Kepercayaan diri atau Confidence Self | DR. Arif Zulkifli Nasution

Kepercayaan diri atau Confidence Self

Masalah pokok dari nasib manusia adalah kehilangan percaya diri untuk menentukan nasibnya sendiri. Orang Jawa mengatakan, siapa yang menanam dia akan menuai. Kalau orang menanam kebohongan, akan menuai kemunafikan. Kalo menanam kemalasan, maka akan menuai kemiskinan. Ungkapan ini sering dijadikan motivasi untuk memberi semangat orang yang jujur dan miskin. Kalau kita membaca referensi sejarah, banyak kejadian di dunia yang membuktikan kebenaran ini. Nenek moyangnya kaya raya dan berkuasa, tapi keturunannya dipandang rendah oleh masyarakat.

Orang yang bernasib baik adalah orang yang hidupnya tercukupi kebutuhannya, Dia mempunyai penghasilan yang cukup banyak, dalam arti melebihi pengeluarannya. Dia mendapat penghasilan dengan cara wajar, tidak korupsi, tidak menipu orang, tidak mengambil hak orang lain dan milik negara, tidak melanggar hukum, dan tidak merugikan siapa saja, Orang seperti ini hidupnya senang dan tentram, tidak ada rasa khawatir akan dapat masalah.

Orang bekerja bukan hanya untuk mendapatkan uang, yang lebih penting dari uang ialah punya harga diri, merasa bisa berbuat kebaikan kepada orang lain. Pedagang nasi pecel yang laris dagangannya merasa senang, tidak hanya karena mendapat banyak uang, tetapi ada rasa puas bahwa nasi pecelnya digemari banyak orang. Guru sekolah setelah usia tua tetap hidup pas-pasan dan sederhana, tetapi merasa puas melihat murid-murid yang pernah dididiknya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Manusia hidup itu perlu mempunyai kebanggaan. Ini contoh orang yang percaya terhadap dirinya sendiri

Kepuasan dan kebanggaan ini tidak akan diperoleh para koruptor dan pengusaha hitam. Kalau dia jiwanya masih normal, dia akan merasa kehilangan muka, memandang ke atas malu kepada Tuhan, melihat ke bawah takut kepada manusia. Orang jahat sudah tidak bisa melihat jalan lain yang lebih baik, yang dilihat hanyalah ada kesempatan untuk mendapat keuntungan besar, masalah lain dipikir belakang.

Seorang pedagang membuka toko, dia bekerja dari pagi sampai sore, setiap bulan hanya bisa menabung sepuluh sampai lima belas juta. Suatu hari diajak temannya berjudi, dalam semalam dia menang judi dua ratus juta. Besok malamnya berjudi lagi dengan harapan menang lebih banyak, dia menang lagi seratus juta. Tiap malam dia berjudi karena pendapatannya dari buka toko tidak sebanyak pendapatannya dari menang berjudi. Dia mulai malas membuka toko. Biasanya membuka toko jam lima pagi, sekarang jam Sembilan baru membuka toko. Pelanggannya berkurang, semangat membuka tokonya mulai menghilang. Dia masih rajin berjudi, sering kalah dan tabungannya semakin habis, Tidak sampai tiga bulan hartanya ludes, toko dan rumahnya dijual, dia menjadi pengangguran, ini contoh orang yang tidak percaya nasib sendiri.

Menurut Bandura (1997), kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Kepercayaan diri sering diidentikkan dengan kemandirian, meski demikian individu yang percaya dirinya tinggi pada umumnya lebih mudah untuk terlibat secara pribadi dengan individu yang lain dan akan lebih berhasil dalam menjalin hubungan secara interpersonal (Goods & Kiper, dalam Bunker dkk. (1983).

Lauster menambahkan definisi kepercayaan diri sebagai keyakinan dan kemampuan diri sendiri sehingga tidak mudah terpengaruh oleh orang lain (Kristanti, 2005). Hal ini dapat berarti bahwa jika kepercayaan diri yang dimiliki oleh individu tersebut merupakan kepercayaan diri yang positif dan baik maka individu tersebut akan merasa yakin dengan kemampuan dirinya sendiri, sehingga tidak memerlukan bantuan dari orang lain dan tidak terpengaruh oleh orang lain dalam setiap tindakan yang dilakukannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Aspek-aspek Kepercayaan Diri
Aspek-aspek kepercayaan diri yang digunakan memiliki kesamaan dengan ciri-ciri yang terdapat pada teori Lauster (dalam Ismayati, 2003) adalah:
a. Cinta diri
Orang yang percaya diri, mencintai diri sendiri dan cinta dari bukanlah sesuatu yang disediakan bagi orang lain. Cinta diri sendiri merupakan perilaku seseorang untuk memelihara diri.
b. Pemahaman diri
Orang yang percaya tidak hanya merenungi, memikirkan perasaan dan perilaku diri sendiri. Orang yang percaya diri selalu berusaha ingin tahu bagaimana pendapat orang lain tentang diri sendiri.
c. Tujuan hidup yang jelas
Orang yang percaya diri selalu tahu tujuan hidupnya disebabkan punya pikiran yang jelas mengapa melakukan tindakan tertentu dan tahu hasil apa yang bisa diharapkan.
d. Berpikir positif
Orang yang percaya diri biasanya menyenangkan karena bisa melihat kehidupan dari sisi yang cerah serta mencari pengalaman dan hasil yang bagus.

Sumber-Sumber Percaya Diri
Bandura (1986) menjelaskan bahwa percaya diri individu didasarkan pada empat hal, yaitu:
a. Pengalaman akan kesuksesan
Pengalaman akan kesuksesan adalah sumber yang paling besar pengaruhnya terhadap keyakinan diri individu karena didasarkan pada pengalaman otentik.
Pengalaman akan kesuksesan menyebabkan keyakinan diri individu meningkat, sementara kegagalan yang berulang mengakibatkan menurunnya keyakinan diri, khususnya jika kegagalan terjadi ketika keyakinan diri individu belum benar-benar terbentuk secara kuat. Kegagalan juga dapat menurunkan keyakinan diri individu jika kegagalan tersebut tidak merefleksikan kurangnya usaha atau pengaruh dari keadaan luar.
b. Pengalaman individu lain
Individu tidak bergantung pada pengalamannya sendiri tentang kegagalan dan kesuksesan sebagai sumber keyakinan dirinya. Keyakinan diri juga dipengaruhi oleh pengalaman individu lain. Pengamatan individu akan keberhasilan individu lain dalam bidang tertentu akan meningkatkan keyakinan diri individu tersebut pada bidang yang sama. Individu melakukan persuasi terhadap dirinya dengan mengatakan jika individu lain dapat melakukannya dengan sukses, maka individu tersebut juga memiliki kemampuan untuk melakukanya dengan baik. Pengamatan individu terhadap kegagalan yang dialami individu lain meskipun telah melakukan banyak usaha menurunkan penilaian individu terhadap kemampuannya sendiri dan mengurangi usaha individu untuk mencapai kesuksesan. Ada dua keadaan yang memungkinkan keyakinan diri individu mudah dipengaruhi oleh pengalaman individu lain, yaitu kurangnya pemahaman individu tentang kemampuan orang lain dan kurangnya pemahaman individu akan kemampuannya sendiri.
c. Persuasi verbal
Persuasi verbal dipergunakan untuk meyakinkan individu bahwa individu memiliki kemampuan yang memungkinkan individu untuk meraih apa yang diinginkan.
d. Keadaan fisiologis
Penilaian individu akan kemampuannya dalam mengerjakan suatu tugas sebagian dipengaruhi oleh keadaan fisiologis. Gejolak emosi dan keadaan fisiologis yang dialami individu memberikan suatu isyarat terjadinya suatu hal yang tidak diinginkan sehingga situasi yang menekan cenderung dihindari. Informasi dari keadaan fisik seperti jantung berdebar, keringat dingin, dan gemetar menjadi isyarat bagi individu bahwa situasi yang dihadapinya berada di atas kemampuannya.

Teknik-teknik Membangkitkan Percaya Diri
1. Berani menerima tanggung jawab
Salah satu kunci untuk menumbuhkan rasa percaya diri yaitu berani menerima resiko dampak atau akibat yang akan terjadi. Gerald Kushel, Ed.D., direktur The Institute of Effective Thinking , pernah mengadakan penelitian terhadap sejumlah manajer. Dari penelitian tersebut, Kushel menyimpulkan bahwa ia menemukan sifat terpenting yang dimiliki oleh hampir semua manajer yang memiliki kinerja tinggi.
Dan sifat tersebut adalah rasa tanggung jawab yang mendorong mereka untuk tampil maksimal tanpa peduli pada hambatan apapun yang menghadangnya. Sebaliknya, manajer yang berkinerja buruk dan gagal mencapai kapasitas maksimumnya cenderung melimpahkan kesalahannya pada siapa saja.
2. Kembangkan nilai positif.
Jalan menuju kepercayaan diri akan semakin cepat manakala kita mengembangkan nilai-nilai positif pada diri sendiri. Menurut psikolog Robert Anthony, PhD., salah satu cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif adalah dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan yang mematikan dan menggantinya dengan ungkapan-ungkapan kreatif. Dia menganjurkan membuat peralihan bahasa yang sederhana tapi efektif dari pernyataan negatif ke pernyataan positif. Misalnya, mengganti kata, “Saya tidak bisa,” menjadi, “Saya bisa!”
3. Bacalah potensi diri.
Segeralah lacak, gali, dan eksplorasi potensi sukses yang ada pada diri kita. Misalnya dengan bertanya kepada orang-orang terdekat. Termasuk juga mengikuti psikotes dan mendatangi para ahli seperti psikiater, dokter bahkan kiai untuk melacak potensi kita. Karena bisa jadi sangat banyak potensi yang kita miliki tanpa kita sadari, sehingga tidak berhasil kita gali.
4. Berani mengambil risiko.
Keberanian dalam mengambil risiko ini penting, sebab daripada menyerah pada rasa takut alangkah lebih baik belajar mengambil risiko yang masuk akal. Cobalah menerima tantangan, kendati terasa menakutkan atau menciutkan hati. Cari dukungan sebanyak mungkin.
Dengan melakukan hal ini, kita akan mendapat banyak peluang yang tak ternilai harganya. Namun jangan lupa, ketika mencoba sesuatu kita harus siap dengan hasil yang sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan.
Kalau hasilnya tak sesuai dengan keinginan, bisa jadi itulah yang terbaik menurut Tuhan. Kalau kita sudah mencoba, maka niatnya saja sudah menjadi amal. Orang yang gagal adalah orang yang tak pernah berani mencoba. Bukankah menaiki anak tangga kelima puluh harus diawali dengan tangga pertama.
5. Tolaklah saran negatif .
Bisa jadi, tidak semua orang di sekitar kita memberikan dorongan, dukungan, dan bersikap positif pada kita. Sebagian dari orang yang ada di sekitar kita mungkin berpikiran negatif. Hal inilah yang tak jarang malah melunturkan rasa percaya diri kita dengan mempertanyakan kemampuan, pengalaman, dan aspirasi-aspirasi kita.
Dengan demikian, mungkin ada baiknya jika kita sedikit mengambil jarak dengan sebijak mungkin bila ada pihak-pihak yang mencoba melunturkan kepercayaan diri kita.
6. Ikuti saran positif.
Rasa percaya diri merupakan sifat “menular”. Artinya, jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki cara pandang positif, bersemangat, optimis, dan sebagainya, maka kita memiliki kecenderungan untuk meniru sifat tersebut.
Karena itu, carilah lingkungan yang bisa memotivasi kita untuk sukses. Kita harus mulai senang bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk bangkit. Bergaul dengan orang-orang yang percaya diri akan berbeda dibandingkan bergaul dengan orang-orang yang gagal. Sebab bergaul dengan orang-orang yang percaya diri, Insya Allah semangatnya akan menular kepada diri kita.
7. Jadikan keresahan sebagai kawan .
Banyak peristiwa atau saat-saat dalam kehidupan yang dapat membuat kita mengalami rasa cemas atau gelisah. Akibatnya, kita mengalami krisis percaya diri. Saat itulah kita harus mulai mengingatkan diri sendiri bahwa rasa cemas dan gelisah merupakan kawan. Tingkatkan energi, tajamkan kecerdasan, tinggikan kewaspadaan, dan kembangkan pancaindera. Daripada menyia-nyiakan energi untuk kecemasan yang sia-sia, lebih baik menghadapi tantangan itu secara tegas dan efektif.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top