Kerusakan Karang Raja Ampat: Kapan Pemulihannya?

Tanggal 3 Maret, sebuah kapal pesiar , MV Caledonian Sky yang memiliki bobot 4200 GT masuk ke kawasan terumbu karang di Raja Ampat, Papua Barat. Kapal tersebut membawa 102 turis dan 79 ABK dan berbendera Bahama. Nakhodai kapal adalah Kapten Keith Michael Taylor. Setelah mengelilingi pulau untuk mengamati keanekaragaman burung serta menikmati pementasan seni, para penumpang kembali ke kapal pada siang hari tanggal 4 Maret 2017. Kapal pesiar itu hendak melanjutkan perjalanan ke Bitung, Sulawesi Utara. Ketika hendak melanjutkan perjalanan menuju pulau Bitung, Kapal MV Caledonian Sky kandas diatas terumbu karang di Selat Dampier, Raja Ampat.

Kapal Caledonian Sky berbendera Bahama ini menghantam terumbu karang berusia ratusan tahun itu dan menghancurkannya dalam satu hari saja. Tidak hanya itu, Kawasan Selat Dampier terdapat 50 titik selam ikonik, antara lain blue mangrove, eagle rock, manta point, dan cape kri. Catatan Pusat Penelitian Sumber Daya Laut Universitas Papua, kawasan terumbu karang yang rusak itu terdapat 8 genus terumbu karang. Di antaranya acropora, porites, montipora dan stylophora. Sayangnya, kapal itu, kabur ke Filipina. Pihak Caledonian Noble cuma menyerahkan ganti rugi ke pihak asuransi. Selayaknya kapal tersebut ditahan untuk sementara. Jangan sampai meninggalkan perairan Indonesia begitu saja, mengingat kerusakan yang dihasilkan begitu besar.

Terkait kejadian tersebut, pemerintah Indonesia membentuk tim bersama yang terdiri dari Kementerian Maritim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, Kejaksaan Agung, dan Polri. Tim itu nantinya akan menangani aspek hukum pidana dan perdata dalam kasus ini, termasuk bantuan timbal balik. Tim juga bertugas melakukan verifikasi kerusakan lingkungan dan keselamatan navigasi pada kapal.

Tiga pekan setelah kejadian, Pemerintah Indonesia merilis data kerusakan terumbu karang. Dari data yang diumumkan, diketahui luas kerusakan mencapai 18.882 meter persegi. Luas tersebut, terdiri dari 13.270 meter persegi luas kerusakan total dan sisanya adalah akibat hempasan pasir dan terumbu karang yang pecah karena gerak kapal. Kapal pesiar berukuran 90,6 x 15,3 meter itu sengaja memasuki daerah Cross Over Reef yang berada di sebelah utara Pulau Krey, Raja Ampat. Awalnya kapal asal Inggris ini masuk ke Pulau Krey sesuai arah yang sudah ditentukan. Namun keluar dari lokasi pulau itu justru tak sesuai dengan jalur yang sudah ada sebelumnya. Daerah Cross Over Reef di Raja Ampat merupakan daerah no take zone atau zona larang ambil yang sekaligus sebagai zona food security and tourism. Kawasan ini memang daerah yang tak bisa dilalui oleh kapal sebesar Caledonian Sky.

Kemenko Kemaritiman menjelaskan ada dua gradasi kerusakan. Pertama kerusakan akibat beban kapal saat kandas dan kedua karena hempasan pasir dan pecahan terumbu karang karena gerak kapal saat sedang ditarik keluar dari lokasi kandas. Dari dua gradasi kerusakan tersebut, kondisi terumbu yang mengalami kerusakan sedang, tingkat harapan hidupnya kini tinggal 50 persen saja. Prosentase tersebut, berasal dari gradasi kerusakan kedua yang luasnya mencapai 5.612 meter persegi.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan kapal pesiar MV Caledonian Sky memiliki teknologi pengukur kedalaman laut, oleh sebab itu, mengapa kapal pesiar bisa menabrak habitat terumbu karang di perairan Dangkal Raja Ampat. Budi juga mempertanyakan mengapa sang nahkoda bisa sampai tidak mengetahui mana jalur perairan yang boleh dilalui dan mana yang tidak. Semestinya nahkoda sudah memiliki gambaran mengenai jalur yang akan ditempuh dan mana jalur yang dihindari. Dalam tata laksana pelayaran, sebenarnya sudah diatur mana mereka bisa melakukan kegiatan, mana yang tidak. Bisa dipastikan nahkoda tidak mengikuti pola yang sudah diatur. Sang kapten diketahui pernah juga melakukan pelanggaran di perairan Indonesia, tepatnya di Kuala Tanjung (Sumatera Utara) di mana ia menyandarkan kapal tak sesuai aturan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan sudah memanggil Duta Besar Inggris Moazzam Malik untuk membahas kerusakan itu. Kementerian Kemaritiman menjelaskan butuh waktu 50 sampai 150 tahun untuk mengembalikan kondisi terumbu karang di Raja Ampat, Papua. Pihak otoritas Indonesia menyatakan kekesalan karena kapten kapal segera melanjutkan plesiran menuju Bitung, Sulawesi Utara, kemudian ke Filipina tanpa menunggu penilaian kerusakan yang disebabkan kapalnya.

Caledonia Noble telah mengaku bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan oleh kapal yang dioperasikannya dan menyatakan akan bekerja sama mencapai “penyelesaian yang adil dan realistis.” Namun orang Indonesia dan rakyat Papua belum mendengar kapten kapal Keith Michael Taylor menyatakan permintaan maaf atau penyesalan atas kerusakan yang dilakukan oleh tindakannya. Padahal menurut UU No 32 tahun 2009, selain ganti rugi, pelaku pengrusakan terumbu karang bisa dipidana.

Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) yang juga Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Budi S. Daryono, meminta pemerintah mengambil langkah serius menangani kerusakan ekosistem terumbu karang di Raja Ampat ini. Pasalnya, kerusakan tersebut telah menjadi bencana dan tragedi ekologi maritim nasional. Kepulauan Raja Ampat menjadi habitat dari 537 jenis karang dan menyumbang 75 persen jenis terumbu karang di dunia. Ekosistem terumbu karang di wilayah ini memiliki peran ekologis yang penting bagi habitat perairan dan manfaatnya bagi manusia. Kejadian rusaknya terumbu karang di Raja Ampat ini, disebutkan Budi, tidak hanya terkait dengan kedaulatan kemaritiman dan konservasi sumber daya hayati Indonesia saja. Peristiwa ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pembelajaran berharga bagi Indonesia.

Dirjen Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan Kementerian KLHK sudah mengantongi nilai gugatan sementara yang akan diajukan. Kompensasi ganti rugi yang direkomendasikan untuk diajukan kepada Nobel Celedonia sebesar USS 1,28-1,92 juta merupakan jumlah yang jauh dari cukup untuk mengganti kerusakan tersebut. Nobel Celedonia wajib merestorasi kembali terumbu karang yang rusak hingga pulih kembali fungsinya. Pemerintah menuntut biaya ganti rugi dan pemulihan sebesar Rp6 triliun atau kurang lebih 4,61 juta dolar AS. Sedangkan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman hingga saat ini belum mau membuka berapa nilai ganti rugi yang diminta kepada pihak asuransi. Menko Maritim Luhut Panjaitan mengatakan kedua belah pihak belum menyepakati nilai ganti rugi yang akan diterima.

Perlu menjadi catatan bersama, kerusakan karang yang terjadi di Raja Ampat tidak dapat diselesaikan hanya sekedar pada mekanisme ganti rugi. Terumbu karang memiliki kemampuan yang tinggi untuk menyerap dan menyimpan karbon. Terumbu karang berperan dalam mitigasi pemanasan global. Sehingga kerusakan terumbu karang dapat menyebabkan peningkatan pemanasan global. Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem pesisir yang mampu menyerap karbon sebanyak 65,7 juta ton/tahun.

Rusaknya terumbu karang di kawasan Selat Dampier, Kabupaten Raja Ampat, menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Indonesia dalam membuat dan memperbaiki regulasi untuk di wilayah perairan. Untuk itu, kawasan Raja Ampat dikaji untuk dijadikan sebagai kawasan laut sensitif (Particularly Sensitive Sea Areas/PSSA), karena di kawasan tersebut terdapat keunikan biota laut yang menjadi pusat terumbu karang segitiga dunia (CoralTriangleCenterI). PSSA adalah area yang memerlukan perlindungan khusus dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan ekologi perairan sekitarnya. Perlindungan tersebut diberikan, karena faktor-faktor tersebut sangat rentan merusak aktivitas maritim internasional.

Pelajaran lainnya adalah pemerintah hendaknya bersikap tegas dan taktis dalam menangani kasus kapal
MV Caledonian Sky. Untuk kasus reklamasi yang disinyalir menguntungkan pemilik modal dan merugikan kehidupan social nelayan, pemerintah pusat bertindak sangat cepat. Namun kasus yang jelas-jelas merusak kekayaan alam Indonesia, pemerintah terkesan lambat melakukan respon.

Sambil menunggu ganti rugi dari pihak asuransi dan perusahaan kapal MV Caledonian Sky, maka pemerintah perlu segera melakukan upaya rehabilitas terumbu karang dengan cara Transplantasi Terumbu Karang dan Biorock

Transplantasi Terumbu Karang merupakan salah satu upaya rehabilitasi terumbu karang yang semakin terdegradasi melalui pencangkokan atau pemotongan karang hidup yang selanjutnya ditanam di tempat lain yang mengalami kerusakan atau menciptakan habitat baru.
Transplantasi karang dapat dilakukan untuk berbagai tujuan yaitu :
• Untuk pemulihan kembali terumbu karang yang telah rusak
• Untuk pemanfaatan terumbu karang secara lestari (perdagangan karang hias)
• Untuk perluasan terumbu karang
• Untuk tujuan pariwisata
• Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan status terumbu karang
• Untuk tujuan perikanan
• Terumbu karang buatan
• Untuk tujuan penelitian.

Biorock adalah suatu proses deposit elektro mineral di dalam laut yang bisa juga disebut akresi mineral. Teknologi ini dikembangkan oleh Prof. Wolf H. Hilbertz, seorang arsitek berkebangsaan Jerman, tahun 1974. Tahun 1988, Prof. Wolf H. Hilbertz bertemu dengan ahli ekologi karang, Dr. Thomas J. Goreau dan mendirikan Global Coral Reef Alliance (GCRA) dan mulai melakukan riset untuk mengembangkan teknologi biorock dengan focus pada perkembangbiakan, pemeliharaan, dan restorasi terumbu karang serta struktur proteksi pesisir.

Biorock bekerja menggunakan proses elektrolisis air laut, yaitu dengan meletakkan dua elektroda di dasar laut dan dialiri dengan listrik tegangan rendah yang aman sehingga memungkinkan mineral pada air laut mengkristal di atas elektroda. Biorock dibentuk dengan menggunakan struktur ram besi non-galvanisasi sebagai katoda dan karbon, timah atau titanium sebagai anoda. Saat dialiri listrik, struktur biorock ini menimbulkan reaksi elektrolitik yang mendorong pembentukan mineral di struktur katoda. Mineral yang mengendap adalah kalsium karbonat dan magnesium hidroksida. Kedua mineral ini penting karena merupakan struktur dasar dari terumbu karang. Karena pengakresian mineral yang terjadi secara cepat, bibit terumbu karang yang ditanamkan ke struktur biorock dapat tumbuh secara cepat. Endapan mineral ini juga melekatkan struktur dengan dasar laut dan memperkuat struktur.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top