Kemiskinan dan Sosialisme atau Poverty and Socialism | DR. Arif Zulkifli Nasution

Kemiskinan dan Sosialisme atau Poverty and Socialism

Sosialisme Lahir Dari Rahim Kemiskinan Namun Bukan Tempat Yang Cocok Untuk Orang Kaya dan Kreatif

I. Definisi Sosialisme

Sosialisme adalah paham yang mencoba mengoreksi paham kapitalisme yang lebih dahulu lahir. Kalau kapitalisme lebih dikonotasikan keserakahan, karena alat-alat produksi bebas dikuasai segelintir orang, maka sosialisme ingin mengoreksi dengan jalan menguasai sarana-sarana produksi serta pembagian hasil produksi secara merata.

Sosialisme pada awalnya muncul di Perancis sebagai reaksi atas liberalisme, kemudian masuk ke Inggris dan akhirnya dikembangkan oleh Karl Marx, dan Frederich Engels. Hasil pemikiran kedua tokoh ini dituangkan dalam bukunya yang disebut Das Kapital. Ajaran Karl Marx terkenal dengan nama Marxisme. Marxisme menjadi mata air utama bagi sosialisme itu sendiri. Sosialisme sebagai ideology politik timbul dari keadaan yang kritis di bidang sosial, ekonomi dan politik akibat revousi industri . Adanya kemiskinan, kemelaratan, kebodohan kaum buruh, maka sosialisme berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan secara merata.

Dalam kacamata Sosialisme, tidak mungkin terdapat orang yang sangat kaya sementara terdapat banyak orang miskin. Hal tersebut merupakan suatu penghisapan kaum kaya terhadap orang miskin. Hal ini dimungkinkan karena struktur masyarakat yang terbentuk memungkinkan penghisapan tersebut yakni melalui sistem kapitalisme.

Dalam sistem ini, persaingan bebas dilakukan sementara keadaan dan posisi setiap orang berbeda. Para pemilik modal (yang sedikit jumlahnya sehingga mahal harganya) memperoleh keuntungan yang lebih banyak dibandingkan para pemilik tenaga kerja (yang banyak jumlahnya sehingga murah harganya). Nilai tenaga kerja diukur bukan berdasarkan nilai intrinsiknya, tetapi dari nilai pasarnya. Maka Kapitalisme sering disebut sebagai sistem dimana “modal membuahkan modal”. Seberapapun kerasnya para pemilik tenaga kerja berusaha, tetap akan kalah dari pemilik modal dalam sistem pasar bebas tersebut. Oleh karena itulah sistem pasar bebas terus disebar-luaskan dan dilindungi keberadaanya oleh para kaum kapitalis karena dalam sistem itulah mereka dapat memperoleh keuntungan besar meskipun dengan cara menghisap para pemilik tenaga kerja.

Sistem pasar bebas itu hanya menguntungkan orang yang kuat (kaya) dan merugikan yang lemah (miskin), termasuk juga dalam hubungan antarnegara. Negara yang kuat seperti AS menginginkan dilaksanakan pasar bebas di seluruh dunia (termasuk Indonesia) karena itu akan menguntungkan produk negaranya. Negara miskin hanya dapat menjual bahan mentah dan produk-produk kecil yang nilai tambahnya sedikit, sementara negara kaya dapat menjual barang-barang berteknologi canggih dengan nilai tambah yang besar. Bila produk yang dijual sama sekalipun, negara kaya dapat menjual dengan harga yang lebih murah.. Sistem ini akan menjadikan yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan tetap miskin, atau paling banyak lebih baik sedikit kehidupannya.

Dua puluh tahun yang lalu, kaum borjuis menjanjikan kepada seluruh dunia akan kedamaian dan kemakmuran. Semua imajinasi borjuis itu hari ini telah menjadi sirna. Tak satu pun perspektif dari para ahli strategi modal yang tertinggal. Pemulihan ekonomi yang dikerjakan sangat rapuh dan berpotensi runtuh dalam waktu yang singkat karena peristiwa-peristiwa tak terduga, seperti transaksi di wall street, kenaikan harga minyak atau ulah spekulan mata uang.

Kebobrokan kapitalisme juga bisa kita lihat dengan adanya berbagai perang, terorisme, kekacauan, dan ketidakstabilan. Kapitalisme gagal menciptakan dunia yang damai dan makmur. Konstruksi ekonomi, politik, dan tata sosial yang dibangunnya bergerak anarkis, berlumuran darah dan bersimbah minyak. Kapitalisme memang berhasil menjadi pemenang peradaban sekarang, tetapi bukan peradaban yang bisa menjadi contoh bagi berbagai generasi.

Sosialisme adalah pandangan hidup dan ajaran kamasyarakatan tertentu, yang berhasrat menguasai sarana-sarana produksi serta pembagian hasil-hasil produksi secara merata. Sosialisme sebagai ideology politik adalah suatu keyakinan dan kepercayaan yang dianggap benar oleh para pengikutnya mengenai tatanan politik yang mencita-citakan terwujudnya kesejahteraan masyarakat secara merata melalui jalan evolusi, persuasi, konstitusional –parlementer, dan tanpa kekerasan.

Sosialisme sebagai ideology politik timbul dari keadaan yang kritis di bidang sosial, ekonomi dan politik akibat revousi industri . Adanya kemiskinan, kemelaratan, kebodohan kaum buruh, maka sosialisme berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan secara merata.

Cirri-ciri sosialisme adalah

1. Sosialisme mendasarkan daya tariknya pada dua hal, yaitu: pemerataan sosial dan penghapusan kemiskinan. 2. Pembatasan pemilikan kekayaan pribadi 3. Program bantuan terhadap yg lemah dari pemeritah 4. Kelas-kelas sosial dihapuskan secara perlahan

Dalam perkembangan sosialisme terdiri dari pelbagai macam bentuk seperti sosialisme utopia, sosialisme ilmiah yang kemudian akan melahirkan pelbagai aliran sesuai dengan nama pendirinya atau kelompok masyarakat pengikutnya seperti Marxisme-Leninisme, Febianisme,dan Sosial Demokratis.

Sosialis-utopis berawal dari harapan para tokoh sosialis akan adanya sebuah pulau/Negara, yang semua milik merupakan milik bersama, semua orang tinggal di tempat yang sama dimana makanan serta kebutuhan lainnya disediakan secara bersama-sama. Orang tidak perlu bekerja mati-matian, melainkan cukup sekedar memenuhi kebutuhan primer. Uang di anggap tidak perlu,pakaian seragam serta pemeritah dijalankan secara demokratis.

Sosialisme yang ada disetiap negara memiliki ciri khas sesuai dengan kondisi sejarahnya. Dalam sosialisme tidak ada garis sentralitas dan tidak bersifat internasional. Sosialisme di negara-negara berkembang mengandung banyak arti. Sosialisme berarti cita-cita keadilan sosial; persaudaraan; kemanusiaan dan perdamaian dunia yang berlandaskan hukum; dan komitmen pada perencanaan.

Di negara-negara Barat (lebih makmur) sosialisme diartikan sebagai cara mendistribusikan kekayaan masyarakat secara lebih merata sedangkan di Negara berkembang sosialisme diartikan sebagai cara mengindustrialisasikan Negara yang belum maju atau membangun suatu perekonomian industri dengan maksud manaikkan tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat.

II. Hugo Chavez, ikon sosialisme abad 21

Bocah bernama Hugo Rafael Chavez Frias lahir pada 28 Juli 1954 di Desa Sabaneta yang terletak di wilayah pedalaman. Keluarga Chavez merupakan keluarga miskin, namun Chavez berhasil menjadi pemimpin sosialis dan membawa perubahan di Venezuela. Putra dari Hugo de los Reyes Chavez dan Elena Frias de Chavez itu dilahirkan di rumah neneknya sendiri, Rosa Inez Chavez. Darah Indian Amerika, Afro-Venezuela dan Spanyol mengalir di tubuh Chavez. Dan seperti diketahui, Chavez merupakan putra kedua dari tujuh bersaudara.

Meski hidup di garis kemiskinan, Chavez tumbuh besar dengan cukup bahagia. Dalam buku berjudul, “Hugo! The Hugo Chávez Story from Mud Hut to Perpetual Revolution” yang ditulis oleh Jones Bart pada 2007 silam, Chavez sudah berpengalaman dalam menghadapi kesulitan, termasuk di antaranya adalah sulit makan. Di usianya yang ke-17, Chavez memutuskan untuk melanjutkan studinya di Akademi Militer Venezuela. Pada saat itu, Chavez pun cukup giat dalam menekuni hobinya yaitu bermain kasti, menulis cerpen, puisi, bermain teater, dan melukis. Bersamaan dengan itu, Chavez mulai mempelajari ideologi politik Simon Bolivar yang merupakan tokoh idolanya. Chavez juga membaca Buku Harian Che Guevara.

Lama kelamaan, ideologi sosialis makin menguat di diri Chavez. Chavez terus mendalami paham-paham politik yang diusung Karl Marx, Vladimir Lenin dan Mao Tse Tung. Salah satu buku favorit Chavez adalah “The Times of Ezequiel Zamora.” Pada 1977, Chavez membentuk sebuah gerakan revolusioner bernama Pasukan Pembebasan Rakyat Venezuela (ELPV). Gerakan itu merupakan gerakan rahasia yang digerakkan Chavez beserta pendukungnya. Demikian, seperti diberitakan Uhuru News, Rabu (6/3/2013).

Sebelum Chavez menjadi presiden dan belum ada UU baru yang di antaranya berisi undang-undang antimonopoli dan keharusan perusahaan minyak asing memberikan sebagian besar sahamnya kepada negara — untuk tidak menyebutkan nasionalisasi – 28 juta rakyat Venezuela sebagian besar hidup dalam kemiskinan. Padahal, produksi minyak dari perut bumi Venezuela mencapai 3 juta barel perhari, atau lebih dari tiga kali lipat produksi minyak Indonesia yang berpenduduk 10 kali lipatnya. Dengan hasil minyak sebesar itu, sangat ironis jika pengagguran di Venezuela mencapai lebih dari 10% dan 37% rakyatnya (sepertiga populasi) hidup dalam kemiskinan

Awal 1990-an krisis ekonomi mulai meluas. Harga barang melambung, utang negara menggunung, dan tingkat suku bunga perbankan melejit. Krisis ekonomi Venezuela benar-benar telah menghancurkan kehidupan rakyat di negeri petro dolar itu. Dalam kondisi inilah, muncul keinginan masyarakat untuk menantang neoliberalisme dan menggantinya dengan sosialisme. Dan Chavez berdiri di baris paling depan untuk mengenyahkan neoliberalisme tadi. Kondisi inilah yang menjadikan Chavez menentang Washington.

Hugo Chavez memegang tampuk kekuasaan Venezuela setelah memenangi pemilihan tahun 1998. Sesaat setelah terpilih, Chavez memperkenalkan kebijakan ekonomi baru yang disebut “socialism of the 21st century” yang, sebagaiaman tertulis dalam pasal 299 konstitusi menekankan pada prinsip-prinsip keadilan sosial, demokratisasi, efisiensi, persaingan bebas, perlindungan lingkungan, produktivitas dan solidaritas, dengan maksud untuk memastikan pembangunan manusia secara keseluruhan dan eksistensi yang bermartabat dan bermanfaat bagi masyarakat (http://venezuela-us.org, 2012). Chavez mengimplementasikan kebijakan ini melalui serangkaian reformasi meliputi nasionalisasi beberapa industri kunci (industri minyak, perbankan, telekomunikasi, baja, semen), kontrol harga, reformasi lahan, dan program sosial.

Chavez memilih cara klasik: menaikkan permintaan agregat. Artinya, negara mengeluarkan banyak anggaran untuk sektor-sektor pembangunan padat karya sehingga meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan per kapita. Perusahaan swasta dapat untung juga karena saat konsumsi meningkat (faktor yang sangat bergantung pada pendapatan per kapita), permintaan akan barang dan jasa juga meningkat. Akhirnya produksi terdongkrak.

Di samping itu, meningkatnya anggaran dana sosial sangat membantu masyarakat miskin. Politik sosial seperti ini memberi warna khusus bagi Chávez, karena mayoritas orang miskin di banyak negara maju sekalipun tak disentuh kebijakan ekonomi pemerintah.

Chavez menyebut reformasi ini sebagai kebijakan anti-imperialisme dan kapitalisme laissez-faire yang dimotori AS dan sekutunya. Venezuela yang merupakan negara kaya minyak dengan tingkat kemiskinan dan ketidakmerataan yang tinggi harus diubah ke arah kebijakan yang pro kaum miskin. Meskipun sebenarnya Chavez masih meyakini kapitalisme sebagai model ekonomi yang baik untuk Venezuela, tetapi bukan kapitalisme neo-liberal ala AS yang diterapkan pemerintahan sebelumnya. Lewat serangkaian kebijakannya, Chavez bersikeras ingin membuktikan pendiriannya bahwa pertumbuhan ekonomi bisa dicapai tanpa harus mengadopsi model ekonomi neo-liberalisme dan pasar bebas yang ia tuding sebagai penyebab tragedi besar yang menimpa dunia ketiga (http://venezuelanalysis.com, 2005). Langkah ini bertujuan untuk memberikan pelayanan publik demi memperbaiki kondisi ekonomi, budaya, dan sosial Venezuela. Untuk mencapainya Chavez merumuskan reformasi kebijakan ekonomi baik luar dan dalam negeri.

Venezuela adalah eksportir minyak terbesar di belahan bumi barat dan terbesar ke-10 di dunia, dengan memproduksi 2,8 juta barel per hari. Meskipun pendapatan minyak membentuk 94 persen dari ekspor dan 30 persen dari PDB, produksi minyak telah menurun hingga seperempatnya sejak tahun 2001 dan hampir setengah sejak sebelum Chavez berkuasa. BBM di Venezuela adalah yang termurah di dunia dengan harga hanya 18 sen per galon atau 12 pence, dibandingkan dengan sekitar US$ 3,75 per galon di Amerika Serikat dan US$ 10 per galon di Inggris. BBM murah telah menyebabkan lompatan 30 persen dalam konsumsi dan permintaan melampaui pasokan sehingga untuk setiap 10 barel yang diekspor ke Amerika Serikat, dua barel harus diimpor dengan harga yang lebih tinggi.

Dalam melaksanakan program-program reformasinya, Chavez mengandalkan pada pemasukan dari produksi minyak, yang merupakan kunci dari ekonomi Venezuela. Sejak pemerintah mengambil alih kontrol industri minyak nasional (PDVSA) tahun 2003, Venezuela mampu memaksimalkan pendapatan dari sektor minyak untuk menumbuhkan perekonomian negara. Berdasarkan data dari Weisbrot & Sandoval (2007), penerimaan negara dari minyak meningkat dari 51% dari total pendapatan pada tahun 2000 menjadi 56% pendapatan tahun 2006. Ekspor minyak ikut tumbuh dari 77% pada tahun 1997 naik ke angka 89% pada tahun 2006.

Dengan senjata minyak yang telah “dinasionalisasinya” Chavez kemudian menawarkan minyak dengan harga murah kepada warga Eropa berpenghasilan rendah untuk membantu mereka melewatkan musim dingin. Chavez menyampaikan tawaran itu dalam pidato di hadapan ribuan aktivis sayap-kiri di Wina tahun 2007. Kepada para aktivis muda anti-neoliberalisme yang berkumpul di Wina, Chavez mengatakan: masyarakat dunia kini harus bersatu untuk mendorong perubahan sosial di Eropa. Kaum sosialis dunia harus bersatu melawan Amerika dan Sekutunya. Dalam rangka terciptanya dunia yang multipolar ini pula Chavez mendorong terbentuknya komunitas Amerika Latin dan menganjurkan perlawanan terhadap neo-liberalisme. Untuk menggalang gerakan antineolib ini, Chavez memelopori pembangunan stasiun penyiaran TV Amerika Latin yang diberi nama Telesur yang kantor pusatnya di Caracas, ibu kota Venezuela. TV Telesur inilah yang kemudian menjadi corong untuk menyebarkan gagasan Chavez dalam membentuk masyarakat sosialis di Amerika Latin, meneruskan gagasan pahlawan sosialis Simon Bolivar. Dengan kata lain, gagasan Simon Bolivar yang kemudian disebut Bolivarisme inilah yang menjadi pegangan Chavez untuk membangun masyarakat sosialis Amerika Latin.

Melihat kebijakan-kebijakan pemerintahan Chavez yang progresif revolusioner, pihak oposisi (pro-kapitalis) melakukan segala daya upaya untuk menggulingkan pemerintahan demokratis di bawah kepemimpinan Chavez. Puncaknya terjadi pada tahun 2002 dimana pihak oposisi melakukan kudeta. Mereka menobatkan pemimpin Fedecamaras (Federasi Bisnis Venezuela), Pedro Carmona, sebagai Presiden Venezuela. Selain itu kelompok oposisi juga menyerang kelompok-kelompok pro-Chavez. Bahkan mereka juga menyerang kedutaan besar Kuba di Caracas, ibukota Venezuela .

Hanya dalam hitungan beberapa belas jam kudeta tersebut dapat dipatahkan. Kelompok-kelompok pro-Chavez memainkan peran yang sangat penting untuk membela Revolusi Bolivarian. Jutaan rakyat miskin turun ke jalan dan mengepung istana presiden yang dikuasai Pedro Carmona. Sehingga memaksa Carmona melarikan diri. Sehingga terhitung sejak 14 April 2002 Presiden Hugo Chavez dapat kembali menempati posisinya sebagai Presiden Venezuela. Namun di sisi lain pihak oposisi masih terus berusaha untuk melemahkan pemerintahan Chavez dengan cara melakukan pemogokan di perusahaan minyak milik pemerintah yaitu PDVSA. Para pekerja PDVSA yang berasal dari tingkat manajerial menghentikan proses produksi, sehingga jumlah produksi PDVSA berkurang hingga mencapai 1 juta barel/hari. 40 sumur minyak berhenti beroperasi dan minyak menjadi langka di Venezuela. Peristiwa ini memberi pukulan keras terhadap pemerintahan Chavez dan juga massa rakyat.

Untuk meningkatkan gizi anak-anak usia sekolah, pada tahun 1999 pemerintahan Chavez membuat program makanan tambahan bagi anak sekolah yang dinamakan Programa Alimenticio Escolar (PAE). Melalui program itu anak-anak sekolah mendapatkan sarapan, makan siang, dan makanan ringan (snack) gratis dari pemerintah. Program ini pada tahun 1999 mampu dinikmati sekitar seperempat juta anak sekolah di Venezuela dan dari tahun ke tahun jumlah itu semakin meningkat.

Untuk kebijakan ekonomi domestik, Chavez menempatkan program sosial sebagai prioritas utama kebijakan untuk mengurangi kemiskinan. Misalnya pada tahun 2003, pemerintah Venezuela menciptakan Misi Mercal -toko yang disubsidi negara- yang menjual makanan pokok 39% di bawah harga pasar, dan mencoba untuk membeli 40% dari keseluruhan produk domestik berskala kecil dan menengah untuk didistribusikan kepada masyarakat miskin. Pada tahun 2006, terdapat sekitar 15,726 toko bersubsidi yang beroperasi di seluruh negeri (Weisbrot & Sandoval, 2007). Selain itu, pemerintah menciptakan 6.000 dapur umum, yang bersama-sama dengan Mercal membentuk 22% dari distribusi pangan nasional. Di samping juga pemerintah menciptakan program kredit mikro untuk kaum miskin. (Kozloff, 2007).

Untuk mengatasi masalah pendidikan itu, Chavez membuat program melek huruf yang dinamakan Mission Robinson. Program itu mulai berjalan di tahun 2003. Alhasil tingkat kemampuan membaca dan menulis massa rakyat Venezuela naik menjadi 93,8% untuk kaum pria dan 93,1% untuk kaum wanita. Dan saat ini pemerintah Venezuela membebaskan biaya pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) sampai Universitas bagi massa rakyat miskin.

Untuk menjamin kesediaan pangan bagi kaum miskin, mulai dari tahun 2003 pemerintahan Chavez memulai program Mercal yang ditujukan untuk menyediakan bahan-bahan makanan yang murah dan berkualitas bagi massa rakyat. Pemerintah menunjuk toko-toko sembako tertentu yang tersebar di seluruh penjuru Venezuela, terutama di daerah yang miskin sebagai agen untuk mendistribusikan bahan-bahan makanan itu. Pada tahun 2003, bahan-bahan makanan yang sudah terjual melalui toko-toko itu mencapai 45.662 metrik ton dan jumlah itu semakin meningkat menjadi 1,25 juta metrik ton di tahun 2008.

Dalam upaya untuk menekan inflasi dan melindungi orang miskin, pemerintah Venezuela mengontrol harga sekitar 400 makanan pokok, dan menetapkan kuota produksi minimum untuk 12 makanan pokok, termasuk nasi putih, minyak goreng, kopi, gula, susu bubuk, keju, dan saus tomat (Kozloff, 2007). Untuk mencegah pelarian modal dan memelihara stabilitas bolivar (mata uang Venezuela), pemerintahan Chavez memberlakukan kontrol ketat mata uang pada Januari 2003. Kontrol ini memaksa investor Venezuela untuk lebih mencari peluang investasi dalam negeri, ketimbang investasi asing. Kebijakan ini sukses meningkatkan cadangan mata uang asing Venezuela, yang mencapai $ 35 miliar pada tahun 2006, setara dengan Kanada (Kozloff, 2007). Singkatnya, sejak pemerintahan Chavez, semua rakyat Venezuela memiliki akses murah atau bahkan gratis ke layanan kesehatan, makanan, perumahan, perlindungan sosial, dan pendidikan.

Menyangkut anggaran dana sosial, negara-negara sosial demokrasi Eropa tak bisa menyaingi Venezuela, yang mengalokasikan 60 persen dari total produk domestik bruto. Sebanyak 14 juta penduduk mendapat subsidi pangan, dan tahun ini 61 persen penduduk membeli pangan di pusat- pusat perbelanjaan milik negara. Selama 2011, Chávez menyerahkan 146.022 rumah kepada penduduk paling miskin.

Terlepas dari krisis ekonomi global dan instabilitas politik domestik tahun 2002-2003, Venezuela pada masa berikutnya mencatat tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, mencapai 96 %, dengan GDP per kapita naik tajam hingga lebih dari 96% dari 7,5 miliar Bolivares pada tahun 2003 menjadi 14,83 tahun 2008 dan kemudian 15,17 tahun 2012 (Weisbrot & Johnston, 2012). Selama 10 tahun terakhir, GDP Venezuela naik menjadi $ 300 miliar dari $ 100 miliar di masa sebelum Chavez (http://venezuela-us.org, 2012). Sedangkan tingkat inflasi rata-rata sepanjang dekade 1990-an adalah 47,44 %, sementara di bawah pemerintahan Chavez dekade 2000-an turun menjadi 23,96 % (IMF, 2011).

Tingkat pertumbuhan yang tinggi, diikuti dengan turunnya tingkat kemiskinan Venezuela. Sebagai salah satu akibat mengikuti resep ekonomi IMF tahun 1989, persentase rakyat Venezuela yang hidup dalam kemiskinan anjlok dari 43,9% menjadi 66,5%. Tren ini terus bertahan hingga masa pemerintahan Chavez. Selama 1 dekade lebih pemerintahannya, Chavez berhasil menurunkan tingkat kemiskinan Venezuela dari 55,4% tahun 1998 menjadi 33,2% tahun 2011. Sementara angka kemiskinan absolut turun drastis dari 24,7 % tahun 1998 ke angka 8,9 % tahun 2011 (Weisbrot & Johnston, 2012). Pencapaian ini menempatkan Venezuela berada di jajaran 5 besar ekonomi di kawasan Amerika Latin (http://venezuela-us.org, 2012).

Sosialisme yang telah dianggap mati oleh Fukuyama melalui bukunya “the end of history”, ternyata masih hidup di tangan Chavez. Dan Chavez telah membuktikannya dengan mengguyurkan uang (dari minyak bumi hasil nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing) kepada rakyat miskin dengan menggratiskan sekolah, perawatan rumah sakit, dan memberikan berbagai fasilitas murah untuk kemajuan mereka .

Salah satu sukses terbesar Chavez adalah keberhasilannya mengurangi kemiskinan. Dalam satu dekade pemerintahannya, Chavez berhasil mengurangi kemiskinan hingga 48% dan memangkas kemiskinan esktrem hingga 20%. Pengangguran turun dari 20% menjadi di bawah 7%. Tidak kurang dari 20 perguruan tinggi baru dibangun dalam 10 tahun terakhir. Jumlah guru meningkat dari 65.000 menjadi 350.000 orang. Buta huruf berhasil diberantas. Dalam 6 tahun, 19.840 tunawisma mengikuti program khusus dan praktis tidak ada lagi anak-anak yang hidup di jalanan.

Pada rangking Indeks Pembangunan Manusia (HDI) yang dikeluarkan oleh United Nations Program for Development (UNDP), Venezuela terus menunjukkan peningkatan dari rangking 83 pada tahun 2000 (0,656) menuju rangking 73 pada tahun 2011 (0,735), dan dikategorikan dalam negara-negara dengan indeks HDI tinggi.

Indeks Gini Venezuela, yang mengukur ketimpangan pendapatan, memperlihatkan terjadi penurunan dari 0,46 pada tahun 1999 menjadi 0,39 pada tahun 2011.

Hugo Chavez menjadi presiden Venezuela sejak Februari 1999. Dia meninggal dunia pada 5 Maret 2013 di usia 58 tahun setelah dua tahun berperang melawan penyakit kanker yang diidapnya.

Pemerintahan Chavez juga mengirimkan 227 juta galon minyak murah ke rumah tangga miskin di AS—setara dengan 465 juta US Dollar. Proyek yang disponsori oleh Citgo Petroleum, anak perusahaan minyak Venezuela di Amerika, ini telah memberi manfaat kepada 2 juta rakyat Amerika Serikat.

Ketika New Orleans, salah satu kota di AS, dihantam badai Katrina, Chavez mengirim makanan dan air. Tak hanya itu, pemerintahan Chavez juga mengirim ribuan tentara, pemadam kebakaran, dan sukarelawan untuk membantu rakyat di sana.

Chavez juga punya program PetroCaribe, yang menjual minyak dengan harga sangat murah ke negara-negara Amerika latin dan Karibia. Misi kemanusiaan Venezuela juga ada Haiti dan berbagai negara lain di berbagai belahan dunia.

Presiden Majelis Umum Vuk Jeremic dalam pidatonya mengucapkan belasungkawa atas nama Majelis Umum maupun pribadi kepada keluarga yang ditinggalkan mendiang Hugo Chavez. Jeremic berkata “Hugo Chavez adalah pemimpin karismatis yang berhasil mengangkat Venezuela dari jurang kemiskinan,”. Angka kemiskinan di Venezuela kini berada di posisi 20 persen dari semula 70 persen. Venezuela berhasil menurunkan angka kemiskinan: 5 juta jiwa dari total penduduk tidak lagi miskin. Dalam hal kesadaran berdemokrasi, partisipasi elektoral mencapai lebih dari 88 persen penduduk, yang pada pemilu terakhir 55 persen suara untuk Chávez.

Untuk masalah kemiskinan Amerika Serikat mengukurnya dengan pendapatan US$2 sehari – di Indonesia dengan pengeluaran Rp 7.000 sehari – sehingga dikenal sebagai “garis kemiskinan.” Tapi sebaliknya di Venezuela dengan seperangkat ukuran. Yakni, akses ke dunia pendidikan, air bersih, perumahan yang layak, dan faktor lainnya. Bukan semata ukuran pendapatan, tetapi kualitas hidup, suatu cara yang lebih komprehensif.

III. Kelemahan Sosialisme

Sosialisme yang dibawa Chavez mampu menghapus kemiskinan, mengangkat derajat orang miskin, memperluas lapangan kerja dan menghapus buta huruf. Paham tersebut mengambil filosofis ”Setiap orang memberi menurut kemampuannya, dan mendapat menurut kebutuhannya.” Banyak yang berharap bahwa semua negara akan mengadopsi sosialisme agar dunia ini menjadi masyarakat yang sempurna. Beberapa negara makmur menerapkan aspek-aspek sosialisme dan membentuk sistem pemerintahan yang menjanjikan tunjangan kesejahteraan seumur hidup bagi semua warganya.

Beberapa kelemahan sosialisme yang patut diperhatikan antara lain:

1. Kalangan kaya tentu tidak suka dengan sosialisme, karena sosialisme membatasi mereka untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya

2. Lebih Mengutamakan Kebersamaan (Kolektivisme). Artinya masyarakat dianggap sebagai satu-satunya kenyataan sosial, sebagai individu-individu fiksi belaka. Dan tidak adanya pengakuan atas hak-hak pribadi (individu) dalam sistem sosialis.

3. Peran Pemerintah Sangat Kuat. Pemerintah bertindak aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga tahap pengawasan. Alat-alat produksi dan kebijaksanaan ekonomi semuanya diatur oleh negara.

4. Bagi individu yang memiliki etos kerja yang tinggi, sulit bagi mereka memahami bahwa setiap orang memiliki kompensasi yang sama walaupun kontribusi yang diberikan berbeda-beda. Bagi mereka yang biasa bekerja keras dan memiliki cita-cita yang tinggi, sosialisme merupakan penghalang untuk mereka meraih impiannya.

5. Bagi individu yang memiliki kreatifitas dan inovasi yang tinggi, tentu sulit mengharapkan pemerintah menghargai hasil kreatifitas mereka. Di Negara kapitalis, hasil karya individu dihargai, diberi ruang bahkan dilindungi agar mereka mendapatkan kompensasi yang setimpal bahkan berlipat-lipat ganda. Individu-individu yang kreatif tersebut biasanya menjadi lokomotif yang dapat menjadi penggerak bagi kemajuan bangsa. Sehingga sosialisme bukan tempat yang tepat bagi orang-orang yang kaya dan kreatif

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen + 16 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top