ISLAM DAN FILSAFAT LINGKUNGAN | DR. Arif Zulkifli Nasution

ISLAM DAN FILSAFAT LINGKUNGAN

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia adalah penyerapan dari bahasa Arab atau فلسفة. Filsafat dari bahasa Yunani disebut philosophia yang berasal dari kata philia artinya persahabatan, atau cinta dan sophia artinya kebijaksanaan. Sehingga arti harfiahnya adalah pencinta kebijaksanaan. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut filsuf.

Filsafat itu berarti proses berpikir untuk mencari kebenaran dengan cara bertanya terus-menerus mengenai segala sesuatu dari persoalan budaya sampai politik, fisik dan metafisika, dari atom hingga galaksi dan sebagainya. Filsafat terdapat dimana-mana, ada filsafat Barat, filsafat Timur, filsafat Yunani, filsafat India, filsafat Cina, filsafat Kristen, dan juga filsafat Islam. Karena keberadaannya maka filsafat dapat dimaknai sebagai kearifan (sophia) dan pengetahuan (sapientia) yang dicapai manusia dengan akal pikirannya.

Filsafat Barat
Filsafat Barat berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno. Tradisi falsafi Yunani sebenarnya sempat mengalami pemutusan rantai ketika salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara.

Ada tiga hal penting dalam kajian manusia sebagai bagian dari peradaban filsafat yaitu, indera, akal, dan hati. Yang dimaksud akal di sini adalah akal yang logis dan rasional, sedangkan hati adalah rasa. Akal itulah yang menghasilkan filsafat, sedangkan hati menghasilkan pengetahuan supralogis yang disebut pengetahuan mistik termasuk iman. Perseteruan antara akal dan hati, rasio dan iman antara filsafat dan agama selalu melatarbelakangi perkembangan budaya manusia hingga sekarang.

Beberapa tahap periode filsafat barat terbagi atas 4 bagian besar, diantaranya adalah;
1) Filsafat Yunani Klasik, bermula pada abad ke 6 sebelum masehi hingga abad 5 sebelum masehi. Zaman Yunani Kuno di pandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Tokoh-tokohnya yang populer antara lain Thales, Phytagoras, Socrates, Democritus, Plato, dan Aristoteles. Socrates memberikan antitesa terhadap pemikiran yang menganggap bahwa semua kebenaran itu relatif dengan cara meyakinkan orang Athena terutama para filosof dan hakim sofis bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum, yaitu kebenaran yang dapat diterima oleh semua orang. Inilah pengertian umum yang merupakan temuan

2) Filsafat Abad Pertengahan, di mulai pada abad ke 4 sampai abad ke 15. Filsafat Barat pada abad pertengahan ditandai dengan berpadunya filsafat dan agama. Plotinus (204-270 M), adalah filosuf pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta. Teorinya yang sangat terkenal yaitu tentang emanasi (melimpah), yang merupakan jawaban pertanyaan Thales; apa bahan alam semesta ini, Plotinus menjawab: bahannya Tuhan. Ajaran Plotinus disebut Plotinisme atau neo-Platonisme karena erat dengan ajaran Plato yang teosentris. Tujuan filsafat plotinus adalah tercapainya kebersatuan dengan Tuhan. Caranya mengenal alam melalui indera dengan ini akan mengenal keagungan Tuhan, kemudian menuju jiwa dunia setelah itu menuju jiwa Ilahi.
Sayangnya, ajaran filsafat yang bertentangan dan doktrin gereja diberangus bahkan filsuf yang mengeluarkan ajaran tersebut di hukum mati. Fakta sejarah menyatakan Copernicus dan Galileo mati karena mengeluarkan teori yang bertentangan dengan doktrin gereja. Itulah mengapa filsafat abad ini juga disebut sebagai abad kegelapan filsafat. Filsafat barat mengalami stagnansi atau keterhambatan. Di sisi lain, filsafat timur khususnya filsafat Islam mengalami perkembangan pesat pasca lahir dan tersebarnya ajaran Muhammad SAW. Di abad kegelapan filsafat ini, hanya yang berhasil memadukan filsafat dan agamalah yang berhasil bertahan dan diakui ajarannya. Dan filsuf tersebut salah satunya adalah Thomas Aquinas dengan teorinya yang paling terkenal; lima argumentasi pembuktian keberadaan Tuhan.
3) Filsafat Abad Modern, berawal dari abad 16 hingga abad ke 19. Filsafat Abad Modern didahului oleh pergerakan filsuf yang menentang dominasi gereja pada pertengahan abad ke 16. Lahirlah gerakan Renaissance di Prancis dan Italia, Enlightment di Inggris dan Aufklarung di Jerman. Intinya, Eropa berada pada zaman pencerahan. Filsafat kemudian memisahkan diri dari kungkungan agama versi gereja. Di sinilah berawal istilah sekularisasi atau pemisahan kewenangan antara keilmuan atau sains dan agama. Sekularisme inilah yang membawa filsafat barat pada perkembangan dan penyebaran yang sangat pesat.

Paham-paham yang muncul garis besarnya rasionalisme, idealisme, empirisme dan paham-paham yang merupakan pecahan itu. Sebelumnya didahului dengan masa renaissance, yaitu menghidupkan kembali rasionalisme Yunani, individualisme, humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain. Paham rasionalisme mengajarkan bahwa akal adalah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting sebagai pendukung rasionalisme: Descartes, Spinoza dan Leibniz.

Descartes (1596-1650) membawa metode cogito-nya (aku berpikir). Pengetahuan yang clear and distinct (jelas dan pasti) pada Descartes ini diambil Spinoza dengan nama adequate ideas, dan pada Leibniz truths of reason. Oleh karena itu konsep sentral dalam metafisika Descartes adalah substansi dan definisi, yang sesungguhnya sudah ada pada Aristoteles. Bahwa sesuatu untuk ada tidak memerlukan yang lain sedangkan bila adanya karena yang lain, berarti substansinya kurang meyakinkan. Descartes dalam bukunya yang berjudul Discourse on Method (1637), menjelaskan seluruh alam semesta tidak lain hanya sederet mekanisme belaka, ibarat jam yang terbuat dari benda mati. Oleh karena itu, tidak perlu lagi takjub karena tidak ada yang ajaib di alam.

4) Filsafat Kontemporer, atau biasa juga disebut filsafat postmodernisme (setelah modern) di mulai sejak abad ke 20 hingga sekarang ini (abad 21). Filsuf pada zaman ini melahirkan paham-paham baru, diantaranya fenomenologi, filsafat perempuan atau feminisme, filsafat hidup atau eksistensialisme dan paham-paham lainnya. Pada abad ini pula, para filsuf kemudian mengkhususkan diri pada obyek kajian filsafat tertentu. Di sisi lain, para filsuf tersebut mengumumkan atau mengeneralisasi gerakan mereka ke dalam bentuk komunitas tertentu. Perbedaan paling mencolok pada filsafat zaman ini adalah banyaknya beredar jurnal filsafat (kumpulan beberapa tulisan oleh penulis berbeda). Para filsuf zaman ini di antaranya; Edmun Husserls, Henri Bergson, Ernst Cassirer, Bertrand Russell, Thomas Kuhn, Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Jurgen Habermas dan lainnya.

Sekularisasi dalam pandangan filsafat barat berarti membuang segala yang bersifat religius dan mistis, karena dipandang tidak relevan dalam ilmu. Mitos dan religi disejajarkan dan dipandang sebagai pra ilmu yang hanya bergayut dengan intuisi (dunia rasa). Peran Tuhan dan segala yang berbau mitos serta bernuansa gaib dianggap tidak ada. Sehingga sekularisasi bisa juga disebut dengan desakralisasi (melepaskan diri dari segala bentuk yang bersifat sakral). Sekularisme ilmiah memandang bahwa alam ini tidak mempunyai tujuan dan maksud. Karena alam adalah benda mati yang netral. Tujuannya sangat ditentukan oleh manusia. Pandangan ini menyebabkan manusia dengan segala daya yang dimiliki mengeksploitasi alam untuk kepentingan manusia semata.

Filsafat Lingkungan
Filsafat lingkungan adalah salah satu cabang dari filsafat yang membicarakan lingkungan secara kritis, radikal, sampai menyentuh hal yang mendasar dalam hubungannya dengan antara manusia dan lingkungan. Filsafat lingkungan bukan hanya sekedar sebagai sebuah cabang ilmu filsafat, namun juga sebagai pandangan hidup yang memberikan kesadaran akan lingkungan, baik bagi semua pihak yang berhubungan dengan ilmu ini. maupun kesadaran umum bagi manusia, masyarakat dan bangsa.

Definisi lingkungan menurut UU no 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Secara sederhana lingkungan manusia didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang berpengaruh pada kehidupan manusia itu sendiri.

Membahas filsafat lingkungan tidak dapat dilepaskan dari pengertian ekologi. Inti permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi. Oleh karena itu permasalahanan lingkungan hidup pada hakikatnya adalah permasalahanan ekologi, (Soemarwoto, 1997).

Istilah ekologi pertama kali digunakan oleh Haeckel seorang ahli biologi Jerman dalam pertengahan 1860-an. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah dan logos yang berati ilmu. Ekologi secara harafiah berarti ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya atau dapat juga diartikan sebagai ilmu rumah tangga makhluk hidup, (Soemarwoto, 1997)

Filsafat Islam
Filsafat Islam terdiri dari dua kata. Filsafat diartikan sebagai berpikir bebas, radikal dan dalam dataran makna. Bebas artinya tidak ada pikiran yang menghalangi bekerja. Sedangkan kata Islam, secara semantik berasal dari kata salima artinya menyerah, tunduk dan selamat. Jadi pada hakikatnya adalah berpikir yang bebas, radikal dan berada pada taraf makna yang memiliki sifat, corak dan karakter yang menyelamatkan dan memberikan kedamaian hati.

Islam adalah agama yang Syaamil (Integral), Kaamil (Sempurna) dan Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman Allah SWT: “Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukupkan atasmu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu.” (QS. Al-Maidah ayat 3). Oleh karena itu aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci aturan Allah, sehingga bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya

Konsepsi Ilmu dalam Islam tidak memisahkan secara dikotomis antara iman dan ilmu pengetahuan. Tidak memisahkan unsur dunia dan unsur akhirat. Karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan dipelajari bermuara pada satu tujuan penting, mengenal Allah, beribadah kepada-Nya dan untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Menurut al Kindi (Abdul Hakim) filsafat yang paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan. al Kindi mengatakan falsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah falsafat utama, yaitu ilmu tentang Yang Benar Pertama, yang menjadi sebab dari segala yang benar. Kebenaran ialah bersesuaian apa yang ada dalam akal dan yang ada di luar akal. Dalam alam terdapat benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indera. Benda-benda ini merupakan juz’iyat. Yang penting bagi filsafat bukan juz’iyat yang tak terhingga banyaknya, tetapi yang penting adalah hakikat yang terdapat dalam juz’iyat, yaitu kulliyat.

Al-Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat (kebaikan) bagi sekalian alam. Berbeda dengan prinsip filsafat klasik Yunani yang menganggap bahwa Tuhan sebagai kebaikan yang tertinggi, tetapi pasif menanti, hanya menunggu pendekatan diri dari manusia, dan menganggap materi sebagai pangkal keburukan sama sekali. Al-Ghazali mengakui bahwa kebaikan tersebar di mana-mana, juga dalam materi. Hanya pemakaiannya yang disederhanakan, yaitu kurangi nafsu dan jangan berlebihan.

Dari kerangka keilmuan di atas dapat dipahami bahwa antara agama dan sains tidak berdiri sendiri tapi merupakan sesuatu yang integral. Pertentangan ilmu pengetahuan dengan agama terjadi pada abad pertengahan, setelah pelajar Yunani dari Konstatinopel ke Eropa. Sehingga terjadilah rasa permusuhan dan jurang pemisah antara ilmu pengetahuan dan agama. Dikotomi antara agama dan sains beriringan dengan masa Renaissance di Barat. Masa Renaissance inilah yang telah melahirkan sekularisasi (pemisahan urusan dunia dan akhirat) dan dari sekulerisasi ini lahirlah dikotomi ilmu pengetahuan.

Disisi lain, masyarakat muslim melihat akan kemajuan Barat sebagai sesuatu yang mengagumkan. Konsekuensinya adalah kaum muslim terperangah oleh kemajuan Barat dan berupaya melakukan reformasi dengan jalan westernisasi. Padahal westernisasi telah menjauhkan umat Islam dari Al-Qur’an dan Sunnah. Mengadopsi seluruh cara dan gaya Barat tanpa dapat memilah mana yang baik dengan tidak baik justru dapat mendorong ke arah kehancuran. (Samsul Nizar, 2008)

Berdasarkan paparan diatas, maka filsafat Islam memandang tidak ada pemisahan antara ilmu pengetahuan dengan agama, karena dalam Islam, ilmu bagian dari agama. Ilmu pengetahuan bisa menjawab masalah How (bagaimana) tetapi tidak bisa menjawab pertanyaan Why (kenapa). Ilmu pengetahuan dapat menyediakan cara manusia mencapai cita-cita, tetapi Islam memberikan jawaban apa cita-cita manusia hidup di dunia. Ilmu pengetahuan memudahkan kehidupan manusia dengan segala fasilitas hidup, namun Islam memberikan jawaban terhadap hakikat kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan berhasil mengantarkan manusia ke bulan, namun Islam mampu mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dan ketentraman di bumi dan akhirat. Ilmu pengetahuan mampu membuat manusia menguasai sebagian kekuatan alam, namun Islam mampu memberi kemampuan manusia menguasai dirinya sendiri.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top