Konsep Valuasi Ekonomi | DR. Arif Zulkifli Nasution

Konsep Valuasi Ekonomi

Salah satu penyebab terjadinya degradasi lingkungan dan ongkos ekonomi adalah masalah undervalue terhadap nilai yang sebenarnya yang dihasilkan dari sumberdaya alam dan lingkungan. Hal ini juga mengindikasikan kurangnya informasi mengenai penilaian sumberdaya alam dan lingkungan. Kurangnya informasi tersebut juga menyebabkan terjadinya kegagalan pasar karena jasa yang dihasilkan dari sumberdaya alam dan lingkungan tidak sepenuhnya terpasarkan (unpriced). (Fauzi, 2014).

Valuasi ekonomi SDAL memiliki peran penting dalam menyediakan informasi ini untuk membantu proses pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan publik. Kebijakan publik harus mencerminkan pemahaman terkait nilai barang publik, apalagi hal yang menyangkut dengan sumberdaya alam dan lingkungan karena nilai publik dari SDAL sering tidak tercermin dalam nilai pasar (Champ et al 2001 dalam Fauzi 2014).

Secara umum, nilai ekonomi SDAL dibagi dalam dua kelompok yakni nilai guna (use value) dan nilai non-guna (non-use value).

Konsep use value relatif tidak terlalu sulit untuk dipahami. Use value adalah nilai ekonomi yang berkaitan dengan pemanfaatan in situ dari sumberdaya alam dan lingkungan , seperti pemanfaatan untuk konsumsi atau rekreasi. Nilai pemanfaatan ini dibagi lagi ke dalam nilai pemanfaatan langsung (direct use value) baik dalam bentuk konsumsi, seperti ikan untuk dikonsumsi, minyak untuk energi, dan sebagainya, maupun non konsumsi seperti pemanfaatan rekreasi. Sementara itu, pemanfaatan yang sifatnya tidak langsung atau indirect use value adalah manfaat yang diperoleh dari sumberdaya alam dan jasa lingkungan tanpa harus secara aktualmengkonsumsinya. Contoh indirect use value adalah perlindungan aliran sungai untuk mitigasi banjir atau peran hutan sebagai carbon sequestration.

Nilai non guna atau non use value lebih kompleks baik dalam pemahaman dan pengukuran use value. Non use value adalah nilai yang dirasakan oleh individu atau masyarakat terhadap SDAL yang independen terhadap pemanfaatan saat ini maupun mendatang. Independensi terhadap pemanfaatan saat ini maupun mendatang menunjukkan bahwa nilai yang diturunkan tidak harus melalui mekanisme konsumsi atau pemanfaatan. Konsep non use value awalnya dikenalkan oleh Krutila 1967 (Fauzi 2014). Non use value terdiri dari bequest value (nilai pewarisan) dan option value (nilai pilihan). Namun dalam perkembangan literatur, penggunaan konsep option valuesebagai bagian dari non use value cenderung missleading karena option value lebih terkait dengan aspek ketidakpastian, sehingga lebih tepat digunakan konsep option price. Secara konseptual option value menggambarkan manfaat yang dirasakan seseorang atau masyarakat untuk membuka pilihan agar SDAL dapat dimanfaatkan untuk masa mendatang meski ia tidak merencanakannya saat ini untuk memanfaatkannya. Dengan kata lain, option value muncul karena adanya ketidakpastian akan keberadaan barang dan jasa dari SDAL di masa mendatang. Dengan keberadaan ketidakpastian ini para ahli sepakat bahwa option value tidak serta merta berhubungan langsung dengan use value maupun non use value.

Kombinasi nilai guna (use value) dan nilai non guna (non use value) merupakan Total Economic Value (TEV). Terminologi total dalam Total Economic Value bukan menunjukkan nilai keseluruhan dari sumberdaya dan lingkungan. Nilai total yang dimaksud lebih menunjukkan penjumlahan dua komponen nilai guna dan non guna.

Pengukuran nilai guna dapat dilakukan melalui proksi harga pasar. Sedangkan non use value melibatkan jasa lingkungan dan atribut sumberdaya alam yang tidak dipasarkan sehingga tidak tepat menggunakan komoditas yang dipasarkan sebagai proksi. Teknik valuasi ekonomisumberdaya yang tidak dapat dipasarkan dikelompokkan menjadi dua yaitu revealed WTP (tidak langsung) dan expressed WTP (langsung/ survey). Revealed preference menunjukkan bahwa penilaian terhadap barang dan jasa didasarkan pada perilaku yang teramati atau terungkap dari seseorang terhadap pilihan yang dilakukan. Metode Revealed preference dapat diartikan sebagai penilaian pengaruh dari komponen SDAL yang tidak terpasarkan (nonmarketed) melalui perilaku aktual, khususnya melalui pengeluaran yang dikeluarkan seseorang melalui mekanisme pasar (Pearce et al. 2006). Pendekatan ini juga sering dikatakan sebagai pendekatan yang melacak “jejak pasar” (market footprint) dari komoditas yang tidak terpasarkan (Russel 2001).

Beberapa teknik yang termasuk kelompok revealed WTP yaitu hedonic pricing, travel cost, dan random utility model. Hedonic price menggambarkan penilaian sesuatu (barang atau jasa) yang dirasakan karena adanya atribut atau karakteristik kesenangan, seperti pemandangan yang indah, kenyamanan (convenience) maupun karakteristik lainnya.

Sedangkan Travel Cost Method (TCM) merupakan metode penilaian terungkap yang digunakan untuk menilai manfaat non-guna berdasarkan perilaku yang diamati yakni pengeluaran individu untuk perjalanan. TCM biasanya digunakan untuk menilai komponen yang diamati adalah perjalanan ke tempat rekreasi yang dikeluarkan seseorang. Prinsip dasar metode TCM adalah teori permintaan konsumen dimana nilai yang diberikan seseorang pada lingkungan (atribut yang tidak terpasarkan) dapat disimpulkan dari biaya yang dikeluarkan ke lokasi yang dikunjungi.

Sementara yang termasuk kelompok expressed WTP yaitu contingent valuation dan discrete choice method. Contingent Valuation Method (CVM) merupakan metode langsung penilaian ekonomi ekonomi melalui pertanyaan kemauan membayar seseorang (Willingness to Pay = WTP), sedangkan Choice experiment (CE) merupakan metode tidak langsung penilaian ekonomi dimana pendugaan WTP dilakukan melalui tawaran pilihan yang setiap pilihan memiliki variable karakteristik harga atau biaya

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top