HADIAH NOBEL untuk AL-GORE atau Nobel Prize For AL-GORE | DR. Arif Zulkifli Nasution

HADIAH NOBEL untuk AL-GORE atau Nobel Prize For AL-GORE

IPCC DAN AL-GORE (tanggapan terhadap tulisan Bjorn Lomborg) -Koran Tempo: 13 Des 2007

ipcc_postcard

Menanggapi tulisan Bjorn Lomborg mengenai hadiah nobel yang didapatkan oleh Al-Gore tidak layak karena mengesampingkan fakta bahwa IPCC lah yang telah berperan besar mengungkap pemanasan global, karena itu yang lebih berhak mendapatkan hadiah nobel adalah IPCC sepertinya ada agenda yang tersembunyi untuk memutarbalikkan fakta.

Suatu penghargaan diberikan bukan hanya berdasarkan usaha seseorang mengungkap suatu masalah tetapi yang lebih penting bagaimana membangkitkan kesadaran manusia pentingnya berbuat sesuatu dalam menghadapi masalah. Seorang intelektual selayaknya turun dari menara gading universitas untuk memberikan pencerahan kepada manusia. Kalau sekadar melakukan penelitian, berapa banyak hasil penelitian berupa thesis atau disertasi yang hanya menumpuk di perpustakaan. Sampai ada anekdot kalau seluruh hasil penelitian di perpustakaan seluruh dunia di tumpuk seperti anak tangga, niscaya manusia bisa sampai ke bulan dengan meniti tangga buku tersebut.

Bjorn berusaha memutarbalikkan persoalan lingkungan kepada isu klasik yaitu pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk juga dianggap sebagian pakar lingkungan terutama yang berasal dari AS sebagai awal dari permasalahan dunia.

Mahatma Gandhi pernah berkata ”Bumi ini cukup untuk kita semua tetapi tidak cukup untuk keserakahan manusia”. Kalau dikatakan ancaman kedepan adalah kekurangan lahan karena padatnya penduduk berapa banyak pulau di dunia yang belum berpenghuni. Kalau dikatakan mengurangi CO2 lebih mahal dan tidak efektif padahal dananya dapat digunakan mengurangi gizi buruk dan kelaparan, pernyataan ini adalah lagu lama. Mengurangi CO2 lebih dapat menghemat dana daripada membebani. Produksi CO2 membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit, apabila dana yang digunakan untuk memproduksi CO2 dikurangi dapat digunakan untuk mengatasi kelaparan dan gizi buruk.

Tulisan ini tidak bermaksud membela Al-Gore, karena betapa pun Al-Gore juga manusia dan memiliki kelemahan, namun seruan Al-Gore kepada pemimpin dunia agar mengurangi emisi CO2 mempunyai maksud yang dalam. Dengan mengurangi CO2 berarti mengurangi pola produksi dan konsumsi massal, seperti diketahui negara penghasil CO2 adalah negara-negara maju.

Dari data World Resources Institute tahun 1994, tahun 1991 AS mengkonsumsi energi hampir 3x lebih banyak dari Jepang untuk menghasilkan $1 dari GNP-nya. Dengan jumlah hanya 4,6% penduduk dunia, pada tahun 1991 AS menghasilkan 22% emisi global CO2, lebih banyak daripada yang dihasilkan gabungan antara Cina, India, Amerika Selatan dan Afrika. Dengan menggunakan pola konsumsi energi sebagai indikator bagi lingkungan yang berkelanjutan, kelahiran bayi di AS menghasilkan 2x dampak lingkungan bagi bumi dibandingkan seorang bayi yang lahir di Swedia, 3x dibanding di Italia, 13x di Brazil, 35x di India, dan 140x di Banglades.[1]

Data tersebut menunjukkan tingkat produksi dan konsumsi yang tinggi oleh negara-negara maju khususnya AS. Tingkat produksi dan konsumsi yang tinggi tersebut dapat ditangani salah satu cara dengan mengurangi CO2. Keinginan manusia dapat diarahkan seperti yang dilakukan oleh walikota Bogota (Columbia), Bogota dahulu terkenal sebagai kota dengan kadar polusi, dan tingkat kemacetan yang tinggi. Untuk mengurangi jumlah kendaraan di Columbia, Walikota membangun jalur sepeda dengan mengurangi jalur kendaraan bermotor. Hasilnya dengan terpaksa warga harus pindah ke transportasi sepeda. Begitu juga dengan masyarakat khususnya negara maju, tidaklah bersikap boros sehingga semakin menguras sumber daya dengan mengurangi jumlah produksi produknya.

Bjorn juga menyatakan dalam tulisannya isu yang utama selain pertambahan penduduk adalah semakin berkurangnya lahan pertanian di negara-negara berkembang. Thesis ini tidak layak lagi terlebih setelah hadirnya Cina dan India sebagai salah satu penyeimbang kekuatan ekonomi global. Cina dan India menjadikan pendudukanya tidak sebagai faktor pernghambat tetapi sebagai aset yang mendukung pertumbuhan ekonominya dan pasar yang potensial bagi investor asing. Tidak ada keluhan bagi Cina dan India yang merupakan jumlah penduduk terbesar pertama dan kedua di dunia, lebih dari 30% jumlah penduduk dunia terhadap kekurangan pangan di negaranya.

Muhammad Yunus mengatakan setiap manusia dilahirkan memiliki potensi yang sama dan yang membedakan antara orang miskin dan orang kaya adalah kemampuan untuk mengakses sumber daya. Karena itu berkurangnya lahan pertanian di negara-negara berkembang adalah salah satu wujud memberikan kesempatan kepada mereka mengakses sumber daya. Kehilangan lahan pertanian dikonversi menjadi permukiman, industri dan sebagainya merupakan suatu hal yang baik, namun yang tidak baik apabila lahan pertanian di pasang ranjau atau di bom oleh pesawat militer seperti yang terjadi di Irak.

Dalam tulisannya Borjn mengajak kita berfokus pada penyelesaian persoalan saat ini, seperti memberdayakan masyarakat, membuat ekonomi lebih bergairah, dan infrastruktur lebih kukuh. Telah banyak kritikan yang diberikan ekonom negara berkembang pada teori diatas. Muhammad Yunus mengatakan pemberdayaan versi negara maju lebih banyak menguras kekayaan negara, tenaga ahli dibayar sangat mahal melebihi bantuan yang real diterima masyarakat. Dana proyek pemberdayaan lebih banyak digunakan untuk membayar tenaga ahli dibanding membelikan kebutuhan real masyarakat. Petumbuhan ekonomi yang tinggi yang dianut negara-negara berkembang ternyata menciptakan jurang pemisah yang tinggi antara sikaya dan simiskin, hadirnya IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang diprakarsai ekonom Pakistan Makhbul Ul-Haq memberikan pencerahan bahwa pembangunan bukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan daya beli manusia. Penelitian yang dilakukan oleh KADIN, menjawab pernyataan wakil Presiden bahwa infrastruktur dibutuhkan untuk mengundang investor terbantahkan. Yang paling dibutuhkan oleh investor adalah kepastian hukum. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian yang dilakukan World Bank bahwa infrastruktur tidak berkorelasi positif terhadap upaya pengentasan kemiskinan.

Ada agenda tersembunyi yang utarakan oleh Bjorn dalam tulisan Hadiah Nobel yang Tidak Nyaman, Al-Gore hanya batu loncatan saja untuk mengemukakan pemikirannya yang pada akhirnya tidak sampai ke subtansi masalah.

mexico-us-al-gore-climate_news_featured

Al-Gore layak diberikan hadiah nobel karena ia seperti Robin Hood, Mahatma Gandhi dan pemimpin besar lainnya yang lahir dalam keadaan berkecukupan, namun melakukan pemberontakan terhadap lingkungannya karena melihat penderitaan yang besar terjadi di luar sana.


[1] World Resources Institute. World Resource 1994-5 (Oxford, Oxford University Press, 1994)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top