Belajar Alam dari Sedulur Sikep

“Ibu bumi wis maringi, Ibu bumi dilarani, Ibu bumi kang ngadili. La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.”

Bumi selayaknya seorang ibu yang harus dirawat, dijaga, dan tidak boleh disakiti. Dengan kekayaan seorang ibu, ia telah memberi dan, sekali kita merusaknya, ia akan mengadili. Tanah dan air adalah Ibu Petani Kendeng, Penolakan terhadap Pabrik Semen adalah harga mati

Sejak dulu daerah yang subur di kaki gunung Kendeng didiami masyarakat agraris. Satu dari komunitas masyarakat agraris adalah Samin atau Sedulur Sikep (Sahabat Sikep). Pola kehidupan masyarakat Sedulur Sikep dekat dengan alam. Masyarakat Sedulur Sikep hingga kini menolak penanaman padi dan sayuran dengan pupuk kimia. Mereka menyimpan pengetahuan tentang pengunaan obat tradisional. Mereka berbelanja di pasar tradisional dan menghindari supemarket yang tumbuh dimana-mana. Mereka tidak menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Sejak masa penjajahan mereka tidak membayar pajak negara. Agama mereka juga tidak termasuk ke dalam enam agama yang diakui negara..

Bahkan ketika zaman rezim orde baru, dimana diterapkan kebijakan revolusi hijau, dengan memaksa petani menggunakan bahan-bahan kimia. Masyarakat Samin tidak terpengaruh dan tidak mengikuti kebijakan rezim orde baru. Mereka percaya jika kita menjaga alam dengan tidak menggunakan bahan-bahan kimia, maka alam akan memberikan yang terbaik bagi pertanian.

Pada catatan sejarah, komunitas Sedulur Sikep didirikan pada akhir abad ke 19 oleh Samin Surosentiko. B eliau melakukan perlawanan tanpa kekerasan dalam perjuangan menentang penindasan penjajah Belanda. Perjuangannya mendapat simpati rakyat kecil karena mendukung keadilan bagi rakyat. Namun pemerintah Belanda menganggap perlawanannya berbahaya, hingga Samin diasingkan ke luar Jawa dan tidak pernah kembali lagi. Ajarannya masih terus tersimpan di masyarakat. Salah satu ajarannya adalah jangan salahkan orang lain, jangan mencuri dan jangan membenci.

Pengikut Samin berprofesi sebagai petani, mereka dilarang untuk berdagang. Bagi mereka petani adalah wali dunia. Budaya tani terbukti punya nilai budaya dan kebersamaan. Samin Surosentika dan sedulur sikep lainnya mempertahankan lahan pertanian, karena percaya untuk kebutuhan hidup maka masyarakat harus bisa bertani dan mempertahankan lahan pertaniannya. Sedulur sikep juga ikut menjaga hutan. Hutan berperan sebagai penyangga dan daerah resapan air, sehingga harus dijaga dan dimanfaatkan secara bijaksana.

Ketika ada kabar tentang pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng, mereka melakukan perlawanan. Komunitas adat Sedulur Sikep yang mendiami kawasan Kendeng utara melakukan aksi protes untuk mempertahankan hak hidup petani yang ada di Kabupaten Rembang saja, melainkan demi kelestarian alam di Jawa Tengah. Sedulur Sikep menganggap pembangunan pabrik semen akan menyakiti bumi. Bumi sudah memberikan kenikmatan tak terbatas pada manusia. Ibu Bumi tidak pernah mengeluh, sudah disakiti tapi masih memberikan air cukup, tanaman cukup untuk manusia.

Salah satu pengikut ajaran Samin adalah ibu Gunarti. Ibu tiga anak ini tinggal di kabupaten Pati, dan sehari-hari bekerja sebagai petani. Ia memberikan pelajaran pada anak-anak keluarga Samin yang rata-rata tidak bersekolah di sekolah formal. Bagi Gunarti, aktivitas penambangan di kawasan karst memiliki dampak yang merusak bagi keberadaan sumber air di bawah Pegunungan Kendeng. Sementara itu, sudah puluhan tahun para petani di Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan bergantung pada sumber air dari Pegunungan Kendeng.

Nyono, Kepala Desa Timbrangan, juga tidak mendukung keberadaan pabrik semen Rembang. Jika pabrik Semen Rembang sudah beroperasi, maka hamparan sawah dengan padi menguning, akan menjadi pemandangan langka. Panen jagung dan padi yang menjadi hasil pertanian unggulan bisa jadi akan tinggal cerita. Dia menyebutkan salah satu mata air di desanya yang tak pernah habis. Mata air itu berada di Gowa Menggah, sebelah selatan Desa Timbrangan. Mata air itu pernah coba disedot, namun airnya tak pernah habis-habis. Karena itu, dia meyakini desa tempatnya tinggal memiliki sumber air.

Gunretno, salah satu masyarakat Sedulur Sikep masih ingat janji Pak Jokowi ketika kampanye pemilihan presiden lalu. Pak Jokowi bertekad menjadikan negeri ini berdikari dan berdaulat pangan. Tapi, kebijakan pendirian pabrik semen, justru berseberangan dengan janji tersebut. Pendirian pabrik semen akan mempersempit lahan pertanian dan menghilangkan sumber air pertanian.

Sukinah, salah satu petani Kendeng mengatakan, perjuangan akan terus dilakukan sampai berhentinya aktifitas pabrik semen Rembang. Penolakan terhadap pembangunan pabrik semen merupakan harga mati. Sebab, berkaitan dengan kehidupan banyak anak manusia.

Pabrik semen melakukan penambangan batu gamping atau batu kapur di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tegaldowo itu artinya ladang panjang. Tegal itu ladang. Dowo dalam bahasa Jawa itu panjang. Ada semacam mitos yang berkembang di masyarakat, bila ada orang lain bukan warga Tegaldowo datang hendak berbuat sesuatu, orang itu bakal sukses tetapi hanya sesaat. Dulu, ada juga rencana pendirian pabrik penggilingan batu di Desa Tegaldowo. Namun pabrik itu gagal beroperasi padahal bekas bangunannya masih ada sampai sekarang. Pemiliknya dikabarkan meninggal. Tini, salah satu petani Kendeng, menggambarkan peristiwa tersebut dalam peribahasa Jawa, “Becik ketitik olo ketoro.” Artinya, yang buruk bakal terlihat pada waktunya.

Pembangunan pabrik semen terus berjalan bahkan sudah memasuki tahap operasional. Petani dari kawasan pegunungan Kendeng juga melakukan perlawanan. Mulai dari menyampaikan aspirasinya ke pemerintah provinsi Jawa Tengah dengan berjalan kaki selama 5 hari, sampai datang ke Jakarta dan melakukan aksi protes dengan memasung kaki menggunakan semen.

Pada hari Senin tanggal 20 bulan Maret 2017, jumlah petani yang menyemen kakinya mencapai 50 orang. Jumlah tersebut semakin bertambah menjadi 60 orang setelah sepuluh perempuan relawan yang menjadi pendamping petani Kendeng memutuskan untuk ikut mengecor kaki dengan semen. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, dari pegiat hak asasi manusia, pekerja kantoran, hingga mahasiswi.

Kartini-kartini masa kini tersebut berdiri dengan kaki yang tidak lagi menginjak bumi Jawa Tengah, melainkan berdiri di dalam kotak kayu yang dicor dengan semen. Ketika perwakilan dari pemerintah berpendapat bahwa aksi itu berbahaya, mereka menjawab bahwa bahaya ini jauh lebih kecil dibandingkan bahaya pembangunan pabrik yang mengancam masa depan anak dan cucu mereka.

Murtini seorang perwakilan aksi cor kaki, menyatakan Ibu Bumi sayang dengan anaknya. Bumi sudah begitu baik dengan kita, Apa saja yang kami tanam akan tumbuh, kami dikasih tanah yang subur, kalau kami bubuti dia akan diam saja. Kami seorang ibu bisa merasakan sakitnya kalau dirusak. Kenapa tidak ingat dengan ibu kita yang sudah begitu baik. Kami tidak mungkin menukar tanah kami dengan uang. Tanah adalah warisan untuk anak cucu kami. Pertanian seharusnya diprioritaskan, dan tanahnya yang subur hendaknya dijaga jangan dirusak.

Ketika pabrik semen beroperasi, kemudian sumber air pertanian semakin lama semakin berkurang dan hilang, sehingga menyebabkan pertanian tidak lagi dapat diandalkan sebagai mata pencaharian utama, apakah pabrik semen mau setiap hari memberi makan sampai ke anak cucu? Murtini menyatakan apa yang sudah diberikan alam kepada petani Kendeng jauh lebih baik. Mereka sudah merasa sejahtera, walaupun daya beli mereka tidak sebesar orang kota, namun semua sudah disediakan oleh alam. Mereka hanya membeli garam dan micin saja, selebihnya diambil dari tanaman seperti sayuran, cabai, jagung dan sebagainya.

Jika pabrik jadi beroperasi, kemudian mengancam sumber air sehingga pertanian tidak lagi dapat diandalkan, maka pilihan profesi penduduk semakin sempit hanya sebagai buruh pabrik. Pertanyaan selanjutnya yang perlu menjadi renungan adalah
Apakah gaji buruh sebanding dengan kesejahteraan yang sekarang mereka rasakan?
Apakah kondisi kesehatan buruh sama baiknya dengan kesegaran yang diberikan alam?
Apakah tingkat pendidikan buruh lebih baik dengan pengetahuan alam yang dimiliki sekarang?
Jika ternyata jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah lebih buruk kondisinya, maka penolakan pabrik semen Rembang akan menjadi harga mati bagi Masyarakat Sedulur Sikep.
Meskipun tak ada jaminan pabrik semen akan berhenti beroperasi, namun perjuangan mereka menjadi motivasi bagi masyarakat lain di Indonesia yang terkena dampak kebijakan pembangunan pabrik semen. Perlawanan Sedulur Sikep akan dicatat dalam sejarah dan menjadi rujukan bagaimana gigihnya perempuan mempertahankan dan menjaga kelestarian lingkungan. Perlawanan mereka menjadi kebanggaan bagi anak cucu mereka di masa mendatang.

Hasil KLHS
Hasil kajian dalam dokumen KLHS Tahap I secara tegas menjabarkan, penambangan di kawasan CAT Watuputih, di dalamnya mengandung batuan gamping, harus dihentikan secara bertahap hingga 2020. Bahkan hasil kajian itu merekomendasikan tak ada lagi perpanjangan maupun Izin Usaha Pertambangan baru termasuk terhadap 22 perusahaan yang kini beroperasi.

Dalam KLHS disebutkan, kalau CAT Watuputih ditambang, maka akan menyebabkan kerugian Rp2,2 triliun/tahun. Perkiraan kerugian ini, praktis membantah argumen pihak pendukung pabrik yang mengklaim negara rugi terlanjur Rp5 triliun jika pabrik semen Rembang disetop.
Hasil kajian dari sejumlah pakar maupun tim penilai dari pelbagai ahli itu menyebutkan, dampak kerugian dari keberadaan tambang dan pabrik mencapai triliunan. Misalnya, untuk kerugian ekonomi dari hilangnya potensi serapan kawasan CAT Watuputih, tim KLHS menghitung setara Rp38 miliar/tahun. Sementara, buat biaya penyediaan air bagi rumah tangga mencapai Rp30 miliar/tahun. Jika dikalkulasi, aktivitas penambangan selama 50 tahun oleh PT Semen Indonesia, jumlahnya mencapai Rp1,5 triliun.

Belum lagi biaya penyediaan air untuk mengaliri persawahan di dua kabupaten, Blora dan Rembang. Tim Kajian menghitung kerugian dari dampak itu mencapai Rp1,8 triliun/tahun. Sementara, jika aktivitas penambangan itu dilakukan hingga 50 tahun, total kerugiannya buat membiayai irigasi persawahan mencapai Rp 92 triliun. Sementara dampak kesehatan warga, yang bisa menimbulkan sejumlah penyakit termasuk silikosis (peradangan paru-paru karena mengisap debu silika), di Blora dan Rembang bisa menghabiskan Rp8 triliun jika aktivitas penambangan dilakukan selama 50 tahun.

Hitungan tersebut belum lagi memperhitungkan, kerusakan lahan, akibat polusi dari pabrik semen, hilangnya flora dan fauna akibat aktifitas pabrik, nilai udara segar yang diberikan oleh alam, dan nilai dari jasa lingkungan yang diberikan oleh alam.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − seventeen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

scroll to top