Ekosistem Laut atau Marine Ecosystems | DR. Arif Zulkifli Nasution

Ekosistem Laut atau Marine Ecosystems

Ekosistem laut merupakan sistem akuatik yang terbesar di planet bumi. Laut adalah sekumpulan air yang sangat luas di permukaan bumi yang memisahkan atau menghubungkan suatu benua atau pulau dengan benua atau pulau lainnya. Umumnya perairan laut merupakan massa air asin dengan kadar garam cukup tinggi (rata-rata 3,45%). Laut merupakan bagian dari samudera. Samudera adalah bentangan air asin yang menutupi cekungan yang sangat luas.

Ekosistem air laut terbagi menjadi:
A. Laut
B. Pantai
C. Estuari (muara)
D. Hutan Mangrove
E. Terumbu karang
F. Padang Lamun

Berikut beberapa penjelasan dari ekosistem air laut
A. Laut
Laut banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia diantaranya sebagai sumber bahan makanan dan mineral. Ekosistem air laut merupakan ekosistem yang memiliki ciri-ciri diantaranya :
• Salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar.
• Ekosistem memiliki perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin
• Tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.

Laut dapat diklasifikasikan menurut karakteristiknya masing-masing. Berdasarkan kedalamannya laut dikelompokan kedalam empat zone, yaitu:
1) Zona litoral adalah wilayah laut yang pada saat terjadinya pasang naik tertutup oleh air laut dan ketika air laut surut wilayah ini menjadi kering. Zona ini sering disebut sebagai wilayah pasang surut. Litoral adalah daerah yang langsung berbatasan dengan darat. Radiasi matahari, variasi temperatur dan salinitas mempunyai pengaruh yang lebih berarti untuk daerah ini dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Biota yang hidup di daerah ini antara lain: ganggang yang hidup sebagai bentos, teripang, binatang laut, udang, kepiting, cacing laut.
2) Zona neritik adalah wilayah laut mulai zona pasang surut sampai kedalaman 200 meter. Zona neritik sering disebut wilayah laut dangkal. Zona ini merupakan tempat terkonsentrasinya biota laut, terutama berbagai jenis ikan. Biota yang hidup di daerah ini adalah plankton, nekton, neston dan bentos.
3) Zona batial adalah wilayah laut yang merupakan lereng benua yang tenggelam di dasar samudra. Kedalaman zona ini berkisar di atas 200 meter – 2000 meter, sudah tidak ada produsen. Hewannya berupa nekton.
4) Zona abisial adalah wilayah laut yang merupakan wilayah dasar samudra. Kedalamannya di atas 2000 meter dan jenis biota yang ada pada zona ini terbatas.

Potensi Laut yang dimanfaatkan sejak dahulu kala adalah ikan. Sumberdaya perikanan laut di Indonesia disusun dalam kelompok-kelompok: Pelagis Besar, Pelagis Kecil, Demersal, Udang/ Krustasea lainnya, Ikan Karang, Ikan Hias, Rumput Laut, Moluska Teripang/ Ubur-ubur, Benih Alami, Reptilia dan Mamalia laut.

Selain potensi perikanan tangkap di laut, potensi perikanan lainnya yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah budidaya perikanan baik budidaya pantai maupun budidaya laut. Potensi budidaya pantai (tambak) sekitar 830.200 ha yang tersebar diseluruh wilayah perairan Indonesia dan yang baru dimanfaatkan untuk budidaya ikan bandeng, kakap, udang windu dan jenis-jenis lainnya hanya sekitar 356.308 ha (Dahuri et al., 1996).

B. Pantai
Di tepian laut terdapat ekosistem pantai yang merupakan tatanan sebuah kesatuan lingkungan pantai secara utuh dengan segenap unsur lingkungan hidup yang memengaruhinya. Ekosistem pantai memiliki arti penting sebagai tempat berkembang biaknya berbagai jenis biota laut, tanaman bakau (mangrove) dan juga sebagai sarana pelestarian pantai dari ancaman abrasi air laut.

Dalam UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, disebutkan bahwa sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Kawasan Sempadan Pantai dapat dimanfaatkan untuk kegiatan: ruang terbuka hijau; pengembangan struktur alami dan struktur buatanuntuk mencegah bencana pesisir; kegiatan rekreasi, wisata bahari dan eko-wisata; penelitian dan pendidikan; kepentingan adat dan kearifan lokal; pertahanan dan keamanan; perhubungan; atau komunikasi.

Ekosistem pantai mempunyai berbagai sumber daya alam yang berpotensi untuk dikembangkan. Salah satu potensinya meliputi keanekaragaman hayati ekosistem terumbu karang, padang lamun, mangrove dan rumput laut.

C. Muara Sungai (Estuaria)
Estuaria adalah perairan yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar (Pickard, 1967). Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar tersebut akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan kondisi lingkungan yang bervariasi, antara lain
1. Tempat bertemunya arus sungai dengan arus pasang surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh kuat pada sedimentasi, pencampuran air, dan ciri-ciri fisik lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya.
2. Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu kondisi fisik lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air laut.
3. Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya.
4. Tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasang surut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lain, serta topografi daerah estuaria tersebut.

Secara umum estuaria mempunyai peran ekologis penting antara lain sebagai sumber zat hara dan bahan organik yang diangkut lewat sirkulasi pasang surut (tidal circulation), penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makanan (feeding ground) dan sebagai tempat untuk bereproduksi dan/atau tempat tumbuh besar (nursery ground) terutama bagi sejumlah spesies ikan dan udang. Perairan estuaria secara umum dimanfaatkan manusia untuk tempat pemukiman, tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan, jalur transportasi, pelabuhan dan kawasan industri (Bengen, 2004).

D. Hutan Mangrove
Hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai komunitas yang hidup pada kawasan lembab dan berlumpur yang dipengaruhi oleh gerak air laut pasang surut, berfungsi sebagai tempat memijahnya berbagai spesies ikan, udang dan biota laut lainnya serta merupakan habitat berbagai spesies burung, mamalia dan reptilia. (Kamal, dkk. 2005). Hutan mangrove juga merupakan salah satu ekosistem utama di wilayah pesisir dan laut yang tumbuh dan berkembang baik di Indonesia, merupakan salah satu sumberdaya alam pesisir dan laut dapat pulih yang sangat kaya dan produktif. Hutan mangrove dengan beragam vegetasi dan fauna asosiatifnya memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Hutan mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai dari gempuran atau hempasan ombak, arus yang kuat dan abrasi pantai. Memiliki nilai ekonomis sebagai tempat penangkapan dan budidaya berbagai jenis dan udang, selain dapat dimanfaatkan kayunya untuk bahan bangunan, arang dan bahan baku kertas.

Hutan mangrove sebagai suatu ekosistem yang unik mempunyai fungsi pokok sebagai berikut :
1. Fungsi fisik, menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari gempuran ombak dan abrasi, menjadi wilayah penyangga terhadap rembesan air laut (intrusi) dan sebagai filter pencemaran yang masuk kelaut.
2. Fungsi biologis, sebagai daerah asuhan dan tempat pemijahan bagi ikan, udang, kepiting, kerang dan biota perairan lainnya, tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi serta tempat habitat alami berbagai jenis biota flora (anggrek) dan fauna lainnya.
3. Fungsi ekonomis, sebagi sumber bahan bakar (arang dan kayu bakar), bahan bangunan (balok, atap rumah dan tikar), perikanan, pertanian, tekstil (serat sintetis), makanan, obat-obatan, minuman (alkohol), bahan mentah kertas, bahan pembuat kapal (gading-gading) dan lainnya. (Purwanto, 1995; Kamal, 2005). Tidak kurang dari 70 macam kegunaan pohon mangrove bagi kepentingan manusia telah diidentifikasikan, meliputi “produk langsung” seperti bahan bakar kayu, bahan bangunan, alat penangkap ikan, pupuk pertanian, bahan baku kertas, makanan, obat-obatan, minuman, tekstil, dan “produk tidak langsung” seperti tempat rekreasi, dan bahan makanan (DAHURI et al, 1996).
4. Fungsi Pariwisata. Potensi lain dari hutan mangrove yang belum dikembangkan secara optimal adalah sebagai kawasan wisata alam (ecoturism). Kegiatan wisata alam semacam ini telah berkembang lama di Malaysia dan Australia.
5. Fungsi Pertahanan dan Keamanan. Selain itu Hutan Mangrove dapat menjadi bagian dari pola pertahanan dan keamanan nasional. Dengan menjadikan Hutan mangrove sebagai batas pelindung pertahanan di pesisir pantai baik dari serangan luar maupun dari kenaikan muka air laut karena pemanasan global yang dapat mengurangi garis pantai bahkan menenggelamkan pulau-pulau terluar Indonesia

Bengen (2001; dalam Rochana, 2012), menguraikan adaptasi tumbuhan mangrove bebagai berikut :
1. Adaptasi terhadap kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove memiliki bentuk perakaran yang khas. Ada dua jenis akar
a. Bertipe akar cakar ayam yaitu jenis Avecennia spp, Xylocarpus spp dan Sonneratia spp.
b. Bertipe penyangga/tongkat yaitu jenis Rhyzophora spp
Dengan jenis akar-akar tersebut memungkinkan tumbuhan mangrove untuk tetap berdiri kokoh walau digempur badai dan gelombang sehingga dapat melindungi pulau atau pantai. Kemudian dapat menahan abrasi dan menahan humus dan lumpur sehingga wilayah hutan mangrove tersebut tetap subur.
2. Adaptasi terhadap kadar garam
Adanya sel khusus pada daun yang berfungsi menyimpan garam, daun yang tebal dan memiliki struktur stomata khusus berfungsi mengurangi penguapan. Kondisi ini menjadikan tumbuhan mangrove mampu mencegah intrusi air laut yang asin ke daratan.
3. Adaptasi terhadap pasang surut melalui susunan struktur akar yang kokoh dan unik, membuat unsur hara dan sendimen subur tetap tesedia di kawasan ini.

E. Terumbu Karang
Terumbu Karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia.

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat kompleks dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, mengingat kondisi atau aspek biologis, ekologis dan morfologis yang sangat khas, maka merupakan suatu ekosistem yang sangat sensitif terhadap berbagai gangguan baik yang ditimbulkan secara alamiah maupun akibat kegiatan manusia (Dahuri dkk; 2004) Terumbu karang sebagai suatu ekosistem merupakan masyarakat organisme yang hidup di dasar perairan dan berupa bentuk batuan gamping (CaCO3) yang cukup kuat menahan gelombang laut (Dawes,1981 dalam Supriharyono,2000).

Terumbu karang merupakan endapan massif kalsium karbonat yang dihasilkan dari organisme karang pembentuk terumbu karang (karang hermatiik) dari ilum Coridaria ordo Scleractinia yang hidup bersimbiose dengan Zooxanthellae dan sedikit tambahan alga berkapur serta serta organisme lain yang mensekresikan kalsium karbonat. Terumbu karang merupakan suatu komunitas biologi yang tumbuh pada dasar batu gamping yang resisten terhadap gelombang (Romimohtarto dan Juana, 2005).

F. Padang Lamun
Padang lamun (sea grass) merupakan tumbuhan berbunga yang hidup terbenam di dasar laut. Tumbuhan ini terdiri dari akar, batang (Rhizome) dan daun. Warna daun kecoklatan sedang batang coklat tua, batangnya berbuku-buku dan berbunga. Tumbuh berdiri tegak di dasar laut, akarnya menancap ke dalam pasir dengan kuat sehingga mampu berdiri tegak walau dihempas gelombang dan arus air. Biasa hidup pada perairan disekitar pulau-pulau, di perairan dangkal hingga sedang dengan penetrasian sinar matahari.

Lamun hidup di perairan dangkal agak berpasir, sering juga dijumpai di ekosistem terumbu karang. Lamun membentuk padang yang luas dan lebat di dasar laut yang masih terjangkau oleh cahaya matahari dengan tingkat energi cahaya yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun tumbuh tegak, berdaun tipis yang bentuknya mirip pita dan berakar jalar. Tunas-tunas tumbuh dari rhizoma, yaitu bagian rumput yang tumbuh menjalar di bawah permukaan dasar laut. Lamun berbuah dan menghasilkan biji.

Pertumbuhan padang lamun memerlukan sirkulasi air yang baik. Air yang mengalir inilah yang menghantarkan zat-zat nutrien dan oksigen serta mengangkut hasil metabolisme lamun, seperti karbon dioksida (CO2) keluar daerah padang lamun. Secara umum semua tipe dasar laut dapat ditumbuhi lamun, namun padang lamun yang luas hanya dijumpai pada dasar laut lumpur pasiran dan tebal. Padang lamun sering terdapat di perairan laut antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang.

Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km2 yang dihuni oleh 7 marga dan 13 jenis lamun, antara lain jenis Enhalus acaroides dari suku Hydrocharitaceae. Suatu padang lamun dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja ataupun vegetasi campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang lamun hidup berbagai biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu rangkaian fungsi ekosistem. (Nondji,2010). Penyebaran ekosistem padang lamun di Indonesia mencakup perairan Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Irian Jaya. Thalassia hemprichii merupakan yang paling dominan di Indonesia (Husein, 2005). Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, hingga saat baru sekitar 17 persen ekosistem padang lamun di Indonesia yang telah terlindungi.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten + 9 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top