Industri Manufactur atau Industrial Manufacture | DR. Arif Zulkifli Nasution

Industri Manufactur atau Industrial Manufacture

Menurut beberapa definisi, Industri adalah suatu sistem yang merupakan perpaduan subsistem fisis seperti komponen-komponen lahan, bahan mentah atau bahan baku, sumber daya energi, iklim dengan segala proses alamiahnya dan subsistem manusia tenaga kerja, kemampuan teknologi, budaya, keadaan politik, keadaan pemerintahan, transportasi, komunikasi, konsumen dan pasar. Industri juga dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk memproduksi barang jadi, bahan baku, atau barang mentah melalui proses pengolahan dalam jumlah besar sehingga barang tersebut dapat diperoleh dengan harga seminimal mungkin namun dengan kualitas mutu sebaik mungkin.

Pada hakikatnya kegiatan suatu industri adalah mengolah material menjadi produk. Spesifikasi dan jenis limbah yang diproduksi pada sektor industri dapat diamati pada proses masukan, pengolahan maupun pada keluarannya. Pencemaran yang ditimbulkan oleh industri diakibatkan adanya limbah yang keluar dari pabrik dan mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3). Bahan pencemar keluar bersama-sama dengan limbah melalui media udara, air , dan tanah yang merupakan komponen ekosistem alam. Bahan yang keluar dari pabrik dan masuk ke lingkungan dapat diidentifikasikan sebagai sumber pencemaran. Sebagai sumber pencemaran perlu diketahui jenis bahan pencemar yang dikeluarkan, kuantitas dan dampaknya.

Kemampuan lingkungan untuk mendukung aktifitas manusia dan memulihkan diri sendiri disebut dengan daya dukung lingkungan. Daya dukung lingkungan antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya berbeda dan antara satu waktu dengan waktu lain juga berbeda. Beberapa komponen lingkungan dan faktor yang mempengaruhinya ikut menetapkan nilai daya dukung lingkungan.

Bahan pencemar yang masuk ke dalam lingkungan akan berinteraksi dengan satu atau lebih komponen lingkungan. Perubahan komponen lingkungan secara fisika, kimia, dan biologi sebagai akibat dari adanya bahan pencemar akan mengakibatkan perubahan nilai lingkungan yang disebut dengan perubahan kualitas lingkungan. Limbah yang mengandung bahan pencemar akan mengubah kualitas lingkungan bila lingkungan tersebut tidak mampu memulihkan kondisinya sesuai dengan daya dukung yang ada padanya. Oleh karena itu, sangat
perlu diketahui sifat limbah dan komponen bahan pencemar yang terkandung di dalam limbah tersebut. Penggunaan air yang berlebihan, sistem pembuangan yang belum memenuhi standar, dan kualitas sumber daya manusia yang masih rendah adalah beberapa faktor yang harus dijadikan pertimbangan dalam mengidentifikasi sumber pencemaran .

Industri yang banyak berkembang di Indonesia dapat diklasifikasikan kedalam berbagai bidang antara lain:
1. Industri Pertanian
2. Industri Pertambangan
3. Industri Pariwisata
4. Industri Manufaktur

Kata manufaktur berasal dari bahasa Latin manus-factus yang berarti dibuat dengan tangan. Kata manufaktur pertama kali digunakan tahun 1576. Manufaktur, dalam arti luas, adalah proses merubah bahan baku menjadi produk. Proses ini meliputi (1) perancangan produk, (2) pemilihan material, dan (3) tahap-tahap proses dimana produk tersebut dibuat. Manufaktur ada dalam segala bidang sistem ekonomi. Dalam ekonomi pasar bebas, manufakturing biasanya berarti produksi secara masal untuk dijual ke konsumen dalam rangka mendapatkan keuntungan. Beberapa industri seperti semikonduktor dan baja lebih sering menggunakan istilah fabrikasi dibandingkan manufaktur.
Pada konteks yang lebih modern, manufaktur melibatkan pembuatan produk dari bahan baku melalui bermacam-macam proses, mesin dan operasi, mengikuti perencanaan yang terorganisasi dengan baik untuk setiap aktifitas yang diperlukan. Manufaktur pada umumnya adalah suatu aktifitas yang kompleks yang melibatkan berbagai variasi sumberdaya dan aktifitas sebagai berikut:
• Perancangan Produk, Pembelian, dan Pemasaran
• Mesin dan perkakas, Manufakturing, dan Penjualan
• Perancangan proses, Production control, dan Pengiriman
• Material, Support services, dan Customer service

Basis Industri Manufaktur yang terdiri atas kelompok-kelompok industri:
1) Industri material dasar, yang terdiri dari: industri besi dan baja, industri semen, industri petrokimia, dan industri keramik;
2) Industri permesinan, yang meliputi: industri peralatan listrik, industri mesin dan peralatan umum;
3) Industri manufaktur padat tenaga kerja, merupakan penghasil produk sandang, pangan, bahan bangunan, kesehatan dan obat, dan sebagainya, yang meliputi antara lain: industri tekstil dan produk tekstil, industri alas kaki, dan industri farmasi dengan bahan baku dalam negeri.

Gambar 4. Industri Manufaktur
Peran industri manufaktur sebagai berikut:
1) Menyerap banyak tenaga kerja;
2) Memenuhi kebutuhan dasar dalam negeri seperti makanan, minuman dan obat-obatan;
3) Mengolah hasil pertanian, perikanan dan sumber-sumber daya alam lain; dan
4) Memiliki potensi pengembangan ekspor.

Pada era industrialisasi, peran industri manufaktur dalam penciptaan produk domistik bruto baik secara nasional maupun regional cukup besar. Rata-rata dalam 5 tahun terakhir sektor industry memberikan kontribusi hingga 23 % terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan tingkat penyerapan tenaga kerja mencapai 12 juta orang. Pada tahun 2010, total ekspor nasional senilai USD 157,8 milyar dan sebesar USD 129,7 milyar berasal dari non-oil dan gas. Sementara total tenaga kerja nasional yang diserap industri sebesar 108.207.767 pekerja, sebesar 12,8% bekerja pada industri manufaktur.

Beberapa kendala industri manufaktur
1) Bahan baku industri kimia hulu, khususnya naphta dan kondensat, masih diimpor, sedangkan kemampuan pasokan gas bumi dalam negeri masih dibawah kebutuhan industri pemakai sebagai bahan baku maupun energi. Sedangkan di sisi lain industri primer migas nasional masih mengekspor gas bumi, naphta dan kondensat;
2) Belum terintegrasinya industri primer pengolah sumber daya tambang mineral dengan industri hulu, industri antara dan industri hilir. Hal ini berlaku untuk sumber daya mineral migas maupun non migas serta bahan galian non logam;
3) Perlindungan produk lokal terhadap persaingan bebas sepenuhnya optimal dan berarti, terutama karena faktor pemberlakuan beberapa perjanjian perdagangan bebas secara bilateral dan regional (Free Trade Agreement) dan atau belum bersaingnya produk lokal terhadap produk impor, disamping beredarnya produk impor karena faktor produk lokal belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan, seperti beredarnya produk baja dari RRC yang membanjiri pasar lokal dengan harga 20% lebih murah dengan kualitas yang sama; membanjirnya aneka produk konsumsi impor, seperti garmen, alas kaki dan sebagainya.
4) Belum optimalnya dukungan ketersediaan infrastruktur yang memadai, seperti ketersediaan prasarana dan pelayanan cepat pelabuhan, ketersediaan prasarana transportasi jalan terutama di wilayah pengembangan industri, ketersediaan dan pasok energi gas dan tenaga listrik, jaringan distribusi gas belum merata menjangkau wilayah pengembangan industri seperti jaringan pantura jawa terputus di wilayah Jawa Tengah. Ditambah lagi kebijakan daerah terhadap pencadangan lahan bagi lokasi industri belum optimal dan sebagainya;
5) Kebijakan insentif investasi baru dan pengembangan belum optimal, baik yang menyangkut administrasi, pajak dan fiskal, seperti belum luasnya cakupan bidang usaha yang mendapat pengurangan pajak atau tax allowance, terbatasnya cakupan bidang usaha yang mendapatkan pembebasan pajak atau tax holiday, masih relatif tingginya bunga investasi, belum dikembangkannya instrument kebijakan insentif usaha di daerah.
6) Kegiatan riset dan pengembangan teknologi industri masih terbatas dan belum sepenuhnya berkaitan dengan aspek kebutuhan dunia usaha industri.

B. Penyusunan Strategi Sistem Manufaktur
Penyusunan strategi sistem manufaktur perlu disesuaikan dengan pola permintaan produk yang diinginkan konsumen. Ada beberapa tipe lingkungan manufaktur yang diklasifikasikan
Production Machine
Mesin produksi merupakan mesin yang digunakan dalam proses produksi yang mendukung proses menghasilkan barang.
Mesin dapat diklasifikasikan menjadi :
a) Manually operated machine, yaitu mesin dioperasikan dan disupervisi oleh pekerja dimana mesin memberikan kekuatan untuk beroperasi dan pekerja melakukan pengawasan. Pekerja harus selalu berada terus menerus di dekat mesin.
b) Semi-automated machine, yaitu mesin dioperasikan dengan suatu kontrol program dan pekerja melakukan loading / unloading atau tugas lain dalam setiap work cycle.
c) Fully automated, yaitu mesin dapat dioperasikan dalam periode waktu yang lama tanpa perlu perhatian dari seorang pekerja. Pekerja hanya diperlukan setelah mesin beroperasi setiap 10 atau 100 cycle.

Material Handling System
Material Handling System pada umumnya merupakan aktivitas pemindahan suatu material dengan metode yang benar yang sesuai dengan material yang digunakan untuk memindahkan material, work-in-process, produk antara mesin, workstations dan support services (Heragu, 2006).

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top