Konflik atau conflict...1 | DR. Arif Zulkifli Nasution

Konflik atau conflict…1

1. Konflik Intraindividu
Konflik (dalam Multahada, 2002) dapat terjadi karena adanya dua motif atau lebih yang muncul pada saat bersamaan yang sama-sama ingin dipuaskan tetapi individu tidak mampu melakukannya, sehingga ia harus memilih motif mana yang harus dipuaskan terlebih dahulu dan motif mana yang harus ditunda. Konflik intraindividu adalah konflik yang terjadi di dalam diri individu diantaranya adalah:
a. Frustasi
Frustasi adalah keadaan emosional yang timbul manakala terdapat kebutuhan yang terhalangi sebelum seseorang mencapai tujuan yang diinginkan. Halangan atau rintangan yang menyebabkan frustasi karena faktor: (1) pribadi, yaitu berasal dari keterbatasan individu sendiri, seperti cacat tubuh, ketidakmampuan tertentu yang dapat menghambat usaha individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (2) lingkungan, yaitu berasal dari luar individu. Ini bisa terjadi pada lingkungan fisik dan sosial. Dan (3) konflik, yaitu terjadi jika seseorang harus memilih diantara dua atau beberapa tujuan, kehendak, motif dan tindakan.

b. Konflik Tujuan
Konflik tujuan dapat terjadi ketika individu dihadapkan dengan suatu kompetisi baik positif dan negatif atau dua atau bahkan lebih untuk mencapai suatu tujuan. Konflik tujuan adalah konflik yang umum terjadi.
Secara umum, konflik tujuan terdiri atas: approach-approach conflict, approach-avoidance conflict dan avoidance-avoidance conflict
1. Approach-approach Conflict
Konflik ini timbul apabila individu menghadapi dua motif atau lebih yang kesemuanya memiliki nilai positif dan individu harus memilih diantara motif-motif tersebut.
Approach-approach conflict dapat dianalisa dengan teori disonansi kognitif. Disonansi merupakan keadaan psikologis yang tidak aman karena ketidakseimbangan kesadaran atau pengertian yang terjadi karena individu menghadapi dua atau lebih alternatif keputusan. Menurut teori ini, disonansi yang terjadi secara aktif dapat diatasi individu melalui motivasi yang tinggi dengan menghindari situasi dan informasi yang dimungkinkan dapat meningkatnya konflik.
2. Avoidance-avoidance Conflict
Konflik ini timbul apabila individu menghadapi dua atau lebih motif yang kesemuanya mempunyai nilai negatif
Avoidance-avoidance conflict biasanya mudah untuk diatasi. Individu dihadapkan dengan dua tujuan negatif, di mana ia harus memilih atau dengan mudah ia meninggalkannya. Jika hal ini dapat dilakukan maka konflik dengan cepat dapat teratasi.
3. Approach-avoidance Conflict
Konflik ini timbul apabila individu mengahadapi obyek yang mengandung nilai positif sekaligus negatif
Konflik tujuan ini sangat relevan untuk menganalisa perilaku organisasi. Umumnya tujuan organisasi memiliki aspek positif dan negatif. Kondisi ini dapat menimbulkan konflik berupa kecemasan. Konflik tipe approach-avoidance conflict seringkali diatasi dengan cara yang sama sebagaimana dissonance cognitive.
c. Konflik Peran dan Ambiguitas
Konflik peran dapat diartikan dengan konflik dari dalam dan tekanan yang dihasilkannya biasanya karena peran tidak sesuai dengan harapan sosial dari luar. Konflik peran memiliki tiga tipe:
1. The person and the role; konflik dapat terjadi antara kepribadian individu dan harapan dari peran.
2. Intrarole; konflik dapat terjadi karena harapan yang kontradiksi mengenai bagaimana suatu peran cenderung untuk dapat dijalankan
3. Interrole; konflik dapat terjadi karena adanya perbedaan syarat-syarat dari dua atau lebih peran yang harus dijalankan dalam waktu yang bersamaan.
Dalam organisasi, beberapa situasi dan tingkatan yang dialami individu mungkin saja mengalami beberapa tipe konflik. Konflik peran dan ambiguitas ada—mereka melakukannya, dan nampak tidak dapat menghindarkan—karena ketidakmampuan di dalam mendefinisikan secara cermat letak dan tanggung jawab di dalam berperan. Sehingga ambiguitas dapat menimbulkan suatu percekcokan yang mengakibatkan suatu konflik peran di dalam diri individu.
2. Konflik Interpersonal
Konflik interpersonal adalah konflik yang terjadi ketika dua orang atau lebih individu berinteraksi dengan orang lain. Dalam sudut pandang Kreitner (2004) konflik ini dapat terjadi karena adanya konflik pribadi. Konflik pribadi adalah pertentangan antar pribadi yang di dasarkan pada ketidaksukaan dan ketidaksepakatan yang sifatnya pribadi. Untuk menganalisa konflik interpersonal Kita dapat mengamati Transaksional Analisis (TA) dan the Johari Window
a. Transaksional Analisis (TA)
Transaksional Analisis (TA) memberikan perhatian pada tiga wilayah, yaitu: ego state, transaction, strokes and games. Namun dalam modul ini hanya menyinggung ego state dan transaction between ego.
Ego States. Ego memainkan peranan penting di dalam model psikoanalisa Freudian. Dalam struktur kepribadian manusia, ego merepresentasikan realita, dan ego secara rasional berusaha menerima id impulsive (id menurut kata hati) dan kesadaran dari superego. TA menggunakan latar belakang teori psikoanalisa sebagai latar belakang untuk mengidentifikasi tiga keadaan penting ego: anak, orang dewasa, dan orangtua. Tiga keadaan ego sesuai dengan id (anak), ego (orang dewasa) dan superego (orangtua) dari konsep Freudian. Tiga keadaan ego lebih detail sebagai berikut:
1. Child (C) ego state (keadaan ego anak-anak). Keadaan di mana individu bertindak seperti anak kecil yaitu impulsive (sesuai kata hati). Keadaan anak dikarakteristikkan tunduk, patuh, menyesuaikan diri (sesuai dengan tugas anak) atau tidak patuh, emosional, bergembira, atau memberontak. Dalam kasus lain keadaan anak dikarakteristikkan dengan perilaku tidak matang.
2. Adult (A) ego state (keadaan ego orang dewasa). Dalam keadaan ini seseorang bertindak seperti kematangan orang dewasa. Ketika menghadapi masalah, ia dapat menyelesaikan masalah secara rasional. Dia mengumpulkan informasi, menganalisa secara hati-hati, menggeneralisir alternatif, dan membuat pilihan logika. Dalam keadaan dewasa individu tidak melakukan impulsive dan mendominasi. Dia dikarakteristikkan dengan keterbukaan dan objekstif.
3. Parent (P) ego state (keadaan ego orangtua). Individu bertindak seperti dominasi orangtua. Individu dapat terlalu overprotective dan menyayangi atau keras dan kritis. Keadaan orangtua dikarakteristikkan dengan standar membangun dan mengatur orang lain. Mereka cenderung berbicara lembut kepada orang lain dan memperlakukan orang lain seperti anak kecil.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top