program ini juga akibat program pendidikan lingkungan yang menekankan pentingnya daur ulang. Dua pertiga dari sampah kota telah di daur ulang yaitu lebih dari 100 ton per hari. Sejak dimulainya program itu, sampah di Curitiba telah didaur ulang sebanyak 13.000 ton per hari. Disamping keuntungan terhadap lingkungan, keuntungan lain program ini adalah tersedianya lapangan kerja pada pabrik yang menggunakan materi daur ulang.

Program kedua adalah “Purchase of Garbage” yang dijalankan di daerah perumahan kumuh. Akibat kondisi fisik jalan yang tidak memadai, adalah sulit bagi truk sampah untuk mengangkut sampah di daerah tersebut. Penduduk dengan seenaknya menimbun sampah di lahan kosong atau pun saluran air. Hal ini juga akibat rendahnya pengetahuan penduduk akan kesehatan dan sanitasi. Program ini telah terbukti berhasil dengan telah melibatkan 22.000 keluarga. Mencegah membuang sampah ke sungai, lahan kosong atau hutan akan menjadi tahap awal yang penting dalam mewujudkan lingkungan yang bersih terutama di daerah kumuh. Juga akan mengurangi berjangkitnya penyakit didaerah ini yang berarti penghematan terhadap biaya pengobatan dan rumah sakit

b. Canberra tanpa sampah tahun 2010 (No Waste 2010 Canberra)

Canberra mempunyai program yang ambisius berkaitan dengan sampah, yaitu program No Waste by 2010. Dengan penduduk kota berjumlah 300.000 jiwa, jumlah sampah mencapai 250 ton per tahun yang dibuang ke dua TPA yang terdapat di Mungga Lande (sebelah Selatan) dan di Belconnen (utara Canberra). Dari total sampah di TPA tersebut, 60 % adalah terdiri dari kertas, karton kemas, sampah organik, puing, konkrit dan batu dari bangunan yang menunjukkan potensi yang cukup baik untuk meningkatkan program daur ulang.

Sistem landfill di ACT dikelola oleh Dinas Pelayanan Kota (Department of Urban Services) dengan ijin dari Kantor Autoriti Pengontrolan Polusi (Pollution Control Authority-Office of the Environment). Dinas ini menangani sampah utama kota yang dua pertiganya adalah merupakan puing-puing bangunan.

Pada tahun 1993, kapasitas landfill hanya akan mampu beroperasi dalam 9 tahun dan pemindahan lokasi akan memakan biaya 40 juta dolar Australia. Hal ini mengakibatkan Dinas Pelayanan Kota harus mempertimbangkan usaha mengurangi jumlah (produksi) sampah dan dalam prosesnya sebaiknya dibangun strategi pengelolalan sampah.

Pengumpulan akhir sampah dan kegiatan daur ulang dikontrakan ke swasta. Kegiatan memisahkan sampah daur ulang telah dilakukan, tetapi penilaian secara ekonomis belum dilakukan sepenuhnya, karena pengumpulan sampah daur ulang masih disubsidi oleh pemerintah ACT.

Terdapat tiga program yang dilakukan pemerintah dengan melibatkan masyarakat dalam mengola sampahnya, yaitu daur ulang sampah pekarangan, Resource Exchange Network, dan REVOLVE.

Pada program daur ulang sampah taman/pekarangan, sampah bersih dan yang terkontaminasi dapat dikirim ke tiga lokasi dan tidak dipungut biaya. Sampah tersebut akan diolah menjadi pupuk, yang kemudian akan dijual kembali.

Pada program kedua, pemerintah Canberra melibatkan masyarakat untuk terlibat dalam program daur ulang yang dikelola oleh sebuah organisasi masyarakat non-profit yaitu REVOLVE. Yang bekerja dengan mengumpulkan materi dan barang yang diperoleh dari komersial, industri dan masyarakat sendiri. Sebagian dari barang tersebut akan dijual kembali dimana keuntungannya akan digunakan untuk menggaji tenaga kerja agar program tersebut dapat terus berlanjut.

Canberra juga membentuk sebuah jaringan untuk pertukaran materi yang dapat menggunakan kembali sumber sampah yang disebut dengan Canberra Resource Exchange Network (CERN). Kegiatan ini mewujudkan terbentuknya ‘pasar’ dari sumber sampah dan mendukung implementasi dari biaya efektif dan bertanggung jawab pada pelaksanaan pengelolaan sampah. Kegiatan ini dilengkapi dengan sistem/fasilitas database dan formulir pendaftaran secara eletronik (electronic form). Fasilitas data base ini berisi daftar sumber sampah yang dapat diperdagangkan dan formulir pendaftaran untuk pihak atau sumber sampah baru yang ingin mendaftar. Jadi, jika klien baik perorangan maupun perusahaan ingin membuang sampahnya, ‘perusahaan pertukaran’ tersebut dapat menyediakan alternatif dengan meletakkan sampahnya di tong sampah untuk dijemput, atau mengangkutnya ke lahan landfill yang ditetapkan.

Demikian juga sebaliknya, jika klien membutuhkan materi sampah, mereka dapat mencarinya dari data base yang disediakan CERN lengkap dengan data suplaiernya. Jika klien tidak menemukan sampah sesui yang diinginkan mereka dapat mendaftar dengan gratis sebagai pencari sampah.

Share this post

One Reply to “Manajemen Pengelolaan Sampah Berkelanjutan atau Sustainable Waste Management Management”

  1. Ali Nurhakim says:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Pak perkenalkan Nama saya Ali Nurhakim. Saya dari Institut Teknologi Sumater. Pak Saya meminta izin kepada Bapak untuk menggunakan Artikel yang berjudul Manajemen Pengelolaan Sampah Berkelanjutan atau Sustainable Waste Management Management untuk menjadi sebuah isi Infografis saya, yang dimana Infografis itu untuk saya ikuti di dalam perlombaan Kementerian PU tahun 2018.

    Email : anhakim1410@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top