Evaluasi Keberhasilan Penyuluh Dalam Menghadapi Perubahan Iklim | DR. Arif Zulkifli Nasution

Evaluasi Keberhasilan Penyuluh Dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Undang-undang No 16 tahun 2006 tentang Sistem penyuluhan pertanian, Perikanan dan Kehutanan menyebutkan bahwa penyuluhan merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum dan pemerintah berkewajiban untuk menyelenggarakannya. Penyuluhan sebagai proses pendidikan nonformal, bertujuan mengarahkan perubahan ke arah perubahan yang terencana.

Evaluasi kinerja penyuluh ditentukan oleh kesesuaian pelaksanaan job description atau pelaksanaan dari uraian tugas yang menjadi tanggungjawab penyuluh dalam posisi jabatannya. Berdasarkan hasil analisis pekerjaan, setiap penyuluh dibebani tanggungjawab untuk melaksanakan uraian tugas pada posisi jabatan sebagai pejabat fungsional dan pelaksana lapangan penyuluhan pertanian. Hasil kerjanya tersebut harus dipertanggungiawabkan sebagai erwujudan  akuntabilitasnya kepada organisasi yang menugaskannya, maupun kepada masyarakat tani sebagai ‘klien’ yang dilayaninya. Evaluasi kinerja penyuluh dilakukan sejak proses perencanaan, pengembangan program, pelaksanaan hingga proses pelaporan dan evaluasi berimplikasi pada proses pembelajaran masyarakat tani. Evaluasi kinerja penyuluh dalam perencanaan dan pengembangan program bukanlah sekedar hasil dalam bentuk program penyuluhan dan rencana kegiatan, melainkan prosesnya yang mencirikan proses pembelajaran bagi penyuluh maupun bagi masyarakat dan bagi aparat tidak kalah pentingnya. Sebagai agen perubahan (change agent) dalam pembangunan pertanian, penyuluh haruslah mampu belajar untuk mendorong masyarakat menemukenali kebutuhan mereka sendiri untuk berubah kearah yang lebih baik.

Hal ini dilakukan penyuluh dalam proses analisis potensi wilayah dan analisis kebutuhan (need assessment) dengan melibatkan masyarakat serta aparat pemerintahan. Indikator efektifitas kinerja dalam proses perencanaan yaitu adanya programa penyuluhan, rencana kegiatan, proses analisis potensi dan kebutuhan serta pelibatan tokoh-tokoh masyarakat haruslah terukur dan mudah untuk diukur.
Berdasarkan hasil perencanaan dan dokumen pengembangan program, penyuluh melaksanakan kegiatan penyuluhan yang menqandung pembelajaran bagi petani untuk mampu memecahkan masalah. Proses belajar penyuluh haruslah mampu menyediakan materi, menerapkan metode penyuluhan serta alat bantu belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan ketersediaan sarana, alat dan bahan. Disinilah kreativitas, komitmen dan dedikasi penyuluh dipertaruhkan, kreatif dalam segala keterbatasan namun tetap persisten dan konsisten untuk mencapai tujuan.
Ketika semua kegiatan sudah terlaksana dalan setiap periode selalu ada jeda dimana penyuluh mempertanyakan apakah semua program efektif dalam mencapai tujuan, bagaimana respon masyarakai binaannya, bagaimana kontribusi pemerintah dan instansi terkait, lalu adakah yang masih perlu diperbaiki dan ditindak lanjuti. Saat itulah evaluasi dilakukan oleh penyuluh bersama-sama masyarakat. Pelaksanaan tugas penyuluh dalam proses evaluasi ini berwujud pelaporan yang mencerminkan apa yang terjadi dan berisi jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas serta uraian bagaimana keberlanjutan kegiatan dalam mencapai tujuan pembelajaran bisa terjamin.
Pelaksanaan penyuluhan pendekatan kelompok seringkali lebih efektif daripada pendekatan individu. Pada pendekatan kelompok petani mendapat informasi bukan hanya dari penyuluh tapi juga belajar dari sesama rekan petani. Petani belajar bukan sekedar dari mendengarkan tetapi dari melihat dan juga melaksanakan dalam kehidupan yang nyata karena itulah efektifitas kinerja penyuluh dalam penumbuhkembangan kelompok tani bukanlah sekedar jumlah nama-nama kelompok, namun yang lebih penting adalah kegiatan dalam kelompok sebagai wahana belajar bagi petani, lebih jauh lagi sebagai wahana bertumbuh dan berkembangnya kelembagaan ekonomi pedesaan yang diawali dengan ciri keswadayaan dan keswakarsaan petani.
Kemampuan penyuluh untuk mewujudkan keberhasilan kinerja dalam melaksanakan semua tugas tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, yakni faktor internal maupun factor eksternal. Faktor internal sebagai karakteristik penyuluh maupun latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang membentuk perilakunya, juga factor eksternal lingkungan kerja yang mendorong atau menghambat mereka untuk bekerja prima.
Faktor kelembagaan penyuluhan, misalnya dapat menimbulkan perbedaan administrasi dan kebijakan antara satu wilayah dengan wilayah yang lainnya. Salah satu indikator perbedaan kebijakan nampak dari kelembagaan penyuluhan yang beragam. Sebagai contoh, di Kabupaten Bogor hanya ada enam wilayah pemerintahan lokal yang memiliki kantor penyuluhan yaitu Kabupaten Subang, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, Majalengka dan Indramayu dan 11 kabupaten tidak memiliki kelembagaan kantor penyuluhan melainkan merupakan bagian atau sub bagian pada dinas-dinas teknis di Kabupaten yaitu kabupaten Bekasi, Karawang, Purwakarta, cianjur, Bogor, Bandung, Bandung Barat, Sumedang, Ciamis. Cirebon dan Kuningan. Penjelasan di atas menunjukkan, betapa pentingnya pemahaman akan faktor-faktor yang berpengaruh pada evaluasi kinerja penyuluh disamping menemu kenali komponen penting pembentuk efektifitas kinerja.
Dalam kaitannya dengan perubahan iklim, penyuluh memiliki peranan yang penting untuk mengedukasi petani mengenai permasalahan perubahan iklim. Pemanasan global adalah gejala meningkatnya suhu rata2 permukaan bumi akibat meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Pemanasan global akan diikuti dgn perubahan iklim,spt meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Bumi akan mengalami musim kering berkepanjangan akibat kenaikan suhu. Gas rumah kaca adalah Karbon dioksida (CO2), Metana (CH4), Dinitro oksida (N2O), Hidrofluorokarbon (CFC), Perflurokarbon (PFC) dan Sulfur Heksafluorida (CF6)

Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara):

  1. 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)
  2. 27% dari sektor transportasi
  3. 21% dari sektor industri
  4. 15% dari sektor rumah tangga & jasa
  5. 1% dari sektor lain -lain.

Penyebab pemanasan global dan perubahan iklim adalah

1.      Pertanian: Sawah tergenang menghasilkan CH4, Pupuk menghasilkan N2O, pembakaran sabana dan sisa pertanian

Pada kurun waktu paruh terakhir abad ke-20, penggunaan pupuk kimia dunia untuk pertanian meningkat pesat. Kebanyakan pupuk kimia ini berbahan nitrogenoksida yang 300 kali lebih kuat dari karbondioksida sebagai perangkap panas, sehingga ikut memanaskan bumi. Akibat lainnya adalah pupuk kimia yang meresap masuk ke dalam tanah dapat mencemari sumber-sumber air minum kita.

2.      Peternakan: gas metana (CH4) dari kotoran ternak yg membusuk

Sektor peternakan adalah satu dari dua atau tiga penyumbang terbesar bagi krisis lingkungan yang paling serius dalam setiap skala, mulai dari lokal hingga global. Hampir seperlima (20 persen) dari emisi karbon berasal dari peternakan. Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen racun karbon dioksida, 65 persen nitro oksida, dan 37 persen gas metana yang dihasilkan karena ulah manusia. Gas metana menghasilkan gas rumah kaca 20 kali lebih besar dan nitro oksida 296 kali lebih banyak jauh di atas karbon dioksida. Peternakan juga menimbulkan 64 persen amonia yang dihasilkan karena campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam

Sedangkan dampak dari Pemanasan Global dan perubahan iklim di Indonesia

         Kenaikan suhu 0,3 derajat C sejak 1990

         Perubahan musim: pola curah hujan tidak menentu, banjir dan longsor, kekeringan

         Permukaan air laut naik (garis pantai mundur 60 cm, nelayan kehilangan tempat tinggal. Intrusi air laut, bakau rusak, sifat biofisis dan biokimia berubah, sifat pasut berubah) hingga saat ini permukaan air laut naik 30 cm

         Sektor perikanan: Pemutihan terumbu karang, jumlah terumbu karang menurun, komposisi ikan laut berubah, migrasi ikan ke wilayah yg lebih dingin

         Sektor kehutanan: spesies flora dan fauna punah, kebakaran hutan

         Sektor pertanian: keterlambatan musim tanam atau panen, ketahanan pangan terganggu

         Sektor kesehatan: Frekwensi penyakit tropis meningkat (DB, malaria) 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top