Green Product | DR. Arif Zulkifli Nasution

Green Product

Eco-produk menurut Grundey, D., & Zaharia, M.R. (2008) meliputi memperbaiki: memperpanjang umur produk dengan memperbaiki beberapa bagian, mengkondisikan kembali: menambah umur produk dengan menambah muatan, memanufaktur kembali: produk baru berdasarkan produk lama, menggunakan kembali: merancang produk agar dapat digunakan berkali-kali, mendaur ulang: produk dapat diproses ulang dan diubah ke bahan mentah untuk digunakan untuk memproduksi produk yang sama, dan mengurangi: menggunakan bahan mentah yang lebih sedikit atau mengeluarkan limbah yang lebih sedikit. Tren tersebut dapat berarti perusahaan menjaga agar udara, tanah dan air tetap bersih, melindungi alam dari kerusakan, merasionalisasi penggunaan sumber daya alam, dengan daur ulang, meminimalisir penggunaan bahan mentah dari alam dan penambahan limbah dalam produksi barang baru, mempopulerkan orientasi ekologi dan gaya hidup sehat, dan memperhatikan keterkaitan antara lingkungan, kelaparan dan kelebihan populasi (Grundey, D., & Zaharia, M.R., 2008). Konsekuensi dari tren tersebut dapat menjadikan marketing (Grundey, D., & Zaharia, M.R., 2008): 1. Memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai prioritas konsumen 2. Lingkungan alam sebagai kriteria dapat pengambilan keputusan mengenai proses produksi 3. Orientasi perusahaan terhadap lingkungan 4. Mendominasi produk ekologi dan hemat energi 5. Lingkungan alam sebagai bagian dari seluruh aktifitas perusahaan 6. Berdampak pada kriteria dari merek produk

Menurut Harjanto (2004), material konstruksi termasuk dalam material komoditas, yaitu material yang penggunaannya mencakup jumlah yang besar dengan dampak terhadap lingkungan yang juga tinggi. Eco-materials merupakan singkatan dari environmentally-conscious materials, ecologically-oriented materials, atau ecologicall-benign material yaitu konsep material sadar lingkungan, material berorientasi pada ekologi atau material ramah lingkungan, material berorientasi pada ekologi atau material ramah lingkungan (Harjanto, 2004). Konsep ini dipelopori oleh ilmuwan Japan yang selanjutnya berkembang di Negara-negara Eropa, Amerika Serikat serta Negara lainnya, setahun sebelum digelarnya Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brasil tahun 1995. Material yang ramah lingkungan berarti juga menjamin kesehatan konsumen. Pada pembangunan permukiman, ada bahan-bahan yang membahayakan kesehatan konsumen seperti asbes dan gipsa. Asbes dapat menyebabkan fibrosis (yang menimbulkan penebalan dan luka gores pada paru-paru), kanker paru-paru: termasuk kanker batang tenggorokan; dan mesothelioma: kanker pada bagian lain saluran pernapasan seperti kanker pleura atau peritoneum. Sedangkan Gipsa juga dapat diperoleh dari hasil samping pabrik pupuk fosfat yang merupakan limbah dari proses pembuatan asam fosfat. Batuan fosfat mengandung uranium sehingga asbes dan gipsa dapat berperan sebagai sumber potensial gas radon dalam ruangan. Gas radon masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan dan memancarkan radiasi pengion berupa partikel-α yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru-paru. Radon bernomor atom 86 dan berlambang Rn, merupakan gas tidak berwarna dengan kerapatan 10gr/ltr, unsur radon selalu berada dalam bentuk gas dan terlarut dalam udara, namun keberadaannya tidak dapat dikenali oleh pancaindera manusia (Akhadi, 2000).

Menurut Johansson, G. (2002), selain dari eco-material yang tak kalah penting pada produk hijau adalah eco-design. Dalam literature, ada 20 faktor penting bagi pengintegrasian eco-design yang sukses dalam pengembangan produk. Faktor sukses yang tersusun menurut enam area perhatian adalah: manajemen, hubungan pelanggan, hubungan penyalur, proses pengembangan, kemampuan atau wewenang dan motivasi. Dengan berhubungan dengan berbagai macam faktor yang terkait dengan pengembangan produk dapat menjadi klaim umum untuk pengembangan produk sukses. Itu menunjukkan bahwa pengintegrasian ecodesign sampai sejumlah besar tertentu yang dapat dihubungkan dengan unsur-unsur yang sama itu. Beberapa faktor sepertinya ada yang spesifik untuk pengintegrasian eco-design. Faktor ini dihubungkan dengan kemampuan dan motivasi. Seperti banyak dari factor ecodesign yang sukses untuk mempengaruhi pengembangan produk sukses, hal ini menyiratkan bahwa suatu perusahaan yang mengatur pengembangan produk dengan baik dapat meningkatkan kemungkinan menjadi sukses tatkala mengintegrasikan ecodesign ke dalam pengembangan produk. Konsep ilmu lingkungan terbaru menghendaki cara pandang baru terhadap masalah lingkungan. Konsep end of pipe treatment sudah harus digantikan in front of process (Soemantojo, 2000). Masalah lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengolah limbah, memulihkan lingkungan yang sudah rusak, membayar ganti rugi kerusakan lingkungan. Tapi lebih dari itu, pengurangan limbah sejak awal perencanaan proses, mengganti bahan yang cenderung merusak lingkungan bahkan sejak belum berdirinya suatu usaha harus dilihat akibatnya baik terhadap sosial maupun lingkungan.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top