Gaya Kepemimpinan atau Leadership Style...1 | DR. Arif Zulkifli Nasution

Gaya Kepemimpinan atau Leadership Style…1

Informasi Webinar

Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan
Pengertian mengenai pemimpin banyak sekali, yaitu sebanyak pribadi yang meminati masalah pemimpin. Namun diantara pengertian yang dapat Kita fahami sebagai berikut:

Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan—khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang–, sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pengertian ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin adalah, mereka yang memiliki kelebihan, sehingga ia memiliki kekuasaan dan kewibawaan untuk menggerakkan, mengarahkan dan membimbing bawahan. Serta mendapatkan pengakuan dan dukungan dari bawahannya, dan mampu menggerakkan bawahan ke arah pencapaian tujuan tertentu.

Henry Pratt Fairchild mendefinisikan pemimpin dalam pengertian yang lebih luas, adalah seorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain, atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi (dalam Kartono, 2002; 2005).
Menurut Bass (dalam Yudhawati, 2005) pemimpin merupakan orang yang memiliki suatu program dan berprilaku secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya dengan mengaplikasikan cara atau gaya tertentu, sehingga gaya kepemimpinan memiliki peranan sebagai kekuatan yang dinamik yang mendorong, memotivasi dan mengkoordinasikan organisasi dalam menetapkan tujuan yang akan dicapai.

Berdasarkan beberapa pengertian pemimpin dapat ditarik kesimpulan bahwa pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus yang dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu.

Adapun pengertian kepemimpinan menurut Oedway Tead dalam bukunya The Art of Leadership menyatakan kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Menurut George R.Terry dalam bukunya Principle of Management memberikan pengertian kepemimpinan sebagai kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok. Sedangkan menurut Howard H.Hoyt dalam bukunya Aspect of Modern Public Administration menyatakan kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kemampuan untuk membimbing orang.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pada kepimpinan terdapat unsur-unsur:
 Kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok,
 Kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau orang lain,
 Untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok

Gaya Kepemimpinan
a. Gaya Kepemimpinan Karismatik (Charismatic Leadership Styles)
Sedangkan Robbins (2003) merinci menjadi empat proses cara atau gaya kepemimpinan karismatik di dalam mempengaruhi bawahannya. Pertama, proses itu dimulai saat pemimpin mengutarakan dengan jelas suatu visi yang menarik. Visi ini memberikan suatu kesinambungan bagi para pengikut dengan menautkan masa kini dengan masa depan yang lebih bak bagi organisasi itu. Kedua, kemudian pemimpin mengkomunikasikan harapan dan kinerja yang tinggi dan mengungkapkan keyakinan bahwa para pengikutnya dapat mencapai pengharapan itu. Hal ini akan dapat meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri para pengikut. Ketiga, kemudian pemimpin menghantarkan, lewat kata dan tindakan, suatu perangkat baru dari nilai-nilai dan dengan perilakunya menunjukkan suatu contoh untuk ditiru para pengikutnya. Dan keempat, pemimpin karismatik melakukan pengorbanan diri dan terlibat dalam perilaku yang tidak konvensional untuk memperlihatkan keberanian dan keyakinan mengenai visi itu.
b. Gaya Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transaksional menurut Bass merupakan sebuah pertukaran imbalan-imbalan untuk mendapatkan kepatuhan. Dalam pengertian bahwa secara essensial, kepemimpinan transaksional mengembangkan pertukaran dengan pengikut-pengikutnya mengenai apa yang pengikut-pengikutnya ingin terima jika mereka melakukan sesuatu yang benar, atau salah.
Dinamika dari suatu quid pro quo (saya akan melakukan sesuatu untuk kamu jika kamu melakukan sesuatu untuk saya) mendominasi pertukaran transaksional. Tugas pemimpin atau peran pemimpin adalah menjelaskan tugas-tugas yang diperlukan dan memberikan imbalan yang terpenuhi (hater dan Bass dalam Burn, 2004). Teori kepemimpinan transaksional menyatakan bahwa peran seorang pemimpin adalah menyediakan apa yang pengikut butuhkan untuk dapat berprestasi secara efektif dan mencapai tujuan (House, Woycke & Fodor dalam Burn, 2004). Kepemimpinan transaksional tidak secara khusus inspirasional meskipun terfokus pada melakukan pekerjaan
Adapun gaya kepemimpinan transaksional meliputi empat perilaku sebagai berikut:
1. Contingent reward
2. Passive management by exception
3. Active management by exception
4. Laissez faire leadership

c. Gaya Kepemimpinan Transformasional
Konsep kepemimpinan transformasional menurut Burn (dalam Yudhawati, 2005) dikembangkan melalui landasan teori tata tingkat kebutuhan dari Maslow. Burn menjelaskan konsep keterkaitan antara konsep kepemimpinan transformasional dan transaksional dengan teori tata tingkat kebutuhan bawahan yang lebih rendah seperti kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman dan kebutuhan akan penghargaan akan dapat terpenuhi dengan baik melalui gaya kepemimpinan transaksional. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi seperti harga diri dan aktualisasi diri menurut Killer (dalam Yudhawati, 2005) hanya dimungkinkan melalui gaya kepemimpinan transformasional.

Menurut Bass empat ciri yang dimiliki seorang pemimpin sehingga memiliki kualitas transformasional adalah sebagai berikut:
1. Pemimpin tersebut memiliki kharisma yang diakui oleh pengikutnya
2. Inspirasional
3. Perhatian individual
4. Stimulasi intelektual
Keempat syarat tersebut akan saling melengkapi, namun tidak harus semuanya dimiliki oleh seorang pemimpin transformasional. Semakin banyak kualitas yang dimiliki akan semakin kuat pengaruhnya sebagai pemimpin transformasional. Sifatnya kontinuum dan merupakan satu tingkatan di atas kepemimpinan transaksional.

d. Studi Universitas Iowa
Lippit and White dalam Sutarto (1991:72) mengatakan ada tiga gaya kepemimpinan yaitu;
– Otoriter (authoritarian)
– Demokratis (democratic)
– Kebebasan (laissez-faire)

Ciri Gaya Otoriter
1. Wewenang mutlak terpusat pada pimpinan
2. Keputusan dan kebijakan dibuat oleh pimpinan
3. Komunikasi berlangsung satu arah
4. Pengawasan dilakukan secara ketat
5. Prakarsa dari atas dan tanpa kesempatan bawahan untuk memberikan saran
6. Lebih banyak kritik daripada pujian
7. Pimpinan menuntut kesetiaan dan prestasi sempurna
8. Tangung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh pimpinan

Ciri Gaya Demokratis
1. Wewenang pimpinan tidak mutlak
2. Pimpinan bersedia melimpahkam wewenang kepada bawahan
3. Keputusan dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawwahan
4. Komunikasi berlangsung dua arah
5. Pengawasan dilakukan secara wajar
6. Bawahan diberi kesempatan untuk berprakarsa dan menyampaian saran
7. Tugas kepada bawahan lebih bersifat permintaan daripada instruksi
8. Pujian dan kritik kepada bawahan diberikan secara seimbang
9. Terdapat suasana saling percaya dan saling menghargai
10. Tanggung jawab dipikul bersama dengan bawahan

Ciri Gaya laissez faire / Liberal
1. Pimpinan melimpahkan sepenuhnya kepada bawahan
2. Keputusan dan kebijakan lebih banyak diserahkan kepada bawahan
3. Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahan
4. Hampir tidak ada pengawasan
5. Pemrakarsa selalu datang dari bawahan
6. Hampir tidak ada pengarahan dari pimpinan
7. Kepentingan pribadi lebih dominan daripada kepentingan kelompok
8. Tanggung jawab dipikul oleh orang perorang

3. Gaya Kepemimpinan 3 dimensi Reddin
Gaya kepemimpinan yang efektif:
• Eksekutif. Gaya ini banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja.
• Pencinta pengembangan / developer. Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap hubungan kerja, perhatian yang minimum terhadap tugas-tugas pekerjaan.
• Otoritas yang baik hati/benevolent autocrat. Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap tugas, dan perhatian yang minimum terhadap hubungan kerja.
• Birokrat. Gaya ini memberikan perhatian yang minimum baik terhadap tugas dan hubungan kerja.

Gaya kepemimpinan yang tidak efektif:
• Pecinta kompromi/ Compromiser. Gaya ini memberikan perhatian yang besar terhadap tugas dan hubungan kerja dalam situasi yang menekankan kompromi.
• Missionari / socialite. Gaya ini menekankan secara maksimum terhadap orang-orang dan hubungan kerja, tetapi memberikan perhatian minimum terhadap tugas dengan perilaku yang tidak sesuai.
• Otokrat. Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan kerja dengan suatu perilaku yang tidak sesuai.
• Lari dari tugas / desester. Gaya ini sama sekali tidak memberikan perhatian terhadap tugas maupun terhadap hubungan kerja. Manajer yang menggunakan gaya ini mennjukkan sikap pasif tidak mau ikut campur tangan.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top