BERSAHABAT DENGAN ALAM atau Nature Friendly | DR. Arif Zulkifli Nasution

BERSAHABAT DENGAN ALAM atau Nature Friendly

Beberapa hari terakhir, berita mengenai bencana alam mendominasi media, mulai dari banjir di berbagai kota di Indonesia, longsor di Karanganyer, ancaman tsunami dan badai di pesisir pantai dsbnya. Ada yang mengaitkan bencana tersebut dengan perubahan iklim, penggundulan hutan, rusaknya mangrove di tepi pantai dan ada juga yang menyatakan bahwa kejadian tersebut hanya sementara, layaknya pergantian musim.

Apapun argumennya, kita layak waspada karena alam Indonesia dulu yang terkenal dengan indah dan asri menjadi sosok yang menakutkan. Alam tidak dicitrakan lagi bersahabat dengan manusia, tetapi menjadi musuh manusia. Manusia kembali lagi ke abad sebelum 14 M, dimana alam menguasai manusia. Teknologi tidak dapat lagi menaklukan alam, tetapi teknologi diciptakan untuk beradaptasi dengan alam.

lion-human-friend-friends-photography-love-friendship-hug-nature-beautiful-cute-Favim.com-461058

Manusia kehilangan kontrol terhadap alam. Alam murka dengan tingkah laku manusia yang sewenang-wenang dan ingkar. Manusia menanam berjuta-juta pohon namun juga menghabiskan berjuta-juta ton kertas setiap tahun. Manusia menciptakan mobil hemat energi, namun diproduksi berjuta-juta unit sehingga kebutuhan energi tetap tinggi. Manusia menciptakan segala macam teknologi pengolahan sampah namun sampah yang dibuang tetap saja tinggi.

Alam yang terus saja dieksploitasi kehilangan rasa kasihan. Banjir, longsor, dan perubahan iklim menyebabkan kerusakan materi, penyakit lama merajalela, penyakit baru terus saja bermunculan, bahkan timbul ancaman kepunahan makhluk hidup. Alam tidak dapat dibiarkan terus berunjuk rasa, perlu ada pendekatan partisipatif untuk meredamnya.

Sulit untuk meredam amarah alam, membutuhkan waktu, dan tenaga yang cukup besar. Cara paling efektif meredam amarah alam yaitu dengan menerapkan prinsip 3 Re pada kehidupan kita. Tiga re tersebut adalah realize (menyadari), recount (menghitung ulang), dan rearrange (mengatur ulang).

Revolusi industri yang menciptakan pemahaman bahwa alam diciptakan untuk manusia, karena itu manusia bebas mengeksploitasi alam seluas-luasnya demi keinginan manusia atau paham antroposentris. Pemahaman tersebut harus direformulasi menjadi pemahaman alam dan manusia adalah satu bagian, sehingga mengeksploitasi alam berarti membiarkan bagian tubuh luka dan lama-kelamaan kehilangan fungsinya atau ekosentrisme. Menyadari posisi manusia terhadap alam akan menciptakan penghargaan terhadap alam.

Alam sendiri memiliki titik jenuh dalam pertumbuhannya, pemanfaatan terhadap hasil alam sebenarnya merupakan bagian dari memelihara alam. Memelihara alam bukan berarti tidak boleh sama sekali menjamahnya namun yang terpenting adalah menjaga keseimbangan lingkungan. Di Nairobi Kenya ada sebuah taman nasional dimana kita dapat menikmati keindahan alam sambil bersantap daging binatang yang berasal di hutan tersebut, misalnya daging gajah, rusa, jerapah atau ular. Prinsip keseimbangan diterapkan di taman nasional tersebut, hewan-hewan yang jumlahnya surplus di kurangi untuk menjaga agar rantai makanan di taman nasional tersebut tetap seimbang.

Menyadari bahwa hutan adalah sahabat manusia akan membentuk rasa cinta pada tumbuhan. Menyadari air adalah bagian dari tubuh manusia (70% tubuh manusia terdiri dari air) akan membentuk sikap peduli terhadap pemanfaatan air. Menyadari pengeluaran energi membutuhkan sumber daya seperti energi gerak dalam diri kita di timbulkan oleh sumber makanan akan membentuk perilaku hemat energi.

iStock6001720_ChildHuggingTree_740px

Proses pembentukan kesadaran membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Banyak membaca atau mendengarkan media mengenai lingkungan makin memperluas kesadaran kita. Mengikuti seminar lingkungan dapat memperdalam pemahaman kita mengenai lingkungan.

Proses selanjutnya adalah recount yakni menghitung ulang segala tindakan kita pada lingkungan dari mulai yang kecil hingga yang besar. Misalnya penggunaan kertas bolak-balik akan mengurangi permintaan kertas dan ikut mengurangi penebangan pohon, menampung air hujandapat mengurangi terjadinya banjir dan menghemat persediaan air tanah, menggunakan energi alternatif seperti biogas atau matahari dapat menghemat penggunaan listrik. Listrik di Indonesia selain dibangkitkan oleh air juga oleh energi fosil seperti minyak dan batu bara. Mengurangi penggunaan listrik berarti mengurangi penggunaan energi fosil yang dapat meningkatkankan kadar CO2 di atmosfer. Semakin tinggi kadar CO2 maka pemanasan global dan perubahan iklim semakin sulit tertanggulangi.

Recount tidak hanya bermanfaat untuk alam, namun juga untuk diri sendiri. Namun kenapa manusia sulit untuk mengubah gaya hidupnya? Karena menurut hitungan yang diajarkan sejak kecil kepada kita memiliki lebih banyak berarti lebih makmur. Memiliki pakaian lebih banyak berarti mengikuti perkembangan zaman, memiliki rumah banyak berarti lebih senang, memiliki mobil banyak berarti lebih cepat. Mitos lebih banyak tersebut menghilangkan penalaran rasional kita bahwa lebih sedikit berarti lebih baik.

Memakai lebih sedikit berarti lebih banyak yang tersedia di alam. Memakai lebih sedikit air berarti membiarkan air ikut dinikmati oleh makhluk hidup lain. Memiliki sedikit kendaraan bermotor berarti menjaga kestabilan iklim. Memiliki lebih sedikit rumah berarti memberikan kesempatan makhluk hidup lain berada pada habitatnya.

Recount berarti juga menghitung produk yang usia penggunaannya paling tinggi dan menepis anggapan sesuatu yang baru itu berarti modern. Misalnya memilih membawa tas belanja dibanding plastik sekali buang ketika berbelanja, menyukai pakaian klasik yang tahan lama daripada model baru yang setiap tahun harus dibuang, memandang kemasan sekali pakai dan packing yang tidak dapat dikembalikan adalah pemborosan dan membuat limbah bertambah banyak.

Proses terakhir dari meredam amarah alam adalah rearrange (mengatur ulang). Rearrange terbagi kedalam berbagai tindakan yakni recreate (mencipta ulang), recovery (memulihkan), reuse (menggunakan kembali), reduce (mengurangi), recycle (mendaur ulang), refill (mengisi ulang), dan repair (memperbaiki)

Mencipta ulang berarti menambah jangka waktu pemakaian produk, namun recreate selalu terbentur dengan masalah profit yang didapatkan. Semakin tinggi usia produk maka perputaran uang juga semakin lama dan keuntungan juga semakin sedikit. Dalam buku the Waste-makers­ karangan Vance Packard ada kisah menarik mengenai perusahaan pembuat lampu neon Philips (Belanda). Ketika ditemukan produk yang memiliki jangka waktu penggunaan 10.000 jam, manajemen memutuskan tidak akan melempar kepasaran dan membuat lampu yang penggunaannya hanya 1000 jam.

Recovery berarti memulihkan kembali lingkungan yang telah tercemar. Parker Dave, P.E dan Schaefer Kathelen P.E (1996), mengemukakan prinsip-prinsip stormwater management. Prinsip tersebut mengetengahkan bahwa konservasi tanah pertanian ke permukiman atau penggunaan lahan untuk aktifitas ekonomi lainnya mengakibatkan perluasan perkerasan muka tanah. Konservasi tersebut mengakibatkan peningkatan air larian (run off), penguapan, penyerapan air ke dalam tanah, akumulasi bahan pencemar pada badan-badan air. Karena itu pemulihan lahan dari permukiman atau penggunaan untuk aktifitas ekonomi lainnya membutuhkan tumbuhan pionir, hewan atau mikroba untuk melunakkan kembali tanah.

Menggunakan kembali (reuse) barang-barang yang dianggap limbah di suatu tempat namun di daerah lain masih dianggap asset membutuhkan kerjasama antar berbagai pihak. Misalnya komputer pentium1 atau 2 sudah dianggap limbah di Jepang namun masih menjadi asset bagi daerah tertinggal di Indonesia.

Mengurangi (reduce) pola produksi dan konsumsi merupakan syaratmutlak agar lingkungan tetap terjaga. Mengurangi penggunaan kertas dengan beralih pada komputer dapat menjaga kelestarian hutan. Mengurangi penggunaan AC dengan mendesain ulang bangunan agar udara segar dapat masuk dapat mengurangi penipisan lapisan ozon. Membangun ulang ruangan agar sinar matahari dapat masuk dapat mengurangi penggunaan listrik.

Menggunakan kembali produk daur ulang dapat mengurangi ketergantungan kita terhadap alam misalnyamendaur ulang air, menggunakan minyak nabati bahkan limbah minyak nabati untuk kendaraan operasional dan mesin-mesin pabrik seperti perusahaan Jamu Sido Muncul. Menggunakan kembali bangunan-bangunan yang tidak terpakai untuk kantor dari pada membangun yang baru dapat mengurangi konversi lahan. Menciptakan produk yang dapat diperbaiki dengan obeng dan tank lebih berwawasan lingkungan dibanding produk yang dicetak atau di las.

Tiga konsep Re di awal sekurang-kurangnya dapat mengurangi dampak bencana alam. Efek yang ditimbulkan memang tidak instan karena alam membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisinya. Dalam masa pemulihannya, sebagai bentuk persahabatan kita jangan menambah waktu bagi alam untuk pulih. Justru kita percepat dengan tindakan yang pro lingkungan seperti gerakan pembersihan sungai atau kali, swadaya menambah tempat sampah di ruang publik seperti pasar, memperbanyak ruang terbuka hijau di pekarangan kita. Semoga upaya sungguh-sungguh kita membangun kembali persahabatan dengan alam dapat berjalan lancar.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − 6 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top