Strategi Pencapaian Swasembada Gula atau Achieving Self-Sufficiency Strategy Sugar | DR. Arif Zulkifli Nasution

Strategi Pencapaian Swasembada Gula atau Achieving Self-Sufficiency Strategy Sugar

Beberapa strategi pencapaian swasembada gula, misalnya antara lain:

  1. Peningkatan produksi dan produktivitas tebu melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Targetnya produktivitas gula tahun 2013 dan 2014, yakni 83,9 ton per hektar dan 84,9 ton per hektar, rendemen masing-masing 8,21% dan 8,46%, serta kapasitas terpasangnya masing-masing 181.630 TCD (ton cane day/ton tebu per hari) dan 186.739 TCD.
  2. Revitalisasi industri gula. revitalisasi pabrik gula dengan fokus pada peningkatan kapasitas terpasang dan rendemen minimal 10 persen serta pendirian pabrik gula baru benar-benar diwujudkan dengan diimbangi peningkatan perluasan areal tanaman tebu menjadi750.000 Ha dan produksi tebu 100 Ton/Ha dengan potensi rendemen 10 persen,  akan menghasilkan gula 7.500.000 ton.
  3. Penyediaan lahan perkebunan tebu. Untuk mewujudkan swasembada gula nasional diperlukan tambahan luas areal perkebunan sekitar 350.000 hektar, di lokasi yang sesuai dengan syarat tumbuh perkebunan tebu. Sementara, luas areal tanaman tebu tahun 2012 kurang lebih 451.998 Ha. luas area penanaman pada 2013 dan 2014 ditargetkan 312.948 hektar dan 322.972 hektar, dengan jumlah tebu masing-masing 26.249.000 ton dan 27.425.000 ton.
  4. Untuk memperbaiki rendeman, maka yang bisa dilakukan adalah perbaikan varietas, optimalisasi waktu tanam, pupuk berimbang, pengendalian organisme pengganggu, serta perbaikan sistem tebang dan pengangkutan.
  5. Perbaikan insentif manajemen produksi tebu, mulai dari sistem bagi hasil, sistem transfer tebu, pengukuran kualitas tebu, hingga insentif harga.
  6. Penggunaan varietas tebu dari rekayasa genetika
  7. Penambahan jumlah pabrik gula
  8. Revitalisasi manajemen internal pabrik gula. Revitalisasi artinya menyegarkan sumber daya manusianya. Tenaga kerjanya harus lebih muda agar lebih produktif. Sumber daya manusia yang menggerakkan pabrik dan manajemen di PTPN, harus diisi oleh darah segar dan semangat baru.
  9.  Peningkatan kesejahteraan petani tebu dan karyawan pabrik gula. Kesejahteraan para petani tebu harus mendapat prioritas utama karena tanpa kerjasama yang baik antara pengelola pabrik gula dengan petani tebu maka mustahil jumlah produksi gula akan meningkat. Hal ini bisa diawali dengan penertiban pembayaran kepada petani yang telah memasok tebu ke pabrik gula. Jika selama ini terjadi penundaan pembayaran kepada petani, maka jika langkah awal ini terelalisasi dengan baik maka ini akan menjadi langkah pembuka simbiosis mutualisme yang sehat, sehingga harapannya ke depan jumlah pasokan akan lebih meningkat.
  10. Peningkatan posisi tawar petani dalam bernegosiasi dengan pabrik gula dan pelaku pasar lainnya, misalnya dengan peningkatan akses permodalan, informasi pasar, pembenahan kelompok tani dan perbaikan sarana dan prasarana lain
  11. Revitalisasi pabrik gula dalam proses produksi gula dapat dilakukan melalui tiga langkah yaitu efisiensi, diversifikasi, dan optimalisasi. Banyaknya bagian tebu yang terbuang pada saat proses pengolahan di pabrik gula adalah bentuk dari ketidakefisienan kinerja di pabrik gula yang pasti akan menghambat produksi gula. Hal ini pula yang menyebabkan rendemen (kadar gula dalam tebu) menjadi rendah. Jika hal ini terus dilakukan, maka proses produksi tidak akan berjalan dengan maksimal. Oleh karena itu perlu dilakukan pemetaan di dalam sistem untuk mengetahui di titik-titik mana terjadi ketidakefisienan kerja.
  12. Memberikan kuota impor raw sugar bagi industri gula rafinasi yang disesuaikan dengan kebutuhan gula rafinasi bagi industri makanan dan minuman dalam negeri
  13.  Mengarahkan investasi baru pada industri gula terintegrasi dengan perkebunan tebu.
  14. Untuk mencapai target swasembada gula, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menganggarkan dana melalui APBN untuk kegiatan pembangunan kebun bibit, perluasan tanaman tebu, penataan varietas, bongkar dan rawat ratoon, bantuan traktor dan alat pengairan, pendampingan melalui Tenaga Kerja Pendamping serta penguatan kelembagaan petani tebu seperti KPTR dan kelompok tani tebu yang akhirnya dana tersebut menjadi Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK).
  15. Peningkatan perbaikan benih. Sistem perbenihan tebu perlu dikembangkan kelembagaan yang khusus untuk menanganinya, terutama mengenai belanja benih tebu. Masalah yang terjadi, belum tercapainya prinsip tepat benih seperti waktu, ketersediaan, varietas, jenis, jumlah, mutu. Perbaikan varietas tebu, optimalisasi waktu tanam, pupuk berimbang, pengendalian organisme pengganggu, perbaikan sistem tebang dan pengangkut.
  16. Pengembangan tebu lahan kering yang bervisi pemberdayaan petani dan organisasi tani. mengurangi kesenjangan produktivitas mencolok antara tebu skala besar dan skala petani kecil.
  17. Kementerian Pertanian perlu membina petani agar membudidayakan tebu yang tahan hama. Dari sisi produksi, diharapkan dapat mencapai 100 ton gula. Jangan sampai penanaman tebu yang seharusnya hanya enam kali tanam, namun dilakukan menjadi 12 kali tanam.
  18. Kementerian Pertanian juga idealnya harus membuat transparansi dari saat proyek percontohan, ketika masa tanam dan masa potong. Semuanya disusun sejak awal, dan transparan. Jika petani tebu mendapatkan akses informasi yang jelas, mereka juga tentu akan mendapatkan untung maksimal.
  19. Peningkatan produktivitas tanaman tebu. Pada tanaman, produktivitas ditentukan oleh faktor genetik yaitu varietas, faktor lingkungan yaitu teknik budidaya dan interaksi keduanya. Produktivitas tanaman akan optimal kalau kedua faktor tersebut dikelola dengan baik (Produktivitas = Genetik + Lingkungan).
  20. Indonesia sendiri saat ini sudah mempunyai beberapa varietas tebu yang cukup mumpuni dan mampu menghasilkan produksi gula yang cukup baik, serta didukung dengan program penataan varietas yang tepat yaitu 40% masak awal, 40% masak tengah dan 20% masak akhir, maka diharapkan peningkatan produktivitas hasil tebu dan gula di wilayah pengembangan tebu rakyat dapat tercapai.  Beberapa varietas yang banyak dibudidayakan di Indonesia antara lain dengan komposisi varietas masak awal yaitu : PS 851, PS 862, PS 891, PS 881, PSBM 901, komposisi varietas masak tengah yaitu : PS 882, Kentung, Kidang Kencana, VMC 76-16,  komposisi varietas masak akhir yaitu : Bululawang dan PS 864,  termasuk  juga varietas yang baru dirilis oleh PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) di tahun 2011 yaitu varietas PSJK 922. Varietas – varietas tersebut cukup mampu di andalkan kontribusinya untuk swasembada gula tahun 2014.
  21. Penertiban peredaran gula ilegal. Perlu segera diberlakukan penegakan hukum yang berefek jera terhadap para pelaku penyelundupan gula dan pengedar gula rafinasi ilegal. Impor gula berdasarkan kuota kebutuhan gula dalam negeri bukan berdasarkan kapasitas terpasang pabrik. Selain itu, pemerintah segera menetapkan daftar negatif investasi terhadap pendirian pabrik gula rafinasi baru.
  22. Penggunaan Rodges Bermata Ganda :Rodges bermata ganda ini merupakan suatu alat yang digunakan untuk membersihkan pelepah yang sudah mati pada tanaman tebu yang hingga saat ini biasanya pabrik hanya menggunakan sabit atau celurit yang hanya dapat membersihkan tebu dari satu sisi, namun dengan rodges model ini, maka buruh atau petani dapat membersihkan pelepah mati dari dua sisi sekaligus dalam satu kali kerja. Mungkin hal ini merupakan hal yang sangat sederhana, namun bayangkan saja jika di dalam dupuluh hektar lahan membutuhkan seratus pekerja tiap harinya dengan gaji misalnya Rp. 25.000,- perharinya, maka dengan alat ini, cukup dengan lima puluh pekerja saja sudah cukup dengan bayaran yang sama.
  23. Pengemasan Gula Dalam Kemasan Menarik dan Timbangan yang Lebih Kecil: Pengemasan gula merupakan suatu langkah yang dapat meningkatkan pendapatan dari hasil produksi yang sama, hal ini karena hingga saat ini banyak sekali produsen gula yang tidak mempedulikan pengemasan dan cenderung untuk menjual gula dalam bentuk karungan, yang sangat mengurangi pendapatan. Padahal, jika gula dikemas dalam ukuran yang lebih kecil, misalnya satu kilogram tiap kemasan dan dengan menggunakan label Brand tertentu, maka pendapatan pun akan meningkat drastis dibandingkan hanya menjualnya perkarung.
  24. Penggantian Proses Pembongkaran dan Pemanasan Tebu di Cane Yard dengan Proses Yang Lebih Baik: Proses pembongkaran dan pemanasan tebu di Cane Yard yang bertujuan untuk mengurangi aktivitas mikroorganisme untuk jangka waktu lama harus diganti dengan proses yang lebih efisien dan lebih baik, hal ini karena pemanasan langsung di bawah sinar matahari yang biasanya berlangsung dari pukul 09.00-21.00 WIB akan cenderung mengurangi kandungan gula yang terkandung dalam tebu yang disebabkan oleh menguapnya gula bersama air dan proses sterilisasi tebu dengan cara ini harus diganti dengan proses lain, misalnya dengan penggunaan bahan antimikroba yang ramah lingkungan.
  25. Penggunaan Bibit Unggul dan Tepat Sesuai Dengan Kondisi Lahan: Penggunaan bibit unggul dan tepat merupakan langkah yang harus dilakukan selanjutnya, sebab setiap lahan memiliki kondisi fisik dan geografis berbeda yang hanya sesuai untuk pertumbuhan optimum tebu tertentu, sehingga nantinya rendemen gula tebu pun akan meningkat.
  26. Pengurangan Penggunaan Bahan Kimia Dalam Proses Produksi:Bahan kimia yang bersifat toksik harus dikurangi penggunaannya di dalam produksi, hal ini karena dalam produksi nanti diperlukan suatu proses pemurnian (clarification) kembali untuk memisahkan produk utama dan zat kimia tersebut, sehingga menurunkan efisiensinya.
  27. Peningkatan Penelitian Tentang Tanaman Tebu:Hal ini berguna agar dapat ditemukan suatu metode atau cara tentang bagaimana untuk memperoleh tanaman tebu dapat menghasilkan kandungan gula yang optimum maupun cara untuk merekayasanya, tanpa merusak kualitasnya.
  28. Pemupukan Secara Teratur:Tanah merupakan suatu tempat dimana tebu tumbuh, dan seiring dengan berjalannya waktu, kandungan zat hara yang terkandung di dalamnya akan sangat berkurang dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengembalikan keseimbangannya jika secara alami. Oleh karena itu, pemupukan dilakukan yang bertujuan agar kadar zat hara tersebut dapat kembali dengan lebih cepat sehingga tebu yang dihasilkan lebih berkualitas. Pupuk ini dapat berasal dari pupuk pasaran yang dapat dicampur dari abu atau blotong yang merupakan limbah proses pembuatan gula yang masih mengandung berbagai unsur yang sangat diperlukan oleh tanah.:Penggunaan Alat Pembongkaran Tahap Awal yang Efisien
  29. Pada tahap awal sebelum tebu masuk proses lebih lanjut, terdapat proses pembongkaran dengan penggunaan alat berat yang memiliki kapasitas maksimum dan cara pembongkaran yang berbeda, oleh karena itu pemilihan alat pembongkaran yang tepat dan sesuai akan cukup menghemat biaya yang digunakan untuk pembelian alat berat tersebut.
  30. Pengurangan Waktu Gula Ketika Berada di dalam Defekator:Pengurangan waktu gula di dalam defekator ini berguna agar tidak banyak produk gula utama yang kembali terkonversi menjadi gula reduksi, misalnya turunan sukrosa yang tidak diinginkan akibat tidak tahannya gula berada di dalam larutan basa alkali di dalam buffer tank.
  31. Penggunaan Pengatur Debit (flowmeter) dalam Proses Pengaturan Air:Penggunaan pengatur aliran debit air ini sangat berguna agar diperoleh suatu komposisi yang seimbang antara air dan mud (nira kotor), sehingga nantinya akan menurunkan penggunaan energi listrik yang berlebihan yang tentunya meningkatkan pendapatan, sebab hinggga saat ini pabrik gula masih menggunakan keran air yang menggunakan perkiraan dari operatoryang kurang efisien. Selain itu, melalui proses ini viskositas nira kotor (mud) semakin kecil sehingga kandungan gulanya lebih kecil dan mengurangi penggunaan energi pada evaporator.
  32. Penggunaan Continous Vacuum Pan (CVP) dibandingkan Batch Vacuum Pan (BVP):Batch Vacuum Pan (BVP) biasanya digunakan jika terdapat nira yang berlebihan dalam proses, sehingga kelebihan tersebut diproses lebih lanjut di dalamnya, namun kecilnya tingkat konversi gula yang dihasilkan, maka lebih baik digunakan CVP dalam proses kelebihan tersebut dibandingkan BVP.
  33. Penggunaan Rotarry Vacuum Filter yang Lebih Lambat: Penggunaan Rotarry Vacuum Filter yang bergerak lebih lambat tentunya akan meningkatkan nilai pol (kandungan gula) dalam nira, kecepatan Rotarry Vacuum Filter ini biasanya diukur dalam rpm (perputaran per menit) karena semakin lambat rotarry vacuum filter maka semakin besar nilai pol-nya.
  34. Peningkatan Ketinggian Alat Pemrosesan:Hal ini akan sangat berguna untuk meningkatkan volume umpan yang masuk dalam proses produksi walaupun dengan lahan yang tidak begitu luas, karena melalui cara ini kelebihan nira yang biasanya ditampung terlebuh dahulu dapat dihindari yang selanjutnya meningkatkan efisiensi produksi.
  35. Tindakan Proses Lebih Lanjut Terhadap Produk Samping Pembuatan Gula:Dalam proses pembuatan suatu produk utama tentunya ada suatu produk sampingan yang menyertainya yang biasanya kurang diperhatikan oleh produsen. Padahal, produk sampingan ini cukup dapat membantu pendapatan pabrik jika diproses lebih lanjut, bahkan pemerintah pun sangat menyarankan proses ini karena terdapat banyak sekali produk sampingan yang bernilai ekonomis tinggi karena tingginya biaya produksi, misalnya Bagasse masih memiliki kandungan gula yang cukup tinggi yang dapat digunakan lebih lanjut untuk proses pembuatan gula jika disaring dan dihaluskan dan ampasnya kemudian dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler. Kemudian molasses (tetes tebu) yang masih mengandung gula 30-40% dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan bioetanol dan vetsin di dalam pabrik yang cukup berharga tinggi jika dibandingkan hanya menjualnya langsung ke produsennya.
  36. Peningkatan Luas Lahan:Dengan adanya peningkatan luas lahan, maka tentunya semakin banyak tebu yang dapat diproses dalam pabrik gula, sehingga produksi gula pun akan meningkat.
  37. Percepatan Waktu Ijin Pendirian Perusahaan Gula:Selain peningkatan luas lahan pembuatan gula, percepatan waktu ijin pendirian perusahaan gula sangat membantu kinerja perusahaan. Karena biasanya, ketika suatu perusahaan gula sudah didirikan, perizinannya belum selesai yang selanjutnya menghambat proses produksi gula karena belum bolehnya produksi gula untuk dilakukan. Selain itu, sering adanya klaim dari masyarakat tentang perizinan pendirian pabrik, turut menambah masalah ini.

 

 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top