Pencemaran Laut akibat Sampah Plastik atau Sea Pollution due to Plastic Waste

Setelah berbagai “penghargaan” kerusakan lingkungan disematkan kepada Indonesia seperti Negara penyumbang pertama emisi gas pemanasan global dari kebakaran hutan, Negara contributor pemanasan global no 4 di Dunia, Negara dengan sungai paling tercemar di dunia, Negara dengan pemakaian merkuri terbesar di dunia, dan sebagainya. Indonesia di daulat menjadi Negara kedua di dunia yang berkontribusi paling besar terhadap pencemaran laut, terutama oleh sampah plastik.

Sebuah studi (Jambeck et al., 2015) memperkirakan setiap tahun 4,8 hingga 12,7 juta metrik ton plastik memasuki lautan. Ini membuat lautan Indonesia mendapat predikat sebagai tempat kedua sebagai sumber pencemaran plastik terbesar di dunia. Studi yang dilakukan oleh Jambeck (Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS) menyatakan Indonesia menempati peringkat ke-2 dalam hal pembuangan sampah plastik ke laut, dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Sedangkan posisi ketiga dalam pencemaran sampah plastik ke laut adalah Filipina sebesar 83,4 juta ton.

Tahun 1997, sejumlah besar plastik yang mengapung di Pasifik Selatan ditemukan oleh Kapten Charles Moore, pendiri Algalita Research Foundation. Moore memperkirakan bahwa zona pencemaran plastik ini bisa mencapai 2,6 juta kilometer persegi, lebih luas dari Indonesia yang hanya 1,905 juta kilometer persegi. Pulau Henderson, yang terletak di wilayah Pasifik Selatan, menjadi pulau yang paling tercemari plastik di Bumi. Hal itu didasarkan pada 38 juta keping sampah yang ditemukan para peneliti di pulau tersebut.

Masalah pencemaran plastik telah menjadi masalah dunia. Sampah plastik dapat membunuh binatang laut. Makhluk-makhluk tersebut dapat terperangkap jaring ikan atau mati kelaparan sesudah memakan partikel yang tidak dapat diserap tubuhnya. Setidaknya 90 persen burung laut mengonsumsi sampah plastik. Plastik terurai mengeluarkan zat kimia berbahaya dan mencemari laut. Zat kimia yang berbahaya pada dosis yang besar dapat menyebabkan resiko kesehatan bahkan kematian pad hewan. Sedangkan zat kimia pada dosis yang rendah terakumulasi pada binatang dan dapat memasuki rantai makanan dan berakhir di meja makan kita.

Fakta-fakta lain mengenai sampah plastik yaitu:
• Dalam bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan dalam setiap mil persegi terdapat 46,000 sampah plastik mengambang di lautan.
• Setiap tahun, plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya.
• Kantong plastik sisa telah banyak ditemukan di kerongkongan anak elang laut di Pulau Midway, Lautan Pacific
• Banyak kura-kura di kepulauan seribu yang mati karena memakan plastik yang dikira ubur-ubur, makanan yang disukainya.
• Penelitian pernah dilakukan oleh University of California Davis pada tahun 2014 dan 2015 tentang pencemaran plastik mikro di dalam pencernaan ikan. Hasilnya adalah 28 persen dari sampel ikan di pasar tradisional di Makassar makan plastik. Sementara itu, 67 persen ikan di salah satu tempat di California juga makan plastik. Ikan-ikan tersebut kalau dikonsumsi manusia bisa berbahaya.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sumber sampah plastik terbesar berasal dari daratan dan bukan dari laut. Karena itu, untuk menghentikan atau mengurangi pencemaran laut oleh sampah plastik, maka pengelolaan sampah di daratan perlu segera diubah.Sampah plastik yang berasal dari daratan dan dibuang ke laut jumlahnya mencapai 80 persen dari total sampah yang ada di laut. Sampah-sampah tersebut masuk ke lautan, disebabkan oleh pengelolaan sampah yang kurang efektif dan perilaku buruk dari masyarakat pesisir di seluruh dunia dalam menangani sampah plastik. Polusi sampah plastik tidak hanya berdampak buruk terhadap lingkungan, tapi juga merugikan dari sisi ekonomi karena pendapatan negara dari sektor kelautan juga menurun.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman telah melakukan riset dengan Universitas Padjajaran Bandung di Pulau Biawak, pulau tidak berpenghuni di utara Provinsi Banten. Hasil penelitian menunjukkan sampah botol plastik yang ada di pulau tersebut diyakini berasal dari berbagai negara lain. Dari lima botol plastik, dua berasal dari Asia Selatan. Berarti ada kemungkinan sampah plastik dari Indonesia juga sampai ke luar negeri.

Sementara itu, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, sampah plastik yang ada di laut Indonesia saat ini secara keseluruhan telah menimbulkan kerugian yang mencapai USD1,2 miliar atau setara Rp16 triliun. Agar sampah plastik tidak semakin banyak, Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan Bank Dunia dan Denmark untuk mengadakan penelitian di 15 lokasi. Selain itu, Indonesia juga sudah menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat untuk kepentingan penelitian ikan yang mengonsumsi plastik di laut. Luhut juga mengimbau kepada negara-negara di ASEAN untuk bisa sama-sama terlibat mengatasi persoalan sampah di laut. Dengan bekerja sama di masing-masing negara, dia yakin persoalan sampah ke depan secara perlahan bisa diatasi.

Sayangnya paradigma yang dimiliki pemerintah saat ini baru 2R: recycle dan reuse, belum optimal pada upaya reduce atau mengurangi. Program-progam yang diperkenalkan misalnya memperkenalkan asosiasi daur ulang plastik, 1.000 bank sampah, membuka investasi untuk penanggulangan sampah plastik, merencanakan pengolahan sampah menjadi energi atau listrik, dijadikan bahan campuran aspal dan sebagainya.

Padahal paradigm utama pengelolaan sampah dimanapun di dunia adalah upaya mengurangi penggunaan plastik. Dengan tingkat konsumsi plastik di Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta ton per tahun berapa yang sudah di recycle dan di reuse dengan perangkat yang dimiliki pemerintah?

Pemerintah sudah membuat Rencana Aksi Nasional (RAN) sebagai peta jalan dalam mengatasi dan membersihkan sampah plastik di laut dalam rangka mencapai target pengurangan sampah hingga 70% pada tahun 2025. Namun belum terlihat upaya sungguh-sunggu pemerintah pada upaya preventif pengelolaan sampah plastik. RAN belum optimal memuat bagaimana upaya mengurangi penggunaan sampah, bagaimana pengelolaan sampah plastik di darat, dan upaya pencegahan pembuangan sampah ke laut. RAN baru bergerak pada upaya kuratif atau pengobatan.

Karena itu, penulis mengusulkan agar RAN dievaluasi agar program yang dibuat sistematis dan tidak sporadis mengikuti trend yang ada, ada target per tahun untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang ada di daratan dan perairan, mencegah sampah plastik dari daratan ke lautan dan menyelamatkan makhluk hidup dari dampak sampah plastik.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top