Air Bersih atau Clean Water | DR. Arif Zulkifli Nasution

Air Bersih atau Clean Water

Menurut Sudarmadji (2007), air merupakan ikatan kimia yang terdiri dari 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen (H2O), air dapat berbentuk gas cair maupun padat. Air sering dianggap murni hanya terdiri dari H2O, tetapi pada kenyataannya di alam tidak pernah dijumpai air yang sedemikian murni, meskipun air hujan.

Beberapa pengertian air bersih menurut beberapa literature diantaranya adalah :
1. Air bersih adalah air sehat yang dipergunakan untuk kegiatan manusia dan harus bebas dari kuman-kuman penyebab penyakit, bebas dari bahan-bahan kimia yang dapat mencemari air bersih tersebut. Air merupakan zat yang mutlak bagi setiap mahluk hidup dan kebersihan air adalah syarat utama bagi terjaminnya kesehatan.
2. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang syarat-syarat pengawasan kualitas air, air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.

Menurut Sugiharto (2003) tempat sumber air dibedakan menjadi tiga yaitu :
1. Air hujan, dalam wujud lainnya dapat berupa salju;
2. Air permukaan, air yang berada di permukaan bumi dapat berupa air sungai, air danau, air laut;
3. Air tanah, terbentuk dari sebagian dari air hujan yang jatuh ke permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui pori-pori/celah-celah dan akar tanaman serta bertahan pada lapisan tanah membentuk lapisan yang mengandung air tanah (aquifer), air tanah yang disebut air tanah dalam atau artesis, artinya air tanah yang letaknya pada dua lapisan tanah yang kedap air, ada yang sifatnya tertekan dan yang tidak tertekan. Air tanah dangkal artinya terletak pada aquifer yang dekat dengan permukaan tanah dan fluktuasi volumennya sangat dipengaruhi oleh adannya curah hujan.

Air bersih dalam Islam bersumber dari hujan. Semasa kemarau, banyak dari tumbuhan yang mati, dan hanya menyisakan biji-bijiannya yang tertanam jauh dalam perut bumi. Semua makhluk yang hidup di muka bumi ini terlebih yang bernyawa tidak mungkin dapat mempertahankan hidupnya tanpa air minum. Karenanya, air minum adalah kebutuhan primer setiap makhluk. Ketika menciptakan bumi, Allah SWT menyiapkan segalanya, air minum dan tumbuh-tumbuhan.
وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا {30} أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءهَا وَمَرْعَاهَا {31} وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا {32} مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. An Naziaat: 30-33)

Al-Qur’an juga mengatakan bahwa hujan adalah sumber kehidupan.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاء مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah: 164)

Kekuasaan Allah yang telah memberikan manusia air bersih hendaknya disyukuri. Karena kejadian pembentukan air bersih, memang merupakan semata-mata bukti kebesaran-Nya. Ada beberapa pertanyaan proses penciptaan air bersih yang belum terjawab oleh ilmu pengetahuan dan belum ada teknologi yang mampu menyerupainya.

Gambar Proses Hujan
Mengapa air laut menguap ketika disinari oleh matahari? Mengapa yang menguap hanya airnya saja, sedangkan kandungan partikel lainnya tidak ikut menguap? Ketika air disinari matahari, mengapa naik ke langit dalam bentuk uap, namun ketika turun kembali turun dalam bentuk tetesan? Dan mengapa uap air yang telah membeku di awan, ketika turun tidak pernah mengalir bak air terjun, akan tetapi hujan turun dalam bentuk tetesan? Mengapa ketika air hujan turun tidak turun dalam bentuk uap sebagaimana ketika terangkat ke awan?

Pertanyaan tersebut telah dijawab dalam Al-Qur’an surah Al-Waqi’ah ayat 68-70

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?”

Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, bahkan dalam proses penyimpan air. Allah menyatakan manusia tidak akan sanggup menyimpan air bersih yang dibutuhkan oleh seluruh manusia. Dalam surah Al-Hijr ayat 22

22. Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya

Berdasarkan penelitian bahwa sekitar dua pertiga dari wilayah bumi berisi air atau perairan. Namun, hanya 3% dari bagian itu yang merupakan air tawar dan sisanya (97%) adalah air laut atau air asin. Itu artinya hanya 3% dari air di bumi yang layak untuk digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Belum lagi ditambah dengan kenyataan bahwa dari 3% air tawar yang ada tersebut, 68% berupa es gleyser dan es kutub. Sisanya berupa air tanah, air permukaan, dan air yang tersimpan di udara berupa awan hujan.

Dewasa ini, krisis air bersih menjadi isu sentral yang marak diberitakan. Di beberapa kota di dunia, krisis air bersih membuat warganya harus rela membeli air bersih dengan harga cukup mahal. Menjamurnya air minum isi ulang seakan menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukanlah asumsi belaka. Hal tersebut adalah sebuah fakta bahwa air bersih bukanlah lagi barang gratis yang bisa didapatkan bebas di alam. Tahun 70-80 an, produk air minum kemasan dipandang sebelah mata karena produk tersebut diprediksi tidak akan laku dipasaran. Pada saat itu air bersih untuk minum dapat diperoleh dengan mudah. Namun, sekarang produk air minum kemasan menjadi kebutuhan pokok sebagain besar masyarakat khususnya diperkotaan. Bukan karena masalah perubahan gaya hidup, namun lebih karena memperoleh sumber air baku bersih semakin sulit.

Ketersediaan air bersih di Indonesia masih kurang 13% dari target Millenium Development Goals (MDGs) sebesar 68% pada 2015. Armida S. Alisjahbana, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas tahun 2013, mengatakan berdasarkan data terakhir yang didapat pemerintah pada 2011, ketersediaan air bersih di Indonesia baru mencapai 55%. Seharusnya sesuai target pembangunan milinium pada tahun 2015 air bersih mencapai 68%. Jadi ada selisih 13%.

Masalah penyediaan air bersih
Negara telah mengatur agar kekayaan alam tersebut mampu memberikan kesejahteraan sebesar-besarnya bagi rakyat. Aturan tersebut termuat dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 menyatakan, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Rasulullah SAW juga bersabda:
Tiga hal yang menjadi hak milik publik: air, tempat berlindung, dan api
Namun yang terjadi justru sebaliknya pemerintah telah melakukan liberalisasi terhadap sumber air , sehingga sumber air tersebut hanya dinikmati oleh segelintir pemilik modal.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top