Kesehatan Lingkungan | DR. Arif Zulkifli Nasution

Kesehatan Lingkungan

Peran Lingkungan dalam menimbulkan penyakit
a. Lingkungan sebagai faktor predisposisi (faktor kecenderungan)
b. Lingkungan sebagai penyebab penyakit (Penyebab langsung penyakit)
c. Lingkungan sebagai media transmisi penyakit (Sebagai perantara penularan penyakit)
d. Lingkungan sebagai faktor mempengaruhi perjalanan suatu penyakit (Faktor penunjang)

Faktor Utama yang mempengaruhi perubahan lingkungan
a. Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, yang sering dikenal dengan istilah “peledakan penduduk” dengan segala implikasi kaitannya lebih lanjut.
b. Urbanisasi, yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang terjadi pada kota-desa, dimana dampaknya tidak saja dirasakan bagi sistem kehidupan kota melainkan juga ikut merugikan kehidupan sistem pedesaan sendiri.
c. Industrialisasi, yang menimbulkan berbagai mata rantai implikasi serta sebagai akses secara luas.
d. Perkembangan teknologi yang sangat cepat, khususnya bagi negara-negara yang sedang berkembang yang belum dapat menyiapkan diri dalam sistem sosialnya (infra structural).
e. Kebutuhan yang “meningkat” dari masyarakat untuk memaksakan meningkatkan standart kehidupan, pada hal syarat-syarat untuk mendukung ini juga belum disiapkan.

Pengembangan upaya kesehatan lingkungan
a. Di mana dimungkinkan gangguan-gangguan yang dapat berakibat terhadap kesehatan lingkungan perlu di cegah.
b. Apabila gangguan tersebut telah ada, langkah berikutnya adalah mengusahakan mengurangi atau meniadakan efeknya terhadap kecenderungan timbulnya penyakit didalam masyarakat.
c. Mengembangkan lingkungan yang sehat, khususnya pada daerah-daerah padat melalui sistem perencanaan dan pengendalian yang mudah terhadap pemukiman,perumahan dan fasilitas rekreasi yang sesungguhnya bisa menjadi pusat kunjungan manusia dan sumber penularan.

Sanitasi Lingkungan
Dalam penerapannya di masyarakat, sanitasi meliputi penyediaan air, penelolaan limbah, pengelolaan sampah, control vector, pencegahan dan pengontrolan pencemaran tanah, sanitasi makanan, serta pencemaran udara.
Contoh aktivitas-aktivitas untuk menciptakan sanitasi lingkungan yang baik yaitu
– menguras, menutup, menimbun dan memantau bak atau tempat penampungan air menjadi tempat yang sangat baik bagi perkembangbiakan nyamuk. Karena itu, bak dan penampungan air harus dibersihkan dan dikuras secara rutin minimal satu minggu sekali. Tempat penampungan air diupayakan selalu tertutup.
– Menutup tempat penampungan air dapat mencegah perkembangiakan nyamuk, juga mencegah masuknya organisme lainnya seperti kecoa dan tikus. Aktivitas menimbun dilakukan agar barang-barang dilingkungan tidak dijadikan sarang atau tempat perkembangbiakan organisme yang merugikan kesehatan seperti kaleng bekas, plastic dan lain-lain.
– Tidak membiarkan adanya air yang tergenang. Genangan air seringkali dianggap tidak membahayakan. Padahal genangan air yang dibiarkan lama, terutama musim hujan dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
– Membersihkan saluran pembuangan air juga akan membantu dalam meemutus rantai perkembangbiakan vector penyakit, jika dibiarkan akan menjadi sumber berbagai jenis penyakit.

Lingkungan Fisik
1.) Jarak antara rumah
Jarak rumah mempengaruhi penyebaran nyamuk dari satu rumah ke rumah lain, semakin dekat jarak antar rumah semakin mudah nyamuk menyebar dari satu rumah ke rumah lainnya. Bahan-bahan pembuat rumah, konstruksi rumah, warna dinding dan pengaturan barang-barang dalam rumah menyebabkan rumah tersebut disenangi atau tidak disenangi oleh nyamuk.
2.) Ketinggian tempat
Pengaruh variasi ketinggian berpengaruh terhadap syarat-syarat ekologis yang diperlukan oleh vektor penyakit. Di Indonesia nyamuk Aedes aegypti dapat hidup pada daerah dengan ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut.

Iklim
Iklim adalah salah satu komponen pokok lingkungan fisik, yang terdiri dari: suhu udara, kelembaban udara, curah hujan dan kecepatan angin.
(1) Suhu udara
Nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah, tetapi metabolismenya menurun atau bahkan terhenti bila suhunya turun sampai dibawah suhu kritis. Rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25ºC – 27ºC. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali bila suhu kurang 10ºC atau lebih dari 40ºC.
(2) Kelembaban udara
Kelembaban udara yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan keadaan rumah menjadi basah dan lembab yang memungkinkan berkembangbiaknya kuman atau bakteri penyebab penyakit.
(3) Curah hujan
Hujan berpengaruh terhadap kelembaban udara dan tempat perindukan nyamuk juga bertambah banyak.
(4) Kecepatan angin
Kecepatan angin secara tidak langsung berpengaruh pada kelembaban dan suhu udara, disamping itu angin berpengaruh terhadap arah penerbangan nyamuk.

Lingkungan Sosial
1) Kebiasaan masyarakat yang merugikan kesehatan dan kurang memperhatikan kebersihan lingkungan seperti kebiasaan menggantung baju, kebiasaan tidur siang, kebiasaan membersihkan TPA, kebiasaan membersihkan halaman rumah, dan juga partisipasi masyarakat khususnya dalam rangka pembersihan sarang nyamuk, maka akan menimbulkan resiko terjadinya.
– kebiasaan menampung air untuk keperluan sehari-hari seperti menampung air hujan, menampung air di bak mandi dan keperluan lainnya, yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
– Mengumpulkan barang-barang bekas dan kurang melaksanakan kebersihan dan kurang menerapkan pelaksanaan 4M PLUS (Menguras, menutup, memanfaatkan, memantau plus menaburkan bubuk abate pada tempat tempat penampungan air , menghindari gigitan nyamuk dengan pemakaian anti nyamuk lotion maupun obat nyamuk bakar,dan obat nyamuk elektrik, tidur memakai kelambu, dan tidak menggantung pakaian dikamar).
2) Sikap dan Perilaku. Perilaku manusia yang menyebabkan terjangkitnya dan menyebarnya DBD khususnya diantaranya adalah mobilitas dan kebiasaan masyarakat itu sendiri. Mobilitas, saat ini dengan semakin tingginya kegiatan manusia membuat masyarakat untuk melakukan mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain. Dan hal ini yang mempercepat penularan DBD.

Pengendalian perkembangan nyamuk
a. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk dan perbaikan desain rumah. Kegiatan yang bisa dilakukan yaitu menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu, mengganti dan menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali, menutup dengan rapat tempat penampunganair, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah. Tumpah atau bocornya air dari pipa distribusi, katup air, meteran air dapat menyebabkan air menggenang dan menjadi habitat yang penting untuk larva Aedes aegypti jika tindakan pencegahan tidak dilakukan.
b. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang). Dan dapat juga membudidayakan menanam tanaman pengusir nyamuk seperti : sereh, liligundi, lavender, sirih. Tanaman ini bisa di tanam di pekarangan rumah atau di tempatkan di pot dan diletakan di teras rumah.
c. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan pengasapan fogging, berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. Memberikan bubuk abate dengan dosis 10 gr/ 100 liter air pada tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Fogging merupakan salah satu bentuk upaya untuk dapat memutus rantai penularan penyakit DBD, dengan adanya pelaksanaan fogging diharapkan jumlah penderita Demam Berdarah DBD dapat berkurang. Pendapat bahwa fogging merupakan cara yang paling tepat untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah sebenarnya kurang tepat, karena cara ini hanya bertujuan untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti dewasa, sehingga jika di beberapa rumah penduduk masih ditemukan jentik nyamuk, maka kemungkinkan penularan demam berdarah masih berlanjut dengan dewasanya jentik yang menjadi nyamuk, mengingat siklus perubahan jentik menjadi nyamuk hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu.
– Fogging dilihat dari segi ekonomi memerlukan biaya yang lebih mahal dan dari segi efek samping kesehatan dapat mengganggu kesehatan oleh kandungan bahan kimia dan dapat juga merusak lingkungan.
– Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 4M PLUS (Menguras, menutup, memanfaatkan, memantau). Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, menyemprot dengan insektisida, memasang obat nyamuk dan memeriksa jentik berkala.
– Kegiatannya dapat berupa kerja bakti untuk membersihkan rumah dan pekarangan serta selokan di samping rumah. Jika diperlukan dapat ditaburkan abate, untuk membunuh jentik-jentik pada bak kamar mandi maupun kolam-kolam ikan di rumah, dalam hal ini masyarakat tidak perlu takut terjadi keracunan, karena abate hanya membunuh jentik nyamuk dan aman bagi manusia maupun ikan.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top