Energy Hijau atau Green Energy | DR. Arif Zulkifli Nasution

Energy Hijau atau Green Energy

Energi Ramah Lingkungan
Kondisi Energi Indonesia Tahun 2015:
a. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil masih tinggi.
Bauran energi Indonesia: Minyak Bumi (46%); Batubara (26%); Gas Bumi (23%); EBT (5%).
b. Indonesia menjadi net oil importer sejak 2004.
Pada 2014: Produksi (287 juta barrel); Konsumsi (420 juta barrel); Impor BBM (195 juta barrel); Impor minyak bumi (121 juta barrel); dan kapasitas kilang ± 1 juta barrel per hari.
c. Konsumsi energi per kapita masih rendah (5,4 BOE/kap);
Konsumsi listrik (865 kWh/kap); Rasio elektrifikasi: 88,3%; Kapasitas pembangkit: +53 GW .
d. Subsidi energi: ± Rp 400 triliun (2014) dan ± Rp 138 triliun (2015).
e. Energi masih digunakan sebagai komoditas ekspor:
Gas: + 42% diekspor,
Batubara: + 82% diekspor .
f. Cadangan operasional BBM hanya cukup untuk 20-25 hari dan belum ada cadangan penyangga energi.
g. Elastisitas energi final masih di atas 1, yang berarti penggunaan energi belum efisien
h. Supply Energi 2025 dan 2050 : 77% dan 69% masih tergantung energi fossil
i. Kemandirian Energi:
• Migas 2025: Impor 2-3 kali kebutuhan
• Migas 2050: Impor 5-6 kali kebutuhan
j. Indonesia akan jadi pasar energi terbesar se Asia Tenggara mulai 2019-2020

Makin berkurangnya ketersediaan sumber daya energi fosil, khususnya minyak bumi dan makin meningkatnya kesadaran akan usaha untuk melestarikan lingkungan, mengakibatkan perlunya upaya mencari energi alternatif. Energi alternatif tersebut memiliki karakter;
a. Dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian energi fosil, khususnya minyak bumi
b. Dapat menyediakan energi listrik dalam skala lokal mapun regional
c. Mampu memanfaatkan potensi sumber daya energi setempat, serta
d. Ramah lingkungan, dalam artian proses produksi, disribusi dan pembuangan hasil produksinya tidak merusak lingkungan hidup disekitarnya.

Masa depan energi terdapat pada energi terbarukan, karena memiliki kelebihan antara lain, yaitu:
a. Relatif mudah didapat,
b. Dapat diperoleh dengan gratis, dengan biaya operasional sangat rendah,
c. Masalah limbah relatif kurang,
d. Proses produksinya tidak menyebabkan kenaikan temperatur bumi, dan
e. Tidak terpengaruh kenaikkan harga bahan bakar (Jarass,1980)

Indonesia sebenarnya telah merencanakan terwujudnya energi primer mix yang optimal pada tahun 2025 dan 2050. Masing-masing sumber energi sudah dibagi peranannya terhadap konsumsi energi nasional:
1. Minyak bumi berkurang dari 46% tahun 2015 menjadi 25% tahun 2025 dan 20% tahun 2050
2. Gas bumi relative stabil tahun 2015:23%, 2025:22%, dan 2050:24%
3. Batubara pemakaiannya naik-turun, 2015:26%, 2025: 30%, dan 2050:25%
4. Energi baru dan terbarukan mengalami kenaikan signifikan, 2015:5%, 2025:23%, dan 31%

Target pencapaian energi terbarukan pada tahun 2025 dan 2050 tersebut harus didukung kebijakan utama yang meliputi:
1. Penyediaan energi melalui:
a. Penjaminan ketersediaan pasokan energi dalam negeri
b. Pengoptimalan produksi energi
c. Pelaksanaan konservasi energi
2. Pemanfaatan energi melalui
a. Efisiensi pemanfaatan energi
b. Diversifikasi energi
3. Penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian, dengan tetap mempertimbangkan kemampuan usaha kecil, dan bantuan bagi masyarakat tidak mampu dalam jangka waktu tertentu
4. Pelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top